Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut
Pagi itu, Alisha terbangun oleh suara berisik yang berasal dari sebelahnya. Ia mengucek matanya dan menoleh ke arah Giovan.
"Ughhh, Gov!" seru Alisha.
Giovan yang sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam koper, mendongak menatap Alisha.
"Kau sudah bangun?" tanyanya sambil melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda tadi.
"Hm, kau sedang apa?" tanya balik Alisha seraya menyenderkan kepalanya di bantal.
"Aku sedang membereskan baju, pagi ini aku akan ke luar negeri," jawab Giovan.
Mata Alisha seketika melebar. "Apa, keluar negeri?!" pekik Alisha yang langsung duduk.
"Iya!"
Giovan menutup koper miliknya dan menarik ritsletingnya. Alisha segera turun dari ranjangnya dan berniat mendekati Giovan. Namun..
"Kalau begitu, bia.. Awww!" ucapan Alisha terhenti karena tiba-tiba saja kakinya tak mampu berjalan dan area miliknya terasa perih.
"Ssshh, sakit sekali," lirih Alisha yang terdengar jelas oleh Giovan.
"Kau diam-diam saja, lupa apa semalam habis ngapain!" ujar Giovan.
Blussh.
Pipi Alisha tiba-tiba saja merona, terutama saat dia menyadari bahwa tubuhnya belum terbalut pakaian untuk menutupi kepolosannya.
"Iya, iya."
"Nih, pakai dulu baju kamu!"
Alisha segera mengambil daster yang Giovan berikan padanya dan memakainya.
"Kau akan ke mana tadi?" tanya Alisha kembali.
"Luar negeri," jawab Giovan acuh tak acuh.
"Iya, ke mananya?"
"Rusia."
"Dengan siapa?"
"Kakek."
"Hanya berdua?"
"Ya."
"Aku ikut, boleh?"
Giovan yang sedang memasang tali sepatunya sempat terhenti, dan memandang wajah istrinya.
"Boleh, kan?" tanya Alisha dengan senyuman manis di bibirnya. Namun, jawaban suaminya membuat senyuman Alisha sirna.
"Tidak!" jawab Giovan singkat, padat, jelas.
Giovan segera bangkit dari tempatnya duduk dan menghampiri Alisha. "Aku mungkin akan lama, jadi kau baik-baik di sini."
Tangan Giovan terulur untuk mengelus belakang rambut Alisha. "Aku pergi dulu."
"Tapi.."
Cup.
Tanpa diduga Giovan justru mencium kening Alisha, dan membuat Alisha sendiri mematung. Dia agak tak percaya saat Giovan mencium keningnya.
Sedangkan Giovan segera menjauhkan mulutnya dari kening Alisha.
"Aku pergi dulu," pamit Giovan.
Kepala Alisha mendongak untuk menatap wajah suaminya, yang sedang menatapnya juga.
SREKK.
Tiba-tiba saja Alisha menarik dasi Giovan, dan membuat tubuh Giovan maju mendekati wajah Alisha.
Cup.
Kini giliran Alisha yang mencium bibir Giovan sekilas. Ia menatap telinga Giovan yang tampak memerah.
Lalu melanjutkan aksinya untuk melumat kecil bibir suaminya. Awalnya Giovan hanya diam, tapi akhirnya dia terlena juga oleh Alisha.
"Umhh..."
Alisha hampir kesulitan bernapas, karena ganasnya ciuman Giovan. Giovan sendiri sepertinya tidak ingin melepaskan Alisha sebelum keduanya sama-sama kehabisan napas.
Hingga suara ketukan pintu membuat keduanya terhenti.
Tok. Tok. Tok.
"Tuan Giovan, Tuan Edward sudah menunggu Anda."
Tok. Tok.
Giovan dan Alisha sama-sama menatap ke arah pintu, lalu Alisha mengalihkan perhatiannya pada Giovan.
"Sudah ditungguin tuh," ucap Alisha.
Giovan menundukkan kepalanya di ceruk leher Alisha. "Hm, aku pergi dulu," gumam Giovan.
Saat Giovan ingin bangun dari tubuh Alisha, Alisha justru menahannya. "Sebentar, kau harus ku kasih tanda."
Kepala Alisha mendekati leher Giovan, dan dengan sengaja ia menggigit kecil leher suaminya itu.
"Ssshh, Lis," desis Giovan.
Bukan sakit, Giovan justru terangsang dengan aksi istrinya itu.
"Dah, sana. Aku hanya memberikan tanda merah saja, untuk memberitahukan orang-orang jika kau sudah memiliki istri yang cantik."
Giovan diam. Ia fokus memandang wajah Alisha yang terlihat berbeda dari sebelum mereka menikah sampai sudah menikah seperti sekarang.
Tok. Tok.
"Tuan Giovan??"
Giovan tersentak kaget. Pria tampan itu menatap ke arah pintu sambil berdecak kesal.
"Lihat saja, akan ku pecat dia!" ucap Giovan.
Alisha terkekeh kecil.
"Pergilah," seru Alisha.
"Hm, kau baik-baik di sini. Kalau terjadi sesuatu, hubungi aku."
"Ya."
Giovan mengambil sesuatu dari dalam laci, dan menyerahkannya pada Alisha.
"Ambil lah ini. Kedua pistol ini mempunyai kelebihan masing-masing," ucap Giovan.
Alisha segera mengambil dua pistol yang Giovan berikan. "Apa kelebihannya?" tanya Alisha.
"Satu pistol ini dia beracun. Jika kau menembakkannya pada orang lain, kemungkinan dia akan meninggal. Namun, tidak langsung meninggal, melainkan menunggu beberapa detik dulu."
"Untuk yang satunya lagi, dia pistol kematian. Kenapa disebut kematian? Karena jika orang yang kamu tembak menggunakan pistol tersebut, dia akan langsung mati. Tapi, matinya hanya 2-3 jam saja, tergantung daya tubuhnya masing-masing," jelas Giovan.
Alisha mengangguk mengerti. "Baiklah, aku mengerti."
"Hm, gunakanlah sebaik mungkin kedua pistol itu. Jika kau ingin menahan musuh tanpa membunuhnya, maka gunakan pistol kematian. Tapi jika kau ingin membunuhnya langsung, maka pakailah pistol beracun itu."
"Ya, aku paham."
"Kalau begitu aku pergi dulu."
Giovan menarik koper miliknya dan menatap Alisha yang tersenyum. "Hm, semoga kau baik-baik saja."
"Kau juga."
Tok. Tok.
"Tuan Gov.."
"Hah, iya!!" teriak Giovan setengah kesal.
Alisha tertawa kecil melihat Giovan, lalu ia memandang pistol di tangannya.
"Pistol ini, dulu aku sangat sulit untuk mendapatkannya. Tapi sekarang dengan mudahnya aku bisa dapat," gumam Alisha.
Alisha menerawang jauh. Dia bisa menggunakan pistol kematian ini untuk membunuh sahabatnya dan mantan kekasihnya dulu.
"Dendam itu masih ada! Bahkan sampai aku dihidupkan kembali," batinnya.
---
Giovan menuruni tangga, dan dia melihat koper Kakeknya yang sudah tak ada.
"Ke mana Kakek?"
"Astaga, Gov, Kakek-mu sudah dari tadi menunggu di mobil!" ucap Emeline.
"Iya kah?"
"Iya! Sudah, sana cepat kau hampiri. Nanti bisa ngamuk Kakek-mu karena kau yang lelet!"
"Iya, iya."
Giovan menatap ke arah satu pelayan. "Kau ke mari!"
"Iya, Tuan."
"Siapkan sarapan untuk Alisha, dan bawa ke kamarnya. Dia tidak bisa turun ke bawah karena kakinya yang sedang sakit," titah Giovan.
Pelayan tersebut menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."
Setelahnya Giovan segera pergi, meninggalkan Emeline yang diam-diam tersenyum lebar mendengar perkataan Giovan yang perhatian pada Alisha.
"Semoga rumah tangga kalian selalu diberkati oleh Tuhan," batinnya.
---
"Kakek."
Edward yang sedang memejamkan matanya langsung menatap tajam Giovan. "Astaga, Giovan, kau lama sekali!"
"Kamu tidak berpamitan dulu pada Alisha," ucap Giovan yang sengaja menggunakan nama istrinya agar Edward tak jadi marah.
"Ohh, Kakek kira kamu ke mana! Ya sudah, kalau begitu kita jalan sekarang!"
"Hm."
Giovan bernapas lega karena Kakeknya tak jadi marah.
---
"Markasku hancur oleh Giovan dan kakek tua itu!"
"Markasku juga! Bahkan bahan-bahanku ludes olehnya!"
"Kalian masih mending markas! Aku, rumah, markas, dan istriku yang sedang hamil pun dibuat mati oleh The Dangerous Devil!!"
"Sepertinya kita bertiga memang harus bersatu untuk menghancurkan The Dangerous Devil."
"Hm, aku setuju!"
"Tapi, bagaimana caranya agar kita bisa menghancurkan The Dangerous Devil?"
"Kita gunakan orang yang menjadi kelemahan Giovan, dan juga Edward!"
"Siapa?"
"Alisha!" jawabnya sambil menyeringai kecil.
---
"Haaahimm!" Alisha tiba-tiba bersin. "Dih, siapa nih yang lagi ngomongin gue!" gumam Alisha.
---
"Alisha, istri Giovan?"
"Ya, dia adalah kelemahan keluarga itu!"
"Bukankah Giovan sangat membencinya? Kita semua tahu rumor itu, karena istrinya jelek."
"Hm, Giovan memang membencinya, tapi Edward..."
"Kalian tahu, Edward sangat menyayangi menantunya yang jelek itu. Bahkan dia menyiapkan ratusan bodyguard tersembunyi untuk menantunya!"
"Kalau begitu, berarti kita harus menculiknya!"
"Jangan, jangan kita culik. Tapi kita bunuh secara langsung!"
"Bagaimana caranya?"
"Aku dengar pagi ini Giovan dan Edward sedang ada misi di Rusia. Dan itu artinya mereka tidak ada di mansion-nya."
"Lalu, maksudmu kita menyusup ke sana?"
"Ya. Kita harus datangi mansion-nya, sekalian kita buat habis seluruh keluarga itu!"
"Baiklah, aku setuju!"
"Aku juga."
Mereka bertiga adalah musuh-musuh Giovan, orang yang pernah berurusan dengan Giovan dan juga orang yang dengki atas pencapaian The Dangerous Devil.
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️