Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deru Mesin Tua di Kota Jakarta
Angin malam Jakarta bertiup cukup kencang, membawa sisa aroma tanah dan luapan air parit yang mulai mereda. Shevi menatap selembar kartu nama premium berlogo emas di tangan kirinya yang terkena noda oli. Teks tebal bersepuh emas di kartu itu tertulis jelas: Gita - Regional Operational Manager.
"Orang jujur selalu punya jalan," gumam Shevi pelan sambil menyelipkan kartu nama tersebut ke dalam saku dalam jaket parasutnya yang lembap.
Namun, perhatian Shevi segera teralih pada rasa hangat yang mendadak mengalir di dalam kepalanya. Pengetahuan mendalam mengenai seluk-beluk mesin otomotif seolah meresap jernih ke dalam kesadarannya. Jutaan informasi mengenai skema kelistrikan rumit, anatomi mesin kendaraan, hingga teknik diagnosis kerusakan yang presisi menyatu sempurna dengan ingatannya.
Serbuan pengetahuan itu tidak membuat kepalanya pening, melainkan mengalir bagai air jernih. Masalahnya, teori luar biasa di kepalanya kini berbenturan dengan keterbatasan fisik tubuhnya. Otaknya memahami teknik otomotif tingkat tinggi, tetapi kedua tangannya yang kapalan karena seharian memeras kain lap terasa kaku dan pegal luar biasa.
Saat Shevi melirik ke arah belasan sepeda motor komuter yang terparkir di sekitarnya, matanya secara otomatis menganalisis potensi kendala teknis hanya dari melihat bentuk blok mesin luar dan rembesan olinya.
"Luar biasa... ini benar-benar nyata," bisik Shevi sambil meremas jemarinya yang linu demi menepis rasa lelah.
Shevi segera merapikan ember hitam dan perkakas sederhana miliknya. Jam perak di pos penjagaan stasiun sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia harus segera pulang ke kontrakan petaknya di Gang Tambora. Emak Aminah pasti sedang menunggu di rumah.
Shevi berjalan kaki menyusuri trotoar menuju tempat dia memarkir motor matic tua miliknya—sebuah motor matic keluaran tahun 2010 yang bodinya sudah kusam, retak di beberapa bagian, dan knalpotnya kerap menyemburkan asap tipis jika dipaksa menanjak.
Begitu Shevi memasukkan kunci dan memutar kontaknya ke posisi menyala, lampu indikator spidometer bahkan tidak memercikkan cahaya sedikit pun. Mati total. Dia mencoba menekan tombol starter, namun hanya keheningan yang menyambutnya. Dengan napas terengah, Shevi memosisikan standar tengah dan mencoba menghentakkan kaki kanannya pada tuas kick starter berkali-kali.
Krek... krek...
Mesin motor tua itu tidak merespons sama sekali. Rupanya kendaraan tuanya mendadak mogok parah akibat nekat menerobos genangan banjir semalam di kawasan Senopati.
Jika musibah ini terjadi dua hari yang lalu, Shevi pasti sudah pasrah dan pusing memikirkan biaya servis bengkel yang tak terjangkau oleh dompetnya. Namun malam ini, dengan pemahaman baru yang bersemayam di kepalanya, Shevi justru merasa tertantang.
Tatapan matanya berubah fokus.
Dia meletakkan ember hitamnya di samping roda belakang. Tangan Shevi bergerak sigap mengambil obeng kembang dan kunci pas ukuran sepuluh dari dasar ember. Dia mencoba membuka kap bodi samping motornya, tetapi hambatan langsung menyergapnya. Baut-baut motor tuanya sudah berkarat parah dan mengunci mati akibat terendam air kotor.
"Keras sekali..." gumam Shevi sambil meringis.
Telapak tangannya yang lecet sampai memerah dan perih saat memaksakan gagang obeng berputar. Dia terpaksa menyiram baut karat itu menggunakan sisa cairan sabun cuci, lalu mengetok gagang obengnya berkali-kali memakai batu kali hingga baut kusam itu akhirnya terlepas dengan bunyi derit yang nyaring.
Setelah kap bodi plastik itu terbuka, mata Shevi melakukan pemindaian visual. Hanya dalam hitungan detik, pikiran jernihnya menemukan akar masalah utama. Kelistrikan mati total bukan karena akinya soak, melainkan karena air banjir semalam masuk menembus rumah sekring utama dan memicu arus pendek di jalur kabel pengapian.
Shevi melepas kotak sekring kecil yang tersembunyi di dekat tangki bensin. Dia mengambil kain lap kering, mengelap sisa air kotor yang mengendap, lalu membersihkan karat tipis pada konektor kuningan menggunakan ujung obeng minus secara pelan dan hati-hati.
Tangannya yang gemetar karena kelelahan tidak menyurutkan ketelitiannya.
Selanjutnya, dia memeriksa kabel koil yang menuju ke bagian busi. Benar dugaannya, karet pelindung businya sudah melonggar digerogoti usia, membuat air hujan merembes masuk dan memutus pancaran percikan api ke ruang bakar.
Shevi mengambil sisa isolasi hitam kecil dari ember. Dia mengeringkan kepala busi dengan lap, lalu membalut sambungan kabel koil tersebut dengan isolasi sebanyak tiga putaran.
Sebelum memasang kembali kap bodi, Shevi melonggarkan sedikit setelan jarum karburator untuk menyempurnakan asupan udara.
Setelah merapikan kembali bodi motor, Shevi berdiri sambil menyapu peluh di dahinya. Bahunya terasa sangat pegal, tetapi kehangatan di dadanya memberi semangat.
Dia memutar kunci kontak. Lampu indikator spidometer yang tadinya mati total kini mendadak menyala terang berwarna oranye jernih. Shevi menarik tuas rem kiri, lalu menekan tombol starter dengan ibu jari kanannya.
Brmmm... Derrr!
Suara derum mesin motor matic tuanya seketika membelah keheningan malam di sudut penitipan stasiun. Hebatnya, suara mesin yang biasanya terdengar kasar dan pincang, kini terdengar jauh lebih bulat, halus, dan konstan.
Shevi menatap kedua telapak tangannya yang berlepotan oli hitam. Keahlian dan dorongan keberkahan yang dikaruniakan padanya memang luar biasa, tetapi tubuh dan fisik manusianya tetap harus memeras keringat untuk mengeksekusinya.
Di balik ketenangan hatinya, sebuah tekad membimbing pikirannya kian mantap, langkah kecil hari ini adalah fondasi bagi mimpi yang lebih besar.
Shevi tahu, dia tidak ingin selamanya menjadi buruh cuci motor keliling yang dipandang sebelah mata oleh orang-orang angkuh. Dengan keahlian mekanik yang kini dikuasainya, dia memiliki modal berharga untuk membangun usaha bengkel dan jasa perawatan kendaraan mandiri secara profesional.
Dia segera mengenakan helm hitamnya dan menaiki motor matic tuanya. Shevi memutar tuas gas, melesat membelah aspal basah jalanan malam Jakarta, bergegas pulang menuju Tambora membawa tekad baru yang jauh lebih kokoh di dalam dadanya.