NovelToon NovelToon
Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Nona Muda Ini Begitu Dingin Dan Nakal!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mooi Xyujin

Angin laut pagi itu berhembus lembut, membawa aroma garam dan bunga kamboja yang tumbuh liar di pinggir pantai Pulau Chenghai.

Namun, pemandangan yang selama ini menjadi pelipur lara bagi Lin Xin Yi tak mampu meredakan gumpalan berat yang menghimpit dadanya.

Di depan rumah kayu sederhana tempat ia tinggal bersama Nenek Lin sejak bayi, berdiri sebuah koper kecil berwarna biru pudar—satu-satunya barang berharga yang menampung seluruh pakaian dan kenangannya selama tujuh belas tahun hidup.

"Nenek, Xin Yi pergi dulu," bisiknya, suaranya serak saat berusaha menahan tangis. Tangannya yang kasar menyentuh foto neneknya di dalam dompetnya.

Ayahnya. Pria yang namanya bahkan jarang disebutkan Nenek selama dia hidup, kini terbaring lemah di ranjang sakitnya di Kota ibu kota yang jauh, megah, dan asing baginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4

Melihat gadis itu tetap tak bergerak di atas lantai keramik yang dingin, Xin Yuning merasa suasana menjadi semakin canggung dan tidak nyaman.

"Lantai itu dingin," ucapnya tiba-tiba dengan nada datar namun terdengar jelas. "Bangunlah dan duduk di sofa."

Huo Feilin sedikit menoleh, menatap putranya dengan kaget. Ia tidak menyangka Yuning akan bersuara, apalagi menunjukkan sedikit perhatian pada gadis desa itu.

Tapi segera ia menghela napas dalam hati. Memang benar, putranya orang baik. Dan Huo Feilin cukup bijaksana untuk tahu satu hal: biang keladi dari semua kekacauan dan rasa sakit ini bukanlah Lin Xin Yi... melainkan pria egois yang duduk di hadapannya sekarang, Xin Fuyang.

Dokter keluarga datang dengan tergesa-gesa. Begitu diperintahkan, ia segera mendekati Xin Yi yang duduk dengan patuh di tepi sofa.

Dengan gerakan cekatan, dokter itu mengambil tangan gadis itu untuk diperiksa. Namun, begitu melihat kondisi telapak tangan dan jari-jarinya secara detail, ia tak kuasa menahan napas panjang.

Ya Tuhan... batinnya bergumam. Ia ingat betul bahwa anak ini baru dibawa pulang dari sebuah pulau terpencil. Dan melihat bukti fisik ini, ia bisa membayangkan betapa beratnya kehidupan yang telah dijalani gadis muda ini selama bertahun-tahun.

Tangan ini bukan tangan seorang putri yang dimanja. Ini adalah tangan seorang pejuang untuk hidup.

Sejak Nenek Lin tiada, kehidupan Xin Yi berjalan dengan ritme yang keras namun pasti. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, ia sudah harus berkeliling mengantar koran dan kotak susu ke setiap rumah warga serta melakukan pekerjaan kasar lainnya.

Setelah pulang sekolah, waktu luangnya ia habiskan di pasar ikan—membantu para nelayan memungut hasil tangkapan, membersihkan ikan, bahkan kadang ikut ke laut.

Seringkali ia tidak dibayar dengan uang, melainkan hanya diberi beberapa ekor ikan sebagai upah. Tapi Xin Yi tidak pernah mengeluh. Itu sudah menjadi makanannya sehari-hari. Ia menerima takdirnya dan menjalani semuanya dengan tenang.

Karena pulau itu kecil dan penduduknya tak banyak, wajah Xin Yi dikenal oleh hampir semua orang. Salah satu orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah seorang kakek tua yang tinggal tak jauh dari sekolahnya, yang dipanggilnya Kakek Peng.

Dulu, Kakek Peng adalah seorang perwira militer yang gagah berani. Ia memilih menghabiskan masa tuanya di pulau sepi ini agar bisa hidup tenang, jauh dari keramaian dan urusan anak-anaknya di kota.

Saat tahu gadis muda ini hidup sendirian, tanpa orang tua dan kerabat, hati tua itu tergerak.

"Gadis kecil, hidup di dunia ini tidak bisa hanya lembut," kata Kakek Peng suatu hari."Kamu harus bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Dan yang terpenting... kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri, karena pada akhirnya, kita tidak bisa bergantung pada siapa pun."

Sejak saat itu, Kakek Peng mengajari Xin Yi banyak hal. Ia mengajarinya cara menggunakan berbagai jenis senjata—dari yang sederhana hingga yang lebih rumit—serta dasar-dasar seni bela diri untuk pertahanan diri.

Latihan itu keras. Tubuhnya sering terasa pegal linu, tangannya lecet dan memar karena memegang gagang senjata atau berlatih teknik tangkisan. Namun, hasilnya luar biasa.

Fisik Xin Yi menjadi jauh lebih kuat dan tangkas dibanding gadis seusianya. Itulah sebabnya ia bisa mengantar koran dan susu dengan kecepatan luar biasa, bahkan membawa beban berat sekalipun.

Ia juga menjadi ahli memancing dan berburu kecil-kecilan di hutan, sehingga ia tidak pernah kelaparan meski uangnya pas-pasan.

Dan sekarang, di hadapan keluarga kaya ini... semua kapalan, kulit kasar, dan bekas luka di tangannya itu menjadi saksi bisu. Bukti nyata betapa kerasnya jalan yang telah ia tempuh sendirian, jauh dari kemewahan yang kini tiba-tiba ditawarkan padanya.

Setelah selesai membersihkan luka dan mengoleskan salep penyembuh pada tangan Xin Yi, Dokter Song mengingatkan dengan serius.

"Jaga tangan Nona baik-baik. Harus diobati rutin dan dioleskan pelembab agar kulit tidak semakin pecah-pecah dan menyebabkan infeksi atau alergi nantinya."

"Terima kasih, Dokter," jawab Xin Yi pelan, mengangguk patuh.

Pelayan segera mengantar Dokter Song keluar setelah Kakek Xin mengucapkan terima kasih. Suasana di ruang tamu kembali tenang.

"Nak, mulai sekarang kamu harus lebih sayang sama diri sendiri," kata Nenek Xin lembut sambil membelai punggung tangan cucunya yang sudah dibalut perban tipis.

Xin Yi hanya menatap tangan mereka yang saling bersentuhan, tak banyak bicara. Ketenangannya yang luar biasa justru membuat suasana terasa canggung.

"Ngomong-ngomong..." suara bariton Xin Yuning memecah keheningan. "Bagaimana dengan sekolahnya? Apa sudah ada rencana?"

Pertanyaan itu membuat semua orang tersentak. Benar juga, mereka terlalu sibuk dengan urutan emosi dan pemeriksaan kesehatan, hingga lupa memikirkan masa depan pendidikan gadis ini.

Huo Feilin yang sedari tadi diam menyesap teh, kini angkat bicara dengan nada tenang namun berwibawa.

"Kenapa tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Xin Yiran saja? Mereka kan hanya beda dua tahun, pasti bisa saling menjaga."

Xin Yiran, putri semata wayang Xin Wei. Ide itu sangat masuk akal.

"Setuju!" Nenek Xin langsung mengangguk antusias. "Baguslah, jadi kalian bisa pergi dan pulang bersama."

Pembicaraan tentang sekolah baru saja usai, ketika Nenek Xin kembali bertanya dengan penuh perhatian, "Xin Yi pasti lapar kan? Makanan sudah disiapkan khusus untukmu."

Xin Yi perlahan menarik tangannya dari genggaman Nenek. Ia menatap semua orang di ruangan itu dengan wajah datar, lalu bertanya dengan nada yang sangat tenang namun membuat seluruh ruangan hening.

"Bolehkah saya mandi dulu? Karena Asisten Wang langsung membawa saya dari pesawat ke rumah sakit, lalu ke sini... saya belum sempat membersihkan diri sama sekali."

Semua orang tertegun.

Xin Fuyang sendiri sampai terkejut menatap putrinya. Baru saat itulah ia sadar... baju yang dikenakan Xin Yi hari ini persis sama dengan yang ia pakai kemarin saat pertama kali bertemu di rumah sakit. Kotoran debu perjalanan masih menempel, dan baunya pasti sudah tidak enak.

Huo Feilin perlahan berdiri dari sofa. Matanya menatap tajam ke arah suaminya, lalu senyum tipis terukir di bibirnya.

"Mungkin karena lupa soal lukanya bisa dimaafkan," ucapnya pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. "Tapi membiarkan anak ini turun dari pesawat, ke rumah sakit, dan sampai ke rumah tanpa istirahat atau berganti pakaian selama dua hari... Xin Fuyang, kau benar-benar ayah yang sangat 'perhatian' ya."

Kalimat itu penuh sindiran tajam yang tepat sasaran. Wajahnya memerah padam, malu dan tak bisa membantah.

Xin Yuning menghela napas panjang, muak melihat kecerobohan dan ketidakpekaan ayahnya sendiri. "Saya akan kembali bekerja." Ia pun beranjak pergi, meninggalkan ruangan itu.

Huo Feilin pun berniat menyusul. Sebelum berbalik, ia menatap lurus ke arah Xin Yi. Wajahnya cantik, namun tatapannya sedikit melembut.

"Selamat datang... di rumah," ucapnya lembut.

Ia menekankan kata 'rumah' dengan nada yang ambigu. Bagi orang lain itu ucapan selamat datang, tapi bagi Xin Yi yang peka, ia mengerti maksud tersiratnya: Ini adalah rumah keluarga Xin, belum tentu menjadi rumah yang nyaman untukmu.

Melihat betapa tidak bergunanya sikap ayahnya barusan, Xin Yi semakin yakin dengan penilaiannya.

Ayah ini... tidak berguna.

Di mata Xin Yi, Xin Fuyang bukanlah sosok pelindung atau pemimpin. Pria itu hanyalah beban yang merepotkan, seseorang yang sebaiknya diabaikan saja daripada diharapkan pertolongannya.

Xin Yi melangkah masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan untuknya. Ruangan itu sangat luas, jauh lebih besar daripada seluruh rumah kayu tempat ia tinggal bersama Nenek dulu.

Di bagian dalam, terdapat sekat pembatas berupa panel kayu ukir yang indah, menyembunyikan ruang belajar yang dilengkapi dengan meja kerja luas, komputer canggih, dan rak buku yang penuh.

Seluruh ruangan didominasi warna putih bersih dan merah muda lembut, dihiasi tirai sutra yang bergoyang ditiup angin. Semuanya terlihat begitu feminin, mewah, dan persis seperti kamar tidur seorang putri sejati.

Namun, Xin Yi hanya tersenyum kecut dalam hati.

Ini terlalu indah untukku. Aku ini hanyalah kucing liar yang terbiasa tidur di mana saja, bukan burung kenari yang pantas berada di sangkar emas seindah ini.

Pelayan yang menemaninya memperlihatkan setiap sudut ruangan. Ia bahkan ternganga saat melihat kamar mandi—ruangan untuk mandi ini saja ukurannya lebih luas daripada ruang tamu di rumah lamanya. Dilengkapi bathtub marmer besar dan shower dengan teknologi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Belum lagi sebuah ruangan kecil di sampingnya yang ternyata adalah lemari pakaian walk-in closet. Di sana sudah tergantung berbagai jenis baju, gaun, hingga pakaian dalam baru yang masih berlabel. Semuanya sudah disiapkan seolah mereka tahu ukuran tubuhnya dengan tepat.

"Nona, silakan beristirahat. Jika butuh sesuatu, silakan tekan tombol ini," kata pelayan itu sopan, membantu menyiapkan handuk dan sabun wangi sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu.

Klik.

Begitu suara pintu tertutup terdengar, suasana menjadi hening total. Xin Yi menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang ia tahan sejak tadi.

Ia segera berjalan masuk ke kamar mandi. Awalnya ia sedikit bingung dan canggung memutar berbagai keran dan tombol, namun perlahan ia mulai terbiasa. Air hangat membasahi tubuhnya, membersihkan debu perjalanan, keringat, dan rasa lelah yang menempel selama dua hari terakhir.

Setelah selesai, ia keluar mengenakan jubah mandi yang lembut. Rambut panjangnya yang bergelombang alami terlihat basah kuyup dan berat. Dulu, mengeringkan rambut sepanjang ini adalah pekerjaan berat yang memakan waktu berjam-jam dan membuat pundaknya pegal.

Namun sekarang, dengan benda aneh bernama hairdryer yang ia temukan, angin panas berhembus kencang. Hanya dalam waktu singkat, rambutnya yang tebal itu menjadi kering, lembut, dan berkilau alami.

Xin Yi mematikan alat itu dan meletakkannya kembali di tempatnya dengan hati-hati.

Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke arah cermin besar yang tergantung di meja rias.

Di sana, terbayang sosok seorang gadis remaja dengan rambut panjang yang kini terlihat rapi dan berkilau. Kulitnya memang tidak seputih gadis-gadis kota, namun setelah bersih dan segar, terlihat sehat dan bercahaya. Matanya yang bulat dan gelap menatap lurus ke balik kaca.

Itu adalah dirinya. Lin Xin Yi.

Namun, berdiri di tempat ini, di dalam kamar mewah ini, dengan pakaian dan fasilitas yang mewah... ia merasa seolah sedang menatap orang asing.

"Mulai hari ini..." bisiknya pelan pada bayangan di cermin, suaranya terdengar datar namun tegas. "Kamu adalah Xin, bukan Lin lagi."

Dunia barunya telah dimulai. Dan ia harus beradaptasi, entah ia suka atau tidak.

 

1
Asrid 😊
yes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!