Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
Suara alunan musik organ pipa yang megah bergema di setiap sudut kapel privat yang sunyi. Cahaya matahari siang yang menembus kaca patri patri berwarna-warni memantulkan pendar serupa pelangi di atas altar marmer putih. Di depan sang pendeta yang berdiri dengan Alkitab terbuka, dua insan manusia yang dipertemukan oleh takdir kelam itu kini berdiri berdampingan.
Asher Sterling berdiri tegap dengan ketenangan yang absolut. Di sebelahnya, Chloe tampak begitu mungil, diselimuti oleh gaun putih gading yang megah dan selembar kain tule transparan yang menyembunyikan wajah kuyunya. Tangan Chloe yang memegang buket bunga mawar putih bergetar begitu hebat, hingga beberapa kelopak bunga luruh ke lantai.
"Asher Sterling, bersediakah Anda menerima Chloe sebagai istri sah Anda, mendampinginya dalam suka maupun duka, dalam sehat maupun sakit, serta mengasihinya seumur hidup Anda?" suara berat pendeta itu memecah keheningan yang sakral.
Tanpa jeda, tanpa ada sedikit pun keraguan dalam nada suaranya, Asher menjawab dengan kelantangan yang berwibawa. "Saya bersedia."
Pendeta kemudian beralih menatap Chloe. "Chloe, bersediakah Anda menerima Asher Sterling sebagai suami sah Anda, menunduk dan patuh kepadanya, mendampinginya dalam suka maupun duka, serta mengasihinya seumur hidup Anda?"
Pertanyaan itu terasa seperti hantaman gada tak kasat mata di dada Chloe. Kata 'menunduk dan patuh' seolah sengaja ditulis khusus untuk menegaskan statusnya hari ini. Jiwa Chloe berteriak ingin melarikan diri, namun saat melirik dari balik kain tule, dia bisa melihat siluet Kenzo yang berdiri siaga di barisan kursi terdepan. Ancaman utang ribuan dolar dan bayangan ayahnya yang dibuang ke jalanan membuat Chloe tidak punya pilihan.
Dengan sisa kekuatan di tenggorokannya yang tercekat, Chloe membisikkan jawaban. "Saya... bersedia."
"Dengan ini, atas nama hukum dan Tuhan, saya menyatakan kalian berdua resmi sebagai sepasang suami istri. Pengantin pria, Anda dipersilakan mencium pengantin wanita Anda."
Asher berbalik menghadap Chloe secara utuh. Dengan gerakan yang teramat pelan, elegan, dan penuh karisma, jemari kokoh Asher meraih pinggiran kain tule putih yang menutupi wajah Chloe, lalu menyibakkannya ke belakang.
Wajah cantik Chloe terekspos sepenuhnya. Sepasang mata rusanya yang jernih menatap Asher dengan pandangan yang bergetar penuh ketakutan dan kepasrahan. Namun, Asher tidak memedulikan binar ketakutan itu. Dia melangkah satu tapak maju, memangkas jarak di antara mereka hingga aroma parfum wood and bergamot-nya yang maskulin menguasai seluruh indra penciuman Chloe.
Tangan kanan Asher naik, mendarat di sisi rahang Chloe yang halus selembut porselen. Ibu jarinya mengusap pelan bibir merah muda Chloe yang masih ranum dan tampak sedikit gemetar. Sebelum Chloe sempat menarik napas, Asher menundukkan wajahnya.
Cup.
Bibir tipis Asher yang dingin menempel dengan sempurna di atas bibir ranum Chloe.
Tubuh Chloe seketika menegang kaku seperti batu, matanya terbelalak lebar karena syok. Ini adalah ciuman pertamanya. Bibirnya yang suci, yang belum pernah tersentuh oleh pria mana pun seumur hidupnya, kini telah diklaim secara mutlak oleh sang penguasa kegelapan. Ciuman itu tidak didasari oleh nafsu yang menggebu-gebu ataupun kelembutan cinta yang romantis. Itu adalah sebuah kecupan yang tegas, dalam, dan penuh dengan penekanan kuasa—sebuah cap kepemilikan visual bahwa mulai detik ini, tubuh dan jiwa Chloe adalah properti sah milik Asher Sterling.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Chloe, Asher perlahan menarik kembali wajahnya. Dia menatap bibir ranum Chloe yang kini tampak sedikit lebih merah akibat kecupannya, lalu memberikan seulas senyuman tipis yang sangat menawan—sebuah senyuman kemenangan yang sukses menyembunyikan sisi iblisnya dari pandangan sang pendeta.
Matahari siang berganti menjadi malam yang megah saat acara berlanjut ke sesi utama: resepsi pernikahan yang digelar di aula agung Sterling Group. Aula raksasa berlantai marmer hitam itu telah disulap menjadi ruang pesta paling mewah tahun ini, dipenuhi oleh jajaran lampu gantung kristal yang berkilauan dan dekorasi bunga-bunga impor bernilai fantastis.
Ratusan tamu undangan dari kalangan elit telah memadati ruangan. Mereka adalah para menteri, pejabat tinggi, investor asing, dan rekan bisnis legal Asher. Musik orkestra klasik mengalun lembut, bercampur dengan dentingan gelas sampanye dan tawa elegan khas kaum borjuis.
Pintu aula ganda terbuka lebar, dan pembawa acara mengumumkan kedatangan sang mempelai dengan suara menggelegar. Asher melangkah masuk dengan dada tegap, menuntun Chloe yang berjalan di sampingnya dengan tangan yang melingkar di lengan kekar sang suami. Gaun pengantin Chloe kini telah berganti dengan gaun resepsi berbahan satin putih dengan potongan A-line yang menjuntai indah, membuatnya tampak seperti seorang putri bangsawan yang sesungguhnya.
Asher membawa Chloe membelah kerumunan, langsung menuju ke arah sekelompok pria paruh baya berjas mahal yang merupakan jajaran investor dan rekan bisnis utamanya dari sektor properti dan perkapalan.
"Ah, Tuan Sterling! Selamat atas pernikahan Anda!" sapa salah seorang pria bertubuh tambun dengan tawa lebar, mengangkat gelas kristalnya ke arah Asher. "Kami benar-benar terkejut mendengar kabar burung ini. Anda selalu terkenal sebagai pria yang dingin dan tidak tersentuh oleh wanita, tapi tiba-tiba hari ini Anda membawa seorang bidadari ke altar!"
Asher tersenyum tipis, menampilkan pesona seorang pengusaha muda yang sangat karismatik dan berwibawa. Dia mengeratkan pelukan tangannya di pinggang ramping Chloe, menarik tubuh mungil gadis itu agar semakin merapat ke sisi tubuh tegapnya.
"Terima kasih, Tuan Wijaya," jawab Asher, suara baritonnya terdengar sangat ramah dan bersahabat, sangat jauh berbeda dengan suaranya yang mematikan di dalam kamar beberapa hari lalu. "Saya minta maaf karena menyelenggarakan pernikahan ini secara mendadak dan privat. Sebenarnya, saya sengaja menyembunyikan dia selama ini sebagai kekasih rahasia saya."
"Oh? Mengapa begitu, Tuan Sterling?" tanya rekan bisnis lainnya dengan nada penasaran yang tinggi.
Asher terkekeh rendah, melirik ke arah Chloe dengan tatapan yang dibuat seolah-olah dipenuhi oleh rasa cinta yang mendalam. "Tentu saja karena saya khawatir. Istri saya ini terlampau cantik dan murni. Jika saya memperkenalkannya terlalu cepat kepada kalian, saya sangat khawatir salah satu dari rekan bisnis hebatku ini akan menyusun rencana untuk merebutnya dari tanganku sebelum aku sempat memasangkan cincin ini di jarinya."
Lawakan segar yang keluar dari mulut seorang Asher Sterling yang biasanya kaku dan dingin itu seketika meledakkan tawa renyah dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka menganggap ucapan Asher sebagai bentuk bucin dan selera humor seorang pria yang sedang mabuk kepayang oleh cinta.
"Hahaha! Anda bisa saja, Tuan Sterling! Kami tidak akan berani merebut milik seorang Sterling!" sahut Tuan Wijaya sembari terbahak-bahak.
Di tengah tawa riuh itu, Chloe merasakan tubuhnya membeku. Wajahnya mendadak terasa kaku karena harus memaksakan sebuah senyuman palsu di depan orang-orang asing ini. Kepalanya pusing akibat kilatan lampu kamera dan bau alkohol yang menguar dari para tamu. Tangannya yang memegang gaun mulai gemetar karena rasa gugup dan kikuk yang luar biasa. Dia tidak terbiasa berada di tengah kemewahan palsu seperti ini.
Merasakan perubahan ritme napas dan ketegangan di tubuh Chloe, Asher perlahan mendekatkan wajahnya ke arah telinga Chloe, seolah-olah dia sedang memberikan bisikan mesra seorang suami di tengah keramaian pesta.
Namun, kata-kata yang keluar dari bibir Asher justru berupa perintah yang dingin dan tajam. "Jangan bersikap kikuk, Chloe," bisik Asher, suaranya sangat pelan namun sarat akan ancaman yang mutlak. "Tegakkan kepalamu dan tersenyumlah. Bersikaplah santai seakan-akan kita adalah sepasang kekasih yang paling bahagia di dunia ini. Ingat, ada ratusan kamera di ruangan ini. Jika kau merusak reputasiku dengan wajah kuyumu itu, kau tahu apa konsekuensinya."
Ancaman terselubung itu bertindak seperti sengatan listrik yang instan bagi Chloe. Dia menelan ludahnya dengan susah payah, lalu memaksa otot-otot wajahnya untuk membentuk sebuah senyuman manis yang tampak sangat natural di depan mata publik. Dia mengangguk pelan, berpura-pura membalas bisikan mesra Asher dengan kepatuhan yang sempurna.
Sepanjang malam itu, pujian demi pujian terus mengalir tanpa henti menghampiri mereka. Setiap kali mereka berpindah dari satu meja ke meja lainnya, semua mata selalu tertuju pada kecantikan murni Chloe yang tampak sangat kontras namun serasi berdampingan dengan ketampanan maskulin Asher yang dominan.
"Nona Chloe—ah maaf, Nyonya Sterling, Anda benar-benar luar biasa cantik malam ini. Gaun itu tampak seperti diciptakan khusus untuk Anda," puji seorang wanita sosialita istri dari seorang pejabat tinggi dengan mata berbinar kagum.
"Benar sekali. Lihatlah mereka, mereka adalah sepasang suami istri yang sangat cocok dan serasi satu sama lain. Yang satu tampan dan berkuasa, yang satu cantik dan anggun seperti lukisan. Benar-benar pasangan yang sempurna!" sahut tamu lainnya dengan nada memuji yang berlebihan.
Mendengar kata 'pasangan yang sempurna' dan 'suami istri yang cocok', Chloe hanya bisa tersenyum manis di luar, sementara di dalam hatinya, dia tertawa getir di atas puing-puing hancur harga dirinya. Sandiwara ini terlalu sempurna. Orang-orang kaya dan terhormat di ruangan ini mengagumi pernikahan mereka sebagai sebuah dongeng romantis yang indah, tanpa pernah tahu bahwa di balik dinding-dinding marmer Sterling Group, pernikahan ini hanyalah sebuah kontrak perdagangan manusia yang kejam, di mana dia adalah barang tebusan yang telah terjebak selamanya di dalam sangkar emas milik seorang bos mafia bernama Asher Sterling.