NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Taring Harimau dan Cakar Naga

"Jangan kendurkan genggamanmu, Kosuke! Jika benteng luar ini runtuh, pastikan garis pertahanan kita bertahan sampai fajar!"

Suara Sanada Nobushige membelah deru ledakan mesiu di Gerbang Utara Odawara. Wajah pemuda Shinano itu sudah penuh jelaga hitam bercampur noda darah kental. Baju zirah akatoshiku merahnya terkoyak di bagian pundak kanan akibat goresan tombak musuh, namun sepasang matanya tetap menyala bagai bara yang tak tersiram air.

Di sekelilingnya, suasana pertempuran berada di titik paling kritis. Pasukan Sanada yang tadi malam berhasil membakar menara pengawas kini terdesak oleh gelombang serangan balasan dari lima ribu prajurit klan Hojo di bawah komando Hojo Ujifusa. Hujan anak panah dan dentuman senapan tanegashima tanpa henti menghujani parit-parit buatan yang digali pasukan Sanada.

"Tuan Muda!" jerit Anayama Kosuke seraya menangkis sabetan pedang musuh dengan perisai kayunya. "Jumlah mereka tiga kali lipat dari kita! Jika pasukan bantuan dari sayap Uesugi tidak datang dalam waktu satu jam, garis pertahanan ini akan terputus!"

Nobushige menancapkan tombak berbilah silang (jumonji-yari) miliknya ke tanah basah, menahan napas yang terasa membakar dada. "Tahan posisi! Klan Sanada tidak akan mundur satu inci pun sebelum—"

DUUUMMM!

Sebuah dentuman meriam berkaliber besar bergema menggelegar dari arah jalan setapak perbukitan belakang. Bola besi raksasa meluncur membelah udara malam, menghantam tepat di tengah-tengah gelombang prajurit Hojo yang sedang menyeberangi parit. Pecahan tanah, kayu, dan potongan tubuh melayang ke udara.

Di tengah gumpalan asap hitam yang membumbung tinggi, derap ribuan kaki kuda berkecimpung keras menghantam lumpur. Dari balik kegelapan hutan, panji-panji perang bergambar bulan sabit emas meletus masuk ke medan pertempuran.

Di barisan terdepan, Date Masamune melesat bagaikan naga yang mengamuk. Pria muda Oshu itu telah menanggalkan kain kafan putihnya. Kini ia mengenakan baju zirah hitam legam berduri dengan pelindung kepala bulan sabit emas yang berkilat menembus kobaran api. Katana panjang di tangan kanannya berkilat menyambar leher perwira Hojo terdepan hingga darah segar membual membasahi tanah.

"Singkirkan tubuh-tubuh tidak berguna ini dari jalan klan Date!" jerit Masamune dengan suara nyaring, memamerkan seringai liar penuh dahaga perang.

Pasukan klan Date yang bertenaga penuh menyapu garis belakang pasukan Hojo bagaikan badai yang melanda padang rumput. Dalam hitungan menit, formasi pengepungan Hojo pecah berantakan.

Asap pertempuran perlahan menipis saat fajar menyingsing di ufuk timur Kanto. Ratusan mayat prajurit Hojo tergeletak di sepanjang parit utara, sementara sisa-sisa pasukan musuh terpaksa mundur teratur masuk kembali ke balik gerbang dalam Benteng Odawara.

Sanada Nobushige berdiri bersandar pada tombaknya, menyapu keringat bercampur darah di pelipisnya. Di depannya, Date Masamune turun dari punggung kuda hitamnya dengan gaya yang teramat angkuh. Masamune menyarungkan katananya yang bersimbah darah dengan sekali sentakan mantap, lalu melangkah mendekati Nobushige.

"Jadi ini Harimau Merah dari Shinano yang digembar-gemborkan orang-orang Kyoto?" cemooh Masamune seraya menatap Nobushige dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mata kirinya menyipit meremehkan. "Kau terlihat lebih mirip anak ayam yang jatuh ke dalam lubang lumpur ketimbang komandan perang."

Nobushige tidak tersinggung. Ia menatap balik Naga Satu Mata itu dengan ketenangan dingin khas keluarga Sanada.

"Dan kau pasti pengembara dalam kain mayat yang memohon ampun di depan Tuan Kampaku tadi malam, bukan?" balas Nobushige datar, melontarkan sindiran yang tepat menghantam harga diri Masamune. "Kudengar kain kafanmu sangat bersih sebelum ternoda debu perkemahan."

Mata kiri Masamune berkilat tajam. Tangan kanannya secara refleks mencengkeram gagang katananya kembali, sementara para pengawal klan Date di belakangnya langsung bersiap menarik senjata. Prajurit Sanada pun tak kalah sigap mengarahkan tombak ke arah klan Date.

Atmosfer di antara kedua jenderal muda paling berbakat di utara itu mendadak tegang bagaikan tali busur yang ditarik maksimal.

Namun, beberapa detik kemudian, Masamune justru meledakkan tawa keras yang memecah ketegangan.

"Hahaha! Lidahmu sama tajamnya dengan tombak silangmu, Bocah Shinano!" tawa Masamune seraya melepaskan pegangannya dari katana. "Bagus! Aku tidak suka bertarung di samping orang penakut yang hanya tahu membungkuk."

"Aku bertarung untuk membawa kemenangan bagi klanku, Masamune-dono, bukan untuk bersandiwara di depan istana," sahut Nobushige pendek seraya memberi isyarat agar pasukannya menurunkan senjata.

"Sandiwara atau bukan, kepalaku tetap menempel di leher," balas Masamune dengan seringai tipis. Ia melangkah mendekati bibir tebing yang menghadap ke arah dinding dalam Benteng Odawara. "Sekarang, karena Kuroda Kanbei menugaskan kita berdua di neraka utara ini... bagaimana cara kita merobek benteng Putih itu?"

Aliansi tak terduga antara klan Sanada dan klan Date menjadi kombinasi paling mematikan di garis depan Pengepungan Odawara. Meskipun diwarnai rivalitas sengit dan saling sindir mengenai siapa yang lebih unggul di medan perang, Nobushige dan Masamune memiliki kejeniusan taktis yang saling melengkapi secara sempurna.

Nobushige membawa kecerdasan taktik pegunungan Shinano—perhitungan presisi mengenai pergerakan tanah, penyusupan sunyi, dan penggunaan jebakan alami. Sementara Masamune membawa kebuasan tempur Oshu—penggunaan formasi senapan ganda yang agresif serta gempuran kavaleri berat yang tak kenal takut.

Dua jam setelah fajar, klan Hojo mencoba melakukan serangan balasan dari gerbang sekunder.

"Masamune-dono! Jangan langsung menyerbu!" seru Nobushige saat melihat Masamune bersiap memimpin kavaleri hitamnya meluncur ke lembah. "Parit di depan gerbang itu dipasangi pasak kayu beracun yang tersembunyi di bawah air!"

"Kau terlalu banyak berpikir, Shinano!" teriak Masamune tanpa menghentikan kudanya. "Pasukan senapan Date! Tembak permukaan air!"

BARRR! BARRR! BARRR!

Barisan penembak klan Date memuntahkan ratusan peluru timah tepat ke arah air parit. Dentuman air yang meletus membongkar posisi pasak-pasak kayu rahasia Hojo. Menggunakan celah tersebut, pasukan berkuda Sanada yang dipimpin Nobushige meluncur dari arah samping, memutar lewat tebing batu yang terjal, dan menghentak lambung pasukan Hojo tepat saat mereka panik akibat tembakan senapan Date.

"Serang!" jerit Nobushige, mengayunkan tombak silangnya membelah barisan musuh.

Kombinasi itu luar biasa. Pasukan klan Date menghancurkan musuh dari depan dengan tembakan bertubi-tubi, sementara klan Sanada membedah pertahanan musuh dari samping dengan kecepatan yang tak terduga. Dalam waktu kurang dari dua jam, sektor utara Benteng Odawara sepenuhnya lumpuh. Gerbang luar runtuh, menara-menara artileri Hojo dibakar, dan jalur pasokan terakhir klan Hojo ke wilayah utara terputus total.

Sore harinya, di atas reruntuhan menara gerbang utara yang masih mengepulkan asap tipis, Nobushige dan Masamune duduk berjarak dua meter di atas benteng kayu. Di bawah sana, prajurit kedua klan sedang memandikan kuda dan merawat rekan-rekan mereka yang terluka.

Masamune meneguk air dari labu kayunya, lalu melemparkannya ke arah Nobushige. "Minumlah. Wajahmu terlihat seperti mayat yang lupa dikubur."

Nobushige menangkap wadah air itu, meminumnya sedikit, lalu mengembalikannya. "Taktik senapanmu tadi terlalu boros mesiu. Jika Kanbei tidak mengirimkan pasokan amunisi tambahan besok, pasukanmu hanya akan membawa besi tua."

"Tapi taktik boros mesiu itulah yang menyelamatkan pantat pasukan Shinano-mu dari kepungan Hojo," celoteh Masamune cepat dengan cengiran khasnya.

Nobushige menatap ke arah selatan—ke arah Gunung Ishigaki tempat perkemahan utama Toyotomi berada. Dari tempat mereka duduk, terlihat ribuan buruh sedang bersiap melakukan tahap akhir pembangunan benteng rahasia Kuroda Kanbei.

"Kita telah menyelesaikan bagian kita," kata Nobushige pelan. "Gerbang utara telah terkunci rapat. Klan Hojo tidak lagi memiliki celah untuk melarikan diri."

Masamune menyandarkan kepalanya ke tiang kayu yang hangus, menatap langit sore Kanto yang memerah bagaikan darah.

"Hideyoshi akan memenangkan perang ini tanpa perlu memanjat tembok dalam Odawara," gumam Masamune, suaranya mendadak berubah dari angkuh menjadi sangat berbobot. "Kanbei telah merancang perang ini bukan untuk membunuh Hojo, melainkan untuk memperontonkan kekuatan pada kita semua."

Nobushige melirik sang Naga Satu Mata dari sudut matanya. Rivalitas di antara mereka tidak menghapus kenyataan bahwa keduanya adalah jenderal muda yang sanggup membaca peta politik masa depan.

"Apakah kau akan benar-benar tunduk pada klan Toyotomi setelah ini, Masamune-dono?" tanya Nobushige.

Masamune meludah ke bawah benteng, lalu menatap Nobushige dengan mata kirinya yang memancarkan kilatan liar.

"Tunduk?" Masamune terkekeh dingin. "Aku berlutut dalam kain kafan hari ini agar aku bisa berdiri tegak esok hari. Hideyoshi sudah tua, Nobushige. Pohon tua yang megah sekalipun akan tumbang saat angin zaman berganti. Ketika saat itu tiba... aku ingin melihat apakah tombak merah Sanada-mu sanggup menahan cakar naga klan Date."

Nobushige tersenyum tipis—sebuah senyuman langka yang memancarkan tekad besi.

"Tombak Sanada tidak pernah patah oleh cakar siapa pun, Masamune-dono. Jika hari itu tiba di masa depan... aku akan menunggumu di medan perang."

Dua pemuda paling berbahaya di utara itu saling menatap dalam hening, membiarkan angin sore Kanto meniup panji-panji perang mereka yang berkibar kusam di atas tanah Odawara yang terbakar—sebuah janji persaingan rahasia yang kelak akan mengguncang takdir tanah Jepang di tahun-tahun mendatang.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!