"Aku Bahagia." Kata-kata itu selalu diucapkan Evelyne Rochie seperti sebuah mantra untuk menenangkan hatinya yang rapuh. Di dunia nyata, hidup Evelyne terasa datar dan sepi. Setiap kali berkumpul dengan lingkaran pertemanannya, ia justru merasa semakin terasing. Ia melihat Alice Sonya yang hidup bahagia dan penuh tawa bersama Matthias. Ia melihat Azyla Amira yang selalu populer, dicintai banyak orang, dan bersinar di mana pun berada. Ia juga menyaksikan betapa manisnya hubungan Annie dan Samuel yang saling mencintai tanpa cela. Di tengah gelak tawa mereka, Evelyne selalu bertanya-tanya dalam hati: Kapan giliran jiwaku yang mencicipi kebahagiaan? Mengapa bagi orang lain bahagia itu begitu mudah, sementara bagiku, mendapatkan satu kepingan kebahagiaan saja rasanya teramat sulit? Hingga suatu malam, di titik nadir keputusasaannya, sebuah celah dimensi terbuka dan membawanya masuk ke sebuah dunia fantasi yang asing, megah, sekaligus berbahaya. Di dunia baru ini, takdir mempertemukannya dengan Sylus Qinche, seorang pria yang memiliki sejuta misteri namun mampu memberikan kehangatan yang selama ini dicari Evelyne. Untuk pertama kalinya, Evelyne merasa "Aku Bahagia" bukan lagi sebuah kebohongan. Namun, kebahagiaan itu tidak gratis. Ketika takdir berniat memisahkan mereka dan merenggut Sylus kembali ke kedalaman dunia lain yang lebih gelap, Evelyne menolak untuk menyerah lagi pada nasib. Dengan dibantu oleh Kieran dan Luke—dua sosok tangguh di dunia tersebut—Evelyne membuang seluruh ketakutannya. Jika di dunia nyata ia adalah perempuan lemah yang hanya bisa memandang kebahagiaan orang lain, maka di dunia ini, ia siap menerjang badai sihir dan melintasi batas dimensi demi meraih kembali tangan Sylus Qinche. Kali ini, ia yang akan menjemput kebahagiaannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lorong batas dan mahkota perak
Matahari di Aetheria tidak terbit dengan cara yang biasa dikenal Evelyne. Tidak ada semburat jingga hangat yang perlahan mengusir kegelapan. Di dunia ini, fajar ditandai dengan perubahan warna kabut dari abu-abu pekat menjadi rona lavender yang berpendar redup, disusul dengan ditariknya tirai malam oleh cahaya keperakan yang turun dari tiga buah bulan yang meredup serentak.
Evelyne terbangun sebelum Kieran mengetuk pintu gudang penyimpanannya. Ia tidak benar-benar tidur. Sepanjang sisa malam, ia hanya memandangi telapak tangannya yang lecet, memikirkan bagaimana Alice, Azyla, dan Annie mungkin sedang memulai hari mereka di dunia sana. Apakah mereka menyadari dia hilang? Ataukah absennya seorang Evelyne Rochie dari grup obrolan dan lingkaran pertemanan terlalu tidak penting untuk disadari? Pikiran itu membawa rasa sakit yang familier, namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda yang mengganjal di dadanya—sebuah tekad kecil yang rapuh, yang dipicu oleh nama Sylus Qinche.
"Gadis Dimensi, keluar. Kita berangkat sekarang," suara ketukan keras Luke di pintu kayu mengejutkannya.
Evelyne segera bangkit, merapikan kaos dan celana raminya yang kini sudah diberi sepasang sepatu bot kulit tua milik prajurit muda oleh Kieran. Sepatu itu terlalu besar, membuat kakinya tergelincir di dalam, tetapi itu jauh lebih baik daripada harus berjalan telanjang kaki di atas duri-duri hutan.
Di luar menara, dua ekor makhluk serupa kuda namun berkulit sisik halus dengan ekor menyerupai bulu merak telah disiapkan. Kieran berada di atas salah satunya, sementara Luke sudah menunggangi yang lain dengan postur tubuh sekeras karang.
"Kau naik bersamaku," kata Kieran, mengulurkan tangannya yang kokoh ke arah Evelyne.
Evelyne menyambut tangan itu dengan ragu, tubuhnya yang ringan ditarik dengan mudah hingga ia duduk di belakang pelana Kieran. Dari atas kudanya, Luke menatap Evelyne dengan pandangan yang masih dipenuhi kepicikan.
"Pastikan kau pegangan dengan kuat, Nona. Jalur menuju Oakhaven—Ibu Kota Aetheria—bukan jalan santai untuk orang manja. Jika kau jatuh, aku tidak akan memutar balik untuk menjemputmu," ancam Luke, seraya menghentakkan tali kekang makhluk tunggangannya hingga melesat maju menembus sisa-kabut lavender.
Kieran melempar senyum tipis yang menenangkan lewat bahunya. "Jangan dengarkan dia. Pegang saja sabuk jubahku."
Evelyne mencengkeram kulit jubah Kieran dengan jari-jari yang memutih. Saat perjalanan dimulai, ketegangan psikologis segera menyelimutinya. Setiap kali makhluk yang mereka tunggangi melompati parit atau menanjak perbukitan berbatu, Luke selalu menoleh ke belakang, memastikan Evelyne tidak merepotkan mereka.
Tatapan menghakimi dari Luke bertindak seperti cermin yang memantulkan kembali seluruh rasa tidak amannya. Evelyne terus merutuki dirinya dalam hati: Jangan menangis. Jangan terlihat lemah. Di dunia nyata kau sudah gagal, setidaknya di sini jangan biarkan orang ini melihatmu hancur. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat, mencoba menahan getaran di tubuhnya, menantang angin dingin yang menusuk kulit kaos tipisnya.
Perjalanan telah berlangsung selama beberapa jam ketika mereka memasuki sebuah celah sempit di antara dua tebing batu hitam yang dikenal sebagai Gorge of Whispers. Tempat ini terasa begitu menekan; dinding batu di kiri dan kanan menjulang begitu tinggi hingga hanya menyisakan segaris kecil langit keperakan di atas kepala.
Tiba-tiba, makhluk tunggangan Luke mendengus keras, melangkah mundur dengan gelisah. Bulu-bulu di ekornya berdiri tegak.
"Kieran, bersiap. Sesuatu mendekat dari vegetasi atas," perintah Luke dengan suara rendah yang penuh otoritas. Ia mencabut pedang panjangnya dari sarung di pinggang, membiarkan bilah logamnya berpendar dengan sihir Aether keemasan.
Dari balik celah batu yang gelap, merayap turun beberapa makhluk berwujud serigala, namun tubuh mereka terbuat dari jalinan bayangan hitam yang bergerak-gerak seperti asap, dengan mata kuning menyala yang lapar. Gloomstalkers—makhluk tingkat rendah yang kerap memangsa pengembara yang tersesat.
"Tetap di belakangku, Evelyne!" seru Kieran seraya menarik busur panjangnya. Tiga anak panah melesat serentak, meledakkan dua serigala bayangan menjadi asap hitam yang lenyap di udara.
Namun, jumlah makhluk itu terlalu banyak. Luke merangsek maju, menebas dengan presisi tinggi. Setiap gerakan Luke dipenuhi dengan disiplin militer yang mutlak; dia adalah ksatria yang efisien. Namun, satu dari serigala bayangan berhasil mengelabui pandangan mereka, merayap melalui dinding tebing dan melompat tepat ke arah Kieran dan Evelyne dari sisi buta.
Kieran sedang menahan tiga makhluk di depannya dan tidak bisa berbalik tepat waktu.
Evelyne melihat makhluk itu melayang di udara, rahang bayangannya terbuka lebar siap mengoyak dadanya. Ketakutan yang luar biasa melumpuhkan akalnya, namun di dalam dada Evelyne, trauma mendalam tentang kepunahan diri—tentang mati sebagai sosok yang tidak berguna—memicu sesuatu yang berbeda. Ia tidak ingin mati di sini. Ia menolak mati tanpa pernah tahu rasanya bahagia.
Tanpa sadar, Evelyne mengangkat kedua tangannya ke depan wajah, menutup mata, dan berteriak sekuat tenaga. "Pergi!"
Pada detik itu, atmosfer di sekitar Evelyne bergetar hebat. Ruang di depan telapak tangannya seolah terpelintir, meliuk seperti air yang diaduk dalam cangkir. Sebuah riak transparan, mirip gelombang distorsi udara, meledak keluar dari tubuhnya. Riak itu menghantam serigala bayangan di udara, namun alih-alih melukiskan luka fisik, ruang di sekitar makhluk itu melipat dengan sendirinya, menciptakan celah dimensi mikro sekilas yang langsung menelan serigala bayangan tersebut hingga lenyap tanpa sisa, sebelum celah itu menutup kembali dengan suara petikan yang nyaring.
Udara kembali tenang. Evelyne jatuh terduduk di pelana, napasnya tersengal-sengal, sementara tangannya gemetar hebat dengan rasa hangat yang asing menjalar di pergelangan tangannya.
Kieran menoleh dengan mata membelalak. Sementara Luke, yang baru saja menyelesaikan serigala terakhir di depannya, menurunkan pedangnya dengan lambat. Ia menatap tempat di mana serigala itu lenyap, lalu beralih menatap Evelyne dengan pandangan yang sama sekali baru. Keheningan mencekam menyelimuti celah tebing itu.
"Itu..." Luke melangkah mendekati kuda Kieran, matanya menyipit tajam pada pergelangan tangan Evelyne yang masih memancarkan pendar ungu samar yang memudar. "Itu bukan sihir Aether. Itu adalah manipulasi spasial murni. Resonansi dimensi."
Skeptisisme di mata Luke tidak sepenuhnya hilang, namun kini bercampur dengan rasa sangsi yang mendalam terhadap penilaian awalnya. Gadis yang ia sebut beban ini baru saja melenyapkan ancaman dengan insting dimensional yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh penyihir tingkat menengah di ibu kota. Luke mengatupkan rahangnya, menyarungkan pedangnya dengan satu sentakan keras.
"Tampaknya penilaianku tentangmu harus ditangguhkan, Gadis Dimensi," ujar Luke kaku, suaranya tidak lagi sekejam sebelumnya, meski tetap tegas. "Ayo jalan. Kita tidak boleh membuat Orde Bayangan menunggu lebih lama lagi."
Dua jam kemudian, mereka akhirnya keluar dari celah tebing, dan pemandangan di hadapan Evelyne seketika merenggut seluruh sisa napasnya.
Jika hutan dan tebing sebelumnya mewakili sisi purba Aetheria, maka Ibu Kota Oakhaven adalah perwujudan dari kemegahan yang tak masuk akal. Di atas dataran tinggi yang luas, menjulang sebuah kota metropolitan yang dibangun dari batu putih seputih salju dan kristal-kristal raksasa yang memantulkan cahaya keperakan langit. Menara-menara tinggi berbentuk spiral menembus awan, dihubungkan oleh jembatan-jembatan gantung transparan yang dilewati oleh kereta-kereta tanpa kuda.
Di pusat kota, sebuah istana terapung berdiri dengan anggun, ditopang oleh air terjun raksasa yang mengalir deras ke bawah, namun anehnya, air tersebut tidak pernah habis dan justru mengalir kembali ke atas dalam siklus magis yang menentang gravitasi. Ribuan orang berlalu-lalang di gerbang utama kota, mengenakan jubah-jubah indah dengan sulaman perak, sementara hewan-hewan mistis terbang rendah di antara sela-sela bangunan.
Melihat semua kemegahan itu, Evelyne justru merasakan gelombang kecemilan emosional yang luar biasa hebat. Kota ini terlalu besar, terlalu berkilau, dan terlalu sempurna. Rasa "kekecilan" yang biasa ia rasakan saat melihat kehidupan Azyla Amira yang populer kini berlipat ganda seribu kali. Di duniaku sendiri, aku tersisih di sudut kamar yang sempit, batinnya perih. Di kota semegah ini, di mana keajaiban dipamerkan di setiap sudut jalan, di mana tempat untuk seseorang yang penuh dengan luka dan kegagalan sepertiku? Ia merasa seperti noda hitam di atas gaun sutra putih yang bersih.
"Selamat datang di Oakhaven," kata Kieran, menyadari keterpukauan yang menyakitkan di wajah Evelyne. "Pusat dari segala hal di dunia ini."
Mereka tidak berbelok menuju pasar atau istana utama, melainkan mengambil jalur menurun menuju sebuah distrik yang terisolasi di sisi barat kota. Distrik ini dibangun dari batu obsidian hitam yang kontras dengan sisa kota lainnya. Suasana di sini mendadak berubah menjadi sunyi, dingin, dan dipenuhi oleh para prajurit berpakaian zirah gelap yang bergerak tanpa suara.
"Kita memasuki wilayah Orde Bayangan," bisik Luke, postur tubuhnya mendadak menjadi sangat formal dan kaku.
Evelyne mencengkeram jubah Kieran lebih erat. Rasa tegar yang coba ia bangun sejak insiden di celah tebing tadi mulai retak, terkikis oleh aura intimidasi yang pekat dari tempat ini. Di depan mereka, berdiri sebuah kastil megah berarsitektur gotik dengan lambang sepasang sayap hitam yang mengitari sebutir permata merah di gerbang utamanya.
Mereka turun dari tunggangan. Luke memimpin jalan memasuki aula utama kastil yang temaram. Hanya ada obor-obor dengan api berwarna biru gelap yang menerangi koridor panjang bertembok batu hitam tersebut. Langkah kaki mereka bergaung, menciptakan ritme yang memacu detak jantung Evelyne hingga ke batas maksimal.
Luke berhenti di depan sepasang pintu ganda raksasa yang diukir dengan relief pertempuran kuno. Dua pengawal berzirah penuh tanpa ragu membuka pintu itu perlahan, membiarkan udara dingin yang luar biasa berembus keluar dari dalam ruangan.
"Panglima," Luke berlutut dengan satu kaki tepat di ambang pintu, diikuti oleh Kieran.
Evelyne, yang tidak tahu harus berbuat apa, tetap berdiri di belakang mereka, tubuhnya gemetar hebat saat matanya memandang ke dalam ruangan yang luas dan sunyi itu.
Di ujung ruangan, di atas sebuah singgasana yang dipahat dari kristal hitam, duduk seorang pria.
Pria itu mengenakan jubah beludru hitam panjang dengan pelindung bahu perak yang diukir rumit. Rambutnya berwarna silver ash—perak keabu-abuan—yang jatuh dengan liar namun anggun membingkai wajahnya yang memiliki simetri sempurna, terlalu tampan untuk ukuran manusia namun sekaligus terlalu dingin, seolah dipahat dari es abadi.
Mendengar kedatangan mereka, pria itu perlahan mengangkat wajahnya. Ketika sepasang matanya menatap lurus ke arah pintu, Evelyne merasa seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika. Sepasang mata itu berwarna merah pekat, semerah darah yang segar, bersinar dengan intensitas yang begitu kuat hingga seolah mampu menembus dan menelanjangi seluruh rahasia, dosa, dan ketakutan yang tersimpan di lubuk jiwa Evelyne.
Aura kekuasaan, kegelapan, dan intimidasi yang memancar dari tubuh pria itu begitu pekat, menekan ruangan hingga terasa menyesakkan. Ini adalah Sylus Qinche. Sosok yang namanya diukir di monumen batu, sang ksatria yang tidak bisa mati.
Sylus tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menopang dagunya dengan satu tangan, sementara sepasang mata merah darahnya mengunci pandangan pada Evelyne, mengamati kaos tipisnya yang kotor dan getaran ketakutan di tubuh gadis itu. Tatapan itu begitu dingin, begitu menuntut, hingga membuat seluruh keberanian kecil yang dikumpulkan Evelyne sepanjang hari runtuh berkeping-keping dalam sekejap. Ia ingin lari, ingin bersembunyi kembali ke dunianya yang malang, namun sepasang mata merah itu seolah mengikat kakinya di atas lantai batu hitam, mengunci takdirnya di tempat itu selamanya.
Bersambung