NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gladi Resik Sandiwara

Sebuah restoran bergaya klasik Prancis yang telah disewa secara privat oleh Devan menjadi saksi bisu pertemuan aneh malam ini. Tidak ada pengunjung lain. Hanya ada alunan musik jazz lembut yang samar dan dua orang yang duduk berhadapan dengan selembar kertas catatan di antara piring-piring porselen mewah.

"Ulangi lagi," perintah Devan, memotong steaknya dengan gerakan yang teramat presisi. "Di mana pertama kali kita bertemu menurut versi publik?"

Anya menghela napas, meletakkan garpunya dengan ketukan bosan. "Di sebuah galeri seni di Menteng, delapan bulan yang lalu. Anda sedang mengagumi lukisan abstrak, dan saya tidak sengaja menumpahkan... tunggu, mengapa harus insiden menumpahkan sesuatu lagi?" Anya mengernyitkan dahi saat membaca draf buatan Devan.

"Karena itu satu-satunya bagian dari dirimu yang konsisten, Nona Anya. Ceroboh," jawab Devan datar tanpa mendongak dari piringnya.

Anya mendengus kesal, menahan diri untuk tidak melempar serbet kain ke wajah tampan bin angkuh di depannya. "Baik. Saya tidak sengaja menjatuhkan brosur pameran, Anda mengambilkannya, dan mata kita bertemu. Lalu, bagaimana bisa seorang CEO Alfarezel Group mengejar wanita biasa seperti saya?"

Devan akhirnya meletakkan pisaunya, menatap Anya lekat-lekat dengan sepasang mata elangnya yang tajam. "Aku terpesona oleh kesederhanaan dan kejujuranmu. Aku yang mengejarmu selama tiga bulan sebelum kau akhirnya mau menerima pernyataan cintaku di bawah menara Eiffel saat aku melakukan perjalanan bisnis ke Paris."

Anya hampir saja tersedak air putih yang baru direguknya. Ia terbatuk kecil, wajahnya merona kemerahan antara syok dan geli. "Paris? Menara Eiffel? Anda tidak berpikir itu terlalu klise dan berlebihan? Kakek Anda tidak akan mempercayai dongeng picisan seperti itu."

"Kakekku mungkin keras, tapi dia seorang romantis yang melankolis jika menyangkut mendiang nenekku," balas Devan, memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja, mengikis jarak di antara mereka. "Semakin klise ceritanya, semakin mudah dia percaya. Yang terpenting bukan ceritanya, Anya. Tapi bagaimana cara kita menyampaikannya."

Devan memperhatikan penampilan Anya malam ini. Wanita itu mengenakan gaun terusan sederhana berwarna hijau zamrud yang dibelikan oleh asisten Devan sore tadi. Gaun itu pas membentuk lekuk tubuhnya yang proporsional, membuat kulit putihnya terlihat kian kontras di bawah pendar lampu temaram. Ada getaran aneh yang mendadak melintas di dada Devan, namun ia dengan cepat menekannya kembali ke dasar kesadaran.

"Sekarang, mari kita latih panggilan kita," ucap Devan, nadanya beralih menjadi lebih rendah dan berat.

"Panggilan?" Anya mengernyit. "Maksud Anda, nama?"

"Di depan keluargaku besok malam, kau tidak bisa memanggilku 'Pak Devan' atau 'Anda'. Itu akan langsung membongkar semuanya," Devan bersedekap dada, mengamati ekspresi bingung di wajah Anya. "Panggil aku 'Devan', atau sesuatu yang biasa digunakan oleh sepasang kekasih."

Anya menelan ludah. Lidahnya mendadak terasa kelu. "D-Devan..." ralatnya canggung. Mencoba memanggil nama pria yang biasanya ia takuti di kantor terasa sangat aneh. "Bagaimana kalau... Mas Devan?"

Sudut bibir Devan berkedut, menahan senyum seringai yang hampir lolos. "Terlalu formal untuk standar kekasih yang sudah berpacaran delapan bulan. Coba yang lain."

Anya memutar otaknya, merasa sedang diuji dalam ujian paling mematikan seumur hidup. "Sayang? Atau... *Honey*?" tanyanya ragu, dengan wajah yang kini sudah sepenuhnya memerah menyerupai buah tomat matang.

Melihat wajah Anya yang merona dan salah tingkah, Devan merasakan sebuah letupan geli sekaligus kepuasan tersendiri di dadanya. Tensi di antara mereka yang biasanya penuh amarah permusuhan, mendadak bergeser menjadi sesuatu yang terasa jauh lebih intim dan mendebarkan.

"Simpan kata 'Sayang' itu untuk besok malam, Anya," bisik Devan dengan suara baritonnya yang dalam, membuat bulu kuduk Anya meremang seketika. "Pastikan suaramu tidak bergetar seperti sekarang saat mengucapkannya di depan kakekku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!