NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Ketakutan Bu Sari

Setelah selesai berbelanja keperluan dapur di pasar, Bu Sari dan Pak Agus berjalan pulang dengan langkah yang agak lambat. Mereka sengaja berangkat pagi-pagi sekali untuk menghindari percakapan dengan Dinda, karena keduanya masih merasa bingung dan takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh anak itu.

Mereka membawa keranjang berisi sayuran, ikan, dan bahan makanan lainnya, lalu masuk ke dalam rumah yang tampak sepi.

"Ayo kita simpan belanjaan ini dulu, Bu. Nanti kita masak bareng-bareng. Mumpung Dinda belum bangun, atau mungkin masih keluar sebentar."

Bu Sari hanya mengangguk diam. Hatinya terasa gelisah sejak semalam, apalagi setelah percakapan yang tegang dengan Dinda. Ia berjalan menuju kamar anaknya untuk memastikan keadaan, tapi pintu kamar itu sudah terbuka dan di dalamnya tidak ada siapa-siapa. Tempat tidurnya sudah rapi, seolah-olah pemiliknya sudah bangun dan pergi dari rumah sejak tadi.

Suaranya bergetar memanggil "Din... Dinda... Kamu ada di mana, Nak?"

Ia berjalan ke seluruh sudut rumah, memeriksa dapur, ruang tamu, bahkan halaman belakang, tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Dinda. Tidak ada pesan yang ditinggalkan, tidak ada barang yang terlihat tergeletak sembarangan. Seolah-olah Dinda pergi dengan sengaja tanpa memberi tahu siapa pun.

Rasa takut yang selama ini ia sembunyikan tiba-tiba meledak di dadanya. Kakinya terasa lemas, sehingga ia harus duduk di kursi ruang tamu dengan napas yang memburu.

Melihat keadaan istrinya yang tiba-tiba pucat pasi "Ada apa, Bu? Kenapa wajahmu begitu pucat? Dinda tidak ada di rumah ya?"

Menahan air mata yang sudah menetes "Dia pergi, Pak. Dinda tidak ada di rumah... Dia pasti pergi menemui Bu Liana. Dia pasti melakukan tes DNA yang dia bicarakan semalam."

Terkejut dan langsung duduk di samping istrinya "Kau yakin begitu? Mungkin dia hanya pergi ke tempat kerja atau ke rumah temannya saja, Bu. Jangan terlalu berprasangka buruk dulu."

"Tidak, Pak. Aku tahu Dinda. Kalau dia hanya pergi sebentar, pasti dia akan meninggalkan pesan atau memberi tahu kita. Tapi ini... dia pergi begitu saja. Itu artinya dia sudah memutuskan untuk mencari tahu kebenaran itu sendiri."

Suara Sari terputus-putus. Ia mengingat kembali perkataan Dinda semalam: "Dinda berhak tahu siapa orang tua kandungku yang sebenarnya. Dinda tidak mau hidup dalam kebohongan selamanya."

Dan sekarang, apa yang ia takutkan akhirnya terjadi juga.

"Kita sudah berusaha menyembunyikan rahasia ini selama 17 tahun, Pak. Kita berharap rahasia ini akan terkubur selamanya dan tidak akan pernah terbongkar. Tapi ternyata... takdir berkata lain. Mereka bertemu, dan sekarang mereka sedang mencari tahu kebenaran itu."

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Bu? Kalau hasil tes DNA itu keluar dan membuktikan bahwa Dinda bukan anak kita... apa yang akan terjadi pada kita? Apa yang akan terjadi pada Dinda yang kita besarkan selama ini?"

 "Aku tidak tahu, Pak. Aku benar-benar tidak tahu. Aku hanya merasa takut sekali. Takut akan dosa yang sudah aku perbuat, takut akan hukuman yang akan kita terima, takut akan kebenaran yang akan menghancurkan semuanya."

Air mata Sari mengalir semakin deras. Ia menyesali perbuatannya di masa lalu, tapi semuanya sudah terjadi dan tidak bisa diubah kembali. Ia tahu, tidak lama lagi, rahasia gelap yang ia sembunyikan selama ini akan terungkap ke permukaan, dan hidup semua orang yang terlibat akan berubah selamanya.

 "Kita hanya bisa menunggu, Pak. Menunggu sampai semuanya terbongkar. Dan kita harus siap menerima apa pun konsekuensinya, bagaimanapun beratnya."

...****************...

Bu Liana dan Dinda tiba di rumah sakit yang bersih dan tertata rapi. Mereka berjalan berdampingan menuju ruang dokter yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Suasana di antara mereka masih hening, namun tidak terasa canggung—hanya ada perasaan harap dan cemas yang tergantung di udara.

Setelah beberapa menit menunggu di ruang tunggu, seorang perawat datang menghampiri mereka.

"Selamat pagi, Bu Liana. Dokter sudah menunggu di ruangan. Silakan ikut saya."

Mereka berdua bangkit dan mengikuti perawat menuju ruang konsultasi. Di dalam ruangan, seorang dokter perempuan paruh baya dengan wajah ramah sedang duduk di meja kerjanya. Ia menyambut mereka dengan senyum hangat.

 "Selamat pagi. Silakan duduk, Bu Liana, dan kamu juga, Nak. Saya Dr. Rina, yang akan menangani proses tes DNA ini."

Bu Liana dan Dinda duduk di kursi yang tersedia. Dinda menundukkan wajahnya sedikit, tangannya tergenggam erat di atas pangkuan. Bu Liana yang melihat itu segera meraih tangan Dinda dan menekannya dengan lembut, seolah memberi kekuatan.

 "Ini dia, Dok. Dinda, gadis yang saya ceritakan kemarin. Kami berdua sepakat untuk melakukan tes ini demi mengetahui kebenaran yang sebenarnya."

"Baiklah. Saya mengerti posisi kalian berdua. Sebelum kita mulai, saya akan menjelaskan sedikit tentang prosesnya ya. Tes ini akan menggunakan sampel darah atau usap lendir mulut dari kalian berdua. Prosesnya cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti. Hasilnya akan keluar dalam waktu 3 sampai 5 hari kerja."

Dokter itu menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami, membuat ketegangan yang ada di hati Dinda dan Bu Liana sedikit berkurang.

"Apakah kalian berdua sudah siap?"

Bu Liana menoleh ke arah Dinda, menatapnya dengan tatapan penuh dukungan.

 "Bagaimana, Nak? Apakah kamu sudah siap?"

Dinda mengangkat wajahnya, matanya yang berkaca-kaca menatap Bu Liana, lalu mengangguk tegas.

"Dinda sudah siap, Bu. Dinda ingin tahu semuanya, apa pun hasilnya nanti."

"Bagus. Kalau begitu, mari kita lakukan proses pengambilan sampelnya sekarang."

Mereka berdua dibawa ke ruang pemeriksaan. Proses pengambilan sampel berjalan dengan cepat dan lancar. Dinda hanya merasakan sedikit perih saat jarum suntik menusuk kulitnya, tapi ia menahannya dengan tegar. Begitu juga Bu Liana yang tampak tenang, meski di dalam hatinya ada perasaan yang tidak menentu.

Setelah proses selesai, mereka kembali ke ruang konsultasi.

"Semua sudah selesai. Saya akan segera memproses sampel ini. Begitu hasilnya keluar, saya akan segera menghubungi kalian."

 "Terima kasih banyak, Dok. Kami sangat berterima kasih atas bantuannya."

 "Sama-sama, Bu. Saya hanya berharap hasil ini bisa membawa kejelasan bagi kalian berdua. Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak ya, semuanya akan terjawab dengan sendirinya nanti."

Bu Liana dan Dinda pamit keluar dari ruangan dokter. Mereka berjalan menuju lobi rumah sakit, masih dalam keadaan hening. Namun, kali ini ada perasaan lega yang sedikit muncul di hati mereka setidaknya, langkah untuk mencari kebenaran sudah dimulai.

 "Terima kasih ya, Nak. Terima kasih sudah mau menemaniku melakukan ini."

 "Bukan, Bu. Dinda yang harus berterima kasih. Kalau tidak ada Bu Liana, mungkin Dinda tidak akan pernah tahu kebenaran tentang diri Dinda sendiri."

"Apa pun hasilnya nanti, ingat ya... aku akan selalu ada untukmu. Kamu tidak akan pernah sendirian."

Dinda mengangguk, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia merasa seolah-olah sudah menemukan sosok ibu yang selama ini ia cari-cari, meski belum ada bukti yang pasti.

Sementara itu, di luar rumah sakit, mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang mengawasi mereka dari kejauhan seseorang yang telah mengikuti langkah mereka sejak pagi tadi. Itu adalah Nayla.

Nayla yang merasa penasaran dengan kepergian ibunya pagi-pagi sekali, memutuskan untuk mengikuti mobil ibunya diam-diam. Dan sekarang, ia melihat ibunya keluar dari rumah sakit bersama gadis yang pernah ia temui di mall itu.

Hati Nayla berdebar kencang. "Ada apa sebenarnya? Kenapa Mama ada di rumah sakit bersama gadis itu? Apakah benar dugaan saya selama ini?"

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!