NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:765k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 19

Matahari sore itu terasa begitu membakar kulit, sekering tenggorokan Hendra yang sejak tadi tak henti-hentinya mengumpat di dalam mobil. Setelah drama pingsan palsu Arumi di rumah sakit yang ternyata dinyatakan dokter murni karena stres ringan, Hendra memutuskan untuk membawa wanita itu pulang ke rumahnya.

Di kursi samping kemudi, Arumi masih memegangi keningnya dengan wajah cemberut.

"Mas, kepalaku masih pusing banget tahu. Kamu sih, pakai bentak-bentak aku di parkiran tadi. Harusnya kamu tuh mikirin kesehatan calon istri kamu ini!"

Hendra mencengkeram setir mobil dengan sangat erat, urat-urat di tangannya menonjol.

"Arumi, bisa diam tidak?! Perusahaan di ambang kehancuran, kita dituntut sepuluh miliar, dan kamu masih bisa-bisanya menuntut aku untuk bersikap manis?!"

"Ya kan aku—"

Kalimat Arumi terputus saat mobil mereka perlahan memasuki kawasan perumahan elite tempat mereka tinggal. Dari kejauhan, tampak sebuah truk kontainer besar terparkir tepat di depan gerbang rumah mereka. Tidak hanya itu, beberapa pria berbadan tegap dengan seragam hitam tampak sibuk mengangkut barang-barang keluar dari dalam rumah.

"Lho, Mas. Itu kenapa rumah kita ramai sekali? Itu barang-barang siapa yang dikeluarkan?!" tanya Arumi mendadak panik, rasa pusingnya hilang seketika.

Hendra membelalakkan matanya. Ia mengenali sofa, televisi, bahkan lukisan dinding yang sedang diangkat oleh orang-orang itu.

"Itu... itu barang-barang kita!"

Hendra langsung menginjak rem dengan kasar hingga mobil berhenti mendadak. Belum sempat mereka turun, suara jeritan histeris seorang wanita paruh baya sudah memecah keheningan jalanan.

"Hendra! Arumi! Tolong, Nak! Ini orang-orang berbadan besar tiba-tiba masuk dan mengusir Ibu!" teriak ibu Arumi.

Wanita berlari tertatih-tatih mendekati mobil Hendra dengan daster yang agak kusut. Di belakangnya, tampak koper-koper pakaian miliknya dan milik Arumi sudah tergeletak begitu saja di atas trotoar, berserakan seperti tumpukan sampah.

Arumi langsung turun dari mobil dengan histeris. "Ibu! Ada apa ini sebenarnya?! Siapa yang berani mengusir Ibu dan mengeluarkan barang-barang kita?!"

"Ibu tidak tahu, Rum! Mereka datang membawa surat-surat resmi, katanya rumah ini sudah disita dan bukan milik Hendra lagi!" tangismya sembari menunjuk ke arah teras rumah.

Hendra melangkah maju dengan amarah yang meledak-ledak. Ia mendekati salah satu pria tegap yang tampaknya menjadi pemimpin di sana.

"Heh! Berhenti! Apa-apaan kalian ini, hah?! Masuk ke rumah orang tanpa izin dan membuang barang-barang saya! Saya ini pemilik sah rumah ini! Saya bisa laporkan kalian ke polisi atas pasal pencurian dan perusakan!"

Mendengar gertakan Hendra, pria tegap itu tidak gentar sedikit pun. Ia justru tersenyum remeh, lalu mundur satu langkah untuk memberikan jalan kepada seorang pria berkacamata yang baru saja keluar dari dalam rumah membawa sebuah map dokumen hitam.

Pria itu adalah Pak Roni, kuasa hukum Ningsih.

"Selamat sore, Pak Hendra. Kita bertemu lagi," sapa Pak Roni dengan nada suara yang teramat santai namun menohok.

Hendra tertegun, jantungnya kembali berdegup menggila. "Pak Roni?! Kenapa anda ada di rumah saya? Apa hubungannya PT Adiwangsa dengan aset pribadi saya?!"

Pak Roni terkekeh pelan, lalu membuka map hitam di tangannya dan menunjukkan sebuah sertifikat tanah dan bangunan tepat di depan wajah Hendra.

"Rumah anda, Pak Hendra? Maaf sekali, sepertinya anda mengalami amnesia jangka pendek. Silakan anda baca baik-baik nama yang tertera di sertifikat otentik ini."

Hendra merebut dokumen itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak sempurna saat melihat nama pemilik yang tertulis dengan jelas di sana, Ningsih Adiwangsa.

"T–tidak mungkin..." lirih Hendra, tubuhnya mendadak lemas seketika. "Rumah ini... rumah ini kan aku yang membelinya lima tahun lalu!"

"Betul, anda yang membelinya. Tapi menggunakan uang dari rekening pribadi nyonya Ningsih sebagai modal awal, dan seluruh kepemilikan mutlak sejak awal terdaftar atas nama beliau," jelas Pak Roni dengan tegas. "Dan berdasarkan instruksi langsung dari pemilik sah, mulai sore ini, hak guna bangunan untuk anda telah dicabut. Rumah ini akan dikosongkan dan digembok."

Arumi yang mendengar hal itu langsung berteriak tidak terima, ia merangsek maju dan mencoba merebut dokumen dari tangan Pak Roni.

"Bohong! Ini pasti surat palsu buatan wanita kampung itu! Mas Hendra, jangan percaya! Rumah mewah ini milik kita! Aku tidak mau tidur di jalanan!"

"Nona Arumi, jaga ucapan anda," potong Pak Roni dengan tatapan mata yang sangat tajam, membuat Arumi langsung terintimidasi. "Jika Anda menolak keluar, petugas kepolisian di dalam tidak akan segan-segan menyeret anda dan ibu anda ke sel tahanan atas pasal penyerobotan tanah tanpa izin. Paham?"

Hendra mati kutu. Sisa-sisa wibawa dan kesombongannya sebagai direktur PT Buana runtuh total sore itu juga. Ia menatap nanar ke arah rumah megahnya yang kini sedang dipasangi rantai dan gembok besar di bagian gerbangnya.

"Mas... bagaimana ini, Mas? Kita mau tinggal di mana kalau rumah ini diambil? Semua baju dan tas bermerekku ditaruh di trotoar begini! Aku tidak mau miskin, Mas!" tangis Arumi pecah, ia mencengkeram lengan Hendra dengan panik.

"Diam kamu, Arumi! Ini semua gara-gara kamu yang gatal dan tidak bisa masak itu! Kalau bukan karena idemu untuk mengoplos bahan proyek dan kesombonganmu semalam, Ningsih tidak akan pernah menghancurkan aku sampai sebegininya!" bentak Hendra frustrasi, melampiaskan seluruh kemarahannya pada Arumi.

"Kok kamu malah menyalahkan aku, Mas?! Kamu sendiri yang serakah!" balas Arumi tidak mau kalah.

Di tengah pertengkaran hebat dan tangisan histeris keluarga parasit itu di pinggir jalan, sebuah mobil Alphard hitam mewah perlahan melintas di depan gerbang. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun, menampilkan sosok Ningsih yang duduk anggun sembari memangku Luna.

Ningsih menatap Hendra dan Arumi yang sedang terlantar di atas trotoar dengan tatapan yang teramat dingin dan puas. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya menyunggingkan sebuah senyuman kemenangan, sebelum akhirnya menaikkan kembali kaca mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan mereka yang kini benar-benar jatuh miskin di jalanan.

"Ma, bukankah itu papa? Kenapa papa ada di luar dan barang-barangnya berantakan di sana?" tanya Luna sembari menunjuk ke arah trotoar.

Ningsih melirik sekilas dari balik kaca mobil, lalu mengusap rambut putrinya dengan sangat lembut. "Papa kamu sedang latihan jadi gelandangan, Sayang."

"Gelandangan?" Luna mengerutkan dahi kebingungan.

"Kenapa? Apa Luna kasihan melihat papa seperti itu?" tanya Ningsih sengaja memancing reaksi sang putri.

Secara tak terduga, Luna menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak, Ma! Luna nggak suka papa nikah lagi dengan tante centil itu. Kalau papa mau latihan jadi gelandangan, ya sudah biarkan aja!"

Ningsih tersenyum puas, pengkhianatan Hendra memang telah menutup rapat pintu maaf, bahkan dari darah dagingnya sendiri.

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!