Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 32
Proses penukaran tiket berlangsung penuh gelak tawa. Elang menatap deretan rak pajangan dengan mata berbinar-binar, menjinjitkan kaki mungilnya untuk menunjuk sebuah boneka dinosaurus hijau berukuran sedang.
"Om Elian! Elang mau dinosaurus yang itu! Boleh, kan?" panggil Elang heboh sambil mengguncang lengan Elian.
Petugas loket menghitung gulungan tiket panjang mereka dengan mesin khusus. "Tiketnya cukup untuk boneka dinosaurus ini, Adik manis. Masih ada sisa sedikit, mau ditukar permen?"
"Mau permen rasa stroberi buat Mbak Dilara!" celoteh Elang tanpa ragu, membuat Dilara tertegun di sampingnya.
Petugas tersenyum ramah seraya menyerahkan boneka dinosaurus dan beberapa permen gagang kepada Elang. Anak kecil itu langsung menyodorkan satu permen berwarna merah muda ke arah Dilara dengan cengiran lebar tanpa dosa.
"Ini buat Mbak Dilara, biar Mbak ndak sedih lagi!"
Jantung Dilara serasa disiram air sejuk. Ia berlutut menyamakan tingginya dengan Elang, menerima permen itu dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak ya, Elang. Mbak Dilara suka sekali."
Elian yang berdiri mengamati di samping mereka tersenyum tipis. Aura dingin yang biasanya menyelimuti pengusaha muda itu seolah mencair sepenuhnya.
"Nah, sekarang hero kecil ini sudah dapat mainannya. Saatnya kita mengisi perut."
Mereka melangkah menuju sebuah restoran bernuansa kayu Jepang yang hangat dan eksklusif di lantai atas mall. Begitu melewati pintu depan, pelayan menyambut dengan busur sopan dan mengantar mereka ke salah satu area meja booth yang agak privat di sudut ruangan.
Elian secara alami membiarkan Dilara duduk di sisi dalam meja bersama Elang, sementara ia mengambil posisi tepat di seberang mereka.
"Kamu ada alergi makanan, Dilara?" tanya Elian seraya membuka lembaran menu berdesain mewah di tangannya.
Dilara menggeleng pelan, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Tidak ada, Pak Elian. Saya makan apa saja biasa."
"Bagus kalau begitu," Elian menoleh ke arah pelayan yang berdiri siaga dengan catatannya.
"Tolong Chicken Teriyaki Bento untuk Elang, potongannya dibuat agak kecil ya. Lalu Unagi Don, dua porsi Chicken Nanban, dan teh hijau hangat tiga."
Dilara sempat mengangkat wajahnya sedikit. "Pak Elian... porsinya sepertinya terlalu banyak. Saya cukup..."
"Jangan memotong pesanan aku, Dilara," potong Elian lembut, namun matanya memancarkan ketegasan yang dibungkus candaan tipis.
"Kamu sudah seharian mengejar-ngejar Elang di Timezone. Tenagamu pasti terkuras habis."
"Tapi Pak..."
"Anggap saja ini bonus kerja lapangan," sela Elian lagi, menatap Dilara lurus.
"Makan yang banyak. Jangan membuat saya merasa gagal memberi fasilitas untuk pekerja saya."
Dilara akhirnya menyerah dan menunduk lagi, menyembunyikan rona tipis di pipinya.
"Baik... Terima kasih banyak, Pak Elian."
Sambil menunggu hidangan datang, Elang sibuk memainkan dinosaurus barunya di atas meja kayu. Suasana meja yang semula sempat kaku perlahan mencair ketika Elang mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan polos.
"Om Elian, nanti kalau Elang sudah besar, Elang boleh punya boneka dinosaurus yang tingginya sampai ke atap rumah ndak?" tanya Elang polos, matanya membulat lucu.
Elian tertawa rendah, suara tawa renyah yang amat jarang terdengar di dalam rumah megahnya.
"Kalau tingginya sampai ke atap, nanti rumah kita tidak muat, Elang. Mau ditaruh di mana? Di atas mobil Om?"
"Ditaruh di kamar Mbak Dilara saja!" sahut Elang cepat tanpa beban.
Uhuk.
Dilara yang baru saja menyesap sedikit teh hijau hangat yang baru diantarkan pelayan mendadak tersedak pelan. Ia buru-buru menutup mulutnya dengan tisu, wajahnya memerah sempurna. Elian terkekeh, menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan keponakannya.
"Jangan sembarangan, Elang. Kamar Mbak Dilara nanti penuh, dia jadi tidak bisa tidur."
"Kan bisa tidur di kamar Om Elian!" polos Elang lagi tanpa dosa.
Ruangan itu mendadak hening selama beberapa detik. Dilara rasanya ingin menghilang menembus lantai pualam restoran saat itu juga. Ia benar-benar tidak berani mendongak, matanya menatap tajam cangkir keramik di hadapannya.
Elian berdeham pelan untuk menguasai keadaan, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat arti.
"Elang... kalau bicara ditiup dulu ya otaknya. Bicara seperti itu tidak sopan sama Mbak Dilara."
"Memangnya kenapa, Om?" tanya Elang polos, mengedipkan matanya tak paham.
"Karena Mbak Dilara itu wanita yang harus kita hormati," sahut Elian dengan intonasi rendah dan amat dalam. Matanya sekilas melirik ke arah Dilara yang masih menunduk malu.
"Pria gentelmen tidak boleh bicara sembarangan pada wanita yang bermartabat."
Tak lama kemudian, pesanan makanan mereka berdatangan. Wangi gurih saus teriyaki dan aroma daging panggang yang menggugah selera langsung memenuhi udara.
Dilara dengan telaten membantu memotong daging ayam di piring Elang menjadi ukuran-ukuran kecil, memastikan anak itu bisa mengunyahnya dengan aman. Ia juga mengusap sudut bibir Elang dengan tisu setiap kali saus menempel di sana. Semua gerakan Dilara terasa begitu alami, memancarkan naluri keibuan yang luar biasa hangat.
Dari seberang meja, Elian menyantap Unagi Donnya sambil diam-diam memperhatikan setiap gerak-gerik Dilara. Rasa kagum di dadanya semakin tak terbendung.
'Bagaimana bisa pria sebodoh Kevin mencampakkan wanita seperti ini?' batin Elian dalam hati.
'Wanita yang ketulusannya terlihat dari hal-hal sekecil ini... ditukar dengan keangkuhan kosong.'
"Pak Elian?" panggil Dilara pelan, menyadarkan Elian dari lamunannya.
"Ya?"
"Makanan Bapak tidak dihabiskan? Apakah rasanya kurang cocok?" tanya Dilara agak cemas melihat Elian sempat mematung memegang sumpitnya.
"Ah, tidak. Makanan ini enak," sahut Elian santai, kembali menyumpit potongan belut panggangnya.
"Saya cuma sedang berpikir..."
"Berpikir tentang pekerjaan kantor ya, Pak?"
Elian menggeleng pelan. Ia meletakkan sumpitnya sebentar, menatap Dilara dengan pandangan teduh dan fokus sepenuhnya pada wanita di hadapannya.
"Saya sedang berpikir... mulai besok, kamu tidak perlu canggung lagi berada di rumah saya," ucap Elian tenang.
"Kamu bukan sekadar pekerja yang harus berdiri dua meter di belakang saya karena takut dikira tidak sopan. Kamu adalah bagian dari pelindung Elang, dan rumah itu adalah tempat amanmu."
Dilara menghentikan gerakan tangannya. Kalimat sederhana itu menghantam bagian terdalam jiwanya yang selama satu tahun belakangan ini selalu diintimidasi, diabaikan, dan dianggap tidak ada nilainya oleh Kevin dan keluarga mantan suaminya.
"Terima kasih... Pak Elian," bisik Dilara dengan suara yang bergetar lembut.
"Saya sungguh tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak seperti apa."
"Cukup tersenyum lepas seperti tadi saat bermain dengan Elang," balas Elian dengan senyum tipis yang amat menawan.
"Itu sudah lebih dari cukup."
Di balik jendela kaca restoran yang menampilkan kelap-kelip lampu kota Jakarta di malam hari, Dilara meremas pelan permen gagang pemberian Elang di dalam kantong gamisnya. Luka akibat perceraian yang dibacakan hari ini memang tidak lantas hilang dalam sekejap, namun berada di antara dua pria paman dan keponakan yang menghargainya dengan begitu terhormat membuat Dilara yakin bahwa masa depannya tidak lagi berada di dalam kegelapan.
sabar y Rendy 🤭
mandi kembang Rendy ....biar ngga kena sembur lagi 😂😂😂😂😂