NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:327
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXIV

Kembali ke Dafi dan Lili..

  Setelah selesai merawat luka Dafi, tabib muda itu menghampiri Lili. “Nona, kau tak perlu khawatir lagi. Aku sudah merawat dan mengobati lukanya dengan baik,” ucapnya menenangkan.

Lili pun mengucapkan terima kasih berkali-kali dengan rasa haru yang mendalam. Ia terus berdiri di samping tempat tidur, menemani dan menatap Dafi yang masih terbaring lemah dalam keadaan belum sadarkan diri.

Melihat sikap Lili yang begitu gelisah dan tampak kelelahan, tabib muda itu memanggilnya pelan lalu mengajaknya duduk di meja dekat jendela. Ia menyeduh secangkir teh hangat dan menyodorkannya kepada Lili.

“Mari duduk sebentar, Nona. Jangan terlalu cemas, kita hanya perlu menunggu hingga ia sadar kembali. Silakan, minumlah teh ini,” ucapnya lembut.

Sambil menyeruput teh hangat itu, pemuda itu pun memperkenalkan diri.

"Maaf, aku belum sempat memperkenalkan namaku. Namaku Zhang Jun."

Ia kemudian menatap Lili dengan ramah dan bertanya, “Bolehkah aku tahu siapa nama Nona? Dan dari mana asal kalian berdua?”

“Namaku Lili. Dan yang terluka itu adalah Kakakku, Dafi,” jawab Lili pelan. “Dulu kami tinggal di kediaman Menteri Pangan. Ayahku bernama Xiao Yu… aku adalah putrinya,” tambahnya.

Zhang Jun mengangguk perlahan, tanda ia mengerti dan mengenal nama yang disebutkan Lili.

  Tak lama kemudian, kesadaran Dafi perlahan kembali. Ia membuka mata dan hal pertama yang keluar dari mulutnya adalah nama Lili.

"Lili..."

Mendengar panggilan samar itu, Lili segera mendekat dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Kak Dafi! Aku di sini!" ucap Lili lembut sambil menggenggam tangan Dafi. "Kak... apakah kau baik-baik saja? Apakah ada yang masih sakit?"

Dafi menarik napas pelan, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Ia menatap sekeliling ruangan yang tampak asing itu.

"Aku... aku tidak apa-apa. Tapi... sekarang kita ada di mana?" tanyanya lemah.

Zhang Jun, yang berdiri tidak jauh dari sana, menjawab pelan sambil tersenyum ramah. "Kalian ada di rumahku. Jangan khawatir, kalian aman di sini. Tidak perlu terburu-buru. Luka di tubuhmu belum sepenuhnya sembuh, sebaiknya kau banyak beristirahat dulu."

Lili pun mengangguk setuju, lalu menatap Dafi dengan pandangan memohon. "Yang dikatakannya benar, Kak. Kakak harus banyak istirahat. Aku akan tetap ada di sini dan menjaga kakak."

Akhirnya, Dafi pun menuruti permintaan Lili itu.

  Keesokan paginya, setelah kondisi Dafi dianggap sudah membaik, keduanya pun bersiap untuk pulang. Mereka menghampiri Zhang Jun untuk berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan yang telah diberikannya selama mereka di sana. Setelah itu, mereka pun berangkat kembali menuju rumah mereka.

Sesampainya di rumah, Lili segera bergegas menuju dapur. Ia berniat memasak bubur agar Dafi bisa segera makan dan memulihkan tenaganya.

"Tidak, Lili... Kau tidak perlu repot-repot," cegah Dafi yang masih lemah, namun Lili hanya tersenyum.

"Tidak apa-apa, Kak. Kakak istirahat saja di dulu," ucapnya sambil berjalan ke dapur.

Tak lama kemudian, Lili membawa semangkuk bubur hangat. Ia duduk di samping Dafi dan dengan tekun menyuapinya perlahan.

  Beberapa hari pun berlalu, kondisi Dafi semakin membaik. Dafi pun kembali bekerja, sementara Lili kembali mengurus rumah. Namun sore itu, saat Dafi baru saja pulang bekerja, ada Beberapa pengawal dari kediaman Menteri yang datang berkunjung dan menyampaikan pesan penting kepada mereka. Ternyata, ayah Lili, Menteri Xiao Yu, sedang terbaring sakit dan kondisinya semakin memburuk. Ia sangat ingin bertemu putri nya itu untuk terakhir kalinya.

Mendengar kabar itu, Lili dan Dafi pun segera bergegas kembali ke Kediaman Menteri. Sepanjang perjalanan, Lili tampak sangat khawatir dan tak henti hentinya berdoa untuk kesehatan Ayahnya itu.

Sesampainya di Kediaman, Lili langsung berlari masuk menuju kamar ayahnya. Ia melihat ayahnya yang dulu begitu gagah dan berwibawa, kini terbaring lemah di atas tempat tidur dengan wajah yang pucat dan tubuh yang semakin kurus.

Ternyata ayahnya sudah lama mencari keberadaan mereka berdua, namun baru hari ini ia berhasil mendapatkan kabar pasti keberadaan mereka dan berhasil membawa mereka kembali ke Kediaman.

Lili langsung berlutut di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan ayahnya yang dingin.

"Ayah... Lili di sini, Ayah..." panggil Lili dengan suara yang mulai bergetar.

Tuan Xiao Yu perlahan membuka matanya itu saat merasakan genggaman tangan putrinya. Ia berusaha tersenyum, lalu mengelus lembut rambut Lili dengan sisa tenaga yang ada.

"Lili... Dafi... Maafkan Ayah ya... Maafkan Ayah atas segala kesalahan yang telah Ayah lakukan pada kalian... Ayah sadar, mungkin Ayah tidak akan lama lagi di sini... Rasanya Ayah akan segera menyusul Ibu kalian..." ucapnya dengan napas yang terengah-engah.

Lili yang mendengar itu seketika menangis memeluk Ayahnya.

"Tidak, Ayah! Ayah pasti akan baik-baik saja! Jangan bicara begitu, jangan tinggalkan Lili sendirian, Ayah... Lili sudah kembali, Lili tidak akan pernah meninggalkan Ayah lagi..."

Tuan Xiaoyu mengangguk pelan, lalu mengarahkan pandangannya menatap Dafi yang berdiri di samping Lili. Ia memberi isyarat agar Dafi mendekat.

"Dafi..." panggilnya serak. "Ayah memohon padamu... tolong jaga Lili. Ayah ingin kau menikah dengannya dan selalu ada di sisinya. Jangan biarkan dia sendirian, Berjanjilah pada Ayah." pinta Xiao Yu pada Dafi.

Dafi mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku janji, Ayah. Aku akan menjaga Lili seumur hidupku."

Xiao Yu kembali menatap Putri nya itu, ada suatu hal yang ingin ia sampaikan pada Lili sebelum ia pergi.

"Andai saja adikmu, Ning ada di sini..." ucapnya pelan.

Lili terdiam, tangisnya pun terhenti. Ia menatap ayahnya bingung. "Adikku? Siapa yang Ayah maksud? Siapa Ning?"

"Dia... adalah saudara kembarmu, Nak..." jawab Xiao Yu dengan suara tertahan. "Adikmu yang diculik, saat usianya baru menginjak tiga tahun... Ayah dan Ibu tidak tau apakah dia masih hidup atau sudah tiada. Tapi jika dia masih hidup, dia mungkin sekarang persis sepertimu..."

Lili terdiam, hatinya penuh tanda tanya. "Kenapa... kenapa Ayah dan Ibu tidak pernah memberitahukan ini sebelumnya padaku?"

"Ayah dan Ibu hanya tidak ingin membuatmu cemas dan sedih, Nak... Itulah sebabnya kami merahasiakan hal ini darimu dan juga dari Dafi selama bertahun-tahun," jelas Xiao Yu pelan. "Jika suatu hari nanti kau bertemu dengannya... Katakanlah padanya bahwa Ayah dan Ibu sangat merindukannya, kami sudah berusaha untuk mencarinya namun tidak pernah berhasil. Sekarang... Ayah sudah tidak memiliki beban lagi. Ayah bisa pergi menyusul Ibu kalian dengan tenang..."

Setelah mengucapkan kata-kata terakhir itu, tangan Xiao Yu yang ada di genggaman Lili perlahan terlepas. Napasnya berhenti, dan matanya tertutup untuk selamanya dengan senyum damai di bibirnya.

"Ayah... AYAHHH!!" teriak Lili histeris, memeluk tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa itu sambil menangis sejadi-jadinya.

Dafi segera memeluk Lili, membiarkannya meluapkan segala rasa sakit, sambil berusaha menenangkannya dengan lembut dan berjanji bahwa ia akan selalu ada di sana menemaninya melewati segalanya.

Pagi pun tiba..

  Hari itu adalah hari di mana jenazah Ayah Lili, Tuan Xiao Yu akan dikremasi. Upacara pemakaman itu berlangsung dengan penuh penghormatan dan dihadiri oleh banyak pejabat tinggi Kerajaan terutama para Menteri, serta Kerabat dekat yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir mereka kepada almarhum yang dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana itu.

Di antara kerumunan orang-orang penting itu, ada pula sosok Pangeran Haoran. Sebenarnya, ia sempat merasa ragu untuk pergi meninggalkan kediamannya, terlebih lagi ketika kondisi Luna belum sepenuhnya pulih dan masih membutuhkan perawatan. Namun, mengingat Dafi dan Lili adalah sahabat serta orang terdekatnya, ia pun terpaksa pergi untuk hadir dan memberikan dukungan di saat yang paling sulit ini.

Pangeran Haoran melangkah masuk ke tempat pemakaman dengan pakaian berwarna gelap, wajahnya serius namun terlihat jelas ada kekhawatiran di matanya. Ia segera berjalan menghampiri Dafi yang berdiri diam dengan pandangan kosong, berusaha menguatkan diri di samping Lili yang terlihat sangat terpukul.

Tanpa banyak bicara, Pangeran Haoran langsung merangkul dan memeluk sahabat itu dengan erat.

"Dafi... Aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untukmu dan juga Lili," ucap Pangeran Haoran pelan namun penuh ketulusan, berusaha memberikan kekuatan dan menenangkan hati sahabatnya. "Kau harus kuat. Lili membutuhkanmu sekarang, dan kau tahu aku akan selalu ada di sini bersamamu."

Dafi hanya mengangguk sambil membalas pelukan itu sebentar, matanya berkaca-kaca namun berusaha ia tahan. "Terima kasih sudah datang, Haoran... Terima kasih."

Setelah melepaskan pelukan itu, Pangeran Haoran perlahan menoleh ke samping untuk menyapa Lili dan menyampaikan rasa belasungkawa yang sama. Namun, saat pandangannya jatuh tepat ke wajah wanita yang sedang tertunduk lesu itu, napasnya seakan tertahan. Langkah kakinya terhenti sejenak.

Matanya terbelalak lebar, tak mampu mempercayai apa yang sedang ia lihat. Wajah wanita itu... mulai dari raut wajah, bentuk mata, hidung, hingga garis senyumnya, semuanya persis sama dengan Luna. Namun ada satu hal yang membedakannya, mata Luna terlihat sedikit lebih sipit dibandingkan mata Lili.

Pangeran Haoran secara refleks mundur selangkah ke belakang, tubuhnya sedikit kaku karena terkejut. Ia mengucek matanya berulang kali, memiringkan kepalanya, dan menatap wajah Lili dengan seksama, berusaha memastikan apakah matanya tidak salah lihat atau berkhayal. Ia bahkan memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali, berharap pandangannya akan berubah, namun kenyataannya masih sama.

Lili yang menyadari tatapan aneh dan reaksi kaget Pangeran Haoran itu, mengangkat wajahnya perlahan. Ia menatap balik sang Pangeran dengan wajah yang bingung, sambil mengusap air matanya.

"Ada apa?" tanya Lili pelan. "Apakah ada yang salah dengan wajahku? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Pangeran Haoran kaget dan segera mengumpat dalam hati karena sikapnya yang kurang sopan itu.

"Tidak... tidak ada apa-apa, Lili," jawab Pangeran Haoran agak gugup, dan berusaha untuk tenang. "Hanya saja... kau dan dia... Kalian berdua... Sangatlah mirip, seperti saudara kembar." Ucap Pangeran Haoran sambil menatap wajah Lili.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!