Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tikus dan Kucing
"Aku punya sepupu?"
Hayam Wuruk berdiri di tengah ruang pribadinya dengan mulut setengah terbuka, menatap Sekar seperti melihat sesuatu yang tak mungkin nyata. Pagi itu cahaya jendela jatuh di lantai kayu, dan raja muda itu hanya mengenakan kain tidur sederhana, rambutnya masih kusut, jelas baru saja dibangunkan.
"Sepupu pertama, Baginda," kata Rajadewi dengan senyum samar. "Anak mendiang kakak kita."
"Kakak ibunda." Hayam Wuruk bergumam, lalu tiba-tiba tertawa, tawa pendek dan canggung yang pecah menjadi sesuatu yang lebih hangat. "Aku selalu merasa sendirian di sini. Semua orang lebih tua. Lebih serius. Lebih sibuk memberi tahu apa yang boleh dan tak boleh kulakukan." Ia melangkah mendekat, menatap wajah Sekar dengan mata berbinar. "Dan sekarang ada seseorang yang... seusia?"
"Aku dua puluh dua," kata Sekar kaku.
"Oh." Hayam Wuruk berkedip. "Berarti kau kakak sepupuku."
"Sepertinya begitu."
"Aku punya kakak sepupu." Raja muda itu menatapnya takjub, lalu menyeringai. "Boleh aku memanggilmu Kakang... maksudku, Mbakyu Sekar?"
Sekar, yang semalam menangis di bahu bibinya, terkejut dan hampir tertawa. "Kalau Baginda bisa berhenti menatapku seperti benda ajaib, boleh."
"Maaf. Aku hanya..." Hayam Wuruk menggaruk tengkuknya. "Panggil aku Hayam saja. Di depan umum aku harus bersikap raja, tapi di sini..."
"Hayam."
"Ya, Mbakyu."
Mereka berdiri berhadapan, dua remaja yang tumbuh di dunia yang sangat berbeda, dan Raka, yang menyaksikan dari sudut ruangan, merasa dadanya aneh. Hangat dan perih sekaligus.
Hayam Wuruk mengulurkan tangan kirinya. Di jari manisnya melingkar sebuah cincin emas tipis, dan di bagian atasnya terukir matahari delapan sinar.
"Aku tak pernah melepasnya sejak dinobatkan," katanya pelan. "Ibunda bilang itu peninggalan leluhur. Aku tak pernah tahu itu ada pasangannya."
Mpu Kalandara mendekat dan memeriksa cincin itu dengan hati-hati. Ia mengangguk perlahan. "Sama persis. Hendar menginginkannya, Baginda. Dan untuk itu ia mungkin akan melakukan apa pun."
"Kalau begitu aku akan melepasnya dan menyimpannya di tempat aman."
"Jangan." Mpu Kalandara menggeleng. "Cincin itu sudah mengikat dengan Baginda selama beberapa pekan. Mencopotnya tiba-tiba mungkin akan menimbulkan reaksi yang tak kita duga. Lebih baik biarkan di tempatnya, dan jaga Baginda dengan sepuluh kali lipat kewaspadaan."
Gajah Mada, yang berdiri di dekat pintu, mengangguk. "Bhayangkara akan mengelilingi bilik Baginda siang dan malam."
"Sebanyak itu?" Hayam Wuruk mengeluh.
"Sebanyak itu."
Raka tidak punya tugas penjagaan, jadi ia kembali ke ruang juru tulis, bekerja seperti biasa, berpura-pura bahwa kepalanya tidak berputar. Ia menyalin catatan pajak sambil sesekali melirik ke arah Ki Wasista, yang duduk di meja kepalanya dengan wajah masam seperti biasa.
Selama berjam-jam, tak ada yang aneh. Sampai Raka diminta mengambil sebuah gulungan lama dari rak arsip di sudut ruangan.
Ia membuka satu lontar yang dipenuhi catatan keuangan kepatihan. Bulan ini, bulan lalu, tahun lalu. Sekilas tak ada yang menarik. Tetapi ketika ia membalik lembar terakhir, jantungnya tiba-tiba berhenti.
Di pinggir catatan, ditulis kecil-kecil dengan tinta hitam segar, ada deretan angka.
1.250. 3.480. 12.065.
Angka Arab. Lengkap dengan titik pemisah ribuan.
Raka menatapnya lama sekali. Tulisan tangan itu tidak ia kenal. Rapi, hati-hati, tapi kaku. Seperti seseorang yang baru belajar menulis angka-angka itu dan berusaha keras agar terlihat benar.
Ia tahu persis siapa yang mengajarkan angka-angka itu. Dan ia tahu siapa yang belum pernah ia ajari.
Perlahan, ia menggulung lontar itu dan mengembalikannya ke rak. Lalu ia menoleh. Di seberang ruangan, Ki Wasista sedang menandatangani sesuatu, ujung stylusnya bergerak mantap. Lelaki itu mengangkat wajah, menatap Raka sebentar, dan tersenyum tipis.
Terlalu tipis. Terlalu singkat.
Raka merasakan keringat dingin mengalir di tulang punggungnya.
"Ki Wasista," bisiknya pada Wirabhaya malam itu di serambi kepatihan. "Dia tahu angka-angka itu. Dan bukan dariku."
"Kau yakin?"
"Tulisannya kaku. Seperti salinan. Hendar pasti mengajarinya." Raka mengepalkan tangan. "Dia pernah memintaku mengajarkan angka-angka itu padanya, dan aku menolak. Dia pasti mencari jalan lain."
Wirabhaya menyipitkan mata. "Berarti ada orang dalam, yang punya akses ke seluruh arsip dan ke bangunan istana."
"Dan mungkin ke jalur-jalur rahasia."
"Kalau begitu..." Wirabhaya berpikir cepat. "Kita biarkan dia mengira kita tidak tahu. Dan kita pasang jebakan."
Rencananya sederhana. Malam itu, mereka menyebarkan kabar ke beberapa pejabat bahwa Bhayangkara di bilik raja akan dikurangi karena kelelahan. Jalur belakang, melalui lorong arsip, akan dibiarkan tanpa penjagaan. Hayam Wuruk, tentu saja, ingin menjadi umpan sendiri dan harus dilarang keras oleh Gajah Mada. Sebagai gantinya, seorang prajurit muda bertubuh mirip dibaringkan di tempat tidur raja dengan selimut menutupi hingga dagu.
Raka bersembunyi di balik tirai di sudut ruangan bersama Wirabhaya dan Tarub, jantungnya berdebar keras.
Menjelang tengah malam, sebuah suara halus terdengar dari balik dinding. Sebuah panel kayu bergeser pelan. Tiga bayangan menyelinap masuk. Yang paling depan berjubah gelap dan bertudung, bergerak hati-hati ke arah tempat tidur. Dua lainnya mengikuti di belakang, membawa tali dan pisau.
Wirabhaya mengangkat tangan. Tarub menghunus pedang.
Begitu bayangan pertama mengangkat selimut, Wirabhaya berseru, "Sekarang!"
Pertarungan meledak dalam hitungan detik. Dua penyusup terjungkal dan diringkus dalam sekejap. Orang berjubah di depan mencoba kabur ke lorong, tapi Raka sudah menghadangnya. Ia mencengkeram jubahnya dan menyentakkan tudungnya terbuka.
Ki Wasista.
Wajah kurus lelaki itu pucat pasi dalam cahaya obor. Kacamata tembaganya miring. Ia tak melawan. Hanya menatap Raka dengan pandangan kosong.
"Kau," bisiknya. "Kau tahu."
"Kenapa, Ki?" suara Raka bergetar. "Kenapa Anda melakukan ini?"
"Dia menjanjikanku pengetahuan." Ki Wasista tertawa kering. "Angka. Perhitungan. Cara mencatat yang tak pernah dibayangkan siapa pun di tanah ini. Aku mengabdikan hidupku pada kepatihan, dan tak seorang pun menghargaiku. Tapi orang itu menawarkan sesuatu yang bisa mengubah segalanya."
"Dan Anda mengkhianati raja untuk itu?"
"Aku tidak mengkhianati siapa pun." Matanya berkilat aneh. "Aku hanya membuka pintu."
"Siapa yang menyuruhmu malam ini?"
"Tak ada yang menyuruh." Ki Wasista tersenyum, dan senyum itu membuat bulu kuduk Raka berdiri. "Ini hanya pengalih perhatian."
Wirabhaya, yang baru saja selesai mengikat para penyusup, menegakkan tubuh. "Pengalih apa?"
"Kalian bodoh sekali." Ki Wasista menggeleng pelan. "Kalian menangkap tikus, dan tidak sadar kucingnya sudah mengambil yang sebenarnya diinginkan."
Raka merasakan dunianya runtuh.
Bata.
Ia berlari tanpa berpikir, mengabaikan teriakan Wirabhaya di belakangnya, melintasi lorong-lorong gelap kepatihan menuju bilik tamu tempat Mpu Kalandara menginap. Pintu kayunya terbuka lebar. Di dalam, sebuah pelita menyala pelan, dan di lantai tergeletak jubah putih tua, robek di beberapa tempat.
Mpu Kalandara duduk bersandar pada dinding dengan kepala terkulai, napasnya pelan tapi teratur, seperti terbius. Di sampingnya, di atas tikar, ada bekas kain yang tadi membungkus dua belahan bata merah.
Kain itu kosong.
Dan di atasnya, diletakkan dengan rapi, ada selembar kertas tipis dan putih, dilipat dua. Raka membukanya dengan tangan gemetar.
Kertas modern. Tulisan Latin. Goresan pena yang ia kenal sejak umur dua puluh.
Terima kasih, Rak. Sampai Jumat Kliwon berikutnya.
pinter bet dia🫣
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
wahhhhhh
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
apakah ada yg kebawa juga🥹
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.