"Aku akan menanggung semua kebencian di dunia ini sendirian."
Kalimat itu lahir saat dadamu ditembus cahaya.
Duniaku runtuh seketika tanpa suara,
Meninggalkan kepal tangan yang mengutuk semesta.
Kau adalah detak jantung dari raga yang pincang,
Satu-satunya alasan bagi sepasang kaki untuk pulang.
Kini, kau terbujur kaku di bawah langit yang menghitam,
Membuat seluruh kenyataan ini tak lagi berarti untuk dipandang.
Dunia yang membiarkanmu mati adalah dunia yang salah,
Maka biarlah sejarah kukoyak hingga menyerah.
Aku akan membangun surga di atas puing yang bersimbah,
Tempat di mana bayangmu tak akan pernah lagi berdarah.
Dunia sihir ini tidak akan bisa dihancurkan hanya dengan kegelapan yang ada di dalamnya. Sebelum mencapai tahap kedua di mana dunia terbebas dari siklus kebencian, seseorang harus menjadi target bagi dunia.
"Seseorang harus memikul semua rasa sakit dan dendam itu sendirian, dan akulah orangnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilfar Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 - Familiar Sang Raja, Skywhale.
Saat matahari kian meninggi, awan yang menutupi Pulau Emberwind terlihat terbelah dan angin pun berhembus kencang menggoyang pepohonan dan menjatuhkan dedaunan.
Terlihat orang-orang mulai membicarakan sosok yang akan berkunjung ke Pulau Emberwind.
"Sepertinya Yang Mulia Raja datang kesini bersama Dewan Tetua ya?"
"Sepertinya rumor itu benar. Kita harus memastikan keamanan Yang Mulia Raja disini."
Elf yang ada di Pulau Emberwind berbondong-bondong untuk menyambut kedatangan Raja Slyvaris, disana Ashura dan yang lain ikut melihat diantara kerumunan.
"Aura diatas sana terasa besar seperti akan menerkam kita yang berada dibawah..." Yuna menatap tajam ke atas sana, dan mengatakan itu bukan tanpa alasan.
"Seperti yang pernah kita dengar, legenda hewan mitologi yang menjadi familiar Sang Raja Elf adalah Paus Terbang. Aku rasa aura yang kau rasakan karena hewan sihir itu." Serlin berasumsi.
"Familiar Sang Raja Elf, Skywhale..."
Sementara itu Onyx merangkul Ashura dan mengajak Ashura untuk mengamati gadis-gadis Elf yang berada di kerumunan.
"Lihat, Ashura, disana ada anak cantik seusiamu bertelinga panjang, disana juga, disana ada yang seumuran denganku, banyak banget disana juga ada hahaha, ini namanya surga dunia." Onyx terlihat sangat gembira, berbeda dengan mereka yang penasaran dengan sosok Skywhale.
"Onyx, lepaskan tanganmu, kau mengganggu!" Ashura menegur dan langsung menjaga jarak saat Onyx terus mengoceh.
Melihat Onyx yang bersikap memalukan, Yuna menendang kaki pria itu hingga terjatuh dan meringkuk kesakitan ditanah.
"Bisa diam, Onyx! Kau sangat memalukan! Apa kau ingin aku mematahkan kakimu agar kau diam?!" Yuna menatap tegas Onyx dan membuat pria itu langsung diam.
Wajah Onyx memucat pasi, disaat yang sama suara teriakan hewan yang melengking menghempaskan awan yang menutupi Pulau Emberwind.
"Suara ini... Lihat, diatas sana ada Skywhale!"
"Yang Mulia Raja telah datang!"
"Semuanya jaga sikap kalian dan kita sambut kedatangan Yang Mulia Raja di Pulau Emberwind!"
Para Elf yang ada disana bersujud saat sosok hewan sihir mitologi menutupi matahari diatas Pulau Emberwind.
Ashura memperhatikan bagaimana hewan sihir mitologi yang disebut Skywhale berenang bebas di udara. Ashura benar-benar tidak mengerti mengapa ada seekor paus berenang di udara, seolah-olah atmosfer bumi adalah samudra cair yang tak terlihat.
"Jadi itu Skywhale yang melegenda?" Serlin berdecak kagum melihat Skywhale diatas sana, begitu juga dengan Yuna dan Onyx.
Ashura juga dibuat terdiam tanpa mengatakan apapun. Banyak hal yang tidak ia ketahui didunia ini, dan Ashura merasa bersyukur karena telah bertahan hidup hingga saat ini.
Sulit untuk menggambarkan apa yang sedang dirinya lihat, Ashura hanya diam memperhatikan sang raksasa langit itu berenang diatas sana. Tubuhnya yang sepanjang kapal perang dilapisi kulit sewarna samudra malam.
Paus Terbang itu mengarungi awan dan suara lenguhannya menggema di cakrawala, sebuah nyanyian purba yang yang memaksa para penyihir elf untuk bertekuk lutut bersujud mengagumi keindahan Sang Paus Terbang yang dikenal sebagai Skywhale Yang Agung.
Setelah beberapa kali memutari Pulau Emberwind, Paus Terbang itu mengeluarkan kabut yang menyelimuti seluruh pulau.
Semua orang disana merasakan hawa keberadaan Paus Terbang telah menghilang, kemudian kabut yang menutupi pulau juga hilang secara perlahan.
Dari dalam kabut yang menghilang, terlihat seorang elf yang nampak tegas dan berwibawa, dibelakangnya ada 12 orang penyihir yang dikenal sebagai Dewan Tetua.
Semua Elf bersujud saat Sang Raja Slyph yang bernama Eldrin Slyvaris datang bersama Dewan Tetua dan juga kedua anaknya.
Sosok Eldrin Slyvaris terlihat kharismatik dan menyapa penduduk Emberwind yang menyambutnya.
Selepas acara penyambutan itu, Eldrin bersama rombongannya langsung menuju ke tempat peristirahatan, disana Thranduil menyambut kedatangan Eldrin bersama Dewan Tetua.
Eldrin yang melihat sosok Magus Magnus langsung menyapa dan menanyakan kabarnya.
"Senior Magus, lama tidak berjumpa. Terakhir kali kita bertemu saat aku akan menikah dengan mendiang istriku..." Eldrin menjabat tangan Magus, kemudian ia mengenang saat itu.
"Kau terlihat tidak berubah sama sekali, Yang Mulia Eldrin. Sepertinya kau cukup kerepotan mengurus kerajaan setelah kepergian mendiang Ayahmu ya..."
Eldrin dan Magus terlihat berbincang singkat, sebelum akhirnya mereka beristirahat.
Saat malam hari tiba, angin di Pulau Emberwind membawa aroma kedamaian yang berbeda. Thranduil dengan tangan terbuka penuh kehangatan menyambut kedatangan Sang Raja Elf bersama rombongannya.
"Yang Mulia Raja Slyvaris, penguasa abadi dari Kerajaan Sylph, para tetua luhur, dan seluruh orang yang kucintai. Atas nama seluruh rakyat Pulau Emberwind, saya berdiri di sini dengan rasa hormat yang mendalam untuk mengucapkan, Selamat datang di tanah kami."
Thranduil membuka pidatonya dan pertemuan itu pun dimulai. Berbeda dari biasanya, pertemuan yang diadakan malam hari ini terlihat seperti jamuan makan malam.
Namun setelah acara selesai, Eldrin Slyvaris, Dewan Tetua dan Thranduil langsung menuju ruang pertemuan untuk membahas tentang menghentikan kudeta di Kerajaan Slyph.
"Yang Mulia Magus, sebaiknya anda juga ikut bergabung bersama kami. Apa yang akan kami bicarakan juga mengenai Astral yang diincar Seven Deadly Sins dan Zodiak." Salah satu Dewan Tetua menawarkan Magus Magnus untuk ikut dalam pertemuan.
"Senior Magus, apa yang dikatakan Tetua Aleazea itu benar. Sebaiknya Senior Magus bergabung bersama kami, bagaimanapun kebijaksanaan Tetua Magus sangat diperlukan." Eldrin pun memohon dan membuat Magus Magnus ikut dalam pertemuan.
"Aku disini sebagai pengembara dan bukan lagi seorang Raja Sihir Flameheart. Kalian tidak akan mendapatkan kebijaksanaan yang kalian maksud itu," ucap Magus, sambil mengamati tatapan Dewan Tetua selain Aleazea yang terlihat tidak senang akan kehadirannya.
"Jika berkenan saya ingin mengajak Tuan Thorin Earthborn untuk bergabung ke dalam pertemuan ini. Bukankah ada hal penting yang harus kita bahas bersama dirinya?"
Magus Magnus menatap Thranduil dan tak lama Thranduil hendak mengatakan sesuatu, namun Eldrin lebih dahulu mengatakan jika ia dengan terbuka menyambut Pangeran Kerajaan Earthborn bergabung.
"Aku tidak tahu jika Tuan Thorin ada di disini," ucap Eldrin, sebelum mengalihkan pandangannya kearah Thranduil.
"Thranduil, kenapa kau tidak memberitahuku?"
Thranduil segera meminta maaf dan menjelaskan jika Thorin memilih untuk berdiam diri di kediaman yang telah disediakan, karena ada kondisi tertentu yang membuatnya tidak dapat keluar.
Mendengar penjelasan Thranduil tidak membuat Eldrin puas, Eldrin memberi perintah kepada Thranduil untuk mengajak Thorin bergabung karena situasi di Kerajaan Earthborn juga telah sampai ke telinganya.
Tak butuh waktu lama Thranduil membawa Thorin kehadapan Eldrin.
"Baiklah, sebaiknya kita mulai." Melihat kedatangan Thorin, Eldrin pun menyuruh Thranduil untuk membuka pertemuan ini.
"Baiklah, izinkan saya memulai pertemuan ini." Thranduil memberi hormat kepada Eldrin, sebelum akhirnya pertemuan itu dimulai.