Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.
Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Panasnya Pagi dan Api Cinta yang Tak Padam
Sinar matahari pagi hari ini tampak lebih berani dan lebih bersemangat dari biasanya. Cahayanya keemasan, terang, dan sangat hangat, menembus masuk lewat celah-celah tirai sutra yang sengaja dibuka sedikit, menyinari seluruh penjuru kamar tidur luas itu dengan kehangatan yang membangkitkan gairah. Udara di dalam ruangan terasa lembap dan panas, seolah alam pun ikut merasakan gejolak yang ada di dalam dada pemiliknya. Suhu udara yang tinggi membuat kulit terasa lengket dan seksi, setiap sentuhan terasa lebih nyata, lebih mendebarkan, dan lebih membakar.
Davian terbangun lebih awal dari matahari itu sendiri. Sejak subuh tadi, matanya sudah terbuka, namun dia enggan beranjak dari sisi tempat tidur. Dia berbaring miring, menopang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain bergerak lincah namun sangat lembut menjelajahi lekuk tubuh istrinya yang terbaring di sebelahnya.
Panasnya udara pagi ini membuat Grey tidur hanya mengenakan daster tipis berbahan sutra halus berwarna krem yang hampir tembus pandang, bahunya terbuka lebar, dan kain itu hanya menutup sekadarnya saja, membiarkan lekuk tubuhnya yang kini makin berisi dan indah terekspos jelas di mata Davian. Perutnya yang besar dan membuncit karena menampung tiga nyawa itu menjulang indah, menjadi bukti keajaiban yang sedang mereka miliki.
Bagi Davian, perut besar itu bukan hal yang mengurangi keindahan istrinya. Justru sebaliknya, bagi pria itu, Grey kini tampak seribu kali lebih mempesona, lebih menggoda, dan lebih memikat dari sebelumnya. Bentuk tubuhnya yang berubah, kulitnya yang makin halus dan bercahaya, serta aura keibuan yang memancar darinya, semuanya membuat Davian hampir gila menahan rasa ingin memiliki yang selalu membara setiap detik.
Jari-jari tangan Davian yang besar dan kasar namun hangat bergerak perlahan menyapu bahu halus Grey, turun melewati lengkungan lengan, lalu berhenti tepat di atas perut buncit itu. Dia mengusapnya berputar dengan gerakan lembut namun penuh rasa ingin, merasakan kehangatan yang terpancar dari sana.
"Selamat pagi… pemilik hatiku… selamat pagi… malaikat-malaikat kecilku…" bisik Davian serak di udara yang panas itu, suaranya berat dan penuh getaran gairah yang tertahan.
Gerakan tangannya itu membuat Grey perlahan bergerak. Dia menggeliat manja, tubuhnya yang hangat dan lembut itu berputar menghadap ke arah suaminya. Kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, menampakkan manik mata indah yang masih berembun sisa tidur, namun di balik kabur itu, ada kilatan rasa cinta dan rindu yang sama besarnya dengan milik Davian.
"Pagi…" gumam Grey lirih, suaranya terdengar serak dan manja, terdengar sangat seksi di telinga Davian. Dia tersenyum samar, merasakan panasnya sentuhan tangan suaminya yang menjelajah tubuhnya tanpa malu-malu. "Panas sekali pagi ini ya… rasanya lengket dan gerah sekali…"
Davian tersenyum miring, senyum yang menggoda dan penuh arti. Dia mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat wajah istrinya, hidung mereka hampir saling bersentuhan, napas hangat mereka saling bertemu dan bercampur.
"Memang panas, Sayang… tapi bukan cuma karena matahari," bisik Davian, bibirnya bergerak pelan menyapu pinggiran bibir Grey, memberikan sentuhan halus yang membuat wanita itu menggigil hebat. "Panas ini ada di dalam dada Ayahmu… panas ini ada di setiap tetes darahku setiap kali aku melihatmu, setiap kali aku menyentuhmu… Panas ini sudah membakarku semalaman karena tidak bisa dekat denganmu semaksimal keinginanku."
Grey tertawa pelan, tawanya bergetar merasakan napas panas suaminya yang mulai menyisir leher jenjangnya. Dia tahu betul betapa tingginya gairah suaminya belakangan ini. Davian menjadi makin tidak bisa menahan diri, makin posesif, makin ingin memilikinya setiap saat, seolah rasa cintanya berlipat ganda seiring membesarnya kandungan itu.
"Kamu ini… baru bangun saja sudah bicara apa saja," bisik Grey, namun tangannya sendiri justru bergerak naik, melingkar di leher kekar suaminya, menariknya makin dekat.
"Karena apa yang aku katakan adalah kenyataan, Grey…" Davian menjawab sambil mencium sudut bibir istrinya, ciuman yang panjang, dalam, dan penuh rasa lapar. "Lihat dirimu… lihat betapa indahnya dirimu sekarang. Kulitmu lembut seperti sutra, tubuhmu berisi dan begitu menggoda, baumu… baumu begitu manis dan memabukkan. Aku bisa gila karenamu, Sayang. Terutama pagi yang panas begini, di mana setiap sentuhan terasa membakar kulit."
Tangan Davian bergerak makin berani, meluncur turun dari bahu, menyusuri lekuk punggung yang mulus, lalu kembali naik mengelus sisi pinggang dan perut Grey dengan gerakan memutar yang perlahan dan penuh kekaguman. Dia sangat berhati-hati, sangat berwaspada agar tidak menekan sedikit pun bagian perut besar itu, namun di luar batas itu, tangannya menjelajah dengan bebas dan penuh rasa ingin yang meluap-luap.
Udara di ruangan itu terasa makin panas, makin berat, dipenuhi aroma tubuh mereka yang bercampur menjadi satu aroma cinta yang menggoda. Cahaya matahari yang masuk pun seolah menjadi lebih redup, kalah terang oleh kilatan api yang menyala di mata mereka berdua.
Davian mencium bibir istrinya lebih dalam lagi, ciuman yang bukan lagi sekadar sapaan pagi, tapi ciuman penuh nafsu, penuh rasa rindu yang tertahan, penuh rasa syukur memiliki wanita ini seutuhnya. Bibirnya yang hangat dan basah menyedot rasa, bergerak bergantian lembut dan agresif, membuat Grey melengkungkan punggungnya, mendesah pelan tenggelam dalam rasa nikmat yang meluap.
"Ah… Davian…" desah Grey lirih di sela-sela ciuman mereka, matanya terpejam rapat, tangannya mencengkeram bahu suaminya yang keras dan kekar. "Davian… hati-hati… anak-anak…"
Davian melepaskan ciuman itu sebentar saja, wajahnya masih sangat dekat, napasnya memburu dan panas menyentuh wajah istrinya. Matanya menatap tajam namun penuh kelembutan dan kekaguman yang tak terhingga. Dia mengusap pipi Grey dengan ibu jarinya yang kasar namun hangat.
"Aku tahu, Sayang… aku tahu. Aku akan selalu hati-hati. Aku akan selalu menjaga harta paling berharga kita ini," ucap Davian dengan suara parau, tangannya berpindah menekap lembut perut besar itu, merasakan bentuknya, merasakan kehidupan di dalam sana. "Tapi itu tidak berarti aku tidak boleh mencintaimu, bukan? Itu tidak berarti aku harus menahan diri untuk tidak membuatmu merasa betapa besarnya rasa cintaku padamu, betapa gilanya aku padamu."
Dia kembali mendekatkan bibirnya, kali ini menelusuri setiap inci wajah istrinya: kening, mata, pipi, telinga, lalu turun lagi ke leher yang terasa begitu halus dan panas. Di sana, Davian menanamkan ciuman-ciuman basah dan lama, menyisakan jejak-jejak merah samar yang akan tetap ada seharian, tanda bahwa wanita ini miliknya, miliknya seutuhnya.
"Kamu tahu tidak, Grey…" bisik Davian di sela-sela ciumannya di leher dan dada istrinya, suaranya berat dan bergema dalam dada wanita itu. "Setiap kali aku melihatmu berjalan dengan perut besar ini, setiap kali aku melihatmu tersenyum, setiap kali aku merasakan gerakan mereka… aku merasa ingin membawamu ke dalam pelukanku selamanya. Aku ingin menelanmu utuh agar kamu hanya ada bersamaku, agar tidak ada mata lain yang boleh melihat keindahanmu ini selain aku saja."
Grey terhuyung dalam kenikmatan yang menyengat itu. Panasnya udara pagi, panasnya kulit mereka yang saling bersentuhan, panasnya napas dan ciuman Davian, semuanya menyatu menjadi satu rasa bahaya dan kenikmatan yang memabukkan. Tubuhnya terasa lemas namun terbakar, setiap sentuhan tangan suaminya yang menjelajah, meremas, dan mengusap dengan keahlian yang dia miliki itu membuat akal sehatnya perlahan luntur.
"Kamu… kamu memang gila, Davian…" bisik Grey dengan napas memburu, dadanya naik turun cepat. "Gila… karena kamu membuatku merasa begitu… begitu diinginkan… begitu cantik… begitu dicintai…"
"Memang gila… gila karenamu," jawab Davian cepat, bibirnya kembali menyambar bibir istrinya dengan lebih ganas namun tetap terkendali, penuh kelembutan yang mendalam. "Dan pagi yang panas ini… aku ingin membuktikan padamu, Sayang… aku ingin membuktikan bahwa meski kamu sedang mengandung tiga anakku, meski tubuhmu berubah… bagiku kamu tetaplah wanita paling seksi, paling indah, dan paling menggoda yang pernah ada di dunia ini. Cintaku padamu bukan hanya di hati, Grey… tapi juga di setiap sentuhan, di setiap desahan, di setiap rasa panas yang aku rasakan saat bersamamu."
Davian bergerak dengan kehati-hatian luar biasa, memposisikan tubuhnya di samping tubuh istrinya, menopang berat badannya dengan sempurna agar tidak sedikit pun menimpa atau menekan perut besar itu. Dia mendekap tubuh Grey makin erat, menyatukan setiap lekuk tubuh mereka, merasakan kulit mereka yang sama-sama panas dan berkeringat tipis. Kain-kain tipis yang menghalangi itu perlahan hilang, tergeser ke samping, membiarkan kulit mereka bersentuhan langsung, menyatu dalam kehangatan yang membara.
Di bawah sinar matahari pagi yang makin terik itu, di udara yang makin panas dan penuh aroma gairah, hanya ada mereka berdua. Hanya ada gerakan yang lambat, dalam, dan penuh rasa cinta yang mendalam. Setiap sentuhan adalah janji, setiap ciuman adalah pengakuan, setiap desahan adalah bukti betapa sempurnanya penyatuan dua jiwa yang sudah melewati pahit getir hidup bersama.
Davian bergerak dengan ritme yang mendebarkan, mengantar Grey menuju puncak kenikmatan dengan keahlian dan perhatian penuh, memastikan bahwa istrinya selalu merasa nyaman, dihargai, dan dicintai sepenuhnya. Di setiap jeda, dia berbisik kata-kata manis, kata-kata cinta, kata-kata yang meyakinkan Grey bahwa dia adalah segalanya, bahwa masa lalu yang kelam sudah selesai, dan bahwa masa depan mereka akan selalu indah dan penuh cinta seperti ini.
"Kamu milikku… selamanya milikku…" bisik Davian berulang kali di telinga istrinya, suaranya parau dan penuh kepemilikan. "Aku mencintaimu, Grey… lebih dari nyawaku… lebih dari apa pun…"
Pagi yang panas itu menjadi saksi betapa besarnya cinta yang mereka miliki. Di antara desahan halus, ciuman yang tak terhitung jumlahnya, dan keringat yang menetes karena panasnya udara maupun panasnya gairah, mereka bersatu kembali, mempererat ikatan yang sudah tak tergoyahkan lagi.
Dan di dalam sana, di dalam rahim Grey, ketiga malaikat kecil itu seolah ikut merasakan gelombang cinta yang luar biasa itu. Gerakan mereka terasa halus dan riang, seolah ikut bersukacita melihat betapa hebatnya rasa cinta yang dimiliki kedua orang tua mereka satu sama lain.
Saat semuanya usai, saat napas mereka perlahan kembali teratur namun masih berat karena sisa rasa bahagia yang meluap, Davian tetap tidak melepaskan pelukannya. Dia berbaring di samping Grey, masih memeluk tubuh istrinya yang masih terasa panas dan lemas, tangannya kembali beralih mengusap lembut perut besar itu dengan penuh kekaguman dan rasa syukur.
Dia mencium kening istrinya yang basah oleh keringat, menatap wajah cantik yang terlihat puas dan bahagia itu dengan senyum bangga dan penuh cinta.
"Pagi yang indah sekali, bukan?" bisik Davian lembut, matanya berbinar bahagia. "Panasnya matahari kalah jauh sama panasnya cintaku padamu, Sayang."
Grey tersenyum malu namun bahagia, menyandarkan kepalanya lebih nyaman di dada bidang suaminya, mendengarkan detak jantung yang berirama sama dengan jantungnya sendiri.
"Indah sekali…" jawab Grey pelan. "Terima kasih… Davian. Terima kasih sudah mencintaiku sepenuh hati… terima kasih sudah membuatku merasa begitu berharga…"
Davian menggeleng pelan, mengecup puncak kepala istrinya. "Justru aku yang harus berterima kasih padamu, Grey. Kamu yang mengubah hidupku yang gelap menjadi cerah begini. Kamu yang memberiku kebahagiaan yang tak ternilai ini. Panas, indah, manis… semuanya karena kamu."
Di pagi yang terik itu, di kamar yang masih terasa hangat dan penuh aroma cinta itu, Davian dan Grey menikmati kedamaian yang sempurna. Api cinta mereka tidak pernah padam, malah makin menyala besar, makin panas, dan makin indah seiring berjalannya waktu, membakar segala sisa-sisa kepahitan masa lalu hingga menjadi abu, dan menyisakan hanya keindahan yang abadi.
(Lanjut ke Bab 22)