Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Melamar
"Kalau begitu kamu tunggu sebentar ya." Ucap Glen dan langsung pergi meninggalkan Amira.
"Ha?, Ta-tapi-." Amira bingung dengan tingkah Glen.
Glen berjalan mencari keberadaan Alvero dimana, dia berniat akan memintakan Nomor Hp Amira kepada Alvero. Karena Alvero mempunyai nya.
"Al."
"Eh, kenapa Bro?."
"Aku mau minta nomer Amira lagi, Plis bro karena ini penting banget."
Alvero menatapnya sinis. "Kenapa sih?, kamu harus usaha dong kejar dia."
"Al, dia bilang kalau sampai aku dapat nomernya maka dia akan mau menerima ku kembali." jelasnya.
"Benarkah?."
"Iya, makanya tolong lah bantu teman mu ini, Sini nomernya."
Alvro memutar bola matanya kesal. " Ya sudah aku akan memberikannya tapi dengan satu syarat."
"Apa?."
"Tolong bantu carikan cewe cantik untukku." Ucapnya tersenyum.
"Is, apaan sih? cari sendiri lah."
"Yaudah kalau gak mau, gak jadi ku kasih nomor Amira." Ancamnya.
"Eh, jangan dong Bro. Yasudah sini, entar aku carikan cewe untukmu."
"Lu udah pikun ya?."
Glen menatap Alvero bingung. "Maksud mu?."
"Kan udah pernah ku kirim sama mu waktu itu gimana sih?." Ucapnya.
Glen berusaha mengingat, dan benar saja waktu itu dia sempat memintanya kepada Alvero dan sudah dikirim Alvero. "Oh iya aku lupa, ini karna Melly!." Ucapnya.
"Ha?, Melly siapa?." Tanya Alvero serius.
Seketika Glen sontak panik, dia keceplosan mengatakan nama Melly. Waktu itu memang sempat Melly menelponnya sampai membuatnya tidak fokus untuk beberapa hal. "Em, bukan siapa-siapa." Ucapnya plin-plan.
Alvero menatap Glen penuh curiga membuat Glen sedikit panik. "Kenapa?."
"Melly siapa?." tanya nya lagi.
"Nama kucing ku, Melly sedang sakit waktu itu makanya aku tidak fokus beberapa hal sampai aku lupa kalau kamu sudah memberikan nomor Amira padaku." Ucapnya berbohong.
"oh, sejak kapan kamu punya kucing Glen? setau ku kamu juga tidak terlalu suka dengan hewan."
"Oh iya, semenjak tinggal diindonesia hidup ku rasanya sepi sekali. Gak ada salahnya kan aku memelihara kucing?, itung-itung biar apartemen ku tidak sepi-sepi banget lah." Jawabnya
"Bagus. Akhinya kamu menyadari begitu bergunanya hewan peliharaan bersama kita." Jawab Alvero karna kebetulan dia juga sangat menyukai hewan apalagi Anjing.
"Oke kalau begitu, aku menemui Amira dulu ya."
"Tunggu dulu dong, Bro!"
"Apa lagi?." Tanya Glen menoleh kebelakang.
"Janji ya bantu cariin cewe untuk ku."
"Iya, aku janji. Lagian kenapa kamu tidak cari sendiri? bukannya kamu seorang Playboy?" Tanya Glen bingung.
"Yah, kamu tahu lah aku pacaran sama cewe asal-asalan ajah, biar gak kesepian kayak yang kamu bilang tadi. Aku gak serius sama mereka. Sekarang aku mau cari yang serius dan baik. Dan aku percaya kamu bisa memilih yang baik untukku seperti Amira." Ucapnya.
Glen geleng-geleng kepala. Tidak menyangka sahabatnya itu seorang pemain. Kalau sampai cewe yang dia kencani selama ini dia tahu kalau Alvero cuman main-main, bisa habis dia.
"Iya-iya, aku selesaikan urusan ku dulu baru aku bantu kamu."
"Oke, Glen. Semoga berhasil hubungan kalian ya."
Glen dengan cepat berlari mencari Amira ketempatnya tadi. Dia sangat bahagia sekali, akhirnya harapannya akn tercapai sekarang. Dia membayangkan kalau dia dan Amira akan segera bersama seperti dulu lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Amira." Panggil Glen dari belakang ketika melihat Amira duduk ditempatnya tadi.
Amira berdiri berlahan dan menoleh kearah Glen dengan wajah datar nya. Dia menatap Glen penuh amarah dan wajah yang terlihat sembab. Glen menyadari hal itu, kalau Amira sedang tidak baik-baik saja.
"Amira, kamu kenapa?." tanya Glen mulai mendekat kepada Amira.
PLAKKK
"Aww" Glen meringis kesakitan dan memegang pipi kanan nya setelah tamparan Amira mendarat di pipi kanannya. Dia terkejut Amira tiba-tiba menamparnya. Dia tidak pernah membayangkan hal itu terjadi padahal mereka barus saja baik-baik saja.
"Amira, ada apa? kenapa kamu menamparku?." Tanya nya bingung menatap Amira dan masih memegang pipi kanannya.
"kamu memang brengsek, Glen!." Tukasnya menunjuk Glen penuh kekesalan dan raut wajah dipenuhi amarah.
Glen terpaku, dia masih belum tahu ada apa sebenarnya yang terjadi pada Amira.
"Bisa-bisa nya kamu membohongi ku. Kenapa?, seharusnya aku tidak mempercayai mu dari awal. Jelas-jelas kamu lelaki pembohong dan tidak seharusnya aku mulai mempercayai mu lagi." Tuturnya.
Glen terdiam, dia berpikir apakah Amira sudah tahu tentang masa lalu nya atau tidak makanya Amira seperti ini. Tetapi Amira mengetahuinya dari mana? dan kapan?.
"Am-amira, A-aku bisa jelasin."
"HAHAHAHA" Amira tertawa puas sampai terbahak-bahak.
Glen mengerutkan keningnya melihat Amira. Dia semakin dibuat bingung olehnya.
"Glen, aku minta maaf." Seketika Amira memeluknya kuat. "Glen, aku minta maaf sudah menampar mu barusan." Amira langsung memeriksa pipi kanan Glen dan berusaha meniupnya. Tadi dia menamparnya memang tidak terlalu kuat, jadi menurutnya itu tidaklah sakit.
"Amira, sebenarnya ada apa ini?." Tanya Glen yang masih tidak mengerti.
"Kamu ingin kembali padaku kan?, jadi aku harus ngetes kamu." Jawabnya.
Seketika Glen langsung merasa lega, ternyata ini semua hanya Prank Lalu Glen memeluk Amira dengan erat. Dia senang sekali yang tadinya dia sudah dititik panik yang luar biasa sekarang dia menjadi sangat lega dan bahagia karena Amira menerimanya kembali.
"Jadi kamu mau menerima ku kembali?."
"Hem." Jawab Amira dipelukan Glen.
"Astaga Amira, aku senang sekali kamu menerima ku kembali dan memberi aku kesempatan." Glen terharu hingga menetes kan air mata.
Amira yang menyadari Glen menangis dia melepaskan pelukannya dan menatap Glen serius. Lalu Amira mengusap air mata Glen. Amira tersenyum terharu.
"Apa ini?, seorang laki-laki menangis?," Ejek Amira.
"Aku tidak bisa menahan rasa bahagiaku, Mir. Aku senang sekali. Aku mencintai mu, Aku sangat mencintaimu." Ucapnya dan memeluk Amira kembali kepelukannya.
"Aku juga mencintai mu, Glen." Balas Amira.
"Kalau begitu, ayo kita menikah." Ajak Glen.
"Ha?." Amira melepaskan pelukannya dan menatap Glen kaget karna tiba-tiba mengajaknya menikah.
"Iya, ayo kita menikah. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi." Ucapnya.
Amira masih terpaku, kenapa bisa secepat ini dia mengajak menikah. Mereka baru saja balikan, dan sudah langsung membahas pernikahan, Amira sangat tidak menyangka hal ini.
"A-apa kamu serius?." tanya Amira belum percaya.
"Iya, aku sangat serius. Aku sangat serius ingin kembali pada mu Amira." Ucapnya menatap Amira lebih dalam.
Jantung amira tidak dapat dikontrol saat ini, rasanya jantungnya seperti ingin keluar dari dalam sana. Sudah lama dia tidak melihat tatapan Glen terhadapnya sedalam ini.
Mata Glen yang sendu namun tajam dan berkaca-kaca mampu membuat dia deg-deg an.
Glen mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya dan membukakan dihadapan Amira.
"Amira, apa kamu ingin menikah dengan ku?," Tanya nya dan jongkok dihadapan Amira.
Seketika Amira sangat terkejut. dia benar-benar tidak pernah menduga kalau Glen sudah mempersiapkan segalanya untuknya. Sebelumnya dia hanya berpikir kalau Glen hanya ingin balikan saja dan tidak ada niatan untuk segera menikah. Namun kenyataanya, sekarang Glen malah melamarnya sekalian. Jantungnya tidak tahu segimana berdetaknya didalam tubuhnya, seperti ingin pingsan rasanya saat ini juga.
"Apa kamu mau menikah dengan ku?"