NovelToon NovelToon
DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

DIJUAL AYAH Rp 500 JUTA, DINIKAHI CEO ROGUE MUSUH KELUARGAKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: R. AL

Sinta Maharani dijual ayah kandungnya seharga Rp 500 juta untuk lunasi hutang judi.

Pembelinya adalah Arga Wijaya, CEO Rogue terkaya dan paling kejam di Jakarta. Pernikahan kontrak 1 tahun demi warisan triliunan.

Namun di malam pertama, Arga berbisik dingin, "Keluarga Maharani adalah pembunuh keluargaku. Sekarang giliranmu yang membayarnya."

Sinta terjebak. Menikah dengan musuh yang membenci darahnya, sambil menyembunyikan rahasia bahwa dia adalah serigala terakhir berdarah murni.

Mampukah Sinta bertahan di tengah dendam dan cinta terlarang? Ataukah dia akan hancur oleh masa lalu keluarganya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - RAHIM PETARUNG

Jam dinding di ruang rawat VIP itu menunjukkan lewat tengah malam, tapi tidak ada satu pun dari kami yang tidur.

Mesin detak jantung di kiri ranjang ku berbunyi stabil. Detak Arga Jr seratus lima puluh bpm. Mesin di kanan berbunyi sedikit lebih pelan tapi mengejar. Detak Kelvin Jr seratus empat puluh bpm. Dua suara yang berbeda, tapi malam ini mereka tidur berdampingan.

Aku tidak tidur. Aku tidak bisa tidur. Perutku masih sakit. Bukan sakit kontraksi. Sakit seperti ada yang ketarik dari dalam, seperti akar, seperti yang dulu pernah aku rasakan di Desa Mati, tapi ini bukan akar hitam. Ini tarikan otot rahim yang dipaksa menahan dua kantung yang beda usia.

Dokter bilang, rahim ku rahim petarung. Rahim yang pernah keguguran tiga kali dan tetap bisa dua garis lagi. Tapi dokter juga bilang malam ini, dengan wajah yang tidak bisa bohong, "Bu Sinta, ini malam paling kritis. Kalau lewat malam ini tanpa pendarahan, kita aman. Kalau tidak, kita bisa kehilangan satu. Atau dua-duanya jadi satu garis lagi seperti yang Ibu takutkan di Bab 29."

Bab 29. Bab yang sudah tertulis di buku catatan ku sejak awal. Bab keguguran. Bab yang selalu aku takuti.

Arga duduk di kursi kiri ranjang ku. Kepalanya tertunduk, tangannya masih menggenggam tangan ku yang dingin. Baju rumah sakitnya masih sama, lusuh, bau antiseptik dan keringat. Dia belum pulang seminggu. Bedrest total gagal katanya, tapi yang gagal bedrest bukan aku saja, dia juga.

Luna duduk di kursi kanan. Perutnya yang kempes sudah ditutup jaket tebal. Dia tidak tidur juga. Dia memandang layar USG yang masih menyala, menatap dua kantung yang ada di dalam rahim ku. Satu kantung besar, isi Kelvin Jr delapan bulan yang dipindahkan. Satu kantung kecil, isi Arga Jr enam minggu yang tumbuh dipaksa cepat karena hormon abangnya.

"Kak Sinta," Luna berbisik pelan, takut membangunkan Opa dan Oma yang tertidur di sofa ruang rawat karena kelelahan habis berdebat di parkiran Alphard hitam. "Kamu ngerasain apa sekarang?"

Aku mengelus perut ku pelan. Dua yang tadi tidur, bergerak lagi karena sentuhan ku. Satu mencakar lembut, Arga Jr, seperti biasa, manja, mengelus dinding rahim dari dalam. Satu lagi, Kelvin Jr, yang tadi mencakar kasar, sekarang belajar lembut, tapi kadang masih kasar karena badannya lebih besar, ruangnya sempit.

"Sakit, Lun. Ketarik. Seperti mau lepas satu. Aku takut. Aku takut jadi satu garis lagi."

Luna langsung berdiri, memegang perut ku dengan kedua tangannya. Tangannya hangat. "Jangan ngomong gitu, Kak. Jangan. Rahim kamu kuat. Rahim kamu rahim petarung. Aku yang sudah melihat kamu keguguran tiga kali tapi tetap berjuang. Kamu yang aku lihat nangis darah di KTP BELUM DIKUBUR tapi tetap bilang mau coba lagi. Kamu pasti bisa."

Arga mengangkat kepala. Matanya merah. "Sin, kalau sakit bilang ya. Kita panggil dokter. Jangan ditahan."

Aku menggeleng. "Jangan panggil dokter dulu, Ga. Aku mau coba tahan. Aku mau bicara sama mereka berdua dulu."

Aku memejamkan mata. Aku letakkan kedua tangan ku di atas perut. Kanan dan kiri. Aku bayangkan aku bisa menyentuh mereka langsung.

"Arga Jr, ini ibu. Ibu tahu kamu masih kecil. Baru enam minggu harus berbagi rumah sama abang yang sudah delapan bulan. Pasti sempit ya nak. Maaf ya ibu belum bisa kasih rumah yang besar. Tapi tolong bertahan ya. Jangan lepas. Ibu butuh kamu."

Detak di mesin kiri naik sedikit, seratus lima puluh dua bpm, seperti menjawab.

"Kelvin Jr, ini ibu juga. Ibu tahu kamu bukan anak kandung ibu dari darah, tapi kamu anak ibu dari rahim. Ibu tahu kamu kasar karena kamu takut. Kamu takut tidak punya tempat. Kamu takut dibuang lagi seperti dulu di perut mama Luna yang sakit. Tapi di sini ada tempat untuk kamu. Di samping Arga Jr. Kalian berdua abang adik. Beda ayah tapi satu rahim. Satu ibu. Ibu janji tidak akan biarin kalian jadi satu garis lagi."

Detak di mesin kanan, yang tadinya seratus empat puluh, naik jadi seratus empat puluh lima, lalu turun lagi jadi seratus empat puluh dua, stabil. Seperti anak yang tadinya nangis kencang, lalu dielus, lalu tenang.

Luna menangis lagi. Air matanya bening, bukan darah hitam. "Kak Sinta, kamu dengar? Mereka dengerin kamu. Mereka sayang kamu. Mereka tidak akan pergi."

Arga mencium tangan ku. "Sin, kamu hebat. Kamu lebih hebat dari aku. Aku yang cuma bisa mengepal, kamu yang harus menahan dua nyawa."

Tiba-tiba, perut ku kencang. Kencang sekali. Seperti ada yang memelintir dari dalam. Aku menjerit pelan, tidak keras, karena tidak mau membangunkan Opa Oma, tapi Arga langsung panik.

"Sin! Sakit lagi? Dokter! Suster!"

Dokter jaga yang dari tadi siaga di luar langsung masuk, bersama dua suster. Layar USG langsung ditempel lagi ke perut ku yang besar.

"Bu Sinta, tarik napas! Tarik napas! Jangan ngeden! Ini kontraksi palsu karena rahim ketarik dua kantung beda usia. Jangan dilawan, jangan ditahan, ikutin napasnya!"

Aku menarik napas. Dalam. Panjang. Luna ikut menarik napas di sebelah ku, membimbing. "Tarik, Kak, tarik... hembus... tarik... hembus..."

Di layar USG, terlihat jelas. Dua kantung. Kantung besar Kelvin Jr di atas, kantung kecil Arga Jr di bawah, mepet. Dinding di antara mereka tipis sekali, hampir robek. Kalau dinding itu robek, satu kantung akan pecah dan menimpa yang lain. Itu yang dokter takutkan jadi satu garis lagi.

"Bu Sinta, dinding pemisah menipis! Kita harus kasih penguat! Suntik penguat rahim sekarang!"

Suster menyuntikkan sesuatu ke infus ku. Cairan dingin masuk ke darah ku. Perut ku yang tadinya kencang seperti batu, pelan-pelan melemas.

Detak jantung di mesin, yang tadi naik turun tidak karuan karena aku panik, pelan-pelan kembali stabil. Seratus lima puluh dan seratus empat puluh. Dua detak yang saling menguatkan.

Dokter menghela napas panjang. "Bagus. Dinding kembali tebal sedikit. Bu Sinta, malam ini jangan banyak gerak ya. Bedrest total beneran. Tidak boleh miring kiri miring kanan banyak. Lurus saja. Biar dua kantung tidak gesekan."

Arga mengangguk cepat. "Siap, Dok. Saya jagain."

Luna juga mengangguk. "Saya juga jagain, Dok."

Dokter keluar lagi, meninggalkan kami berempat dengan dua detak.

Opa Robert dan Oma yang tadi tertidur karena lelah, terbangun karena mendengar jeritan pelan ku. Oma langsung mendekat ke ranjang.

"Sinta, kamu tidak apa-apa? Cucu Oma tidak apa-apa?"

Aku tersenyum lelah, keringat membasahi dahi. "Tidak apa-apa, Oma. Dindingnya sempat tipis, tapi sekarang sudah tebal lagi. Dua-duanya masih ada. Masih dua garis."

Opa Robert yang biasanya keras, malam ini matanya berkaca-kaca. Dia menatap perut ku yang ada dua kantung, yang ada dua detak jantung, yang ada dua garis tapi isi dua ayah. "Sinta, Opa minta maaf ya. Opa dulu maksa Arga nikah sama Luna karena Opa pikir Luna rahimnya lebih kuat. Ternyata kamu yang rahim petarung. Kamu yang bisa jaga dua cucu Opa sekaligus di saat Opa sudah putus asa."

Aku menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Opa. Aku ikhlas. Aku bukan disuruh siapa-siapa. Aku mau sendiri. Karena aku pernah kehilangan tiga kali. Aku tahu rasanya satu garis setelah dua garis. Sakitnya bukan main. Makanya pas ada dua garis lagi, aku tidak mau kehilangan lagi. Apalagi sekarang dua."

Luna mengelus kaki ku yang mulai bengkak karena bedrest. "Kak Sinta, setelah ini, kalau mereka lahir, biarin aku jadi tante aja ya. Bukan ibu. Biarin mereka panggil kamu ibu. Aku cukup tahu Kelvin Jr hidup. Aku cukup tahu dia lahir sebagai anak Arga, saudara kembar Arga Jr. Aku tidak akan rebut lagi."

Arga menatap Luna, lalu menatap ku. "Lun, terima kasih ya sudah percaya sama Sinta. Sin, terima kasih ya sudah mau jadi ibu untuk anak Luna juga."

Aku memegang tangan Arga dan tangan Luna bersamaan, menyatukan mereka di atas perut ku. Dua tangan yang dulu bermusuhan, sekarang bersama di atas dua detak.

"Ga, Lun, jangan berterima kasih sama aku. Berterima kasih sama dua anak di dalam ini. Karena mereka yang ngajarin kita berdamai. Kalau tidak ada mereka, kita masih berantem rebutan warisan, rebutan hak. Tapi karena ada mereka, kita di sini, di ruang rawat yang dingin ini, jagain satu perut yang sama."

Malam semakin larut. Mesin detak jantung masih berbunyi. Seratus lima puluh dan seratus empat puluh. Dua lullaby yang tidak pernah berhenti.

Aku akhirnya bisa memejamkan mata sebentar, bukan karena tidur, tapi karena lelah menahan. Di dalam mimpi setengah sadar, aku melihat kasur tipis saat fajar di Bab 40. Aku melihat diriku sendiri melahirkan, bukan di UGD mewah, tapi di kasur tipis yang sederhana, dengan Arga memegang tangan kiri ku dan Luna memegang tangan kanan ku. Dan di antara kaki ku, dua bayi lahir bersamaan. Tidak ada beda ayah. Tidak ada beda darah. Dua-duanya menangis kencang, dua-duanya laki-laki, dua-duanya mirip Arga, dua-duanya memanggil ku ibu.

Aku terbangun karena tendangan lembut dari dalam. Arga Jr bangun. Disusul tendangan kasar yang sudah melembut dari Kelvin Jr.

Mereka membangunkan ku.

Seolah bilang, "Ibu, jangan tidur dulu. Kami masih di sini. Kami masih dua garis."

Aku mengelus perut ku lagi. Sakit luar biasa itu masih ada, tarikan itu masih ada, tapi aku tidak takut lagi. Karena aku tahu, rahim petarung tidak akan robek semudah itu. Rahim yang pernah keguguran tiga kali dan tetap bisa dua garis lagi tidak akan menyerah di Bab 29.

Aku akan lewati Bab 29 ini. Dengan dua detak di dalam.

Dengan Arga di kiri, Luna di kanan, Opa Oma di kaki.

Dan dengan gelang emas putih KELVIN JR - DARI PAPA KELVIN yang terus berdetak kencang seirama dengan dua detak di perutku.

Dua detak dalam satu rahim.

Rahim petarung.

BERSAMBUNG....

1
aina susiyanti77
keren kk😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!