Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Sentuh Suamiku
Citra tahu betul Puann ada di sana. Wanita itu melirik sekilas ke arah persembunyian Puann dengan senyum mengejek, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Bahlil.
"Mas, kamu tahu kan? Kalau dibandingin sama orang lain, cuma kamu lho laki-laki yang paling bikin aku nyaman. Sayang banget ya, kamu sudah milik orang lain. Tapi nggak apa-apa, kan belum ada yang ngelarang aku buat kagum dan dekat sama kamu terus," bisik Citra, tapi suaranya cukup terdengar sampai ke telinga Puann.
Bahlil mundur selangkah, menjaga jarak sopan. Namun bagi Puann, jarak itu masih terasa terlalu dekat. Ia ingin maju dan menarik tangan suaminya pergi, namun rasa gengsi dan sakit hati masa lalu masih menahannya.
"Kamu itu istri Mas Bahlil kan? Kenapa cuma diam di sana? Sini dong masuk, ikut senang senang sama kita," seru Citra tiba-tiba, menoleh lurus ke arah Puann sambil tersenyum manis tapi menyakitkan.
Semua mata di ruangan itu langsung tertuju ke Puann yang terpaku. Puann terpaksa melangkah maju, wajahnya memerah menahan malu dan marah. Ia sadar Citra sengaja mengerjai dan menantangnya di depan umum.
"Kamu ada urusan apa ke sini, Puann? Ada yang mau kamu cari?" tanya Bahlil, terlihat sedikit terkejut sekaligus lega melihat istrinya ada di sana.
"Nggak ada apa-apa. Aku cuma lewat aja, kebetulan lihat kamu di sini. Nggak nyangka ya, kamu bisa kasih barang semahal itu buat orang lain, sementara istrimu di rumah cuma dikasih janji-janji manis doang," jawab Puann ketus, matanya menatap tajam ke arah Citra.
"Waduh, jangan salah paham ya, Puann. Ini kan urusan kerjaan. Lagian, Mas Bahlil kan orang mampu, jadi wajar dong kalau dia kasih sesuatu yang bagus. Berbeda sama kebutuhan rumah tangga kalian yang sederhana, kan?" balas Citra santai, nadanya penuh sindiran halus yang menusuk hati.
Puann mengepal tangannya kuat-kuat. Ia sadar Citra berperan sebagai wanita kaya yang pengertian, sementara ia digambarkan sebagai istri miskin yang cemburuan dan tidak paham apa-apa.
Sepanjang acara itu, Citra terus mencari alasan agar selalu berada di dekat Bahlil. Ia berjalan di sisi kanan Bahlil, tertawa mendengar ucapan Bahlil, dan sesekali menyentuh lengan atau bahu suaminya seolah itu hal biasa.
Puann berdiri di pinggir ruangan, hatinya terasa panas luar biasa. Ia sadar dirinya masih sangat mencintai Bahlil, dan rasa memiliki itu membuatnya tidak terima ada wanita lain bertindak berlebihan. Ia ingin melarang atau marah, namun mulutnya terkunci karena gengsi mengakui rasa sayang itu.
Saat acara hampir selesai, Puann berniat pamit pulang karena tidak sanggup lagi menyaksikan kedekatan itu. Namun, sebelum ia sempat bergerak pergi, Citra tiba-tiba bertindak di luar batas kewajaran.
Saat Bahlil sedang berdiri memunggungi pintu keluar, Citra melangkah cepat ke arahnya. Dengan senyum penuh kemenangan dan sengaja, Citra merentangkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Bahlil erat-erat persis saat Puann berbalik menoleh ke arah mereka.
Pelukan itu terasa terlalu lama dan terlalu intim. Bahlil terkejut dan mencoba mundur, tapi Citra justru makin mengeratkan pelukannya sambil berbisik pelan, "Makasih ya semuanya, Mas. Aku tunggu kita kerja bareng lagi."
Puann mematung di tempat. Darah di tubuhnya seolah mendidih dan meluap ke wajah. Batas kesabarannya sudah habis. Citra sengaja melakukan itu di depan matanya, sengaja menantang posisinya sebagai istri sah. Napas Puann memburu, matanya menatap tajam keduanya, dan saat itulah ia tahu ia tidak bisa lagi diam saja.
Puann melangkah cepat mendekat. Wajahnya memerah padam karena amarah yang tak lagi tertahan.
"Kamu ngapain?! Lepasin sekarang!"
Citra melepaskan pelukannya perlahan. Ia menatap Puann dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan.
"Aduh, galak banget sih. Aku cuma ucapin terima kasih sama Mas Bahlil. Emangnya salah kalau aku hargai orang yang udah baik banget sama aku?"
"Terima kasih nggak perlu peluk-peluk begitu! Kamu sadar nggak sih dia itu suamiku? Kamu nggak punya batasan sama sekali ya?"
"Ya ampun, peluk sebentar doang kok. Lagian Mas Bahlil juga nggak nolak kan? Berarti dia nggak keberatan. Mungkin cuma kamu aja yang kaku dan lebay,"
Karyawan hotel berkerumun di kejauhan. Mereka mengamati pertengkaran itu dengan rasa penasaran.
"Kamu ini nggak tahu diri banget! Udah aku kasih pengertian, malah makin jadi kelakuanmu! Jangan kira kaya dan cantik terus bisa ambil hak orang lain!"
"Hak apa sih? Kalau suamimu sayang, dia nggak bakal kasih aku hadiah mahal, nggak bakal sering ketemu, dan nggak bakal diam aja kalau aku deket. Coba tanya dia sendiri, sebenernya dia lebih nyaman sama siapa?"
Bahlil yang sedari tadi diam dan bingung, akhirnya maju berdiri di tengah. Wajahnya tampak dingin dan tegas, sikap yang belum pernah dilihat Puann sebelumnya.
"Cukup, Citra. Jangan ngomong sembarangan lagi,"
Senyum di bibir Citra seketika lenyap. Ia menatap Bahlil tak percaya, tak menyangka akan ditegur di hadapan umum.
"Maksud kamu apa sih, Mas? Aku cuma ngomong jujur kok. Bukannya selama ini kita..."
"Kita itu cuma atasan bawahan dan rekan kerja, nggak bakal lebih dari itu. Hadiah itu murni dari perusahaan, bukan dari aku. Mulai sekarang jaga jarak, aku punya istri yang sangat aku sayangi dan hormati,"
Bahlil berbalik memunggungi Citra. Ia berdiri tepat di samping Puann, lalu meraih dan menggenggam tangan istrinya erat.
"Istriku cuma Puann. Tolong ingat baik-baik. Siapa aja yang ngerendahin atau ganggu dia, sama aja nyakitin aku juga,"
Wajah Citra memerah karena campuran rasa malu dan marah. Ia menatap keduanya dengan pandangan penuh kebencian, lalu pergi tergesa-gesa.
Suasana sekitar mendadak hening. Puann masih terpaku diam, tak menyangka Bahlil akan membelanya sekeras itu di depan banyak orang.
"Kamu nggak apa-apa kan? Maafin aku ya, udah bikin kamu malu dan marah lagi,"
Puann menunduk merasakan hangat genggaman itu. Rasa marah dan sakit hati perlahan berubah menjadi rasa haru yang campur aduk.
Mereka pulang dalam keheningan yang berbeda dari biasanya. Genggaman tangan itu tak terlepas hingga mereka masuk ke dalam rumah.
Malam itu, suasana kamar tidur berubah total. Tak ada lagi saling memunggungi saat berbaring.
Ketika Bahlil mendekat, Puann tak lagi menolak atau menjauh. Ia membiarkan dirinya ditarik masuk ke dalam pelukan hangat suaminya.