NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Aroma dari Masa Lalu

BAB 14: Aroma dari Masa Lalu

​Hawa dingin yang diembuskan oleh pendingin ruangan di lantai tiga puluh seolah membawa serta ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk permukaan kulit Luna Maharani. Dia duduk mematung di kursi kerja barunya, tepat di sudut kanan yang kini berhadapan langsung dengan meja megah sang CEO. Meja jati berukuran sedang miliknya terasa seperti sebuah pulau terisolasi di dalam sangkar kaca transparan raksasa itu.

​Visual Luna di dalam keremangan ruangan tampak begitu rapuh dan melankolis. Blus sutra sewarna dusty rose yang membungkus tubuh ringkihnya tampak bergerak naik turun, mengikuti ritme napasnya yang pendek dan sarat akan kecemasan. Sepasang matanya yang bulat dan bening kini meredup, dilapisi lapisan kaca bening air mata yang mati-matian dia tahan agar tidak tumpah. Di atas sanggul rendahnya, jepit rambut perak berbentuk bunga kecil dari Devano berkilau dingin di bawah pendaran lampu, seolah menjadi pengingat bisu atas statusnya sebagai tawanan batin di ruangan ini.

​Jari-jemari Luna yang kuning langsat tampak bergetar hebat di bawah kolong meja. Di dalam tas kerjanya yang terbuka sedikit, sebuah botol parfum kaca berukuran kecil dengan cairan bening di dalamnya seakan menjelma menjadi bom waktu yang siap meledak.

​“...cari kesempatan diam-diam untuk menyemprotkan parfum itu di sudut meja kerjanya... Lakukan sekarang, Luna! Jangan sampai gagal!”

​Rentetan kalimat perintah dari pesan singkat Siska beberapa menit lalu terus berputar-putar di kepala Luna, beradu dengan rasa takut yang teramat besar kepada sosok pria berkemeja hitam di depannya. Luna merasa sangat kotor, sangat terhina. Dia berada di titik nadir dalam hidupnya, terombang-ambing di antara ambisi narsistik kakaknya yang serakah dan amarah dendam mutlak milik Devano.

​Di seberang ruangan, Devano masih duduk bersandar dengan angkuh di kursi kulit kebesarannya. Sosok tegap setinggi seratus delapan puluh lima sentimeter itu tampak begitu mengintimidasi. Rahang perseginya yang kokoh bergeming tegap saat mata elangnya yang kelam membaca baris demi baris dokumen di layar laptop. Meskipun pria itu tidak menatapnya langsung, Luna bisa merasakan aura dominan Devano memenuhi setiap sudut ruangan, mengunci kebebasannya tanpa celah.

​Kring.

​Suara interkom di meja Devano berbunyi satu kali, memecah kesunyian yang mencekam. Devano menekan tombol hijau dengan ketukan jarinya yang kokoh.

​"Tuan Devano, jajaran direksi sudah berkumpul di ruang rapat utama lantai dua puluh sembilan. Pertemuan internal akan dimulai dalam lima menit," suara sekretaris luar terdengar dari pengeras suara.

​Devano melepaskan kacamata bacanya, meletakkannya di atas meja dengan bunyi ketukan pelan. Dia bangkit berdiri, merapikan letak kemeja hitam formalnya yang membungkus dada bidang dan pundak kokohnya dengan sangat sempurna. Sebelum melangkah menuju pintu, Devano menghentikan langkah kakinya tepat di samping meja kerja Luna. Pria itu menunduk, menatap lurus ke dalam manik mata melankolis Luna dengan pandangan mata yang sedingin es.

​"Saya akan keluar selama tiga puluh menit, Asisten Luna," ucap Devano dengan suara bariton yang berat dan menekan. "Jangan menyentuh berkas apa pun di meja saya, dan jangan berani-berani meninggalkan ruangan ini sebelum saya kembali."

​"Baik, Tuan," lirih Luna dengan kepala yang tertunduk dalam, tidak berani membalas kilatan tajam dari sepasang mata elang pria itu.

​Begitu pintu jati besar itu tertutup rapat dan menyisakan kesunyian yang hampa, Luna seketika mengembuskan napas panjang yang terasa sangat sesak di dadanya. Dia mendongak, melirik ke arah dinding kaca transparan di sisi kirinya. Di luar sana, Rania tampak masih duduk di kubikelnya, sesekali melirik tajam ke dalam ruangan dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa iri dan benci. Luna tahu, dinding kaca ini membuatnya tidak memiliki privasi sama sekali. Setiap gerak-geriknya akan dinilai secara miring oleh orang-orang di luar sana.

​Namun, teror pesan singkat dari Siska kembali meraba benaknya. Jika dia tidak menuruti perintah kakaknya, Siska pasti akan mengadu pada ibunya, dan ibunya yang menderita sakit jantung akan kembali menyalahkannya sebagai anak yang tidak berguna.

​Dengan air mata yang mengambang di pelupuk matanya, Luna memberanikan diri merogoh ke dalam tas kerjanya. Jemari tangannya yang dingin mengeluarkan botol parfum kecil aroma melati itu—aroma khas yang selalu dipakai Siska saat masih menjadi istri sah Devano dulu.

​Luna bangkit berdiri dengan gerakan yang teramat halus dan anggun, mencoba mengelabui pandangan karyawan di luar kaca. Dia membawa sebuah map kosong di tangan kirinya, berpura-pura seolah sedang merapikan dokumen yang ada di atas meja kerja Devano. Dengan langkah yang gemetar, dia berjalan memutari meja kaca besar milik sang CEO, hingga tubuh ringkihnya kini berdiri tepat di samping kursi kulit kebesaran Devano.

​Bau maskulin bercampur aroma kopi hitam yang pekat khas tubuh Devano masih tertinggal kuat di sekitar kursi tersebut, membuat dada Luna berdenyut perih mengingat malam terlarang mereka di hotel. Dengan jantung yang bertalu-talu begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit, Luna menyembunyikan botol parfum itu di balik lengan blus sutranya.

​Pret.

​Hanya satu semprotan kecil. Luna menekannya di bagian sandaran kepala kursi kulit milik Devano. Seketika itu juga, aroma manis yang pekat dari bunga melati langsung merebak di udara, menginvasi ruangan yang semula berbau maskulin tersebut. Aroma itu begitu kuat, membawa kembali potongan memori kelam masa lalu yang sangat dibenci oleh Devano.

​Luna buru-buru menyembunyikan botol parfum itu kembali ke dalam saku rok midi abu-abunya. Dia berbalik dengan cepat, berniat untuk segera kembali ke meja kerjanya sendiri. Namun, baru saja kakinya melangkah dua kali, suara debuman keras dari pintu depan seketika merenggut seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya.

​Brak!

​Pintu jati besar itu terbuka secara kasar. Sosok tegap Devano melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki yang terburu-buru. Ternyata rapat internal di lantai bawah ditunda karena salah satu komisaris belum hadir.

​Luna membelalakkan matanya yang bulat, tubuhnya seketika kaku membeku di tengah ruangan dengan wajah yang berubah seputih kertas.

​Devano menghentikan langkah kakinya tepat dua meter setelah melewati pintu. Alis tebalnya bertaut sempurna, dan rahang perseginya seketika mengetat hingga membentuk garis yang sangat tajam. Indra penciuman pria itu menangkap sebuah aroma asing yang teramat sangat dia kenal—dan teramat sangat dia benci setengah mati. Aroma bunga melati yang manis namun memuakkan. Aroma milik Siska, wanita jalang yang telah menghancurkan harga dirinya di masa lalu.

​Sorot mata elang Devano yang semula dingin, seketika berkilat oleh amarah murni yang meletup-letup bagai lava pijar. Dia tidak perlu menebak siapa yang telah membawa aroma menjijikkan ini ke dalam ruang pribadinya. Pandangan matanya yang tajam dan mematikan langsung tertuju lurus ke arah Luna yang berdiri gemetar di dekat meja kerjanya.

​Devano melangkah maju dengan ritme yang sangat cepat dan mengancam, memancarkan aura alpha male yang sedang mengamuk hebat. Sebelum Luna sempat mengeluarkan suara untuk membela diri, Devano sudah mencengkeram kedua pergelangan tangan Luna dengan cengkeraman yang teramat kuat, membuat map di pelukan Luna terjatuh dan berserakan begitu saja di atas lantai.

​"T-Tuan Devano..." cicit Luna dengan suara yang serak dan bergetar hebat karena ketakutan yang luar biasa.

​Devano tidak memedulikan rintihan Luna. Dengan satu sentakan kasar yang dominan, dia menarik tubuh ringkih Luna dan mendorongnya mundur hingga punggung Luna membentur dinding kaca transparan raksasa yang menghadap langsung ke arah koridor luar kantor.

​Dug!

​Benturan itu tidak keras, namun cukup untuk mengunci posisi Luna agar tidak bisa berkutik. Dari luar dinding kaca transparan, Rania dan beberapa karyawan administrasi yang sedang bekerja langsung tersentak syok. Mereka serentak menoleh, menatap lurus ke arah dalam ruangan dengan mata yang terbelalak lebar. Di mata orang-orang di luar sana, adegan di mana sang CEO menyudutkan asisten pribadinya ke dinding kaca dengan tubuh yang saling menempel erat tampak seperti sebuah pertengkaran sepasang kekasih yang dipenuhi gairah yang meledak-ledak.

​Devano memajukan tubuh bidangnya, menghimpit tubuh Luna tanpa memberi ruang sedikit pun bagi gadis itu untuk bernapas. Dia menundukkan wajah tampannya yang kini dipenuhi oleh topeng kemarahan yang pekat, menatap lurus ke dalam manik mata melankolis Luna yang sudah basah oleh air mata ketakutan.

​"Kamu sengaja membawa aroma wanita jalang itu ke dalam ruang kerja saya, Luna Maharani?!" desis Devano dengan suara bariton yang sangat rendah, bergetar hebat menahan amarah yang membakar dada bidangnya. Napasnya yang memburu terasa begitu panas menerpa permukaan kulit wajah Luna. "Kamu merindukan sentuhanku di ruangan ini sampai harus memakai trik murahan kakakmu untuk merayuku, hah?!"

​"Bukan... bukan begitu, Tuan... saya mohon dengarkan saya dulu," lirih Luna dengan tangis yang akhirnya pecah. Air matanya mengalir membasahi pipi kuning langsatnya, memancarkan aura kecantikan melankolis yang teramat rapuh di bawah himpitan tubuh kekar Devano. Pergelangan tangannya terasa teramat perih dalam cengkeraman Devano, namun kehancuran batinnya jauh lebih menyiksa.

​Di luar kaca, Rania tampak mengepalkan tangannya begitu kuat hingga kukunya memutih, matanya menyala merah karena mengira Luna sedang melancarkan aksi tangisan maut untuk mendapatkan simpati dan pelukan dari sang CEO. Mereka semua menghakimi Luna dari balik kaca, tanpa tahu bahwa di dalam ruangan ini, Luna sedang dicekik oleh benang takdir yang teramat kejam.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!