NovelToon NovelToon
The Ustaz'S Dark Secret

The Ustaz'S Dark Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik jubah dakwahnya sebagai ustadz muda karismatik, Musa menyimpan rahasia besar sebagai mafia yang disegani. Selama setahun, ia terus bayangi sosok wanita misterius yang pernah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari jebakan musuh sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

​Titik terang muncul ketika orang tua Musa, Kyai Adam dan Umi Sinta menjodohkannya dengan Musdalifah, putri seorang sahabat. Namun, kejutan besar menanti: wanita misterius yang dicarinya selama ini ternyata adalah Laila, adik kandung Musdalifah. Tanpa ragu, Musa menolak Musdalifah dan menuntut untuk menikahi Laila. Decision nekat itu tidak hanya memicu rasa sakit hati dan dendam Musdalifah, tetapi juga menyeret mereka ke dalam konflik keluarga yang sengit, dibayangi oleh rahasia masa lalu serta bahaya dari dunia kelam Musa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Musa membimbing Laila berdiri, lalu berbalik mengutarakan niatnya untuk pamit kepada kedua pasang orang tua di hadapan mereka.

"Abah, Umi, Kyai Adi, kami mohon pamit terlebih dahulu. Musa ingin membawa Laila ke rumah kami," ucap Musa penuh takzim sembari mencium tangan Kyai Adam dan Kyai Adi.

Laila yang mendengar ucapan itu mendadak panik kecil. Ia mendongak, menatap mata tajam di balik wajah tenang suaminya.

"Musa, aku belum bersiap-siap untuk mengepak pakaianku dan barang-barang yang lainnya." bisik Laila ragu.

Musa mengulas senyum tipis di balik ekspresi dinginnya, lalu mengusap lembut jemari Laila.

"Tidak usah kamu bawa, Laila. Pakaian dan perlengkapanmu bisa kita beli yang baru nanti. Kamu cukup membawa barang-barangmu yang paling penting saja."

Laila menganggukkan kepalanya patuh. "Baiklah, tunggu sebentar ya, Musa."

Ia melangkah perlahan menuju kamarnya. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Laila menghela napas panjang, menetralkan jantungnya yang berdegup kencang oleh segudang perubahan mendadak dalam hidupnya.

Tanpa membuang waktu, Laila meraih tas ransel miliknya.

Barang pertama yang ia masukkan dengan hati-hati adalah peralatan medis pribadinya, termasuk seperangkat pisau bedah steril—alat yang menjadi bagian dari jiwanya sebagai lulusan kedokteran.

Setelah itu, ia melangkah mendekati sudut kamar tempat seekor kucing kesayangannya sedang meringkuk tenang.

"Ayo, milo, ikut aku ya," bisik Laila lembut sembari mengelus bulu halus kucingnya, lalu memindahkannya secara perlahan ke dalam tas khusus hewan yang sudah disiapkan.

Setelah memastikan tas ransel dan tas khusus kucingnya terpasang rapi, Laila kembali melangkah keluar kamar, siap menyongsong kehidupan baru di sisi Musa—pria berparas ustaz dengan dunia yang teramat gelap.

Laila melangkah keluar dari kamar sambil membawa tas khusus kucing dan tas ransel berisi perlengkapan pentingnya.

Langkah kakinya terasa begitu mantap, meski hatinya masih diliputi kecemasan akan babak baru kehidupannya.

Namun, saat ia melewati lorong menuju ruang tamu, langkahnya terhenti. Musdalifah keluar dari dalam kamar dengan mata yang masih memerah dan sembap.

Wajah cantiknya kini dipenuhi amarah yang tersembunyi di balik senyum sinis.

Ia mendekati Laila perlahan, melipat tangan di dada, lalu berbisik tepat di samping telinga sang adik dengan nada penuh racun.

"Jangan berbangga diri dulu, Laila. Kamu cuma menang di awal. Aku akan pastikan rumah tanggamu hancur dan Musa akan berlutut memohon ampun padaku!"

Laila tersentak pelan. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tak percaya sekaligus sedih.

"Astaghfirullah, Mbak." gumam Laila penuh keprihatinan.

"Ada apa, Laila?"

Suara berat dan tenang tiba-tiba memotong udara. Musa melangkah menghampiri mereka berdua dari arah ruang tamu.

Tatapannya tertuju lurus pada Laila yang tampak tegang di samping Musdalifah.

Laila dengan cepat menguasai dirinya. Ia tak ingin memicu keributan baru di rumah orang tuanya.

"Tidak ada apa-apa, Musa. Aku hanya berpamitan sama Mbak Musdalifah."

Namun, bukan Musa namanya jika tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Naluri tajam seorang pemimpin dunia bawah tanah membuatnya bisa membaca gestur ketakutan, ancaman, dan kebohongan sekecil apa pun.

Ia tahu betul tatapan beracun yang baru saja dilayangkan Musdalifah pada istrinya.

Musa memiringkan kepala, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke arah Musdalifah.

Aura dingin yang mencekam dan menusuk seketika menguar dari tubuhnya.

Tatapan matanya yang tajam bak belati menembus wajah Musdalifah.

"Apa kamu baru saja mengancam Bidadariku?" tanya Musa dengan nada suara amat pelan, namun berbobot begitu berat dan dingin hingga mampu membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya.

Musdalifah merinding hebat. Nyalinya menciut seketika merasakan tekanan aura mengerikan yang belum pernah ia lihat sebelumnya dari sosok

"Ustaz" Musa.

Tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun, Musdalifah langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak berani menatap mata pria di hadapannya.

Musa menyipitkan matanya, mengunci sosok Musdalifah yang kini gemetar tanpa mampu sepatah kata pun membela diri.

Dengan gerakan perlahan namun protektif, Musa meraih tas kucing dan tas ransel dari genggaman Laila, lalu menggenggam jemari istrinya dengan begitu erat.

"Ayo, Laila. Kita berangkat sekarang," ucap Musa, suaranya berubah menjadi teramat lembut hanya dalam hitungan detik saat beralih mengajak istrinya.

Laila mengangguk pelan. "Iya, Musa."

Tanpa melirik sedikit pun ke arah Musdalifah yang masih membisu ketakutan, Musa membimbing Laila berjalan menuju pintu depan.

Kyai Adam, Umi Sinta, serta Kyai Adi dan Umi Mina mengiringi langkah mereka sampai ke pelataran rumah.

Usai mencium tangan kedua orang tua dan mertua untuk pamit, Musa membukakan pintu mobil sport-nya khusus untuk Laila.

Setelah memastikan Laila dan kucingnya duduk nyaman di dalam kabin, Musa memutar langkah dan masuk ke kursi kemudi.

Mesin mobil berderum halus, melaju meninggalkan pelataran rumah Kyai Adi menuju kehidupan baru yang telah menunggu mereka.

Suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Hanya terdengar dengkuran halus sang kucing dari dalam tas khususnya serta deburan jantung Laila yang masih maraton.

Musa mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan kirinya terulur menggenggam jemari Laila yang bertengger di atas pangkuan.

Ia mengusap punggung tangan istrinya itu dengan ibu jari.

"Maafkan sikap Mbakmu tadi ya, Istriku," ujar Musa pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

"Di sampingku, tidak akan ada satu orang pun yang boleh menyakitimu atau membuatmu merasa kecil. Tidak Mbakmu, bahkan tidak juga keluargaku."

Laila menoleh, menatap garis rahang tegas suaminya dari balik cadar hitam yang terpasang rapi di wajahnya.

Ada rasa hangat yang membuncah di dadanya mendengar janji perlindungan itu.

"Terima kasih, Musa. Tapi, aku tidak apa-apa," jawab Laila lembut.

Ia menghentikan jeda sejenak sebelum memberanikan diri bertanya,

"Musa, sebenarnya kita mau pergi ke mana? Apakah ke rumah dinasmu atau ke pondok pesantren?"

Musa mengulas senyum tipis—senyum misterius yang menyimpan seribu arti.

Ia mengarahkan mobilnya mengambil lajur kanan, berbelok menjauhi arah jalan menuju Pondok Pesantren milik ayahnya.

"Kita tidak pergi ke pesantren hari ini, Laila," sahut Musa datar.

"Aku membawamu ke tempat tinggalku yang sebenarnya. Tempat di mana rahasia dan duniaku berada."

Laila menahan napasnya. Tatapannya tertuju pada pemandangan luar jendela yang makin lama makin jauh dari pusat kota, melintasi kawasan perumahan privat bernuansa eksklusif dan tertutup dengan penjagaan ketat di setiap gerbangnya.

Mobil sport Musa akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman megah berarsitektur modern minimalis dengan pagar besi tinggi menjulang.

Begitu mobil Musa mendekat, beberapa pria berbadan tegap yang mengenakan jas hitam rapi segera membungkuk hormat, membukakan gerbang utama secara cepat dan teratur.

Musa mematikan mesin mobilnya, lalu berpaling menatap sepasang mata indah Laila.

"Selamat datang di rumah kita, Bidadariku," bisik Musa pelan.

"Mulai hari ini, inilah benteng perlindunganmu." ucap Musa.

1
Rahmawati Amma
akhirnya tamat juga bagus ceritanya ngak terlalu panjang babnya saya suka karna saya suka ceritanya kuberi gift nonton iklan 10× traktir kopi 🍵 plus kasih vote maaf thor cuma itu yg bisa saya beri😖😢🙏
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Muft Smoker
cerita ny bagus kak ,, aq suka ma ceritanya 😁🤗
Muft Smoker
akhirnya semua udh bertemu dengan kebahagiaan masing2 ,,

makasih buat cerita ny yx kak ,,
Muft Smoker: sama2 kak ,, semangat buat cerita terbaru ny
total 2 replies
Yani Agustin
thor, katanya dua2nya keturunan kyai tapi koq ga ada shalat2 nya, trus ga ada ritual ahalat sunat dulu sebelum MP, trs kelakuan bu nyainya tdk mencerminkan bu nyai seh thor 🙏
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
alhmdulillah versi mini dr kalian telah lahir dg sehat dan selamat ,,
Muft Smoker
waah bayi ny aj janjian mau keluarnya ,, 🤭 ,, semoga ibu dan bayi ny sehat2 ,, baik Laila atau pun Musdalifah ,,,
Rahmawati Amma
kok sepi pembaca ya padahal novelnya lumayan bagus 🤔
Rahmawati Amma
bagus ceritanya
my name is pho: Terima kasih kak 🥰🙏
total 1 replies
Rahmawati Amma
ya berhubung nonton iklan sisa 7kali ya aku cuma bisa ngasi segitu plus traktir kopi 🍵 😅
Rahmawati Amma
ini aneh laila lah katanya bisa bela diri lah ini kenapa lembek 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
weh thor kok nama doang yg di sebut ngak sopan itu panggil abang ke atau mas lah ini nama doang tampa embel2 😔
my name is pho: terima kasih kak. tapi nanti ada di bab ke sekian ada panggilan mas
total 1 replies
Rahmawati Amma
lah bukannya laila bercadar di sampul novelnya 🤔😅
Yati Susilawati: mungkin nnt klu sdh nikah😌
total 1 replies
Muft Smoker
akhirnya semua udh berdamai dg masa lalu ,, begitu juga dg Zafar ,, semoga stelah masa hukuman km telah selesai segera pertanggung jawabkan perbuatan mu terhadap Musdalifah ,,
Muft Smoker
alhmdulillah smua udh baik2 aj ,,
semoga ,,

lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
semoga Musdalifah bnr2 berubah ,,
hingga tinggal bahagia ny aj niih ,,
sri hastuti
semoga selanjutnya bahagia semua thor, semua rukun ,🙏
sri hastuti
bagus, musa tegas sbg pria tau batasannya, jd gak semua wanita brani goda, siippp Musa, 👍👍
sri hastuti
semoga sdh tdk ada gangguan lagi, atau pelakor,atau kejahatan ,biar mereka berdua bahagia thor 🙏
Muft Smoker
putri angkat???
bukan ny Laila ank ny kyai Adi dr almarhum istri pertama kiyai Adi yx kak ,,
apa aq yg salah baca waktu tu🤭🤭🤭😁😁😁😁
Muft Smoker: 🤭🤭🤭😁gpp kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!