Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Pembelaan
"Terima kasih atas perhatiannya, Serayu." Balas Astri dengan senyum tipis yang sangat tenang.
"Tapi menurutku, mendukung pekerjaan suami secara langsung di lapangan juga bagian dari kewajiban melayani sebagai seorang istri. Mas Daksa membutuhkan bantuan untuk memeriksa beberapa laporan audit tadi. Dan bagiku, kodrat perempuan tidak sesempit yang hanya sebatas mengusai dapur sebab di rumah kami juga sudah ada pelayan."
Mendengar jawaban Astri, rahang Guranti jadi tegang. Ia tersinggung dengan ucapan Astri.
"Bicara apa kamu ini, Astri?! Kamu mau mengajari kami soal adat dan kodrat di rumah utama Trah Soeradiningrat dan menganggap kami yang tidak memiliki pekerjaan sepertimu sederajat dengan para pelayan?" Tanya Guranti dengan tatapan nyalang.
"Aku ndak bermaksud seperti itu, Bude Ranti." Sahut Astri lugas.
"Aku hanya menyampaikan pandanganku. Setiap rumah tangga punya jalannya masing-masing. Di antara aku dan Mas Daksa, kami saling melengkapi dan bekerja sama, bukan hanya satu pihak yang harus terus menunduk dan menurut tanpa berpikir. Aku tetap terus belajar dan mematuhi peran ku sebagai seorang istri tanpa meninggalkan tanggung jawab ku di posisi lainnya."
"Sombong sekali bicaramu!" Bentak Rengganis, mukanya memerah kesal.
"Kamu itu sudah masuk ke keluarga ini! Tata krama dan prinsip Trah Soeradiningrat itu di atas segalanya! Jangan bawa-bawa pemikiran liar dari keluarga kamu ke rumah ini, Ningmas Danastri!" Imbuh Rengganis.
Serayu mengelus dada dengan raut wajah terkejut yang dibuat-buat. Ia berakting seolah sangat terkejut dengan sikap Astri yang seperti 'pembangkang'.
"Mbak Astri... tolong jangan emosi. Bude Ranti dan Bulik Rengganis kan cuma bicara demi kebaikan Mbak sendiri. Sebagai junior di rumah ini, harusnya kita lebih banyak mendengar dan mengalah pada tetua." Kata Serayu dengan kelembutan yang dibuat-buat.
Sebelum Astri sempat membalas ucapan Serayu, Raden Daksa melangkah satu kali ke depan. Tubuh tingginya begitu terlihat berusaha mendominasi.
Aura kepemimpinan dan ketegasannya langsung terpancar kuat, membuat suasana yang tadinya bising oleh adu mulut mendadak sunyi senyap.
Raden Daksa menatap Guranti dan Rengganis satu per satu dengan sorot mata yang amat dingin dan tajam. Ia kemudian teringat dengan ucapan mendiang istrinya mengenai Bude dan Buliknya itu.
Karena dulu ia tak melihat secara langsung, ia selalu minta Siwi untuk bersabar dan mengalah pada sesepuh keluarga itu. Namun, kali ini tidak lagi. Ia tak akan membiarkan ada anggota keluarga yang menindas istrinya. Cukup satu kali saja ia lalai menjaga istrinya, dulu.
"Cukup, Bude Ranti, Bulik Rengganis." Potong Raden Daksa dengan suara rendah namun sangat menekan.
"Daksa, kami ini cuma menyuruh istrimu untuk—" Sang ibu menimpal namun belum selesai sudah kembali disambar.
"Astri adalah istriku." Sela Daksa cepat, tidak memberi ruang bagi sang ibu untuk ikut menambah-nambah invasinya.
"Keputusan untuk menyelesaikan pekerjaan kantor sebelum ke sini adalah keputusanku pribadi secara mutlak. Astri justru yang berkali-kali mengingatkanku soal waktu agar cepat sampai di sini. Jadi, kalau ada yang perlu disalahkan atas keterlambatan ini, salahkan aku. Jangan menyudutkan Astri, istriku." Kata Raden Daksa dengan tegas.
Guranti tertegun, bibirnya terkatup rapat. Ia tidak menyangka Raden Daksa akan pasang badan secara terang-terangan di hadapan semua orang. Raden Daksa melirik Serayu sekilas hingga membuat Serayu langsung menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata kakak dari suaminya itu.
"Soal bagaimana Astri menjalankan perannya sebagai istri, itu adalah urusan rumah tangga kami berdua. Sejak kapan keluarga bisa mencampuri urusan rumah tangga keluarga lainnya?" Lanjut Raden Daksa lugas tanpa kompromi.
"Aku yang memilih Astri, dan aku sangat menyukai caranya berpikir. Aku tidak butuh istri yang cuma bisa mengangguk dan menurut tanpa paham apa yang sedang aku kelola. Sebab aku ingin istriku juga ikut andil dalam mengurus asetku untuk anak keturunanku nanti." Kata-kata Raden Daksa bak tamparan keras yang menghantam para perempuan di sana.
Raden Daksa memegang lembut jemari tangan Astri untuk meyakinkan Astri jika semuanya baik-baik saja. Raden Daksa lalu menatap neneknya.
"Mbah Putri, kami masuk ke dalam dulu untuk bertemu dan menyapa sesepuh- ke lainnya." pamit Raden Daksa dengan sopan.
Harti pun mengangguk, sehingga tidak ada alasan yang lainnya untuk menahan Astri di sana, sebab pinggangnya langsung dirangkul rapat oleh sang suami.
Selama perdebatan tadi, Mbah Harti memang hanya mendengarkan. Ia merasa kagum dengan cara berpikir Astri dan bangga dengan sikap cucu kesayangannya -Raden Daksa, yang mampu melindungi istrinya.
Astri menghela nafas panjang sambil berjalan menyusuri lorong menuju ke Pendopo utama. Sementara itu, tangan Raden Daksa masih setia merangkul pinggang istrinya.
"Kamu baik-baik aja, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.
"Tolong maafkan mereka, ya." Pintanya kemudian.
Astri hanya tersenyum. Tentu sebuah kebohongan jika ia bilang kalau baik-baik saja sekarang ini. Namun, ia merasa cukup dengan pembelaan dari suaminya. Astri tak membayangkan jika Raden Daksa tak membelanya tadi, mungkin saja, ia akan dikeroyok dengan perempuan-perempuan itu tadi.
"Matur suwun karena udah membelaku, Mas." Ucap Astri.
"Itu sudah kewajiban Mas. Mas memang harus melindungi kamu." Jawab Raden Daksa yang kemudian mengecup kepala istrinya.
Suasana pendopo utama terasa lebih santai ketimbang pendopo wanita tadi. Disana, para pria berkumpul dan sedang mengobrol hangat. Raden Dwipa menatap ke arah Astri yang berjalan di sebelah Raden Daksa. Netranya memancarkan sesuatu yang sulit untuk diurai.
Ada amarah, iri, penyesalan, rindu dan cinta saat ini di hati Raden Dwipa. Tentu ia merasa menyesal karena tak bia memperjuangkan Astri seperti Kakaknya. Dihatinya, ia masih ingin berusaha untuk mendapatkan Astri kembali.
"Assalamualaikum." Ucap Raden Daka yang dijawab dengan lirih dan serentak. Sementara, Astri hanya membungkuk hormat disana.
"Baru datang?" Tanya Raden Soebroto.
"Njih, Pak. Tadi ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu." Jawab Raden Daksa.
"Bagaimana kabarmu, sehat, Nduk?" Tanya Kakek Raden Daksa.
"Alhamdulillah sehat, Mbah Kakung." Jawab Astri sambil tersenyum.
"Apa Raden Daksa bersikap kaku padamu setelah menikah?" Tanya Raden Soebroto.
Dibalik sikapnya yang terlihat kaku, ternyata para sesepuh laki-laki di keluarga Soeradiningrat ini justru jauh lebih hangat, menurut Astri.
"Mboten, Bapak. Raden Mas Daksa selalu bersikap baik dan lembut padaku." Jawab Astri yang membuat para sesepuh itu tersenyum.
Berbeda dengan reaksi dari Raden Dwipa. Ia mengepalkan tangannya erat-erat, menahan rasa cemburu karena Atri memuji Raden Daksa. Tatapan lembut Astri yang biasanya untuknya itu, kini beralih untuk menatap pria lain. Hal itu, membuat Raden Dwipa semakin digulung kecemburuan.
Setelah Raden Daksa dan Astri menyapa para sesepuh, mereka kemudian pergi menuju ke ruang makan besar untuk makan bersama di satu meja yang panjang dan cukup besar. Meja itu bahkan bisa menampung hingga tiga puluh orang.
Semua orang di keluarga Soeradiningrat itu sudah duduk disana. Semua anak dan cucu, berkumpul bersama di meja besar itu. Mereka makan siang bersama sembari mengobrol santai. Marini pun memberikan pengumuman yang disambut bahagia oleh keluarga bear Soeradiningrat.
🤔🤔
othor kie...🤣😄