Cerita ini menceritakan seorang gadis yang mengalami peristiwa yang sangat tragis, karena kecelakaan yang dialami nya, dia harus duduk di kursi roda sebagai penyangga hidupnya, entah lelaki mana yang masih mau menerima nya sekarang, dokter mengatakan semuanya sementara, namun ini sudah hampir lima tahun da dirinya masih duduk di kursi roda. Entahlah, hidupnya mungkin akan berakhir seperti itu selamanya, namun di saat detik detik terakhir dalam hal terpuruk nya. Dia datang, seolah membawa harapan yang selama ini dia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MegaHerdian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Melihat Layla yang masih terdiam dengan tatapan menantang, kesabaran Teo benar-benar habis, topeng kendali diri yang biasanya dia pamerkan di depan kolega bisnis runtuh seketika.
Wajah Teo semakin menggelap, di penuhi amarah yang meledak ledak, dengan satu sentakan kasar, Teo menendang kursi yang ada di dekatnya hingga menghantam dinding ruang medis dengan bunyi dentuman keras.
“Jawab akua , Layla!” bentak Teo, suaranya menggelegar memenuhi ruangan, membuat Layla tersentak kaget.
“Aku sudah menurunkan harga diriku demi mencarikan proyek terbesar untuk timmu! Aku memberikan semua kemewahan, anggaran tanpa batas dan fasilitas terbaik di Shanghai ini! Dan satu-satunya hal yang aku minta darimu hanyalah menepati janji dua bulan itu! Kenapa bajingan seperti ku harus memohon mohon pada wanita di atas kursi roda?!!”
Air mata yang sejak tadi dia tahan kini akhirnya menetes, membanjiri pipinya. Bukan karena takut, melainkan karena muak.
“Karena sejak awal kau egois, Teo! Sedari dulu saat kita masih kuliah kau tidak peduli dengan ucapan ku dan bahkan tidak mendengar perkataan ku! Kau melakukan apapun semau mu! Kau hanya peduli pada egomu yang terluka karena aku menolakmu kan?!” Layla mengucapkan nya dengan lantang walaupun bibirnya gemetar hebat, akhirnya dia bisa mengutarakan apa yang selama ini dia simpan di dalam kepalanya.
“Ya! Aku memang egois!”
“Kau yang membuat ku seperti ini, sedari dulu aku mencoba mendekati mu dengan cara yang baik namun kau selalu menolak! Dan kau mengingkari kesepakatan kita saat itu, membiarkan ku terlihat seperti orang bodoh yang menunggu kepastian! Jangan harap kau bisa lolos kali ini!” Desis Teo.
“Jika dalam waktu dua puluh empat jam kau tidak berdiri di samping ku sebagai kekasihku pada acara makan malam bersama para investor utama besok malam, aku bersumpah demi apapun! Ini kesempatan terakhir mu atau….” Teo menjeda ucapannya.
“Aku akan memastikan Bimo membusuk di penjara imigrasi Cina atas tuduhan pemalsuan dokumen proyek “ Ancam nya lagi.
“Bukannya kau sangat setia kawan, Layla”
“Berjanjilah, jika dua bulan itu selesai kau tidak akan mengganggu ku lagi! Untuk selamanya..” Layla menatap putus asa ke arah Teo yang tersenyum meremehkan dirinya.
“Kita lihat saja nanti” Teo seperti yakin dengan segala apapun yang telah dia lakukan, seperti sudah mantap dan sudah terencana dengan sempurna.
——
Sejak ancaman 24 jam di ruang medis malam itu, hidup Layla di Shanghai berubah menjadi rangkaian mimpi buruk yang tak berujung.
Teo benar-benar menjalankan niat bulusnya dengan begitu niat.
Menggunakan jaringan kekuasaan raksasa milik Zhang Grup, Teo secara sistematis menciptakan berbagai kesulitan ekstrem yang melumpuhkan pergerakan Layla dan timnya, memastikan bahwa hanya dirinya lah satu-satunya jalan keluar bagi Layla.
Setiap sudut kota Shanghai yang awalnya terlihat megah, kini terasa seperti labirin jebakan yang dirancang khusus untuk menyiksa Layla.
Kesulitan pertama langsung menghantam fisik Layla. Pagi itu, akses kartu khusus ramah disabilitas milik Layla untuk lift utama hotel dan studio mendadak dinonaktifkan dengan alasan pembaruan sistem keamanan. Kursi roda elektrik Layla tidak bisa melewati pintu putar otomatis di lobi.
Saat Layla telantar di lobi dengan tatapan kasihan dari orang-orang, Teo muncul dari mobil mewahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Teo hanya berdiri di dekat pintu lift khusus direksi yang terbuka lebar. Melihat itu Layla terpaksa harus menelan harga dirinya, menatap Teo dengan mata berkaca-kaca, Layla memohon kepada Teo untuk menyuruh staf nya mengaktifkan kembali akses nya. Hanya dengan satu kedipan mata dari Teo, pintu lift terbuka untuk Layla.
Teo berbisik dingin saat berpapasan dengan Layla “Ingat, di kota ini, hanya aku yang bisa membantumu “.
Ternyata Teo tidak berhenti di situ saja, Teo mempersulit pekerjaan arsitektur Layla. Semua pemasok material lokal ramah lingkungan yang telah dikontak oleh Bimo tiba-tiba membatalkan pesanan secara sepihak. Dokumen izin kelayakan lingkungan untuk konsep pencahayaan Layla mendadak di tahan oleh birokrasi Shanghai dengan alasan kekurangan dokumen.
Bimo frustrasi hingga hampir mengamuk di kantor proyek, namun ia tidak melakukan apa-apa karena hukum setempat sangat ketat.
Di tengah kepanikan tim yang terancam denda penalti miliaran yuan akibat keterlambatan, sekretaris Teo datang membawa map merah. Berisi dokumen izin yang di tandatangani langsung oleh Teo sebagai project director, lengkap dengan jaminan suplai material terbaik.
Teo membuat situasi di mana proyek itu hanya bisa berjalan jika ada stempel tanda tangan nya. Dan lagi harus Layla yang di paksa menghadap ke ruang Teo sendirian hanya untuk meminta tanda tangan tersebut di bawah tatapan Teo yang penuh kemenangan.
Dan puncak semuanya terjadi malam sebelum acara makan malam investor. Saat Bimo sedang meninjau lokasi tapak bangunan dengan seseorang pekerja lokal, petugas imigrasi setempat mendadak mendatangi Bimo dan menahannya atas tuduhan ketidaksesuaian visa kerja khusus arsitek asing, Bimo di bawa ke kantor detensi, meninggalkan Layla sendirian tanpa teman yang menjadi penopang nya.
Layla yang panik mencoba menghubungi kedutaan dan pengacara, namun semua jalur birokrasi terasa sangat lambat dan buntu.
Di saat Layla menangis sendirian di studio yang sepi, pintu ruangan terbuka, Teo masuk dengan santai sembari menaruh ponselnya ke meja di depan Layla. Di layar ponsel, terlihat video Bimo yang sedang duduk di ruang imigrasi dengan aman, namun di jaga ketat.
“Satu telpon dariku, dan sahabatmu itu akan bebas dalam waktu lima menit dengan visa kerja vip” ucap Teo sambil tersenyum sinis, mengeluarkan sebuah gaun malam mewah berwarna hitam dari kotaknya dan langsung meletakkannya di pangkuan Layla.
“Atau. Ngebiarin dia di deportasi besok pagi dengan catatan kriminal yang akan menghancurkan karirnya selamanya “ ucap Teo lagi Saat melihat Layla yang sudah siap untuk protes.
Layla memandang gaun itu dengan tangan gemetar “aku tidak pantas menggunakan pakaian seperti ini, Teo. Semua orang akan memandangku aneh saat melihat kondisi ku yang seperti ini”
“Memangnya siapa yang akan memandang mu selain aku Layla”
Teo telah mengunci semua jalur hidupnya dengan sempurna, rencananya begitu berjalan mulus sampai sampai Layla kehilangan akal sehat saat menghadapi semua rencana busuk yang sudah di siapkan Teo.
“Tolong… bebaskan Bimo” bisik Layla lirih, suara tercekat di tenggorokan, mengakui kekalahannya.
Teo tersenyum puas saat melihat Layla yang sudah jatuh ke perangkap nya dengan sempurna, membelai lembut rambut Layla namun terasa seperti mengintimidasi “ Gadis pintar, andai kau seperti ini sedari dulu..”
Layla sudah terperangkap dalam permainan Teo, entah apa yang akan lelaki itu lakukan selanjutnya jika dia tidak menuruti semua perintah nya.