Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.
Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.
Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.
Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.
Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Matahari Hitam Kembar, Dua Bulan Purnama Aneh, dan Bintang Hitam
Tangan-tangan kegelapan yang kelaparan itu kian beringas. Beberapa tangan mencengkeram rahang atasnya, sementara ratusan tangan lain memegang bagian bawah tubuhnya.
Stretch! Crash!
Dengan satu tarikan berlawanan arah yang luar biasa masif, mereka merobek paksa mulut lingkarannya, menariknya memanjang hingga membelah seluruh tubuh monster itu sampai ke ujung ekornya. Kulit, daging, dan isi perutnya terburai di dalam pusaran hitam. Tak berselang lama, tekanan energi kegelapan itu mencapai puncaknya.
Boom!
Tubuh Anomali cacing itu meledak hancur menjadi partikel-partikel mikro. Tidak ada lagi potongan daging yang tersisa, semuanya terurai menjadi serpihan seluler yang hancur, organ dalamnya meleleh instan menjadi cairan yang pekat, dan tulang-tulangnya digilas menjadi bubuk halus yang melayang di dalam air.
Di dalam kungkungan energi gelap yang pekat itu, ribuan mulut tak kasat mata seolah muncul dan melahap sisa-sisa kehancuran sang monster dengan rakus. Menyesap sisa bubuk tulang, menjilat cairan organ, dan menelan habis seluruh eksistensi Anomali cacing itu tanpa menyisakan satu atom pun.
Setelah pesta pembantaian yang sunyi dan brutal itu usai, energi kegelapan itu perlahan menyusut, memudar, dan menghilang tanpa jejak entah kemana. Meninggalkan lautan yang mendadak sunyi senyap, seolah-olah monster mengerikan yang mengejar Cia tadi tidak pernah ada di dunia ini.
Cia melihat energi gelap murni secara perlahan menyusut, memudar, dan menghilang tanpa jejak. Setelah energi gelap itu menghilang sepenuhnya, Cia membelalakkan matanya. Menggigit bibir bawahnya, hal itu menunjukkan bahwa Cia sedang terkejut. Bukan hanya karena energi kegelapan itu yang secara tiba-tiba muncul dan menghilang tanpa jejak, tapi dampak yang ditinggalkannya.
Anomali yang sebelumnya mengejarnya kini lenyap sepenuhnya, seolah-olah tak eksistensinya tak pernah ada di dunia ini. Tak ada jejak apa pun yang menunjuk ke arah Anomali itu. Ditambah dengan suara jeritan yang penuh rasa penderitaan itu, Cia memahami bahwa monster itu telah lenyap sepenuhnya.
Cia sekali lagi menyatukan kedua tangannya di depan dada dan berkata dalam hati, 'sekali lagi, aku berterima kasih kepada-Mu yang telah menyelamatkanku.'
Setelah menunjukkan ketulusannya, dia menengadah ke langit, melihat cahaya matahari sore berwarna emas yang indah. Jaraknya dengan permukaan hanya berkisar antara lima puluh meter. Dia melirik ke bawah, mengingat Ras Athu yang dimakan oleh Anomali ikan tepat di depan matanya.
"Aku idak tahu bagaimana keadaan tahanan lainnya," suaranya terdengar penuh penyesalan dan harapan. Walaupun mereka berasal dari keluarga yang berbeda-beda, tapi mereka tetap satu ras, Ras Athu. "Tapi... aku berharap mereka baik-baik saja."
Setelah harapan itu keluar dari mulutnya, dia menggerakkan ekornya dan melesat naik ke atas. Kini kecepatannya tidak secepat sebelumnya. Alasan utamanya adalah karena ekor ikannya terluka, cukup banyak sisik yang terkelupas dari dagingnya, darah juga masih mengalir keluar, membuatnya tak bisa bergerak secepat sebelumnya. Rasanya perih dan nyeri. Alasan lainnya, karena dia tidak sedang dikejar oleh monster, jadi dia bisa sedikit lebih tenang. Walaupun, tentu saja dia masih menujukkan kewaspadaan dengan cara melirik ke sekitar.
Sesekali, dia memencet tanda penyelamat di lengannya, berharap tanda itu aktif. Tapi setelah mencobanya beberapa kali, hasilnya nihil. Dia sempat berpikir bahwa mungkin ada batasan jarak agar tanda penyelamat ini aktif, tapi setelah sedekat ini dan tidak ada reaksi apa pun, dia hanya dapat menghela napas dan berpikir bahwa artefak itu mungkin sudah rusak.
Ketika jaraknya dengan permukaan hanya dua puluh meter, dia dapat mendengar suara gemuruh guntur dan petir yang menyambar setiap sepuluh detik sekali.
'Ini...' dia mengerutkan dahi, merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Dan, benar saja, ketika dia sampai di permukaan, dia melihat langit berubah menjadi gelap, hampir menghitam. Awan hitam berkumpul dan bergulung-gulung, membentuk sebuah lingkaran dengan lubang raksasa yang menganga di tengahnya.
Saat dia menyapu pandangan, dia melihat sebuah kapal yang terapung di atas laut. Dari kejauhan, dapat terdengar suara teriakan panik para awak kapal.
Dan, pada momen itu, di dalam lubang raksasa sebuah cahaya yang terangnya seperti puluhan matahari muncul. Dan tak lama kemudian, petir yang ukurannya menyamai ukuran lubang menyambar dengan suara yang membuat telinga Cia berdenging hingga berdarah, dia bahkan belum menyadari kalau telinganya mengeluarkan darah.
Sambaran petirnya tersebar ke segala arah, dan tanpa sengaja, mengenai dahi Cia, membentuk simbol petir.
"Ah..." dia berteriak kaget, tapi anehnya suaranya terdistorsi.
Pada momen itu, awan-awan hitam yang membentuk lubang besar itu menyebar dengan cepat, seolah-olah disapu oleh napas tak kasat mata.
Cia tenggelam ke dalam air, tubuhnya meluncur ke kedalaman yang dingin dan sunyi. Dunia di atas permukaan dengan cepat menjauh, menyisakan hanya desiran air dan degup jantungnya sendiri. Perlahan, pandangannya mulai mengabur, seakan ada lapisan kaca buram yang perlahan-lahan turun menutupi matanya.
Tapi, tepat di tengah kesadarannya yang nyaris padam, dalam pandangan yang nyaris tak berfungsi itu, dia menyaksikan keajaiban yang mustahil.
Langit di atas lautan berubah menjadi hitam pekat, seolah-olah seluruh cahaya di semesta lenyap ditelannya. Sebuah malam tiba-tiba jatuh tanpa aba-aba. Dari kegelapan itu, memancar cahaya hitam. Cahaya yang berbentuk energi kelam yang justru memperjelas kontur segala sesuatu di kedalaman laut.
Dalam keburaman penglihatannya, Cia dapat melihat matahari yang sebelumnya berwarna cerah berubah perlahan menjadi hitam, sebuah lingkaran gelap yang membara dalam keheningan, tengah terbenam di ufuk barat. Sosoknya terpantul sempurna di permukaan laut yang tenang, menciptakan ilusi dua matahari hitam kembar yang turun bersamaan, seolah alam raya tengah memperagakan upacara akhir zaman.
Tak lama kemudian, dua bulan purnama muncul dengan anggun di langit yang ganjil itu. Bentuknya sungguh aneh, bukan bulatan sempurna seperti bulan yang dikenalnya.
Bentuknya agak lonjong dengan lekukan-lekukan seperti cekungan di permukaan yang rusak dengan cincin-cincin tipis yang berpendar redup. Bulan itu naik dengan gerakan yang begitu halus hingga berhenti tepat di puncak langit, menggantung di sana bagai sepasang mata langit yang kosong.
Sosoknya terpantul di permukaan laut, menciptakan ilusi dua bulan purnama aneh.
Saat kedua bulan aneh itu menghentikan pergerakannya, bintang-bintang hitam mulai bermunculan. Sebuah titik-titik kegelapan yang lebih pekat dari langit itu sendiri, berputar-putar dalam formasi melingkar mengelilingi bulan seolah-olah sedang melakukan tarian kosmik yang khusyuk.
'Itu...' batin Cia, pikirannya yang tersisa hanya mampu membentuk satu kata tanpa sempat menyelesaikannya menjadi pertanyaan. Pandangannya semakin kabur, dunia tampak seperti lukisan cat air yang luntur. Tapi, ajaibnya, fenomena aneh di langit itu tetap bisa dia tangkap. Seolah penglihatan itu tak lagi bergantung pada matanya, melainkan langsung ditanamkan ke dalam benaknya.
Tepat ketika kesadaran hampir sepenuhnya meninggalkannya, sesuatu terjadi di bawah tubuhnya yang melayang. Sebuah retakan kecil muncul di kehampaan dasar laut. Retakan itu tipis, nyaris tak terlihat. Tapi, dengan cepat dia mulai menyebar, menjalar ke berbagai arah dengan pola yang kacau sekaligus teratur, membentuk jaringan yang hampir menyerupai sarang laba-laba raksasa.
Retakan-retakan itu memanjang, mencabang, menciptakan ribuan garis-garis tipis yang saling terhubung. Kemudian, tanpa suara, tanpa peringatan, jaringan retakan itu pecah dan membuka sebuah lubang. Kegelapan di dalamnya jauh lebih tua dan lebih dalam dari apa pun yang bisa dibayangkan.
Cia tak bisa melihatnya. Tapi, anehnya dia seolah-olah dapat merasakan kehadiran lubang itu dengan seluruh tubuhnya. Sebuah sensasi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, seolah jiwanyalah yang mengamati, bukan lagi indra fisiknya.
Tubuhnya terjun dengan pelan menuju lubang itu, tertarik oleh gravitasi yang asing. Bukan jatuh, melainkan seperti dijemput oleh arus yang lembut.
Gerakannya tenang, nyaris anggun, seperti daun yang melayang menuju tanah. Dan ketika tubuhnya sepenuhnya masuk ke dalam lubang itu, menelan sosoknya yang ringkih, ruang di sekitarnya mulai terdistorsi.
Lubang aneh itu bergetar pelan, ujung-ujungnya bergelombang seperti permukaan air yang dijatuhi batu, lalu perlahan-lahan dia mulai tertutup dengan sendirinya, menyegel kembali celah antara dunia, seolah tak pernah ada yang terjadi, dan tak pernah ada yang datang.