Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Dana dari sisi Winata juga sudah dijanjikan masuk hari ini, kan?” tanya Pak Damar memastikan.
Arven mengangguk santai.
“Iya. Kata mereka siang ini transfer finalnya masuk. Setelah itu kita langsung kirim ke Berlian Jaya.”
Pak Damar menghela napas lega.
“Bagus. Kalau begitu kita bisa tutup kesepakatan ini sebelum sore.”
Tidak lama kemudian, pintu ruang pertemuan diketuk. Seorang asisten masuk membawa map tebal berwarna hitam.
“Pak, ini berkas pengiriman dana yang sudah siap. Tinggal tanda tangan dan eksekusi transfer.”
Arven tersenyum tipis.
“Akhirnya.”
Namun sebelum map itu sampai di meja, langkah kaki asisten itu tiba-tiba berhenti dan membuat Arven langsung menangkap sesuatu yang tidak biasa. Wajah asistennya terlihat pucat, bukan pucat biasa karena lelah atau kurang tidur, tapi pucat yang jelas menunjukkan ada sesuatu yang sangat salah yang mana hal itu membuat Pak Damar juga langsung mengerutkan kening.
“Kenapa? Ada masalah?”
Asisten itu menelan ludah.
“Pak… Pak Arven… Pak Damar…” suaranya terdengar ragu.
Arven langsung berdiri.
“Apa? Jangan bertele-tele. Ada apa?”
Asisten itu tampak panik, matanya bergerak cepat seolah mencari kata yang tepat tapi tidak menemukannya.
“Ini… masalahnya di sistem keuangan kita.”
Pak Damar langsung menegakkan tubuhnya.
“Maksud kamu?”
“Transfer dana… ke rekening operasional tidak bisa diproses.”
Ruangan mendadak hening sementara Arven mengernyit.
“Apa maksudnya tidak bisa diproses?”
Asisten itu terlihat semakin panik.
“Akses dana perusahaan tiba-tiba bermasalah, Pak. Semua transaksi keluar ditahan sistem bank. Termasuk pengiriman ke pihak Berlian Jaya.”
Pak Damar langsung berdiri dari kursinya.
“Tidak mungkin.”
Arven langsung melangkah mendekat dan menarik lengan asistennya.
“Keluar.”
“Hah?”
“Keluar dulu. Jelasin di luar.”
Asisten itu langsung menurut. Arven menariknya keluar dari ruang pertemuan, sementara Pak Damar mengikuti dari belakang dengan wajah mulai gelap. Begitu pintu tertutup, Arven langsung menatapnya dengan tajam.
“Sekarang jelasin. Apa yang terjadi?”
Asisten itu terlihat hampir panik sepenuhnya.
“Pak… sistem rekening utama kita dibatasi. Semua transaksi keluar ditolak. Saya sudah coba ulang tiga kali tapi hasilnya sama. Dana tidak bisa dikirim.”
Arven mengerutkan dahi.
“Dibatasi? Siapa yang blokir?”
“Belum diketahui, Pak. Tapi ini seperti… ada pemblokiran dari level bank pusat atau pihak pemilik otoritas rekening.”
Pak Damar langsung menyela dengan suara tinggi.
“Itu tidak masuk akal! Kita tidak pernah ada masalah keuangan!”
Arven terdiam selama beberapa detik, lalu mencoba berpikir cepat. Wajahnya berubah sedikit lebih tenang.
“Winata Group,” gumamnya pelan yang membuat Pak Damar menoleh.
“Apa?”
Arven mengangkat tangannya, mencoba merasionalisasi situasi.
“Mungkin mereka terlambat kirim dana suntikan. Jadi sistem kita sementara ditahan sampai dana masuk.” jawabnya yang membuat Pak Damar mengangguk pelan, meskipun wajahnya masih tidak yakin.
“Tapi ini mengganggu pembayaran tender…”
Arven menarik napas, lalu mengusap rahangnya.
“Kalau begitu kita pakai cara lain.” Ia berbalik ke arah asistennya setelah mengeluarkan kartu kredit milik Kanisha. “Ambil kartu kredit cadangan ini. Kita pakai ini dulu. Transfer ke Berlian Jaya pakai kartu ini, jangan sampai kesepakatan ini gagal.”
Asisten itu tampak ragu.
“Tapi Pak… ini nominalnya sangat besar…”
“Lakukan saja.” perintah Arven dengan nada Arven tegas dan tidak memberi ruang untuk debat.
Pak Damar tidak berkata apa-apa. Dalam situasi seperti ini, menyelamatkan kesepakatan lebih penting daripada mempertanyakan metode. Asisten itu akhirnya mengangguk dan segera pergi ke bagian keuangan sementara Arven berdiri di lorong dan menyilangkan tangan.
“Ini cuma delay sistem,” gumamnya pelan. “Nggak mungkin Winata grup telat mengirimkan suntikan dana itu kepada perusahaan kita.”
Pak Damar mengangguk setengah hati namun di dalam kepalanya, ada sedikit rasa tidak nyaman yang mulai muncul. Beberapa menit kemudian, Arven masih berdiri di luar ruang pertemuan, menunggu hasil transaksi selesai diproses. Pak Damar kembali masuk ke ruangan untuk mengecek dokumen lain. Suasana lorong terasa lebih sepi dari sebelumnya lalu suara langkah kaki cepat terdengar lagi.
Tap… tap… tap…
Asisten tadi kembali muncul. Tapi kali ini wajahnya jauh lebih panik dari sebelumnya.
Bahkan tangannya terlihat gemetar memegang ponsel dan slip transaksi yang membuat Arven langsung menegakkan tubuh.
“Apa lagi sekarang?” nadanya mulai terdengar kesal dan membuat asisten itu berhenti tepat di depannya.
“Pak…”
Arven menatapnya tajam.
“Jangan bilang masih gagal.”
Asisten itu menggeleng cepat.
“Bukan itu…” jawab asisten itu yang membuat Arven mengernyit.
“Terus apa?”
Asisten itu menelan ludahnya dengan berat
.
“Transaksi menggunakan kartu kredit tadi juga tidak bisa diproses.”
Arven terdiam.
“Apa? Bagaimana bisa?”
Asisten itu mengangkat ponselnya dan menunjukkan layar ponselnya kepada Arven.
“Ditolak oleh sistem bank, status kartu diblokir.”
Suasana terasa hening bahkan udara di lorong itu seperti berhenti bergerak. Arven tidak langsung bereaksi. Matanya menatap layar ponsel itu lama sekali lalu perlahan alisnya naik.
“Apa maksudnya diblokir?” Suaranya tidak keras namun nadanya berubah dingin yang membuat asisten itu semakin gugup.
“Semua transaksi ditolak, Pak. Kartu tidak bisa digunakan sama sekali. Statusnya aktif tapi dibekukan dari sistem.”
Arven terdiam selama beberapa detik lalu—
“Apakah kau sudah mencoba melakukan transaksi itu berulang kali?”
Asisten itu menelan ludah.
“Sudah saya coba tiga kali, Pak.”
Arven langsung mengambil ponsel dari tangannya untuk mengecek sendiri. Tangannya bergerak cepat, membuka aplikasi, mencoba melihat status kartu itu. Wajahnya sedikit berubah, senyumnya hilang dan digantikan sesuatu yang lebih tajam.
“Ini nggak mungkin,” gumamnya pelan.
Pak Damar yang baru keluar dari ruangan langsung mendekat.
“Ada apa lagi sekarang?”
Arven tidak menjawab. Matanya masih menatap layar ponsel sampai akhirnya ia berbicara pelan, tapi jelas.
“Kartu ini diblokir.”
Pak Damar langsung membeku.
“Diblokir oleh siapa?”
“Bank.”
Suasana lorong itu terasa makin sempit, seolah udara ikut menekan dada. Pak Damar langsung melangkah mendekat.
“Kenapa bisa bank memblokir kartu kredit kamu, Arven? Apa yang sudah kamu lakukan?”
Arven mengusap wajahnya sebentar. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada sedikit keraguan di ekspresinya, tapi bukan ke panik melainkan lebih ke bingung yang dipaksa tetap terlihat tenang.
“Arven nggak melakukan apa-apa, pa.” jawabnya akhirnya yang membuat pak Damar mengerutkan keningnya.
“Kalau kamu nggak melakukan apa apa, kenapa bisa pihak bank memblokir kartu kredit kamu?”
Arven langsung menatap asistennya.
“Albi, apa kamu sudah memastikan datanya benar?”
Asisten itu mengangguk cepat.
“Benar, Pak. Saya sudah cek dari sistem bank. Statusnya bukan gagal transaksi biasa, tapi benar-benar dibekukan.”
Pak Damar menghela napas kasar.
“Ini tidak masuk akal.”
Arven mengangkat tangan, mencoba tetap terlihat rasional.
“Mungkin ada masalah teknis di bank atau sistem transaksi perusahaan Winata lah yang belum masuk penuh jadi semua rekening sementara ditahan.”
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️