Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MULAI CURIGA
Matahari siang itu bersinar terik dan cerah, memancarkan cahaya keemasan yang menyilaukan mata, menghangatkan seluruh wilayah padepokan yang terletak di puncak bukit itu. Udara siang itu terasa segar namun panas, diisi oleh suara burung berkicau riang dan suara hiruk-pikuk manusia yang memenuhi halaman utama yang luas dan bersih. Seperti perintah yang disampaikan pagi tadi, Guru Besar Ardi memerintahkan agar seluruh murid laki-laki dari padepokan ini berkumpul, ditambah lagi dengan seluruh murid perempuan dari padepokan seberang yang terletak di lembah seberang sungai, tempat perguruan saudara yang juga bernaung di bawah pimpinan Guru Besar yang sama.
Halaman yang biasanya hanya diisi suara hentakan kaki dan teriakan semangat para pemuda, kini menjadi dua kali lipat lebih ramai dan hidup. Ratusan pemuda dan pemudi berkumpul berbaris rapi di bawah terik matahari, namun tak ada yang mengeluh atau merasa kepanasan. Justru suasana itu terasa meriah dan menyenangkan bagi mereka. Bagi para pemuda, ini adalah kesempatan langka untuk bertemu dan berkenalan dengan para gadis yang dikenal cantik-cantik, sopan, dan tangguh itu. Sebaliknya, bagi para murid perempuan, momen ini menjadi momen menarik untuk melihat-lihat pemuda-pemuda perkasa yang menjadi kebanggaan desa ini.
Di tengah barisan, suara tawa, bisikan, dan gurauan terdengar di mana-mana. Jaka dan teman-temannya terlihat paling bersemangat, berdiri tegak membusungkan dada, berusaha terlihat paling gagah dan berwibawa di depan para gadis. Mereka saling menyenggol bahu, berbisik menunjuk ke arah gadis-gadis cantik, lalu tertawa pelan sambil mengomentari kelebihan masing-masing. Para murid perempuan pun tak kalah cerdik, mereka tersenyum malu-malu sambil sesekali melirik ke arah pemuda-pemuda yang tampak gagah itu, wajah mereka merona malu namun mata mereka berbinar penuh rasa ingin tahu.
Suasana riang dan santai itu terasa menular, membuat ketegangan dan rasa hormat yang biasanya kaku menjadi sedikit mencair. Bahkan para pengurus dan guru pembimbing pun hanya diam tersenyum melihat kelakuan murid-murid muda mereka itu, membiarkan mereka bersenang-senang sejenak sebelum acara resmi dimulai.
Namun, di tengah keramaian, tawa, dan suara bising yang memenuhi seluruh halaman itu... tiba-tiba terjadi perubahan yang sangat aneh dan mendadak.
Langkah kaki terdengar mendekat dari arah belakang bangunan utama. Bukan langkah kaki yang berat, bukan langkah kaki yang cepat atau riuh rendah. Justru langkah kaki itu terdengar sangat pelan, sangat ringan, dan sangat senyap, seolah-olah orang yang berjalan itu tidak memiliki berat badan sama sekali, seolah kakinya tidak menyentuh tanah saat melangkah.
Satu per satu suara tawa mulai mereda. Satu per satu bisikan berhenti. Kepala-kepala perlahan menoleh ke arah sumber suara langkah itu, mata-mata terbelalak, dan mulut-mulut perlahan tertutup rapat seolah ada kekuatan tak terlihat yang menyumpal mereka. Dalam hitungan detik saja, halaman luas yang tadinya begitu riuh dan bising itu berubah menjadi sunyi senyap, hening sampai terdengar suara jatuhnya daun kering ke tanah pun terdengar jelas.
Semua mata tertuju pada sosok yang muncul dari balik sudut bangunan kayu itu.
Itu adalah Liam.
Ia berjalan mendekat dengan langkah tegap, lurus, dan sangat tenang. Tubuhnya yang tinggi besar menjulang di antara mereka, membuatnya terlihat menonjol jauh di atas rata-rata tinggi badan murid-murid lain. Ia mengenakan pakaian latihan sederhana berwarna putih polos yang baru saja ia kenakan, namun di tubuhnya yang berkulit seputih pualam dan halus tanpa noda itu, baju sederhana itu terlihat seolah pakaian kerajaan yang indah dan mahal.
Wajahnya tetap sama persis seperti biasa: datar, dingin, tanpa ekspresi apa pun. Tidak ada rasa malu, tidak ada rasa bangga, tidak ada rasa canggung berada di tengah kerumunan besar ini. Matanya yang hitam pekat, jernih dan dalam seperti danau tanpa dasar, menatap lurus ke depan, melewati kerumunan orang-orang yang kini terpaku diam menatapnya. Tatapannya kosong, namun entah kenapa membuat siapa pun yang ditatapnya merasakan hawa dingin yang menjalar cepat ke sekujur tulang belakang.
Para pemuda yang tadi sibuk bercanda, termasuk Jaka dan teman-temannya, kini diam mematung dengan mulut sedikit terbuka. Mereka tertegun, lupa akan ejekan dan kebencian mereka kemarin. Para gadis dari padepokan seberang yang tadi tertawa ceria, kini menatap sosok itu dengan mata terbelalak penuh kekaguman bercampur rasa takut yang samar. Mereka belum pernah melihat pemuda setampan ini, setenang ini, dan seberbeda ini seumur hidup mereka. Ada pesona aneh yang memancar dari diri Liam, pesona yang dingin, misterius, namun begitu kuat hingga mematikan suara dan gerak tubuh siapa saja yang melihatnya.
Liam sama sekali tidak mempedulikan kekaguman atau keterdiaman mereka semua. Ia berjalan terus lurus ke depan, melewati barisan demi barisan murid yang memberi jalan secara otomatis seolah ada ombak yang terbelah saat ia lewat. Ia berjalan menuju ke arah panggung kayu tinggi tempat Guru Besar Ardi duduk diam di kursi kehormatan, menunggu dimulainya acara.
Saat sampai di depan panggung, Liam berhenti tepat di bawah tangga. Ia menundukkan kepalanya perlahan, gerakan yang sopan namun tetap kaku dan dingin. Lalu, dengan langkah pelan dan terukur, ia naik satu per satu anak tangga, berjalan mendekati sosok tua berjubah putih bersih yang kini menatapnya dengan pandangan tajam dan serius.
Di bawah sana, ratusan pasang mata masih terpaku, menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Di atas panggung, Liam berdiri tegap di hadapan Guru Besar Ardi. Tanpa suara, tanpa kata sapaan, Liam mengulurkan tangan kanannya perlahan, gerakan sopan yang biasa dilakukan murid baru untuk mencium tangan guru mereka sebagai tanda hormat dan kesetiaan.
Guru Besar Ardi menatap tangan itu. Tangan yang panjang, jari-jarinya ramping namun terlihat kuat, kulitnya putih bersih dan sangat halus, terlihat dingin seperti es di puncak gunung. Beliau ragu sejenak, namun sebagai orang yang paling berwibawa, beliau pun mengulurkan tangan kanannya yang keriput, berurat, dan hangat itu menyambut uluran tangan Liam.
Saat kulit mereka bersentuhan... saat jari-jari dingin Liam menyentuh telapak tangan hangat sang Guru...
DADADADUM!
Seperti ada guntur yang bergema hebat tepat di dalam kepala Guru Besar Ardi.
Seketika itu juga, tubuh tua yang tegap itu mematung kaku sepenuhnya. Matanya yang tajam melebar tak percaya, napasnya yang biasanya teratur dan tenang seketika menjadi memburu, pendek, dan cepat, dadanya naik turun hebat tertahan rasa kaget yang tak terlukiskan. Telapak tangan beliau merasakan hawa dingin yang bukan dingin biasa—dingin yang menusuk sampai ke sumsum tulang, dingin yang membawa aroma samar besi dan darah tua yang kental, dingin yang bergetar membawa tenaga murni yang jauh melebihi apa yang dimiliki manusia mana pun di dunia ini.
Namun yang lebih mengerikan dari itu semua... adalah apa yang beliau lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Saat menatap wajah Liam yang menunduk hormat itu, pandangan mata Guru Besar Ardi seolah berubah kabur sejenak. Cahaya matahari siang itu seolah meredup, udara di sekitar mereka seolah menjadi lebih gelap dan berat. Di balik wajah tampan, pucat, dan datar itu... samar-samar, sangat samar namun begitu jelas bagi mata batin beliau, terlihat wujud lain yang tersembunyi.
Beliau melihat bayangan sosok yang jauh lebih tinggi, jauh lebih gagah, dan jauh lebih mengerikan. Ada kilatan merah darah yang berapi-api di sepasang mata yang sama, ada aura kegelapan yang pekat dan dahsyat yang menyelimuti tubuh itu, ada gigi taring yang sedikit mencuat tajam, dan ada rasa kekuasaan abadi yang mengancam menelan segalanya. Itu bukan wujud manusia. Itu adalah wujud makhluk purba, makhluk penguasa malam, makhluk yang namanya hanya ada dalam dongeng-dongeng kuno yang sudah hampir dilupakan dunia.
Namun semuanya hanya berlangsung sekejap mata, begitu cepat datangnya begitu cepat hilangnya. Kabur, samar, tidak jelas bentuknya sepenuhnya, seolah hanya ilusi mata yang ditimbulkan oleh panasnya udara siang itu. Detik berikutnya, yang terlihat kembali hanyalah wajah pemuda tampan, pucat, dan datar yang sedang mencium punggung tangan beliau dengan tenang dan hormat.
Namun dampaknya pada Guru Besar Ardi tetap nyata dan hebat. Jantungnya berdegup kencang tak terkendali, keringat dingin mulai keluar membasahi punggung tangannya, dan seluruh tubuhnya terasa lemas seolah baru saja bertarung melawan musuh terkuat seumur hidupnya. Beliau menatap wajah Liam yang tenang itu dengan pandangan campuran antara rasa takut, kagum, heran, dan penasaran yang mendalam.
Siapa dia? Apa dia sebenarnya? teriak pertanyaan itu berulang kali di kepala tua beliau.
Liam perlahan melepaskan ciuman hormatnya, lalu menarik kembali tangannya yang dingin itu. Ia kembali berdiri tegak, menunduk hormat sebentar, lalu berbalik perlahan untuk turun kembali dari panggung, sama tenangnya seperti saat ia naik.
Sepanjang jalan ia turun dan berjalan kembali menuju barisan kosong di paling belakang, keheningan masih menyelimuti seluruh halaman. Tak ada satu pun yang berani bersuara atau bergerak. Semua orang masih terpesona dan tertegun oleh kehadiran Liam yang begitu kuat memikat itu.
Di atas panggung, Guru Besar Ardi masih diam mematung di kursinya. Ia menatap punggung sosok yang berjalan menjauh itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Samar-samar bayangan wujud mengerikan tadi masih terbayang-bayang di depan matanya, aroma darah dingin itu masih tercium samar di hidungnya, dan rasa dingin yang menusuk itu masih terasa melekat di telapak tangannya.
Beliau tahu satu hal pasti sekarang. Anak muda bernama Liam ini bukan anak biasa. Dia bukan sekadar anak desa yang kehilangan ingatan. Di balik wajah dingin dan diam itu, tersembunyi rahasia terbesar, kekuatan terbesar, dan kemungkinan bahaya terbesar yang pernah ditemui Guru Besar Ardi sepanjang hidupnya. Dan beliau sadar, semenjak kedatangan pemuda itu, takdir seluruh perguruan silat ini, dan mungkin juga takdir desa ini, telah berubah selamanya.