Sakura adalah anak dari selir yang sejak lahir dianggap tidak memiliki kekuatan. Karena itu ia sering dibully dan diremehkan oleh keluarga bangsawan tempatnya tinggal.
Hidupnya semakin tragis ketika ia terus-menerus diracuni secara perlahan, membuat tubuhnya lemah dan sakit. Di tengah penderitaannya, satu-satunya orang yang melindunginya adalah ibunya. Namun sang ibu akhirnya dibunuh oleh pihak yang berkuasa di dalam keluarga itu.
Setelah kehilangan segalanya, Sakura yang tersisa dalam keputusasaan tanpa sadar mulai membangkitkan kekuatan besar yang tersegel di dalam dirinya. Kekuatan itu selama ini tersembunyi, dan kini perlahan mulai bangkit, mengubahnya dari gadis yang dianggap lemah menjadi sosok yang berpotensi mengguncang dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 - Usia Lima Tahun
Istana Averion tetap sama seperti sebelumnya.
Megah, tertata, dan penuh aturan.
Namun tidak semua orang merasakan hal yang sama di dalamnya.
Lima tahun telah berlalu sejak kelahiran dua putri di istana.
Claudia tumbuh sebagai putri mahkota yang sempurna. Ia diajarkan etika, sihir, dan cara memimpin sejak kecil. Para pelayan selalu berada di sekitarnya, menunggu perintah dengan sikap hormat.
Sebaliknya, Sakura tumbuh di bagian istana yang jarang dilalui orang, jarang diperhatikan oleh Raja.
Bersama ibunya, Mireya.
Tidak ada guru khusus. Tidak ada latihan sihir. Hidupnya jauh lebih sederhana dibandingkan anak-anak bangsawan lain.
Sejak kecil, Sakura sudah menyadari satu hal.
Ia berbeda.
Di usia lima tahun, anak-anak bangsawan biasanya sudah mulai menunjukkan kemampuan dasar mereka. Api kecil di ujung jari, aliran air tipis, atau hembusan angin ringan.
Namun Sakura tidak pernah menunjukkan apa pun.
Hal itu menjadi bahan pembicaraan di kalangan pelayan.
“Dia memang tidak punya sihir sejak lahir,” bisik seorang pelayan sambil melirik ke arah Sakura.
“Sudah jelas waktu itu. Bola Wahyu saja tidak bisa membaca,” jawab yang lain sambil menggeleng pelan.
Sakura mendengar itu.
Tapi ia tidak bereaksi.
Seolah-olah ia sudah terbiasa.
Suatu siang, Sakura berdiri di halaman belakang istana. Tangannya tergenggam pelan di depan tubuhnya. Pandangannya tertuju pada anak-anak lain yang sedang berlatih sihir di kejauhan.
Ada yang berhasil menyalakan api kecil.
Ada yang menggerakkan air.
Sakura mengangkat tangannya perlahan.
Ia mencoba meniru.
Diam.
Tidak terjadi apa-apa.
Ekspresinya tetap datar, tapi tangannya perlahan turun kembali.
Langkah kaki terdengar dari belakang.
Sakura sedikit menoleh.
Claudia datang dengan langkah tenang, diikuti beberapa pelayan. Wajahnya terlihat rapi seperti biasa, dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
Claudia berhenti beberapa langkah dari Sakura, lalu melihat sekeliling dengan tatapan ringan.
“Tempat ini sepi sekali,” katanya sambil sedikit mengernyit, seolah tidak terbiasa berada di sana.
Sakura tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam.
Claudia menatapnya, lalu tersenyum tipis.
“Kenapa tidak ikut latihan?” tanyanya, nadanya terdengar santai, tapi matanya menilai.
Sakura menunduk sedikit.
“...”
Tidak ada jawaban.
Claudia menghela napas pelan, lalu melipat tangannya di depan dada.
“Tentu saja,” lanjutnya, kali ini dengan nada yang sedikit merendahkan, “kau tidak bisa hahah” ejek Claudia.
Salah satu pelayan di belakangnya menutup mulut, menahan tawa kecil.
Sakura mengepalkan tangannya sedikit lebih kuat.
Claudia melangkah mendekat.
“Coba lagi,” katanya, menatap langsung ke arah Sakura.
Sakura diam beberapa detik, lalu perlahan mengangkat tangannya.
Ia mencoba lagi.
Tetap tidak ada apa-apa.
Claudia memperhatikan dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Menyedihkan,” ucapnya pelan.
Sakura menurunkan tangannya.
Tatapannya tetap ke bawah.
Claudia mengangkat tangannya dengan santai.
Cahaya redup muncul di telapak tangannya. Tidak terlalu terang, tapi cukup terlihat jelas.
Ia menggerakkan tangannya sedikit ke depan.
Dorongan cahaya itu mengenai Sakura.
Tubuh kecil itu terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah.
Sakura meringis pelan, menahan sakit di tangannya saat mencoba bangkit.
Claudia hanya menatapnya dari atas, wajahnya tetap tenang.
“Jangan pernah menyebut dirimu bagian dari Kerajaan ini,” katanya dengan suara pelan, tapi tegas.
Sakura terdiam.
“Karena kau hanya pantas dibuang” tekan Claudia.
Sakura tidak menjawab.
Ia hanya menunduk, napasnya sedikit tidak teratur.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tahu… tidak ada yang akan membelanya.
Claudia menatapnya beberapa detik, lalu berbalik.
“Sudah cukup,” katanya singkat kepada para pelayan.
Mereka segera mengikuti langkahnya, meninggalkan Sakura sendirian di halaman.
Beberapa saat kemudian, langkah cepat terdengar.
Mireya datang dengan wajah panik. Nafasnya sedikit terengah saat melihat Sakura di tanah.
“Sakura…” panggilnya pelan, suaranya bergetar.
Ia segera berlutut dan membantu Sakura duduk.
“Apakah kau terluka?” tanyanya sambil memeriksa tangan Sakura dengan hati-hati.
Sakura menggeleng pelan.
Mireya menghela napas lega, lalu memeluknya dengan erat.
“Maaf…” bisiknya lirih, matanya terpejam.
Sakura tetap diam dalam pelukan itu.
Perlahan, ia menoleh ke bawah.
Bayangannya terlihat lebih gelap dari biasanya.
Seolah bergerak pelan.
Namun hanya sesaat.
Dan tidak ada yang menyadarinya.
---------
Hai semua
mimin mau bilang maaf dulu nih jika cerita kurang menarik atau ceritanya hampir sama dengan novel mimin sebelumnya yang masih tentang balas dendam.
Jangan terlalu berharap ya
Mimin baru mencoba membuat Novel kembali setelah beberapa lama off.
Terima kasih🥰🥰🥰