seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi itu, suasana di rumah Dewantara terasa sangat berbeda. Tidak ada senyum, tidak ada obrolan hangat. Hanya ada kesunyian yang berat dan rasa malu yang mendalam.
Leonardo dan Liana sudah bersiap. Hari ini mereka harus menjalankan perintah Pak Sam dan Pak Bram: mengantar Nayla ke rumah orang tua kandungnya, Bu Sari dan Pak Agus, untuk dididik dan belajar rendah hati.
Mereka berjalan menuju kamar Nayla. Saat pintu dibuka, pemandangan di dalamnya membuat Liana menghela napas panjang.
Kamar yang dulu selalu rapi, mewah, dan wangi, kini berantakan luar biasa. Baju-baju mahal berserakan di lantai, cermin hiasan retak, dan bantal-bantal terlempar ke mana-mana. Sejak kebusukannya terbongkar kemarin sore, Nayla mengurung diri di dalam dan meluapkan semua amarahnya di sana.
Dan di tengah kekacauan itu, duduklah Nayla dengan wajah bengis, mata merah, dan tatapan yang penuh dengan kebencian.
Nayla... ayo bersiap. Kita berangkat sekarang."
Nayla tidak menjawab. Ia hanya menatap dinding dengan pandangan kosong namun tajam. Tangannya mengepal kuat di atas lututnya.
Nayla Bergumam pelan dengan suara parau . "Dinda... semua gara-gara Dinda... Kalau dia gak ada, aku gak bakal kayak gini..."
Liana yang mendengarnya merasa jengkel.
"Cukup Nayla! Jangan terus menyalahkan putriku! Kamu yang salah! Kamu yang menjebak dia! Kamu yang berbohong!"
Nayla mendongak, menatap Liana dengan mata melotot penuh dendam.
"Salah?! Aku salah karena mau mempertahankan apa yang jadi milikku?! Selama 17 tahun aku jadi putri tunggal! Semuanya milikku! Terus tiba-tiba Dinda datang dan mengambil semuanya! Wajar dong aku marah! Wajar dong aku benci dia!"
Leonardo yang berdiri di ambang pintu masuk dan menatap putri angkatnya itu dengan kecewa.
"Kamu salah besar Nay. Tidak ada yang mengambil apa pun darimu. Yang hilang itu hanyalah sifat baik dan kepercayaan kami yang sudah kamu buang sendiri dengan tanganmu. Kamu membenci Dinda hanya karena dia jujur dan baik, sedangkan kamu memilih jalan licik." ucap Leonardo dingin .
Nayla tertawa sinis dan getir "Hahaha... Baik? Dia itu munafik! Dia pura-pura baik biar disayang! Dan kalian semua bodoh termakan oleh aktingnya! Sekarang dia yang menang, kan? Dia yang kalian cari, dia yang kalian sayang, dan aku yang dibuang ke tempat sampah!"
"Kami tidak membuangmu, Nay. Kami mengirimmu ke sana supaya kamu sadar. Supaya kamu belajar arti kehidupan. Supaya kamu tahu bagaimana rasanya bekerja keras dan tidak hidup bergelimang harta seenaknya."
Nayla berdiri dengan kasar, menarik koper besarnya yang sudah ia isi dengan pakaian-pakaian mahalnya.
"Oke! Aku pergi! Aku akan tetap benci dia selamanya! dia menghancurkan kehidupanku ."
Nayla berjalan melewati Leonardo dan Liana, keluar dari kamar itu dengan langkah membara. Ia membawa serta dendam yang tak kunjung padam di dadanya.
Perjalanan menuju rumah Bu Sari...
Di dalam mobil, suasana hening membeku. Nayla duduk di belakang dengan wajah manyun dan memalingkan wajah ke jendela. Sementara Leonardo dan Liana di depan, hati mereka berdebar.
Mereka punya satu harapan besar. Meskipun harus mengantar Nayla ke sana, mereka berdoa semoga saat bertemu nanti, hati Dinda sudah sedikit lunak. Semoga Dinda mau memaafkan mereka dan mau ikut pulang kembali ke rumah.
Liana Dalam hati "Tolong ya Nak... Maafkan Mama. Pulanglah sama Mama. Mama janji akan lindungi kamu dari siapa pun, termasuk dari Nayla sekalipun."
Mobil pun akhirnya berhenti di depan rumah sederhana itu. Pintu terbuka, dan mereka melihat Bu Sari dan Pak Agus serta dinda sedang berada di halaman rumah sederhana mereka .
Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah. Leonardo dan Liana turun, lalu membuka pintu belakang untuk Nayla. Gadis itu turun dengan wajah cemberut dan langkah berat, seolah-olah ia sedang dipaksa masuk ke dalam penjara.
Namun, pemandangan yang menyambut mereka justru sangat kontras.
Di halaman rumah yang kecil namun bersih itu, terlihat Dinda sedang menyapu daun kering. Wajahnya tenang, dan sesekali tersenyum bahagia saat berbicara dengan Bu Sari yang sedang menyiram tanaman. Tidak ada lagi tatapan kosong atau mata bengkak. Dinda terlihat bersinar, damai, dan benar-benar pulih di tempat yang ia cintai.
Melihat senyum tulus di wajah Dinda, dada Nayla sesak. Api cemburu dan kebencian kembali membara.
Nayla Dalam hati "Hhh! Lihat dia! Senyum-senyum aja! Pasti dia senang kan sekarang aku jatuh miskin dan dia yang disayang! Dasar pembawa sial!"
Dinda dan Bu Sari terkejut saat melihat kedatangan mereka, apalagi melihat Nayla ikut turun dan membawa koper besar.
"Pa... Ma... Nayla?" gumam Dinda menatap kedatangan mereka .
Leonardo menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat.
"Assalamualaikum, sari , pak Agus . Kami datang untuk mengantar Nayla. Seperti keputusan keluarga kemarin... mulai hari ini Nayla akan tinggal di sini bersama kalian."
Bu Sari terlihat kaget dan bingung. "Hah? Nayla mau tinggal di sini? Di rumah kecil ini?"
Liana mengangguk sedih. "Iya Bu. Dia anak kandung kalian. Keluarga kami merasa sudah salah mendidiknya jadi manja dan sombong. Sekarang waktunya dia belajar hidup yang sebenarnya bersama orang tua kandungnya. Belajar rendah hati."
Dinda berdiri mematung menyapu halaman. Ia menatap Nayla yang melotot padanya penuh kebencian. Meski hati Dinda pernah sangat sakit karena fitnah gadis itu, namun sifat baiknya membuatnya tetap bisa berpikir jernih.
Dinda: pelan namun tegas. "Oh... jadi begitu. Dinda mengerti, Pa, Ma. Memang benar begitu. Nayla adalah anak kandung Ibu Sari dan Bapak Agus. Jadi wajar kalau dia tinggal di sini bersama mereka."
Nayla mendengar itu dan langsung meledak.
"KAMU DIAM! JANGAN BICARA SEOLAH-OLAH KAMU PALING BAIK! AKU GAK MAU DI SINI! AKU GAK MAU MISKIN KAYA KALIAN!" bentak Nayla tatapannya tajam ke arah Dinda .
Nayla berteriak histeris. "AKU ITU PUTRI KELUARGA DEWANTARA! AKU GAK PANTAS HIDUP DI GUBUK REOT INI! SEMUA GARA-GARA KAMU DINDA! KAMU YANG MERUSAK HIDUP AKU!"
Bu Sari dan Pak Agus menunduk sedih. Mereka tahu anak kandungnya membenci mereka dan membenci keadaan ini. Tapi mereka tidak punya pilihan.
Dinda menatap Nayla dengan tenang, lalu berkata lembut.
"Nay... tempat ini memang tidak mewah, tidak besar. Tapi di sini tenang, Nay. Di sini tidak ada yang saling fitnah, tidak ada yang saling menjatuhkan. Mungkin dengan tinggal di sini, hati kamu juga bisa jadi tenang dan baik kayak dulu..."
"BERISIK! JANGAN AJARIN AKU! AKU BENCI KAMU! AKU BENCI TEMPAT INI!"
Nayla mendorong kopernya dengan kasar hingga jatuh, lalu berlari masuk ke dalam rumah dan menutup pintu dengan keras .
Bu Sari menangis pelan. "Maafkan dia ya Nak... Maafkan kami... maafkan dengan kelakuan anak kami ."
Liana memegang tangan Dinda erat-erat, matanya berkaca-kaca.
"Dinda... Sayang... Mama mohon... Ayo pulang sama Mama ya? Sekarang Nayla ada di sini. Di rumah sudah tidak ada yang menyakiti kamu lagi. Ayo pulang..."
Dinda menatap Liana, lalu menatap rumah kecilnya yang hangat.
Dinda: "Maaf ya Ma... Dinda masih mau di sini dulu. Dinda nyaman di sini. Dinda janji, kalau Dinda sudah siap, Dinda akan tinggal di sana. Tapi untuk sekarang... biarkan Dinda di sini sama Ibu dan Bapak."
Jawaban Dinda membuat Leonardo dan Liana kecewa, tapi mereka menghargai keputusan itu. Mereka pamit pulang dengan hati berat, meninggalkan Nayla yang mengurung diri di kamar dan Dinda yang tetap tersenyum menjalani hidupnya dengan sederhana namun bahagia .
...----------------...