Selama 18 tahun, Bai Chen hidup sebagai anak selir yang tidak dianggap di faksi kecil Benua Barat. Ia disiksa, dihina, dan jalur Dao-nya dihancurkan oleh klannya sendiri tanpa ampun, membuatnya dianggap sebagai sampah abadi.
Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-18, saat ia terbaring sekarat di ruang bawah tanah yang dingin, sebuah suara mekanik dingin berdering di kepalanya:
[Sistem Penguasa Dao Diaktifkan. Memperbaiki jalur Dao yang hancur. Sinkronisasi dimulai...]
Dalam sekejap, hambatan tubuhnya musnah. Dari titik terendah sebagai manusia fana, ia melompat langsung ke Ranah Void Dao!
Menggabungkan logika sains modern dan kekuatan sistem absolut, Bai Chen menembus batasan dunia kultivasi yang kolot. Ia membumihanguskan para musuh yang merendahkannya, mengguncang 5 Klan Kuno di Benua Tengah, hingga berdiri di puncak pertempuran kosmik yang membelah dunia demi menjadi Kaisar Surgawi mutlak yang tak tertandingi!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OhMyZy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Kepala Keluarga Cabang dan Lutut yang Bergetar
Angin malam di alun-alun utama faksi cabang Sekte Pedang Surgawi menderu kencang, membawa sisa-sisa debu kehancuran dari bangunan paviliun yang runtuh akibat hantaman Bai Chen sebelumnya. Obor-obor merah di sekeliling lapangan bergetar hebat, memantulkan cahaya temaram pada puluhan murid inti dan pengawal yang masih berlutut massal di atas tanah dalam kepanikan mutlak.
Tepat di tengah ketegangan yang mencekam itu, sebuah suara bentakan yang menggelegar dan memecah keheningan malam terdengar dari arah gerbang utama lorong paviliun. Suara itu dipenuhi oleh amarah yang meluap-luap, mengalirkan gelombang tekanan energi spiritual yang kuat di tingkat Transformasi Dao.
"Keparat sialan mana yang berani membuat kekacauan di wilayah faksi cabangku?! Siapa yang telah merobohkan paviliun dan menginjak-injak harga diri keluarga Bai?!"
Sosok yang muncul dari balik lorong tersebut adalah Bai Tianba, kepala keluarga cabang Sekte Pedang Surgawi di Benua Barat—yang tidak lain adalah ayah kandung Bai Chen sendiri, seorang pria paruh baya bertubuh tegap, mengenakan jubah mewah bergaris emas dengan pedang pusaka tingkat tinggi tergantung di pinggangnya. Di belakang Bai Tianba, berjalan pula dua orang tetua senior penasihat keluarga dengan wajah merah padam karena murka.
Sebagai seorang ayah angkat sekaligus ayah biologis yang selama delapan belas tahun sengaja mengabaikan keberadaan Bai Chen, tidak pernah sekalipun Bai Tianba sudi menoleh atau memberikan secercah belas kasih kepada anak selirnya itu. Bagi Bai Tianba, kehadiran Bai Chen hanyalah noda memalukan yang mencoreng reputasi garis keturunan keluarga utama di mata faksi pusat.
Begitu Bai Tianba melangkah masuk ke area alun-alun, matanya langsung mendapati pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika. Puluhan murid inti berlutut di tanah, beberapa di antaranya pingsan dengan tulang remuk, sementara sepupu kesayangannya—Jian Lang—tertimbun di balik reruntuhan dinding paviliun dengan kondisi mengenaskan.
"Tian Lang! Putraku!" teriak Bai Tianba histeris, melangkah tergesa-gesa menghampiri tumpukan reruntuhan untuk menarik Jian Lang keluar. Ia melihat wajah keponakan sekaligus anak didiknya itu babak belur dengan dada cekung akibat hantaman brutal.
Bai Tianba mendongakkan kepalanya, mengarahkan tatapan mata penuh darah ke hadapan lapangan. Di sana, berdiri dengan tenang sesosok pemuda berjubah bersih yang memancarkan pendar cahaya keemasan tipis di sekitar tubuhnya.
Jantung Bai Tianba berdegup kencang sejenak saat ia mengenali wajah pemuda itu. "Ba... Bai Chen?! Kau... kau belum mati?!"
Bai Chen tidak bergeming. Ia berdiri dengan kedua tangan bersidekap di dada, menatap pria paruh baya yang memanggil dirinya sebagai ayah tersebut dengan sorot mata yang sedingin es di kutub utara. Tidak ada rasa hormat, tidak ada kerinduan, dan tidak ada sisa-sisa kehangatan keluarga di dalam tatapan itu—yang ada hanyalah kehampaan mutlak seorang dewa yang sedang menatap debu jalanan.
"Bagus sekali, ayah..." suara Bai Chen meluncur tenang, namun menusuk tajam ke dalam gendang telinga setiap orang yang mendengarnya. "Delapan belas tahun lamanya kau tidak pernah sudi menginjakkan kaki ke halaman belakang tempat aku dan ibuku tinggal. Hari ini, begitu mendengar suara keributan, kau langsung berlari tergopoh-gopoh demi menyelamatkan keponakan dan murid kesayanganmu. Sungguh sebuah ikatan keluarga yang sangat mengharukan."
Mendengar sindiran tajam yang diucapkan oleh anak yang selama ini ia anggap sampah, urat-urat di pelipis Bai Tianba menonjol keluar karena amarah yang tak tertahankan. Ia berdiri perlahan sambil mendorong tubuh Jian Lang ke belakang, lalu menghunus pedang panjang berhulu emasnya ke udara.
"Anak kurang ajar! Binatang tak tahu di untung!" maki Bai Tianba dengan suara bergetar karena murka. "Selama delapan belas tahun kami memberi makan dan tempat tinggal padamu di klan ini, bukannya bersyukur, kau malah membuat kekacauan, melumpuhkan pengawas, dan menghancurkan masa depan para sepupumu! Kau benar-benar anak sialan yang seharusnya dicekik sejak hari pertama kau lahir ke dunia!"
Dua tetua senior penasihat yang berdiri di samping Bai Tianba—Tetua Gu dan Tetua Ma—ikut maju ke depan, mencibir dengan nada menghina.
"Benar sekali, Kepala Keluarga! Anak selir ini memang dari dulu sudah mendarah daging sifat pemberontaknya!" cetus Tetua Gu dengan wajah sinis. "Jalur Dao-nya dihancurkan kemarin karena dia memang tidak berguna! Entah ilmu sesat apa yang digunakannya malam ini untuk menipu mata kita, tapi hari ini dia tidak akan dibiarkan hidup keluar dari alun-alun ini!"
"Habisi dia, Kepala Keluarga!" timpal Tetua Ma, mengalirkan energi spiritual tingkat Transformasi Dao untuk memperkuat tekanan di sekitar lapangan. "Biarkan darahnya membersihkan noda hitam di faksi cabang kita!"
Bai Tianba mengangkat pedang emasnya tinggi-tinggi, berniat melompat maju dan menebas kepala anak kandungnya sendiri demi membersihkan muka di hadapan seluruh anggota klan. Ia mengerahkan seluruh kekuatan spiritualnya, bersiap memberikan satu pukulan maut yang akan melenyapkan Bai Chen menjadi debu.
"Matilah, bajingan tidak berguna!" geram Bai Tianba, melesat maju bagaikan kilat menyambar.
Namun, sebelum bilah pedang emas itu sempat mencapai jarak tiga meter dari tubuh Bai Chen, sebuah kejadian di luar nalar terjadi seketika.
Bai Chen perlahan mengangkat tangan kanannya, lalu melepaskan sebagian kecil dari tekanan absolut ranah Void Dao (Ranah 7) yang mengalir di dalam meridian tubuhnya. Tidak ada jurus rumit yang dikeluarkan, tidak ada gelombang pedang yang berkilau—hanya murni pancaran aura kosmik tingkat tinggi yang menindas ruang hampa di sekitarnya.
Bum!
Tekanan itu menghantam udara alun-alun bagaikan jatuhnya sebuah meteor raksasa.
Seketika itu juga, ekspresi garang dan penuh amarah di wajah Bai Tianba membeku seketika. Pedang emas di tangannya terlepas dari genggaman dan patah berkeping-keping saat menghantam tanah. Seluruh energi Transformasi Dao yang ia kumpulkan hancur lebur tanpa sisa dalam sepersersekian detik.
Sebuah beban tak kasat mata yang setara dengan tekanan sepuluh ribu ton gunung menimpa pundak Bai Tianba secara paksa. Lutut pria paruh baya itu berderak ngeri.
Krok... Bruk!
Kedua lutut Bai Tianba menghantam lantai batu alun-alun dengan sangat keras, menciptakan retakan jaring laba-laba yang melebar ke segala arah. Darah segar menyembur deras dari mulut Bai Tianba, sementara tubuhnya membungkuk dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh tanah. Ia tidak mampu mengangkat kepalanya barang satu sentimeter pun!
Tetua Gu dan Tetua Ma, yang berdiri tepat di belakang kepala keluarga, ikut merasakan hantaman gelombang kejut tersebut. Keduanya memuntahkan darah segar secara bersamaan, kehilangan keseimbangan, dan jatuh berlutut di sebelah kiri dan kanan Bai Tianba dengan sekujur tubuh basah oleh keringat dingin.
Suasana di alun-alun sekte mendadak menjadi sunyi senyap. Puluhan murid inti yang tadi berlutut ketakutan kini semakin menenggelamkan kepala mereka ke tanah, gemetar hebat menyaksikan kepala keluarga besar mereka—seorang ahli di ranah Transformasi Dao yang selama ini disegani—berlutut tak berdaya di hadapan Bai Chen tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun!
Bai Tianba membelalakkan matanya lebar-lebar dengan air mata dan darah bercampur di wajahnya. Ketakutan mutlak yang merayap dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun membuatnya kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Aura yang dipancarkan oleh pemuda di hadapannya bukanlah kekuatan fana dari Benua Barat; itu adalah aura seorang penguasa semesta yang mampu mencabut nyawa jutaan orang hanya dengan sekejap mata!
"Kau... kau... kekuatan apa ini...?" bisik Bai Tianba terbata-bata, suaranya nyaris tak terdengar karena tertindih oleh tekanan Void Dao. "Bukan Nascent Dao... bukan pula Transformasi Dao... Siapa... siapa sebenarnya yang berdiri di hadapanku ini...?"
Bai Chen melangkah maju perlahan, berhenti tepat di depan Bai Tianba yang sedang bersujud menahan rasa sakit di tanah. Ia menundukkan sedikit kepalanya, menatap pria yang berstatus sebagai ayah kandungnya itu dengan tatapan penuh cibiran dingin.
"Delapan belas tahun kau membiarkan aku dan ibumu hidup di dalam neraka pengasingan," ucap Bai Chen pelan, namun setiap kata yang meluncur dari bibirnya bagaikan palu baja yang menghantam harga diri sang kepala keluarga. "Hari ini, bahkan untuk sekadar berdiri di hadapanku saja, tulang kakimu bahkan tidak cukup kuat untuk menopang tubuhmu sendiri, Bai Tianba."
Mendengar nama aslinya dipanggil secara langsung tanpa sebutan hormat sedikit pun, tubuh Bai Tianba bergetar semakin hebat. Rasa penyesalan yang teramat sangat tiba-tiba menghantam lubuk hatinya, namun semua itu sudah terlambat.