11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia terbawa oleh angin
Sebelas tahun berlalu sejak hari pertama Yuse melangkahkan kakinya ke dalam halaman padepokan.
Kini, ia telah tumbuh sempurna menjadi seorang pemuda yang sangat kuat dan tangguh. Tubuhnya tegap berotot, gerakannya tenang dan terukur, serta seluruh ilmu bela diri yang ia pelajari selama bertahun-tahun kini sudah mendarah daging dan menjadi bagian dari dirinya. Pedang kayu yang dulu terasa berat dan menyulitkan tangannya, kini terasa ringan bagaikan perpanjangan tangannya sendiri.
Suatu sore, saat cahaya matahari mulai meredup dan digantikan temaram lampu minyak, Bibi Liana memanggilnya masuk ke ruang tengah. Tatapan wanita itu jauh lebih serius dan berat daripada biasanya. Cahaya api yang bergoyang-goyang memantul di matanya, membuat kerutan halus di wajahnya tampak makin dalam.
“Yuse, sebelas tahun sudah kau berlatih keras di sini,” buka Liana dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. “Dan sekarang… saatnya telah tiba. Bibi akan memberimu sebuah tugas penting. Tapi ingat, Bibi tidak akan memaksamu jika kau merasa belum siap atau ragu.”
Yuse segera menegakkan posisi duduknya, rasa penasaran dan antusiasme langsung memenuhi dadanya.
“Tugas apa itu, Bibi?”
Liana menghela napas panjang, seolah sedang berusaha mengangkat beban berat yang tertimbun bertahun-tahun lamanya. Suaranya terdengar pelan dan hati-hati, seolah takut membangunkan sesuatu yang seharusnya tetap terkubur dalam diam.
“Lima tahun yang lalu, sebuah tempat bernama Desa Angin tertimpa bencana besar yang mengerikan. Sejak hari itu, desa itu musnah dan tak ada lagi yang berani mendekat. Hingga hari ini, tak ada satu pun yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di sana. Bibi ingin kau pergi ke sana, dan mencari tahu kebenaran di balik kejadian itu.”
“Desa Angin?” dahi Yuse langsung mengkerut bingung. Nama itu sama sekali asing di telinganya. “Desa apa itu, Bibi? Aku baru pertama kali mendengar nama tempat itu.”
“Desa Angin adalah tempat kelahiran Bibi,” jawab Liana pelan. Sorot matanya yang tadinya tajam seketika meredup, menyiratkan rasa rindu yang mendalam sekaligus luka lama yang belum sembuh. “Desa itu terletak jauh di ujung bagian utara, di balik pegunungan yang tinggi. Jadi… apakah kau bersedia melaksanakan tugas ini?”
Yuse terdiam sejenak. Di luar jendela, angin malam berdesir lembut membelai dedaunan. Namun di tengah kesunyian itu, sebuah kejanggalan tiba-tiba terlintas di benaknya.
“Tapi Bibi… kalau itu tempat kelahiranmu sendiri, kenapa Bibi tidak ikut pergi bersamaku saja? Kita bisa mencari tahu kebenarannya bersama-sama.”
Liana sedikit tersentak. Gelas teh yang ada di tangannya bergetar nyaris tak terlihat. Namun dengan cepat ia menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tidak terlihat aneh.
“Bibi… masih ada urusan penting lain yang harus diselesaikan di sini. Bibi tidak bisa pergi meninggalkan padepokan sekarang,” jawabnya singkat — terlalu singkat, seolah sengaja ingin menutup pembicaraan ini.
Sebenarnya, itu hanyalah kebohongan yang ia rangkai demi menutupi masalah besar yang terpendam antara dirinya dengan masa lalu desa tersebut. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan agar keponakannya tidak bertanya lebih jauh, karena ada nama yang tak sanggup ia ucapkan, dan ada dosa besar yang tak sanggup ia hadapi kembali sendirian.
Yuse hanya mengangguk percaya, tanpa sedikit pun curiga. Ia tidak melihat tangan bibinya yang gemetar pelan di balik lengan baju.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi ke sana, mencari tahu segalanya, dan membuktikan apakah semua rumor yang beredar itu benar atau tidak.”
Keesokan harinya, dengan tas perbekalan yang tergantung di pundak dan pedang panjang yang melingkar di pinggangnya, Yuse berdiri siap di depan gerbang padepokan. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, dan burung-burung pun belum banyak berkicau menyambut hari.
Ia berbalik badan dan menatap lekat-lekat wajah wanita yang telah membesarkan dan mendidiknya selama belasan tahun ini.
Liana berdiri tegak, namun kedua tangannya terkepal erat di balik punggungnya untuk menyembunyikan kegelisahan yang meluap-luap.
“Bibi, jaga dirimu baik-baik selama aku pergi,” ucap Yuse sambil tersenyum hangat dan tulus. “Tunggu aku pulang nanti, aku pasti akan membawa kabar baik untukmu.”
Liana hanya mampu mengangguk pelan. Ia menahan bibirnya agar tidak terbuka, karena ia tahu jika ia berbicara sekarang, yang keluar bukan kata-kata perpisahan, melainkan larangan agar ia tetap tinggal di sini.
Tunggu aku pulang… gumamnya pelan di dalam hati, cukup hanya untuk dirinya sendiri.
Dengan begitu, ia melepas kepergian pemuda itu, sementara sejuta kekhawatiran dan firasat buruk kembali berkecamuk hebat di dalam dadanya.
Perjalanan menuju utara ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
Hari pertama, semangat Yuse masih membara tinggi. Jalan besar yang ia lalui ramai oleh pedagang dan pengelana dari berbagai penjuru. Ia dengan ramah menyapa setiap orang yang ia temui, bertanya arah jalan, dan beristirahat di penginapan murah. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasakan betapa luas dan indahnya dunia di luar tembok padepokan yang selama ini menjadi satu-satunya dunianya.
Namun memasuki hari ketiga, keadaan mulai berubah total.
Jalanan makin lama makin sepi dan sunyi. Desa-desa yang ia lewati tampak muram dan menyedihkan. Sawah-sawah luas mengering retak karena kekurangan air, rumah-rumah banyak yang kosong dengan pintu tertutup rapat seolah tak ingin diganggu oleh siapa pun. Setiap kali ia bertanya tentang Desa Angin, orang-orang hanya akan menggeleng cepat sambil memalingkan wajah ketakutan, lalu buru-buru masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
“Jangan ke sana, Nak… tak ada satu pun yang selamat dari tempat itu,” bisik seorang nenek tua di sebuah warung teh reyot, suaranya bergetar ketakutan. “Angin di sana… angin itu membawa suara.”
Yuse tidak mengerti maksud perkataan itu, tapi ia mencatatnya baik-baik di dalam hati: Suara.
Malam keenam, ia memutuskan bermalam di tengah hutan pinus yang rimbun. Api unggun menyala kecil di depannya, namun udara dingin menusuk sampai ke tulang, seolah ingin membekukan seluruh tubuhnya.
Tengah malam, ia terbangun mendengar suara langkah kaki yang mendekat perlahan dari kegelapan.
Tiga orang pria bertubuh besar dan tampak kasar keluar dari balik pepohonan. Wajah mereka tertutup kain lusuh, sementara mata mereka memancarkan pandangan liar dan serakah. Salah satunya menggenggam kapak besar yang sudah tumpul dan berkarat.
“Serahkan tas dan pedangmu di sini, Nak,” ujar yang paling depan dengan suara parau. “Kami tak bermaksud menyakiti, asalkan kau mau menurut.”
Yuse bangkit berdiri perlahan. Tangannya kali ini tidak gemetar sama sekali, tidak seperti saat itu di pasar bertahun-tahun yang lalu. Ketenangan sudah sepenuhnya menguasai dirinya.
“Aku tidak mencari masalah. Pergilah selagi kau masih bisa berjalan dengan utuh.”
“Dasar anak muda yang keras kepala!”
Pertarungan itu tidak berlangsung lama.
Yuse sama sekali tidak menyerang untuk melukai atau membunuh. Ia hanya menangkis setiap serangan, menggeser titik keseimbangan mereka, dan menjatuhkan mereka satu per satu dengan gerakan kuncian halus yang diajarkan Liana. Saat yang terakhir terkapar di tanah, ia hanya berkata dengan nada datar:
“Pulanglah. Jangan ulangi hal ini lagi, atau kau akan bertemu orang yang tidak sebaik aku.”
Mereka segera bangkit dan lari terbirit-birit masuk ke dalam kegelapan tanpa berani menoleh sedikit pun.
Yuse kembali duduk di dekat api unggun. Dadanya tidak berdebar kencang, hatinya tidak dipenuhi amarah atau rasa bangga yang berlebihan.
Inilah yang Bibi maksud dengan mengendalikan diri dan kekuatan, batinnya paham. Kekuatan yang besar tanpa kendali hanyalah alat yang akan melahirkan penyesalan di kemudian hari.
Hari kesembilan, ia akhirnya tiba di kaki pegunungan utara.
Angin di tempat ini terasa sangat berbeda. Ia tidak berhembus teratur dari satu arah, melainkan berputar liar, menderu panjang, lalu berhenti tiba-tiba seolah sedang berhenti untuk mendengarkan sesuatu.
Penduduk terakhir yang ia temui menyebut daerah ini dengan nama Tenggorokan Angin.
“Kalau kau lewat sini saat malam tiba… kau akan mendengar namamu dipanggil,” ujar lelaki tua itu sambil menggambar lingkaran aneh di atas tanah dengan tongkat kayu. “Bukan oleh suara manusia, Nak… tapi oleh angin itu sendiri.”
Yuse hanya diam mendengarkan, lalu mengangguk tanda mengerti.
Malam kesebelas, di bawah langit yang gelap tanpa bintang, ia akhirnya tiba di batas wilayah yang dulu dikenal sebagai Desa Angin.
Tak ada gapura penyambut. Tak ada asap dapur yang mengepul di udara.
Yang tersisa hanyalah tumpukan reruntuhan yang menyedihkan. Rumah-rumah roboh rata dengan tanah, jalan setapak tertutup semak berduri yang lebat, dan tanah di sekeliling retak-retak dalam persis seperti kulit yang terbakar dan mengering.
Angin terus berdesir pelan di antara tumpukan puing dan batang kayu yang rapuh.
Dan di sela-sela desiran itu, Yuse mendengarnya dengan sangat jelas.
Suara.
Bisikan halus dan pelan yang memanggil namanya.
“Yuse…”
Ia langsung berhenti melangkah. Jantungnya berdegup keras sekali di dadanya.
Suara itu bukan suara angin.
Yuse mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Napasnya teratur, namun kewaspadaannya terangkat penuh.