Di tengah guyuran hujan Kota Senja, Arya menemukan lebih dari sekadar buku sejarah di perpustakaan tua—ia bertemu dengan Naya, seorang gadis misterius yang secara tak terduga membuat hatinya berdebar. Pertemuan yang terasa seperti kebetulan itu berubah menjadi awal dari sebuah misteri besar, ketika Arya menemukan foto tua tersembunyi yang mengungkapkan hubungan tak terduga: wajah Naya sangat mirip dengan wanita yang terlihat bersama ibunya, yang menghilang secara misterius setahun lalu tanpa meninggalkan jejak.
Dibakar oleh rasa penasaran dan keinginan untuk menemukan kebenaran di balik hilangnya ibunya, Arya mulai menyelidiki masa lalu keluarga-keluarga besar di kota itu. Semakin ia menggali, semakin ia menyadari bahwa pertemuan dengan Naya bukanlah kebetulan belaka. Di balik ketenangan Kota Senja, tersimpan rahasia kelam, persekutuan tersembunyi, dan kekuatan yang selama ini berusaha ditutup-tutupi. Arya harus berhati-hati, karena setiap langkahnya menuntunnya lebih dekat pada bahaya—dan pada kenyataan yang bisa mengubah seluruh hidupnya selamanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Suasana tenang di Menara Wijaya tiba-tiba pecah di tengah hari yang cerah. Bunyi telepon darurat berdering keras, diikuti langkah tergesa-gesa Riko Surya yang masuk ke ruang kerja dengan wajah pucat dan tegang.
"Nona! Ada masalah besar," serunya tanpa basa-basi. "Pos pengawasan di gerbang utama lembah terlarang diserang. Tiga orang pengawal tewas, dua lainnya luka parah. Gudang penyimpanan barang dan dokumen penting dibakar. Dan... ada laporan bahwa sekelompok orang bersenjata bergerak menuju kota, menuju ke sini."
Sari langsung berdiri dari kursinya, ekspresinya berubah dari tenang menjadi tajam dan waspada dalam sekejap. Tidak ada rasa takut yang terlihat—hanya perhitungan cepat dan kewaspadaan.
"Siapa yang berani melakukan ini?" tanyanya dingin. "Apakah ada tanda-tanda? Apakah mereka milik keluarga saingan?"
"Bukan," jawab Riko sambil menyerahkan foto yang baru saja dikirim. "Mereka memakai seragam yang tidak dikenal. Dan ada laporan dari saksi... mereka menyebut nama Kelompok Bayangan Hitam."
Mendengar nama itu, tangan Sari mengepal erat. Wajahnya memucat sedikit, sesuatu yang jarang terlihat.
"Jadi mereka akhirnya berani keluar dari persembunyian," gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Kirana yang mendengarkan dari samping tidak bisa menahan rasa penasaran dan waspada. "Kelompok Bayangan Hitam? Siapa mereka? Saya belum pernah mendengar nama itu."
Sari menoleh ke arahnya, matanya menyiratkan ketegangan yang dalam. "Mereka bukan sekadar geng biasa. Mereka ada sebelum kakekku membangun kekuasaan di sini. Mereka beroperasi secara rahasia, mengendalikan jalur perdagangan gelap, dan tidak segan membunuh siapa saja yang menghalangi jalan mereka. Selama ini mereka bersembunyi, membiarkan kami berkuasa—tapi hanya selama kami membayar upeti dan tidak mencampuri urusan mereka."
Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih berat:
"Tapi beberapa bulan terakhir, mereka menuntut bagian yang lebih besar. Mereka ingin menguasai seluruh wilayah pelabuhan dan tambang. Kakekku menolak. Dan sekarang... mereka membalas."
Belum sempat dia melanjutkan, telepon berdering lagi. Riko mengangkatnya, dan wajahnya semakin suram saat mendengar laporan dari ujung sana.
"Nona... ada kabar lain. Mereka juga menyerang rumah sakit yang kita bangun, dan rumah-rumah tempat tinggal orang-orang yang setia pada kita. Mereka tidak hanya ingin menghancurkan bisnis—mereka ingin menakut-nakuti semua orang agar tidak berani mendukung kita lagi."
Sari berjalan mendekati jendela, menatap ke arah jalan raya yang mulai terlihat ramai dan gelisah. Dia tahu ini bukan serangan biasa. Ini adalah perang total. Dan yang paling mengkhawatirkan: dia curiga ada orang di dalam lingkaran terdekat yang membantu mereka.
Beberapa jam kemudian.
Suasana di seluruh gedung berubah total. Pengawal-pengawal bersiaga di setiap lantai, pintu-pintu dikunci dan dijaga ketat, dan komunikasi dengan luar dibatasi. Sari, Riko, dan beberapa orang kepercayaan lainnya berkumpul di ruang pusat pengawasan, memantau situasi dari layar-layar besar.
Kirana tetap berada di sana—tidak diusir, tapi juga tidak diberi peran aktif. Dia tahu dia bisa saja pergi saat ini, memanfaatkan kekacauan untuk melapor ke atasannya. Tapi anehnya, kakinya terasa berat. Dia melihat ketegangan di wajah Sari, dan untuk pertama kalinya, dia melihat sisi yang berbeda: bukan penguasa yang kejam dan penuh perhitungan, tapi seorang gadis muda yang harus memikul beban yang terlalu berat, menghadapi musuh yang berbahaya, dan berusaha melindungi orang-orang yang bergantung padanya.
Tiba-tiba, salah satu pengawal masuk dengan tergesa-gesa.
"Nona! Ada pesan dari pemimpin mereka. Mereka mengirim utusan."
"Biarkan dia masuk," perintah Sari tegas.
Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya dengan pakaian sederhana namun tatapan tajam dibawa masuk. Dia tidak terlihat takut, seolah dia tahu dia aman di sana.
"Mereka mengirimku untuk menyampaikan pesan," katanya langsung. "Pemimpin kami memberi pilihan: serahkan seluruh kendali atas pelabuhan dan tambang, bayar ganti rugi dua kali lipat dari yang diminta sebelumnya, dan menyerahkan kendali atas semua jalur perdagangan. Atau... mereka akan menghancurkan semuanya. Tidak ada yang akan tersisa. Termasuk kamu dan seluruh keluargamu."
Sari menatapnya dengan dingin. "Dan apa jaminan kami kalau kami menuruti permintaanmu? Mereka tidak akan berhenti sampai mereka mengambil semuanya."
Pria itu tersenyum tipis. "Pemimpin kami menjanjikan keamanan. Dan ada satu hal lagi yang dia katakan: dia sudah menunggu lama untuk bertemu denganmu secara langsung. Dia mengatakan kamu berhak mengetahui kebenaran tentang masa lalu keluarga ini."
Kata-kata terakhir itu membuat Sari terdiam sejenak. Ada sesuatu dalam nada bicara pria itu yang membuatnya merasakan ada hal yang lebih besar di balik serangan ini.
"Kebenaran apa?" tanyanya pelan.
"Kalau kamu ingin tahu," jawab pria itu, "datanglah sendiri ke tempat pertemuan besok malam. Sendirian. Tanpa pengawal. Kalau kamu berani, kamu akan tahu siapa ayahmu yang sebenarnya, dan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas semua penderitaan yang menimpamu dan keluargamu."
Sebelum ada yang bisa bereaksi, pria itu berbalik dan berjalan keluar, diantar oleh pengawal.
Malam itu, di ruang kerja Sari.
Sari duduk sendirian, menatap foto-foto lama yang tersebar di meja. Kirana masuk perlahan, tanpa mengetuk, dan duduk di seberangnya.
"Kamu tidak akan pergi sendirian, kan?" tanya Kirana pelan. "Ini pasti jebakan."
Sari mengangkat kepalanya, matanya terlihat lelah namun tegas. "Ini bisa jadi jebakan. Tapi ada sesuatu yang dia katakan... tentang ayahku. Selama ini aku selalu berpikir kakekku yang membuatnya menjadi seperti itu. Tapi ada hal-hal yang tidak masuk akal. Dokumen yang hilang, peristiwa yang tidak jelas, dan orang-orang yang takut bicara tentang masa lalu."
Dia mengambil sebuah surat tua yang terlipat rapi.
"Aku pernah menemukan ini beberapa tahun yang lalu. Surat yang ditulis ayahku sebelum dia dipenjarakan di sini. Dia menulis: Ada kekuatan yang lebih besar dari Kakek. Mereka yang menarik tali di balik layar. Mereka yang membuat kita semua menjadi boneka. Aku tidak mengerti maksudnya saat itu. Tapi sekarang... sepertinya semuanya mulai terhubung."
Sari menatap Kirana dengan tatapan yang penuh ketegangan dan keraguan.
"Kirana, aku tahu kamu masih menyembunyikan banyak hal. Aku tahu kamu dikirim untuk menjatuhkanku. Tapi sekarang, ada musuh yang jauh lebih berbahaya yang mengancam kita berdua—bahkan mungkin lebih berbahaya daripada yang kamu bayangkan. Kalau mereka berhasil mengambil alih kekuasaan ini, mereka tidak akan berhenti. Mereka akan membunuh semua orang yang tahu terlalu banyak, termasuk kamu dan orang-orang yang kamu sayangi."
Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih rendah:
"Aku tidak memintamu untuk percaya padaku sepenuhnya. Tapi aku memintamu untuk tidak memihak mereka. Besok malam, aku akan pergi ke tempat pertemuan. Aku tahu itu berbahaya. Tapi aku harus tahu kebenarannya. Apakah kamu akan membantuku? Atau apakah kamu akan membiarkanku pergi sendirian?"
Kirana terdiam. Di dalam hatinya, pertentangan batinnya kembali muncul. Dia bisa saja memberi tahu David Kusuma tentang rencana ini, membiarkan mereka bertindak dan mungkin menangkap semua orang sekaligus. Tapi di sisi lain, dia juga merasa ada rahasia besar yang tersembunyi—rahasia yang bisa mengubah segalanya, bahkan mengubah pandangannya tentang apa yang benar dan salah.
Dia menatap mata Sari yang menatapnya dengan tulus, tanpa topeng yang biasanya dia pakai. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak melihat penguasa yang kejam atau gadis yang terdistorsi. Dia hanya melihat seseorang yang mencari kebenaran, yang berusaha melindungi orang-orang yang dia sayangi, dan yang menghadapi bahaya yang tidak terbayangkan.
"Aku akan pergi bersamamu," jawab Kirana akhirnya. "Tapi kita akan membuat rencana yang aman. Kita tidak akan berjalan begitu saja ke dalam jebakan tanpa persiapan."
Senyum tipis terbit di bibir Sari—senyum yang tulus, bukan senyum yang penuh perhitungan seperti biasanya.
"Terima kasih," katanya pelan. "Besok malam, kita akan tahu semuanya. Dan semoga saja... kita masih bisa memilih jalan yang kita inginkan setelah itu."
Di tempat tersembunyi di pinggiran kota.
Seorang pria tua duduk di kursi besar, menatap peta wilayah yang terbentang di depannya. Wajahnya penuh kerutan, matanya tajam dan dingin. Di sebelahnya berdiri Andri Andalan, yang terlihat lebih tua dan lemah dari biasanya, wajahnya dipenuhi rasa takut dan kepasrahan.
"Kamu lihat, Andri?" kata pria tua itu dengan suara berat. "Cucu perempuanmu itu cerdas. Tapi dia terlalu banyak bertanya. Dia terlalu ingin tahu hal-hal yang seharusnya tidak dia ketahui. Dan sekarang, dia harus belajar pelajaran yang keras."
Andri menunduk. "Tolong... jangan sakiti dia. Dia tidak tahu apa-apa."
Pria tua itu tertawa rendah, suara yang membuat bulu kuduk merinding.
"Dia akan tahu semuanya besok malam. Dan setelah itu... dia harus memilih. Apakah dia akan menjadi boneka yang patuh seperti kamu, atau dia akan menjadi musuh yang harus dihilangkan selamanya."
Dia menunjuk ke arah peta.
"Siapkan semuanya. Pastikan tidak ada yang bisa mengganggu. Besok malam, permainan ini akan berakhir."