NovelToon NovelToon
Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Nikah Paksa Gus Soft Boy Dan Cewek Bengkel

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Inna Kurnia

Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.

ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.

"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."

Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.

Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?

Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 Mertua Baik Itu Nyata

Nandini, Sarah dan Husna sama-sama menoleh ke sumber suara. “Umi!” seru Sarah. Nandini menunduk. Husna melipat bibir.

“Ini ada apa, tumben suara Ning Sarah tinggi. Ada apa sama mantu tertua Umi, yang paling bijak?” Lastri menghampiri Sarah dan mengelus kepala istri Abyasa itu.

“Itu Umi... Sarah... lagi diskusi soal tausiyah... tapi banyak guyon. Boleh atau ndak. Jadi debat jatuhnya. Maaf Sarah kebawa emosi pas debat. Mungkin efek hormon karena mau datang bulan.”

Husna mengulum senyum. Nandini mencebikkan bibir. Ternyata ning juga manusia ya, suka ngapusi, bohong. Mana bohongnya sama mertua, ckckck...  Diskusi katanya?

“Kenapa tiba-tiba debat?” Lastri duduk di bangku meja kerja Mansur. Lastri merapikan buku yang belum sempat dirapikan Sarah. Terlalu sibuk mengajak Nandini adu urat.

Nandini menatap datar Sarah, menunggu aksi silat lidah kakak iparnya itu. Sarah tampak mengerutkan dahinya. Berbohong sekali memang perlu memikirkan kebohongan selanjutnya untuk menutupi dusta itu.

“Sarah berpendapat kalau terlalu banyak guyon di acara seperti di Tabligh Akbar kemarin itu kurang elok. Kurang menjaga marwah.” Sarah tak berbohong lagi. Tak mau mengambil risiko. Nandini menipiskan bibirnya.

Lastri mengangguk. “Terus?” cecar sang ibu mertua.

“Mbak Dini... ndak setuju dibilang kurang menjaga marwah. Menurut Umi gimana?” Sarah akhirnya memilih melempar bola panas.

Lastri tersenyum. Ia menumpuk buku yang telah ia rapikan. “Guyon dalam dakwah? Yo boleh, asal takarannya pas. Kadang, manusia itu ndak suka dinasehati, jadi kita harus bisa membungkusnya dengan cara yang ringan, bisa diterima, tanpa sadar.

Tapi memang jangan berlebihan, jangan sampai yang dikejar jamaah itu guyonnya saja, lucunya saja, sampai tidak ingat materinya. Jadi harus tau becandaannya itu di bagian mana, kapan keluarnya. 

Dan itu semua perlu dilatih. Semakin dilatih feeling kapan dan di mana guyon perlu dimasukkan akan semakin keasah.”

“Nah, itu maksud Sarah, guyon yang berbobot gitu ya, Mi. Masa dakwah gayanya kayak pelawak. Apalagi kita kan perempuan, hampir semua diri kita aurat. Harus dijaga.” Sarah tersenyum melirik ke arah Nandini

Nandini mengerutkan dahi. Kan aku kemarin cuma perkenalan diri bukan dakwah. Kenapa Ning Polisi nyalahin aku terus? 

“Betul, Ning Sarah. Terus debat tadi sama Mbak Dini? Maksudnya bagaimana?” Lastri menatap semua menantunya bergantian.

Semua terdiam. Sarah melirik ke arah Nandini, mengharapkan istri Santaka itu bersuara. Tadi saja gayanya tukang bantah. Di depan Umi, bungkam. 

“Hhmm, itu Mi. Kata Ning Sarah, cara perkenalan Dini kemarin ndak elok, kurang menjaga marwah. Memangnya begitu Umi?” Nandini menjawab sambil menunduk. Sungkan pada Lastri.

Nandini kemudian menahan napas, mempersiapkan diri kembali dipojokkan. Nasib fakir ilmu, pendatang baru jalur instan terpaksa. Sepertinya mustahil dibela.

“Kok, Ning Sarah bisa ngomong begitu?” Lastri tersenyum.

Sarah merapatkan bibir. Nandini mengangkat wajah dan menatap kakak ipar tertuanya. Husna menipiskan bibir sambil menggaruk sebelah alisnya.

“Ya, karna terlalu banyak guyon Umi. Ndak kerasa dakwahnya.” Sarah tersenyum kaku. Nandini kembali menunduk.

“Siapa yang bilang kemarin Mbak Dini dakwah dalam arti tausiyah kayak yang biasa Ning Sarah atau Ning Husna lakuin? 

Mbak Dini itu kemarin kan cuma sambutan, perkenalan diri. Dan porsinya kemarin, untuk orang yang ndak pernah ngomong di depan orang banyak, pas sekali. Lucu dan berkesan.”

Nandini mengangkat kepalanya. Ia menatap tak percaya ke arah Lastri. Ibu mertua membelanya. Bibirnya berkedut, tak sanggup menahan senyum. Senyum manis untuk Lastri.

“Terima kasih Umi.” Lastri membalas senyuman sang menantu.

Nandini menoleh ke arah Sarah. Seringai puas ia lemparkan kepada kakak iparnya. Sarah langsung mendelik tipis. 

“Umi paham maksud Ning Sarah. Umi sangat bangga sama Ning Sarah, benar-benar jadi pendamping yang kokoh buat Gus Yasa, menjaga marwah Al Fatih. Meneruskan apa yang sudah dari dulu dijaga.”

Giliran Sarah mengeluarkan seringai puas kepada Nandini. Istri Santaka itu mencebik tipis. Husna menarik napas.

“Tapi, Umi suka sama pembawaan Mbak Dini. Umat kita itu sekarang terutama generasi mudanya, tipenya lebih mentingin diri mereka sendiri. Mereka lebih mau denger orang yang banyak kesamaan dengan diri mereka. 

Bukan cuma orang yang paham diri mereka, tapi orang yang ada di posisi mereka. Pembawaan Mbak Dini bagus untuk dakwah jalur sharing. Berbagi cerita.

Kalau Mbak Dini mau semakin banyak belajar, Umi yakin Mbak Dini bisa jadi pendakwah handal.”

Wajah Sarah membatu mendengar ucapan Lastri. Pelipisnya mengetat.

Nandini tersenyum penuh haru. Ia tak menyangka penilaian Lastri begitu positif pada dirinya yang tak berilmu ini. 

Ucapan mertuanya itu konsisten dengan Husna. Nandini ingin menghambur memeluk Lastri. Bagian hatinya yang kosong karena kekurangan sosok ibu, meronta-ronta ingin dipenuhi.

“Terima kasih Umi. Terima kasih untuk dukungannya sama Dini. Mi... boleh Dini peluk Umi?” Nandini memainkan ujung kerudungnya.

“Yo boleh tho, sayang... Sini peluk Umi.” Lastri mengulurkan kedua lengannya. Dini langsung menyambut dengan memeluk erat. Ternyata mertua baik itu nyata. Senyata adanya ipar tak baik.

Husna tersenyum melihat pemandangan manis di depannya. Sarah memalingkan wajahnya. Tak suka.

*

*

Syifa memandangi toko di seberang jalan. Sweet Sanctuary biasa disebut SS, toko kue Santaka.

Santaka anak dari Lastri, sahabat ibunda Syifa. Pertama kali melihat pria itu, ketika Syifa menemani ibunya sowan atau berkunjung ke Al Fatih. 

Tak ada tatapan, tak ada sentuhan. Seharusnya Syifa menundukkan pandangannya. Ia langsung terpesona pada wajah teduh Santaka, ketika melihat sang gus lewat di pelataran Al Fatih. 

Ternyata, sang gus tak hanya berparas teduh tapi juga bersikap dingin. Sedingin freezer tempatnya menyimpan bahan kue.

Lastri menyatakan keinginannya untuk mencarikan jodoh bagi putranya yang keasyikan mengadon roti. Umurnya mulai matang, 28 tahun. Sudah mulai pantas menjadi papa muda, harusnya.

Rahmah, ibunda Syifa, mengatakan bagaimana jika mereka menjodohkan kedua anak bungsu mereka. Syifa bahagia. Tanpa harus bercerita, sang ibu paham isi hatinya.

Sayangnya, sang gus chef pastry itu tak tertarik dijodohkan dengan siapa pun. Katanya mau fokus mengembangkan usaha sendiri setelah malang melintang bekerja di restoran hotel.

Jangankan khitbah atau pinangan, ta’aruf atau perkenalan saja tak terjadi. Nelangsa sekali hati Syifa.

Untuk mengobati kecewanya, Syifa sampai meminta tinggal di Al Fatih. Alasannya, ia ingin menimba ilmu dari Lastri yang terkenal sebagai Nyai yang cerdas dan bijaksana. 

Syifa akan berusaha membuat Santaka mau melihatnya dan akhirnya bersedia ta’aruf. Lastri bahkan mengatakan akan mencoba lagi proses perjodohan di antara mereka.

Setelah seminggu, bayangkan baru tujuh hari, Syifa tinggal di Al Fatih, tiba-tiba ia dikabari kalau Santaka mau menikah. Lelaki itu sudah punya pilihan sendiri. Kalangan awam, bukan ning seperti dirinya. Apa-apaan itu?

Syifa merasakan kekalahan bertubi. Kalah kesempatan dan kalah pesona. Apa yang Santaka lihat dari gadis pilihannya? Bukankah memilih pasangan yang terbaik itu dari agamanya, imannya? Kenapa Santaka memilih seorang gadis bengkel yang menjadi pelanggan setia SS?

Terlalu banyak pertanyaan di otak Syifa. Intinya inilah suratan takdir yang harus ia terima. Tapi, bolehkah jika ia masih berharap Santaka mau mengenalnya lebih jauh?

Syifa menghela napas. Ia menyeberangi jalan di area Blulukan itu. Santaka sang pemilik toko, sedang melayani pembeli. Syifa melihatnya dari pintu kaca.

Wajah Santaka terlihat ramah. Ramah yang pas, tak berlebihan. Syifa memutuskan masuk ke dalam toko.

“Assalammu’alaikum Gus Taka.” Suara lembut Syifa mengalun.

Santaka terdiam. Ia menjawab salam dari Syifa. “Wa’alaikumsalam. Selamat datang.”

Syifa menunduk. Bahkan menyebut namanya pun, tak dilakukan Santaka. Sebegitu alerginya sang gus terhadap dirinya.

“Maaf Ning, mau pesan apa? Di belakang Ning ada yang mau beli juga.” Santaka berbicara sambil menatap mesin kasir.

Syifa tersenyum. “Saya mau makan spageti sama lychee tea.”

Santaka memasukkan pesanan Syifa ke dalam mesin kasir dan menyebutkan nominal harga makanan dan minuman itu. Syifa langsung membayar.

“Gus Taka, apa bersedia kita ngobrol sebentar? Di Ndalem kita ndak pernah bisa ngobrol.” Syifa berbicara sambil menahan napas.

Santaka menghentikan aktivitas mengambil uang kembalian di mesin kasir. Matanya melirik ke arah Syifa.

1
Aisyah Virendra
Insiden yg akan membawa masalah.. tapi di SS tentu ada CCTV yg bisa pantau kejadian sebenarnya.. smg Taka dan Ndalem bijak dlm menghadapi sedikit ombak yg diluncurkan Gus bengek 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: cakep ❤️❤️
total 1 replies
Nanik Arifin
jangan jatuh hati ma Syifa, Boy. sama Fiona aj. Syifa muna. Ning tapi suka munafik, bungkusnya doang yg baik. 11, 12, ma Gus Ahsan. cocok deh.
Inna Kurnia: kita jodohin aja apa ya, Syifa ama Ahsan 🤔🤔😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Biasanya klo orang ngomongnya ceplas ceplos itu emang lebih baik daripada yg terlihat kalem diem tapi menghanyutkan...
mestinya Boy sebagai lelaki ngerti gimana cara pandang Ahsan ke Dini yg ga wajar, dan lagii...Fiona sm Boy apa saling kenal 🤔
Inna Kurnia: kita liat ya Kaaaak 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
ya Ampunnn jangan canda yg aneh² ya Boy, Ucapan sama dg Doa.. hati² dalam berucap gemblung 🙄🙄🙄
Inna Kurnia: hahaha
total 7 replies
Aisyah Virendra
🙄🙄🙄 bahasane dikitik kitik bikin geliii membayangkannn 🤣🤣🤣🤣
Aisyah Virendra: kakak mau dikitik 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ketik kata dikitik aja aku terkikikk geliii loh inii ngakakkk 🤣
total 2 replies
Nanik Arifin
kau tunggu jandanya Dini ya Boy....🤭🤭
Inna Kurnia: ada aja yaaa kelakuan orang ya, Kak 🤭
total 1 replies
Jaojatun Ma'rup
Maasyaallaah.. Gus Taka Super Duper Sabaar... semangaaat Gus💪💪💪
Inna Kurnia: iya, Kak Jaojatun. kan sabar nama tengah Gus Taka 🤭🤭
total 1 replies
Aisyah Virendra
Taka dan Dini memang bener² harus waspada yaa sama sepasang sejoli resek itu (Ahsan n Syifa), mereka merencanakan sesuatu yg sedikit ehem tapiii smg ada salah 1 dari Ning Sarah atau Ning Husna juga menyadari kejanggalan dan berpihak pada Taka dan Dini 🫠
Aisyah Virendra: hhuuuh
total 2 replies
Nadia Zalfa
syafakillah kak
Inna Kurnia: aaamiin ya Allah, jazaakillahu khoyr Kak Nadia ❤️❤️
total 1 replies
Aisyah Virendra
Syafakillah waa fii amanillah kakak sayang.. semoga dunia nyata kita baik² aja dan ga ada problem apapun, sehat² selalu.. kutunggu up nyaa bolak balik, tapi yasudahlah.. kesehatan itu lebih utama, segera membaik kakak 🤝😇🥰
Aisyah Virendra: Aamiin Allahumma Aamiin 🤲🥰
total 3 replies
Aisyah Virendra
Diiiiihhhh...ngapain lagi si Ahsan beluuuttt datang kekamar orang, yg sakit juga Nandini bulan Santaka, anehhh bgt.. Ustadz gajeee 😂🤣 lelepinn neeeehhh 🫳
Inna Kurnia: 🤭😂😂🤭😂
total 5 replies
Aisyah Virendra
marah.. tertatih, pelaku eh merasa korban 😂🤣 Nandini gemblung 🤣🤣🤣 mlm itu Santaka menang berkali lipat banyak dan dini ya ampunnn pasti malu banget setelahnya 😂😂 ky nya ntar jadi kembar 4 ehh 🤣🤣🤣
Inna Kurnia: 🤣🤣🤣🤣 subuhhhh
total 5 replies
Aisyah Virendra
gaskuy lagiiii 🤣🤣🤣🤣
duuuuhhh cenut² pala barbiee 🫠
kenapa pas unboxing disaat bginiii 😂🤣🤣🤣
Inna Kurnia: hahaha, saa-bar 🤭🤭
total 3 replies
Aisyah Virendra
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kocak parahhhh kamu dinoooooooo 🤣🤣 menang banyak nih Santakaa malam ini dan besok dini teparrrrr 😂🤣 aiiiihhh membayangkan yg bergulat ehemm 😂🤣😂🤣
Inna Kurnia: hissss 😂😂😂😂
total 4 replies
Aisyah Virendra
Nandini salah ambil jamu, jamunya Taka diminumnya 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 mengandung perangsang herbal ini mah, duh bisa² ntar langsung hamil baby twins 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Inna Kurnia: gasss 😂😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
ko sur ? harusnya mud kan yaa 🤔🤔🤔
Inna Kurnia: typo, wkwkwk
total 1 replies
Aisyah Virendra
minta traktir banyak² yaa Din, jangan lupaaa alu dikasih jugaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Nanik Arifin
Dini salah minum jamu ?
Gus Taka yg bakalan di KO Dini ...🤭🤭
Inna Kurnia: pantengin bab besok ya Kak Naniiik 😂😂
total 1 replies
Aisyah Virendra
Gus Agam... ini sepeeti sosok pria yg kalau mencintai bisa sedalam dan sesetia ituu.. tapi skrg kondisinya berbeda, jadi lelaki yg tak punya perinsip hidup dalam berkomitmen. sudah punya pasangan masing² masih juga tak tahu diri ko malah tahu bakso 😂🤣🤣
Inna Kurnia: ❤️❤️🙏🏻🙏🏻
total 13 replies
Aisyah Virendra
huhhhh akhirnya nongol juga..
Inna Kurnia: sip, insyaa Allah malem ❤️❤️😘
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!