Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Al's POV
Hampir seminggu T&T latihan. Gue kangen manggung lagi setelah sekian lama kami memutuskan untuk istirahat sesudah membuat dua album. Nggak cuma kangen manggung dan menggebuk drum lagi tapi ada seseorang yang bikin gue nyaman. Yang bikin gue kangen. Tapi dia nggak ngerti sinyal yang udah gue kasih.
Namanya Rin. Anaknya bawel tapi pinter. Sedikit lambat tapi cerdas. Anaknya ceria dengan rambut hitam yang sering di ekor kuda, senyumannya yang manis ditambah satu lesung pipi di sebelah kanan jadi ciri khasnya.
Gue kangen berat. Gue kangen cookies-nya, gue kangen ngobrol, gue kangen Rin. Gue bela-belain jajanin minuman coklat untuk temen panitia nya demi bisa ketemu Rin. Gue butuh penyemangat untuk tampil tiga hari lagi. Gue bakal bikin surprise untuk Rin waktu gue manggung. Tapi dia tetap gue rahasiain. Gue bakal ajak dia ke backstage.
Ah rencana yang gue susun udah gue catet. Malam ini beberapa kali gue chat, dia belum bales. Masih sibuk. Akhirnya dia bales! Tapi gue nggak sabar denger ceritanya, denger suaranya. Gue bela-belain nelpon sambil nungguin Jonas dan Arza ngabisin ayam goreng kiriman dari fans.
"besok bisa ke bukit?" gue berharap banget dia bisa, gue mau ngasih sesuatu yang spesial buat dia sebelum gue manggung di kampusnya.
maaf Al... Kayaknya nggak bisa" semangat gue turun, di belakang Jonas masih ribut dengan Arza. Gue nggak konsen dan memilih ke ruangan.
"Ada kegiatan lain?" gue nanya sambil ngeliatin list yang udah gue susun kalo ketemu Rin.
"Nggak sih, lo tau temen gue yang ngasih gue gelang ungu? Yang lo simpenin? Yang mau gue kenalin ke elo? Besok dia bakal datang! Katanya nginep tiga harian di sini! Mau liat band lo katanya!" Rin cerita degan santainya. Gue? Gue kesel. Segitu berharganya temen lo daripada gue. Seganteng apa sih dia? sampe-sampe lo seantusias itu?
"Ooh... Yang itu!"
"Iya! Ntar gue bisa sombong dikit soal penjualan cookies itu. Berkat dia, gue bisa menuhin kebutuhan gue sendiri! Nggak ngerepotin orangtua!" Rin masih antusias cerita. Bangga banget. Dia cuma butuh orang lain buat bikin dia bangga. Dia nggak tau gue udah se-effort ini? Gue acc buat tampil di kampusnya juga itu karena ada elo! gue memaki dalam hati.
Tak sengaja gue meremas gelas kopi yang ada diatas meja, masih ada kopinya dan masih hangat! tapi gue nggak rasa apapun! Kopinya meluber ke atas meja.
"Gue besok mau jemput dia dulu," lanjut Rin.
"Ya udah, lo jemput aja dia!" dingin. Gue sadar dan nyesal dengan nada ucapan gue tapi lidah gue berat untuk ngucapin kata maaf.
"Gue latihan!" gue mematikan sambungan telepon. Setelah gue nyadar kalo gue udah jahat ke Rin, gue malah kabur! Sial! Gue pecundang!
Malam itu gue biarin anak-anak pulang, gue nginep di kantor. Males. Dan malam ini gue nggak bisa tidur! Sial...
Gue ke ruang latihan, nyoba main piano. Berharap besok si pemberi gelang ungu itu nggak jadi datang. Seganteng apa dia sampe Rin segitunya?
Semua terjawab waktu gue dan anak-anak T&T datang ke kampus Rin. Ketika gue turun, gue ngeliat dia sedang di stand bazar. Dia senyum tapi gue melengos setengah berlari naik ke atas panggung.
Sengaja menyibukkan diri dengan sound system di belakang tapi ekor mata gue selalu ke arah Rin. Gue duduk di atas kursi, nyobain drum yang di sediakan kampus. Bima masih menyetel senar gitarnya, Jonas dan Arza masih cek kabel.
Gue lihat dia jalan ke pojokan lapangan, di bawah pohon sana! Cowok dengan memakai hoodie dan kacamata hitam itu! Pantesan! Gua rasa Rin jadiin gue pelariannya. Cowok itu... Kita punya style yang sama! Dan Rin nyuapin cowok itu makanan!
Duk... Duk ..duk... Duk... Bima dan semua penghuni kampus kaget. Gue juga njirrr! Ngapain Rin nyuapin segala!
"Gue nggak mau drum ini! Ambil di kantor!" gue mulai menyalahkan drum yang sebenernya nggak ada masalah dengan bunyinya. Gue ke backstage. Gue nggak boleh kelihatan kesel. Gue harus profesional, ini penampilan untuk kampus!
Gue mengusap wajah dengan kasar dan meminum air yang sudah di sediakan di meja.
"Kosongin backstage! Gue nggak mau ada yang nyari-nyari ke sini!" gue ngasih perintah ke orang-orang gue. Mereka paham dan mengangguk.
Suara gitar dan bass sudah mulai terdengar. Di susul keyboard dari Arza. Gue ngambil earphone dan mendengarkan musik dengan suara nyaris full.
POV AL.. End
"Lo ngapain sih!" Bima menarik earphone Al dengan wajah marah.
"Gue mau ganti drum!"
"Kenapa? Nggak ada yang salah dengan drum yang mereka sediain!"
"Nggak enak!"
"profesional dikit Al! Ini secara nggak langsung lo bilang alat mereka nggak bagus! Mau lo apa sih! Kenapa uring-uringan! Kalo ini masalah cewek, lu kelarin dulu! Males gue jelasin kesana-sini!" Bima keluar ruangan, di depan Jonas dan Arza saling pandang. Kalau Bima bisa semarah ini, berarti Al sudah kelewatan.
"Mau kemana?" tanya Arza.
"Jajan!" ucap Jonas. Arza mau masuk ke ruangan.
"Keluar! Gue mau tenangin diri!" ucap Al tanpa menoleh.
"kita tunggu di atas bang!" ucap Arza sesaat sebelum menutup pintu.
Ponsel Al berbunyi, rasanya dia malas melihat siapa yang mengiriminya pesan. Tapi...
Rin : Al lo dimana? Temen gue ngefans banget ama band kalian.
Al menimbang-nimbang sesaat.
Al : nanti ajak temen lo ke backstage!
Al membalas pesan Rin. Dia harus tau seperti apa saingannya. Bila perlu Al terang-terangan menyatakan cinta ke Rin.
Al menarik napas dan menenggak minumannya hingga habis lalu pergi ke atas panggung. Sesampainya di atas panggung, Al tak melihat Rin dimanapun. Dia konsentrasi mencoba drum yang tadi katanya "nggak enak".
"Gue batalin drum dari kantor!" ucap Bima saat Al memainkan stiknya. Al mengangguk dan mulai memainkan ketukan. Beberapa penonton histeris melihatnya bermain. Al makin pede dan membiarkan ketukan drumnya membawanya ke dunianya.
Rin bisa nunggu. Tapi check sound saat ini prioritas. Dia bakal ngomong dengan Rin.
Setelah puas. Mereka latihan satu lagu. Lalu turun panggung. Al berjalan paling depan dan membuka pintu ruangan untuk T & T. Saat membuka pintu seseorang sudah duduk santai di dalam ruangan itu. Dia berdiri dan tersenyum ke arah Al.
Al membeku begitu juga dengan member lain. Al masuk ragu-ragu. Seseorang di dalam sana bernama Vivian, vokalis band juga. Dan dia masa lalu Al.
Vivian dengan dress hitam berjalan mendekati Al dan cipika cipiki sambil tersenyum. Al diam membeku.
"Surprise!" ucap Vivian.
Di depan pintu tidak hanya ada tiga member T&T, tapi Rin dan Ara juga berdiri di samping pintu dan melihat semua adegan itu karena pintu masih terbuka lebar.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok