NovelToon NovelToon
KAF FA RO

KAF FA RO

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Balas Dendam
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Rafiq Al-Farizi adalah pria agamis yang kehilangan segalanya dalam waktu singkat. Ujian itu membuat imannya runtuh.

Ia bertemu dengan Mbah Jaya, seorang dukun yang menawarkan "keadilan" melalui ilmu hitam. Langkah demi langkah, hingga akhirnya Ia mengucapkan sumpah setia kepada makhluk gaib.

Sebagai tanda perjanjian, muncul tulisan KAF FA RO di jidatnya—stempel bahwa jiwanya telah menjadi milik kegelapan. Dengan kekuatan barunya, ia memburu balas dendam kepada semua yang menghancurkannya.

Namun semakin dalam ia melangkah, semakin ia sadar: bukan ia yang mengendalikan kegelapan, tapi kegelapan yang mengendalikannya. Dan harga dari perjanjian ini lebih mahal dari nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bibit Dendam

Hari itu langit menangis.

Rafiq berdiri di tepi liang lahat yang baru saja ditutup tanah. Kuburan kecil di pemakaman umum pinggiran kota itu kini menjadi bukit tanah basah yang menggumpal terkena guyuran hujan deras yang turun sejak pagi.

Air hujan membasahi seluruh tubuhnya, menembus kemeja hitam yang ia kenakan—kemeja yang dipinjam dari pegawai rumah sakit karena pakaiannya yang berlumuran darah kemarin sudah tidak layak pakai.

Celana bahan hitamnya basah kuyup menempel di kaki. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lurus basah menutupi dahi.

Ia tidak membawa payung.

Sejak pagi, sejak jenazah kecil Muhammad Al Fatih disalatkan di masjid dekat rumah sakit, sejak keranda itu diangkat dan dibawa ke pemakaman ini, Rafiq tidak bergerak dari sisi anaknya. Ia mengusung sendiri keranda itu, menolak bantuan siapa pun.

Ia yang menurunkan jasad anaknya ke liang lahat. Ia yang mulai menimbun tanah dengan tangannya sendiri—tanpa sekop, tanpa alat, hanya dengan kedua telapak tangannya yang masih membekas luka dari pecahan kaca semalam.

Tanah basah bercampur air hujan masuk ke sela-sela jarinya, masuk ke bawah kukunya, membasahi tangannya yang dingin. Tapi ia terus menggali, terus menimbun, sampai liang itu tertutup sempurna.

Sejak saat itu, ia hanya berdiri.

Tidak bergerak. Tidak berbicara. Tidak menangis.

Ia hanya berdiri di samping pusaran kecil yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir putra semata wayangnya.

Hujan tidak berhenti hingga sore.

Para pelayat datang satu per satu. Warga kampung yang mengenal Rafiq sebagai pria agamis yang biasa mengisi pengajian di masjid.

Jemaah yang biasa ia pimpin shalat berjamaah. Tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumahnya di pinggiran kota. Mereka datang dengan wajah-wajah berkabung, mengucapkan takziah dengan kalimat-kalimat yang sama.

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Sabar ya, Pak Rafiq. Ini sudah takdir."

Rafiq hanya mengangguk. Tidak menjawab. Tidak membalas.

Aisyah datang--orangtuanya ternyata selamat dari kecelakaan, meskipun Bapak Rozak harus menjalani operasi kaki dan Bu Sumarni masih dalam perawatan intensif. Aisyah mengenakan gamis hitam, kerudung hitam menutupi rambutnya yang panjang. Wajahnya pucat, matanya sembab, bekas air mata masih basah di pipinya.

Ia mendekati Rafiq dengan langkah ragu. "Abi... aku ikut menabur bunga..."

Rafiq tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada pusaran tanah basah di depannya.

"Pulang," katanya datar.

"Tapi—"

"Pulang, Aisyah. Kau tidak pantas berdiri di sini."

Suaranya tidak tinggi. Tidak ada amarah. Tapi kata-katanya lebih tajam dari pisau. Aisyah membeku, air matanya kembali mengalir. Bu Sumarni, yang berjalan tertatih dengan kruk di tangannya, menarik putrinya menjauh.

"Biarkan dia, Nak," bisik ibu tua itu. "Biarkan dia berduka."

Aisyah tidak melawan. Ia membiarkan ibunya membawanya pergi dari pemakaman, meninggalkan Rafiq yang masih berdiri di tempat yang sama.

Satu per satu pelayat pergi.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, menembus celah-celah awan gelap yang mulai menipis. Hujan yang sejak pagi mengguyur akhirnya berhenti, menyisakan genangan air di setiap sudut pemakaman. Udara terasa dingin menusuk.

Dan ketika malam benar-benar tiba, Rafiq sendirian. Sendirian di pemakaman yang gelap. Sendirian dengan pusaran kecil yang menandai tempat anaknya terbaring. Sendirian dengan rasa hancur yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Ia akhirnya berlutut. Lututnya menyentuh tanah basah yang dingin. Kedua tangannya menyentuh gundukan tanah di depannya.

"Fatih... Abi di sini, Nak..." bisiknya. Suaranya keluar serak, parau, seperti suara orang yang sudah lama tidak minum.

"Abi belum pergi. Abi masih di sini. Abi akan selalu di sini."

Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh. Jatuh membasahi tanah kuburan anaknya. Ia tidak lagi menahan. Ia membiarkan tangisnya keluar—bukan tangis histeris seperti semalam, tapi tangis yang dalam, tangis seorang ayah yang kehilangan segalanya.

"Fatih... Abi minta maaf... Abi gagal jadi ayah yang baik... Abi gagal melindungi Fatih... Abi gagal..."

Ia membungkuk, meletakkan kepalanya di atas pusaran itu. Keningnya menyentuh tanah basah. Tubuhnya gemetar hebat.

"Abi sayang Fatih... Abi sayang Fatih sekali... Kalau bisa... kalau bisa Abi ganti tempat Fatih... Abi yang seharusnya pergi, bukan Fatih... Abi yang seharusnya... Abi..."

Ia tidak bisa melanjutkan.

Di tengah tangis dan isaknya yang tak terkendali, tiba-tiba ada suara. Suara itu tidak datang dari luar. Tidak datang dari telinga. Suara itu datang dari dalam kepalanya. Dari dalam hatinya. Dari dalam jiwanya yang hancur berkeping-keping.

"Anakmu bisa kau hidupkan kembali."

Rafiq tersentak.

Ia mengangkat kepalanya, menoleh ke kiri dan ke kanan. Pemakaman gelap. Tidak ada siapa pun. Hanya pohon-pohon tua yang bergoyang diterpa angin malam, dan suara jangkrik yang mulai terdengar setelah hujan reda.

Ia mengira itu hanya suara hatinya sendiri. Suara keputusasaannya yang meracuni pikirannya.

"Anakmu bisa kau hidupkan kembali."

Suara itu datang lagi. Lebih jelas kali ini. Lebih dekat. Seperti bisikan di dalam ruang paling gelap dari kepalanya.

Rafiq menggeleng. "Mustahil. Itu tidak mungkin."

Ia bangkit dari berlutut. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksakan diri berdiri. Pandangannya mengelilingi pemakaman yang gelap. Dan untuk sesaat—hanya sesaat—ia melihat sesuatu di balik pohon beringin tua di sudut pemakaman.

Bayangan hitam.

Lebih hitam dari malam.

Dengan dua titik merah menyala seperti bara api.

Tapi ketika Rafiq mengucek matanya dan menatap lagi, bayangan itu sudah tidak ada. Hanya pohon beringin tua yang berdiri kokoh dengan akar-akarnya yang menjalar seperti tangan-tangan yang siap mencengkeram.

Halusinasi, pikirnya. Aku kelelahan. Aku kurang tidur. Aku mulai melihat hal-hal yang tidak ada.

Ia menepis pikiran itu. Tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menghidupkan orang mati. Itu adalah keyakinan yang tertanam dalam dirinya sejak kecil. Hanya Tuhan yang memberi hidup dan mati. Tidak ada kekuatan lain.

Tapi suara itu... suara itu terasa begitu nyata. Begitu dekat. Begitu menggoda.

Rafiq menggigit bibirnya. Ia menatap pusaran anaknya sekali lagi, mengecup ujung jarinya, lalu menyentuhkan jari itu ke tanah basah.

"Fatih... Abi pulang dulu, Nak. Abi janji akan kembali. Abi janji tidak akan pernah meninggalkan Fatih."

Ia berbalik. Langkah kakinya berat meninggalkan pemakaman yang gelap, meninggalkan anaknya yang terkubur di tanah basah, meninggalkan suara bisikan yang terus mengiang di kepalanya.

"Anakmu bisa kau hidupkan kembali..."

Fortuner hitam itu terparkir di pinggir jalan dekat pemakaman. Rafiq berjalan mendekatinya dengan tubuh basah kuyup dan kemeja hitam yang masih meneteskan air. Ia membuka pintu, duduk di kursi pengemudi, dan untuk beberapa saat hanya diam memandangi jalanan gelap di depannya.

Dari balik kaca spion, ia melihat pohon beringin di sudut pemakaman. Tidak ada bayangan hitam. Tidak ada mata merah.

Hanya halusinasi.

Ponselnya bergetar. Layar menyala dengan nama yang sudah ia simpan sejak lama.

Hendri—Asisten Pribadi.

Rafiq menggeser layar hijau. "Hendri."

"Pak Rafiq... selamat malam, Pak. Maaf mengganggu. Saya tahu ini hari yang berat, tapi... ada sesuatu yang harus Bapak lihat. Saya sudah di parkiran rumah sakit sejak tadi, menunggu Bapak."

Rafiq menghela napas. "Apa itu, Hendri?"

"Bapak... ini tentang dokumen pengalihan aset. Saya tidak hanya mendapat satu bukti. Saya mendapat semuanya. Bapak harus lihat sendiri."

Rafiq menutup telepon. Ia menyalakan mesin Fortuner dan perlahan meninggalkan pemakaman.

Setengah jam kemudian, Rafiq dan Hendri duduk di dalam Fortuner yang terparkir di area parkir rumah sakit yang sepi. Lampu dalam mobil menyala redup. Hendri—pria muda berusia 27 tahun dengan kacamata tebal dan setelan jas yang sedikit kusut—mengeluarkan sebuah map coklat tebal dari tas kerjanya.

"Pak, ini semua hasil investigasi saya selama dua hari terakhir," kata Hendri dengan suara hati-hati.

"Saya tidak percaya awalnya. Tapi setelah saya dalami, semuanya terhubung."

Rafiq menerima map itu. Tangannya yang masih membekas luka membuka map dengan gerakan pelan. Di dalamnya ada dokumen-dokumen, screenshot transfer bank, rekaman percakapan WhatsApp yang dicetak, dan foto-foto.

Hendri mulai menjelaskan. "Pengalihan aset itu tidak terjadi tiba-tiba, Pak. Ini direncanakan. Setidaknya sejak setahun yang lalu."

Setahun.

Kata itu lagi. Setahun yang lalu. Sama seperti perselingkuhan Aisyah dan Tono. Semuanya dimulai setahun yang lalu.

"Dokumen pertama yang Bapak tanda tangan sebenarnya adalah dokumen perubahan susunan pemegang saham. Bapak Tono menyamarkannya sebagai dokumen tender. Tapi bukan itu yang paling parah, Pak."

Hendri membalik beberapa lembar dokumen. Ia menunjukkan screenshot percakapan WhatsApp. Nama di atas percakapan itu adalah nama yang sangat Rafiq kenal.

Aisyah.

"Bu Aisyah terlibat, Pak," kata Hendri dengan suara nyaris berbisik.

"Beliau yang memberikan informasi tentang jadwal Bapak ke Bapak Tono. Kapan Bapak ke luar kota, kapan Bapak pulang, dokumen apa yang sedang Bapak kerjakan. Beliau juga yang mengambil foto-foto tanda tangan Bapak dari dokumen rumah tangga untuk dicocokkan dengan tanda tangan di dokumen pengalihan aset."

Dunia Rafiq kembali berputar. Tangannya yang memegang dokumen mulai gemetar.

"Ada lagi, Pak." Hendri membalik ke halaman berikutnya. "Rekening pribadi Bapak. Bapak Tono dan Bu Aisyah membuka rekening bersama atas nama mereka berdua. Di rekening itu, ada aliran dana dari perusahaan kita sejak delapan bulan lalu. Jumlahnya... cukup besar, Pak. Mencapai miliaran."

Rafiq menatap angka-angka di lembar itu. Transferan. Rutin. Setiap bulan. Dari rekening perusahaan ke rekening bersama atas nama Tono dan Aisyah.

Setiap bulan.

Selama delapan bulan.

Dan aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa-apa. Aku terlalu sibuk bekerja, terlalu sibuk membangun perusahaan, terlalu sibuk menjadi suami yang baik, terlalu percaya pada orang-orang di sekelilingku.

"Ini semua sudah direncanakan dari awal," suara Hendri terdengar getir.

"Maaf, Pak. Saya tahu ini berat. Tapi Bapak harus tahu. Saya tidak tega melihat Bapak terus-menerus dikhianati tanpa tahu kebenarannya."

Rafiq tidak menjawab. Ia hanya menatap dokumen-dokumen itu. Foto-foto Tono dan Aisyah bersama. Di restoran. Di hotel. Di dalam mobil. Foto-foto yang diambil oleh orang yang disewa Hendri untuk mengikuti mereka dari setahun yang lalu.

Satu per satu ia lihat. Satu per satu ia rasakan.

Dan di dalam dadanya yang hancur, sesuatu mulai terbentuk.

Bukan kesedihan. Bukan sakit hati. Bukan kehampaan.

Dendam.

Dendam yang membara. Dendam yang menggantikan semua rasa yang pernah ada. Dendam yang menghangatkan tubuhnya yang basah kuyup oleh hujan dan air mata.

"Ia mengambil istriku," bisik Rafiq pelan. "Ia mengambil perusahaanku. Ia mengambil kehormatanku. Ia mengambil anakku."

Ia mengangkat wajahnya. Matanya yang sejak kemarin kosong kini menyala dengan api yang berbeda. Api yang tidak akan padam sampai semua yang menyakitinya merasakan apa yang ia rasakan. Lebih dari itu. Lebih parah.

"Mereka harus merasakan," katanya dengan suara yang menggetarkan. "Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Lebih dari itu. Jauh lebih parah."

Hendri menatap atasannya dengan mata khawatir. "Pak Rafiq... Bapak baik-baik saja?"

Rafiq tersenyum. Senyum yang tidak pernah Hendri lihat sebelumnya. Senyum yang tidak lagi hangat. Senyum yang dingin. Senyum yang membuat bulu kuduk Hendri berdiri.

"Aku baik-baik saja, Hendri. Untuk pertama kalinya dalam dua hari ini, aku benar-benar baik-baik saja. Karena sekarang aku tahu apa yang harus aku lakukan."

1
La Rue
Sensasi horornya benar² terasa. Tapi aku suka,karena gaya penulisan yang khas dari Sang Penulis. Semoga banyak yang mampir karena ceritanya bagus dan jarang typo 👍
La Rue: sama-sama
total 2 replies
La Rue
Waduh makin seram tapi semakin penasaran 😱🤭
La Rue
seram tapi penasaran 😱🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!