NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: INTEROGASI "UKURAN" FINANSIAL

Anaya masih berusaha menata kembali detak jantungnya yang porak-poranda akibat insiden jilatan macaron maut tadi. Tangannya yang kesemutan sengaja ia sembunyikan di balik punggung, sementara matanya melotot tajam, mencoba membangun kembali benteng pertahanan profesionalisme yang baru saja dilelehkan oleh bos narsisnya.

"Bapak... Bapak benar-benar harus buru-buru konsultasi ke dokter spesialis saraf deh," ketus Anaya, suaranya agak serak karena sisa kepanikan. "Aksi jilat-jilat tadi itu jelas di luar job description saya sebagai sekretaris!"

Bima hanya menanggapi protes tersebut dengan kekehan rendah yang terdengar luar biasa menyebalkan. Pria itu memutar kursi kerjanya dengan santai, lalu meraih remote televisi layar datar yang terpasang di dinding ruangannya.

"Saya cuma melakukan efisiensi, Anaya. Mubazir atau sesuatu yang berlebihan itu kan katanya temannya setan, dan remah kue buatan kamu terlalu berharga buat dibuang," jawab Bima enteng, sama sekali tidak merasa bersalah. "Daripada kamu ngomel gak jelas, mending kamu lihat itu."

Bima mengarahkan remote dan menyalakan televisi, mengubah salurannya ke sebuah stasiun berita olahraga nasional yang sedang menayangkan segmen berita terkini.

Di layar kaca, muncul cuplikan video seorang cowok muda berkaus jersi merah-putih yang sedang diwawancarai oleh sekumpulan wartawan setelah mencetak gol kemenangan di pertandingan liga tarkam semi-profesional nasional. Wajah cowok itu tampak berkeringat, tersenyum lebar ke arah kamera sambil merangkul piala.

Di bagian bawah layar, tertulis teks besar: "Arden Mahendra, Striker Muda Berbakat yang Siap Dilirik Klub Papan Atas Liga 1."

Anaya spontan menoleh ke arah televisi. Matanya langsung berbinar cerah, melupakan kekesalannya pada Bima dalam sekejap. "Eh? Demi apa? Arden masuk TV lagi?!" seru Anaya heboh, melangkah satu pijakan lebih dekat ke arah layar tanpa sadar. "Ya ampun, anak curut itu beneran kelihatan keren kalau lagi gak rebutan paha ayam di rumah!"

Bima memperhatikan perubahan ekspresi Anaya dengan alis yang bertaut rapat. Ada rasa tidak nyaman yang mendadak menggelitik dadanya melihat mata Anaya berbinar-binar begitu terang hanya karena melihat cowok lain di televisi*—meskipun pria itu tahu betul kalau Arden adalah adik kandung Anaya yang paling bungsu.* Rasa posesif yang aneh kembali mengambil alih kendali otaknya.

Bima mematikan televisi tersebut dengan satu klik kasar, membuat layar kembali hitam pekat.

"Yah! Kok dimatiin sih, Pak? Saya kan belum selesai nonton wawancara adik saya!" protes Anaya langsung, berbalik menatap Bima dengan cemberut maksimal.

Bima melempar remote TV ke atas meja kerja dengan bunyi brak kecil. Dia menyandarkan punggungnya, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menatap Anaya dengan pandangan meremehkan yang sangat khas.

"Pesepak bola?" Bima mendengus, nada suaranya mendadak berubah menjadi sangat sarkas. "Jadi itu alasan kamu ngebet banget mau resign dan buka toko kue? Demi membiayai karier tendang-tendang bola adik kamu itu?"

"Ya iyalah, Pak. Sepatu bola yang bagus itu mahal, belum lagi suplemennya, biaya pelatihnya. Sebagai kakak yang baik, saya harus pasok dana segar buat masa depan Arden," jawab Anaya bangga sambil berkacak pinggang.

Bima terkekeh sinis, sebuah senyuman meremehkan yang langsung membuat insting bertarung Anaya menyala. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap Anaya lurus-lurus ke dalam manik matanya.

"Anaya, kamu itu pinter pakai rumus Excel, tapi kenapa urusan kalkulasi masa depan bisa sebuta ini?" ujar Bima, nadanya lambat namun tajam. "Gaji pesepak bola lokal di liga sekarang itu gak seberapa, Anaya. Kontrak mereka fluktuatif, rawan cedera, dan masa depannya gak pasti. Jauh banget nilainya dibandingin sama bonus tahunan yang bisa saya kasih kalau kamu tetap duduk di kubikel luar dan membatalkan surat resign kamu."

Anaya mengernyitkan dahi, mulai terpancing. "Hmmm, Pak Bima yang terhormat. Adik saya itu punya bakat! Siapa tahu tahun depan dia ditarik ke tim nasional atau malah main di luar negeri?"

"Mimpi boleh, tapi realita finansial itu harus diukur pakai angka," potong Bima dengan kesombongan yang sudah mencapai level Dewa. Pria itu mengetuk-ngetuk meja marmernya yang mahal menggunakan ujung jari telunjuknya. "Dengar ya. Kamu gak perlu repot-repot jualan macaron sampai jari kamu melepuh kena oven demi nyari modal buat Arden. Berapa sih nilai kontrak yang ditawarin klub lokal ke adik kamu? Puluhan juta? Ratusan juta?"

Bima menjeda kalimatnya, lalu menatap Anaya dengan binar mata yang luar biasa dominan dan penuh percaya diri.

"Kalau kamu tetap di sini jadi sekretaris saya, bonus yang saya transfer ke rekening kamu dalam satu semester saja bisa buat bayarin gaji seluruh satu tim sepak bola adik kamu itu selama setahun penuh. Bahkan..." Bima menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman narsis yang luar biasa menyebalkan. "Kalau kamu mau, saya bisa beli klub bolanya sekalian sore ini juga, terus saya pecat pelatihnya kalau dia gak masang adik kamu jadi striker utama. Gimana? Gak usah repot-repot resign, kan?"

Anaya melongo. Mulutnya setengah terbuka mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir bosnya. Di dalam benaknya, Anaya langsung berteriak histeris.

Gusti... kesombongan pria purba di depan saya ini beneran minta disleding pakai sepatu bola duri besi milik Arden! Sombongnya sudah menembus langit ketujuh!

Anaya menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan tangannya agar tidak menyambar vas bunga di meja Bima untuk dihantamkan ke kepala genius nan narsis tersebut. Dia memamerkan senyuman paling kaku yang dia punya.

"Makasih banyak atas tawaran 'oligarki' pribadinya ya, Pak Bima," jawab Anaya, menekan setiap kata dengan penuh sarkasme. "Tapi maaf banget, harga diri keluarga Mahendra gak bisa dibeli pakai saham Bimantara Food. Adik saya mau sukses pakai keringat sendiri, bukan pakai skema buy-out dari bos narsis yang gabut kelebihan duit!"

Bima tidak marah, dia justru menikmati bagaimana mata hazel Anaya berkilat marah yang justru terlihat sangat cantik di matanya. Pria itu berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja hingga kini dia berdiri tepat di depan Anaya, memangkas jarak di antara mereka hingga wangi vanilla dan parfum maskulinnya kembali bertabrakan.

"Saya gak gabut, Anaya. Saya cuma sedang mengamankan aset paling berharga di ruangan ini," bisik Bima, suaranya melembut secara drastis, membuat bulu kuduk Anaya kembali meremang halus. "Dan aset itu... adalah kamu."

Anaya menelan ludah dengan susah payah, mendadak kehilangan kata-kata karena perubahan ritme slow burn yang dimainkan Bima hari ini benar-benar terlalu berbahaya untuk kesehatan jantungnya. Wanita itu buru-buru mundur satu langkah, berbalik dengan cepat, dan menyambar kotak makaronnya yang masih tersisa.

"Saya... saya mau balik kerja dulu pak! Laporan kuartal tiga belum selesai!" seru Anaya panik, lalu lari terbirit-birit keluar dari ruangan CEO, meninggalkan Bima yang berdiri tegak dengan senyuman puas yang menghiasi wajah tampannya.

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!