Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembar jawaban dan kemenangan yang berisik
Waktu tiga jam yang disediakan oleh panitia terasa berjalan sangat cepat di dalam aula. Suara gesekan pulpen dan lembar kertas yang dibalik terdengar seperti irama genderang perang. Alisha memfokuskan seluruh sisa energinya pada lembar jawaban. Dahinya berkerut dalam, matanya bergerak cepat membaca baris-baris soal tingkat kesulitan tinggi tentang relativitas khusus.
Di sebelahnya, Shaka bergerak dengan ritme yang sama tenangnya. Namun, di tengah fokusnya yang luar biasa, Shaka tidak pernah benar-benar melepaskan perhatiannya dari Alisha.
Saat waktu menunjukkan dua jam berjalan, Shaka melirik pergelangan tangan Alisha yang mulai bergerak lambat karena kelelahan menulis. Tanpa suara, Shaka menggeser sebatang cokelat hitam konsentrasi tinggi—yang sengaja ia bawa dari rumah—ke sudut meja Alisha, tepat di samping lembar coret-coretan gadis itu.
Alisha sempat menoleh heran, namun Shaka hanya memberikan isyarat dagu yang pendek tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas ujiannya sendiri. 'Makan, biar otak lo gak mogok,' begitulah arti kode bisu Shaka. Alisha tersenyum tipis, mematahkan ujung cokelat itu dengan satu tangan lalu mengunyahnya. Rasa pahit-manisnya langsung menyengat, mengembalikan fokusnya yang sempat kendor.
Tidak berhenti di situ, setengah jam sebelum waktu habis, AC aula mendadak berembus lebih kencang tepat di atas kepala Alisha, membuat gadis itu refleks bersin kecil dan menggosok kedua lengannya yang meremang. Shaka yang menyadari hal itu langsung mendengus pelan. Dengan gerakan kasual seolah tidak terjadi apa-apa, Shaka menggeser posisi tas ransel besarnya ke atas meja, menegakkannya sedemikian rupa di sisi kanan Alisha untuk menghalau embusan angin AC langsung yang mengarah ke tubuh partnernya.
Perhatian-perhatian kecil yang tak kasatmata itu membuat Alisha merasa... dijaga dengan begitu rapi.
"Dan Juara Pertama Olimpiade Fisika Tingkat Provinsi tahun ini jatuh kepada... SMA Pelita Bangsa!"
Suara lantang sang pembawa acara di atas panggung aula disambut oleh tepuk tangan riuh dari seluruh hadirin. Alisha hampir melompat dari kursinya karena tidak percaya. Mereka menang! Kerja keras berminggu-minggu di ruang lab yang sepi akhirnya terbayar lunas.
Saat mereka berdiri di atas panggung dengan medali emas melingkar di leher dan piala besar di tangan, kilatan lampu kamera fotografer menyala bertubi-tubi.
Di sela-sela riuhnya tepuk tangan, Shaka sedikit menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke arah telinga Alisha karena suara aula yang terlalu bising.
"Selamat, Partner. Lo hebat hari ini," bisik Shaka. Suaranya yang berat terdengar begitu tulus, tanpa ada nada ketus atau sarkasme seperti biasanya.
Embusan napas hangat Shaka di dekat telinganya dan pujian tulus yang mendadak itu seketika membuat wajah sawo matang Alisha memerah padam. Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih cepat daripada saat membaca soal ujian tadi. Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat manis... sekaligus sangat canggung. Alisha mendadak salah tingkah, bingung harus merespons apa karena tidak terbiasa dengan mode Shaka yang "manis" seperti ini.
Begitu turun dari panggung dan suasana mulai agak sepi di koridor luar aula, Alisha mencoba memecah kecanggungan yang membuatnya sesak napas sejak di panggung tadi. Ia berdeham keras, lalu menatap Shaka dengan mata menyipit.
"Ekhem... btw, Shak, tadi pas panitia ngasih selembar kertas hasil nilai individu sebelum naik panggung, gue sempet ngintip skor kita," ujar Alisha, mencoba mengalihkan radar baper di otaknya kembali ke mode rivalitas.
Shaka menaikkan satu alisnya sambil menyampirkan tas ranselnya ke bahu. "Terus?"
"Skor nilai teori gue 94. Skor lo berapa?" Alisha melipat tangan di dada dengan senyum kemenangan. "Inget kan taruhan kita di ruang lab kemarin? Siapa yang nilai individunya lebih tinggi, dia yang menang dan boleh ajuin satu permintaan."
Shaka mendengus, lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan lipatan kertas skor miliknya. Ia menyodorkannya tepat di depan mata Alisha. "Liat sendiri."
Alisha memajukan wajahnya, membaca angka yang tertera di sana. 94.
Skor mereka kembar identik. Nilai mereka sama persis sampai ke angka desimalnya.
"Kok bisa sama?!" Alisha melotot tidak terima. "Lo pasti nyontek jawaban gue ya pas di dalem tadi?!"
"Heh, jaga ya mulut lo!" Shaka langsung nyolot, mode tsundere-nya kembali aktif 100%. "Gue nyontek lo? Yang ada lo yang dari awal bimbingan selalu ngekor cara analisis gue. Lagian posisi duduk kita dipisah satu meter, gimana caranya gue nyontek, hah? Otak gue emang jenius selevel sama lo, terima kenyataan aja kenapa, sih!"
"Ya gak bisa gitu dong! Berarti taruhannya batal karena gak ada yang menang!" protes Alisha, tidak mau kalah.
"Gak bisa batal," potong Shaka cepat, wajahnya ikut maju mendekati Alisha, membuat mereka kini berhadapan dalam jarak dekat sambil saling melotot. "Karena skornya sama, berarti permintaannya jadi dua. Gue punya satu permintaan buat lo, dan lo punya satu permintaan buat gue. Adil, kan?"
"Dih, maksa banget! Hukum taruhan di mana yang kayak begitu, Reyshaka?!" Alisha menghentakkan kakinya kesal, sementara Shaka justru tersenyum miring—senyum menyebalkan yang anehnya selalu berhasil membuat Alisha betah berlama-lama berdebat dengannya.
Debat kusir itu terus berlanjut sepanjang jalan menuju bus sekolah, mengubur habis rasa canggung pasca-panggung tadi, dan kembali menyalakan percikan api perdebatan manis yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.