Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayi….!!?
Dua orang laki laki beda usia dan hampir memiliki kesamaan wajah berjalan menyusuri koridor rumah sakit, langkah mereka terarah menuju di mana lantai kamar aura berada. Alex yang membawa paper bag di tangan kanannya berjalan bersamaan dengan Steve, mereka sempat menjadi perhatian orang yang berada di rumah sakit tersebut.
Tekstur wajah dan tinggi badan yang hampir sama, serta tubuh mereka yang terlihat atletis membuat para kaum adam dan hawa sempat melirik menatap alex dan juga Steve. Alex tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, Steve yang ada di samping alex terheran melihat reaksi aneh dari alex,
“Apa yang papa tertawakan…?” Tanya Steve penasaran.
“Kamu merasa nggak…? Pandangan semua orang tertuju ke arah kita saat masuk rumah sakit tadi.” Ucap alex menatap sekilas ke arah Steve.
“Aku tidak memperhatikannya, jika pandangan mereka melihat kita, itu hak mereka.” Jawab Steve terdengar tak peduli, dia sudah terbiasa dengan pandangan orang orang di sekitarnya.
“Hah… kamu Steve, dari dulu terlalu cuek dan tidak mau tahu.” Keluh alex yang mempercepat langkah kakinya saat mereka sudah hampir sampai di kamar aura.
Saat alex dan Steve hampir sampai di depan kamar aura, pandangan mata Steve sekilas melihat seorang wanita yang berjalan menuju ke kamar tak jauh dari kamar inap aura. Steve menajamkan penglihatannya, dia sangat kenal dengan wanita yang dia lihat sekarang.
“Liona…?” Lirih Steve masih menatap wanita yang akan membuka pintu kamar inapnya.
“Ada apa son…?” Tanya alex penasaran dengan reaksi Steve.
“Pa, papa masuk dulu menemui mama. Aku akan menyusul, ada seseorang yang harus aku temui.” Steve segera berjalan melewati alex yang menatapnya bingung.
Steve berjalan mendekati kamar yang di masuki wanita tadi, jantungnya seakan berdetak dengan cepat. Perlahan tangan Steve terulur, dia mengetuk pelan pintu kamar yang tertutup rapat di depannya.
“Please come in…” ucap wanita yang sangat Steve kenal dari suaranya.
Steve perlahan menekan handel pintu, pandangan yang pertama kali Steve lihat meja dengan televisi led dengan ukuran empat puluh lima inch yang terlihat masih menyala. Di samping meja tersebut ada sofa yang saling berhadapan, Steve mengedarkan pandangan matanya melihat sekeliling.
Terlihat seorang wanita yang sedang membenarkan rambut panjangnya, Steve terdiam, dia tahu siapa wanita yang kini ada di depannya.
“Liona…” lirih Steve memanggil nama wanita di depannya.
Mendengar namanya di panggil, Liona segera mengangkat kepalanya menatap Steve yang juga menatapnya.
“Steve…?” Gumam Liona terlihat salah tingkah.
“Kenapa kamu Liona…? Apa yang terjadi sama kamu…?” Tanya Steve sambil mendekati Liona.
“Kenapa kami di sini Steve…? Bagaimana kamu tahu aku ada di sini…?” Suara Liona terdengar bergetar, dia bingung dan salah tingkah melihat keberadaan Steve yang kini di depannya.
“Aku tanya…? Apa yang terjadi Liona, kamu sakit…?” Steve tidak mengindahkan pertanyaan Liona, dia terfokus ingin mendengar jawaban Liona.
“Aku… aku…”
Belum sempat Liona menjawab, terdengar ketukan di pintu. Membuat Steve dan Liona manatap siapa yang akan masuk kedalam. Handel pintu yang bergerak serta pintu yang terbuka membuat Liona panik, dia yang akan segera turun membuat gerakkannya terhenti merasakan tangannya yang terasa ngilu akan jarum infus yang tertancap di tangan kirinya.
“Aduh…” ucap Liona merasakan ngilu di tangannya.
“Apa yang kamu lakukan Liona…!!?” Steve tampak panik melihat kecerobohan liona.
Suara roda berputar membuat atensi Liona teralihkan, nafasnya terasa tercekat, mulutnya selama terkunci rapat, dia hanya bisa pasrah jika memang Steve harus mengetahui kebenarannya.
Steve menatap siapa yang akan masuk kedalam, dengan jelas Steve melihat box bayi yang di dorong oleh perawat masuk kedalam. Liona menghela nafasnya, dia sudah tidak bisa menyembunyikan akan apa yang dia alami di depan Steve.
“Bayi…!!” Lirih Steve menatap bayi yang terlihat masih merah di dalam box bayi.
“Dia anak ku Steve.” Liona akhirnya harus mengatakan kebenarannya yang selama ini dia tutup rapat.
“you just gave birth, liona…?” Tanya Steve menatap Liona.
Angukan dari Liona menjawab pertanyaan Steve, perawat yang mengantarkan bayi Liona memilih segera pergi sesudah membantu menyerahkan bayi Liona untuk segera di susui.
“Oh my god… apa yang sebenarnya terjadi, You are married to Patrick…?” Tanya Steve dengan nada sedikit meninggi.
Gelengan pelan Liona menjawab pertanyaan yang Steve ajukan, Steve yang mendapat jawaban dari wanita yang pernah mengisi hati dan pikirannya dulu mengacak rambutnya kasar.
“what actually happened liona…?” Steve merendahkan suaranya, suara Steve terdengar berat dan menekan.
Liona menatap wajah tampan Steve yang menurutnya terlihat semakin tampan dan dewasa, tanpa sadar Liona menatap Steve dengan tatapan mata penuh kerinduan. Steve yang merasakan tatapan Liona yang terlihat tidak biasa segera berdehem untuk membuyarkan lamunan Liona.
“Ehem…”
Liona segera mengalihkan pandangan matanya menatap bayi yang masih tampak merah di pelukannya, dengan perlahan Liona membuak kancing baju nya satu persatu untuk menyusui bayi yang kini merengek meminta asi Liona.
“”Aku akan keluar…” Steve yang merasa canggung melihat Liona memilih akan ke kamar aura, tapi langkahnya terhenti mendengar ucapan Liona.
“Temani aku Steve, aku akan menceritakan semuanya.” Liona meringis kesakitan merasakan isapan dari mulut mungil bayi kecilnya.
“Ehem,.. baiklah, aku akan duduk di sana.” Tunjuk Steve ke arah sofa tak jauh dari tempat Liona berada.
Steve memalingkan pandagan matanya, dia memilih menatap televisi yang masih terlihat menyala. Liona yang melihat Steve tersenyum samar, dia merasa heran dengan tingkah Steve.
“Dia sudah berubah, maaf Steve. Dulu aku sudah pernah menyakitimu…” batin Liona merasa bersalah dengan Steve.
“Ceritakan Liona, apa yang sebenarnya terjadi. Dimana patric sekarang…? Kenapa dia tidak menemanimu…?” Tanya Steve tampan basi basi, dia sekan tidka sabar menunggu penjelasan Liona.
“Patric telah meninggal, dia mengalami kecelakaan sebelum kami menikah.” Lirih Liona yang masih dapat Steve dengar.
Steve menoleh menatap Liona yang terlihat murung, rasa bersalah tiba tiba Steve rasakan. Dia yang selama ini telah mengikhlaskan semuanya dan sakit hatinya telah terobati merasakan luka itu kembali terbuka.
“Patric meninggal, kenapa aku tidak tahu….? Kenapa kamu tidak memberitahu aku tentang kematian patric…?” Steve mengepalkan tangannya erat, dia kesal dengan dirinya sendiri.
“Aku berusaha mencari kontakmu, dan aku juga pernah menghubungimu lewat aplikasi yang sering kamu gunakan. Tapi semua nihil, kamu tidak pernah membuka aplikasi yang dulu sering kamu pakai.” Ucap Liona.
“Aku tidak pernah membuka aplikasi itu, sejak aku memutuskan pergi dari negara ini. Jika aku membuka aplikasi itu, aku selalu ingat akan pengkhianatan yang kalian lakukan.” Jawab Steve jujur.
“Maaf Steve….” Lirih Liona terdengar bersalah.
Steve menatap Liona yang sepertinya sedang menangis sambil membelai lembut pipi bayi kecilnya, melihat Liona seperti itu kebencian Steve yang sempat dia rasakan berubah menghilang. Kini perasaan steev berubah mengasihani kondisi Liona dan bayi yang baru saja dia lahirkan.
“Apa keluarga kamu tahu kamu melahirkan di sini…?” Tanya Steve memastikan, karena dia tidak melihat adanya keluarga Liona di dalam ruangan inap Liona.
“Keluarga ku tidak tahu jika aku melahirkan, aku sengaja menyembunyikan kehamilanku. Hubungan ku dengan patric tidak di setujui oleh kedua orang tuaku, jadi buat apa aku mengatakan jika aku tengah hamil anak patric ke kedua orang tuaku.”
Steve yang sudah mengenal bagaimana tabiat dari orang tua Liona bisa memahami kondisi Liona saat ini, sifat keras kepala ayah dan ibu Liona membuat Steve memahami apa yang Liona lakukan sekarang.
“Steve….” Panggil Liona menatap Steve yang juga menatapnya.
“Hmmm..” Jawab Steve singkat.
“Bantu aku merawat bayi ini….” Pinta Liona terlihat memohon menatap Steve yang membuka kedua matanya sempurna, terkejut akan permintaan dari Liona.