NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(ARC 1) Chapter 21: Alfheim

Langit mulai gelap setelah Grachius melangkah beberapa kilometer dari ngarai.

Di hadapannya—

hamparan hutan luas terbentang.

Hutan Alfheim.

Pepohonan nya tinggi.

Daunnya lebat.

Cahaya matahari yang tersisa hanya menembus sedikit di antara ranting-ranting raksasa yang saling menutupi langit.

Udara terasa hidup.

Namun juga…

mengawasi.

Grachius bisa merasakan banyak tatapan dari balik pepohonan.

Hewan.

Makhluk kecil.

Mungkin sesuatu yang lain.

Namun ia tetap berjalan tenang.

Tidak lama kemudian, ia berhenti di area tanah terbuka kecil dekat akar pohon besar.

Kayu dikumpulkan.

Api dinyalakan.

Daging mulai dipanggang di atas batu datar.

Aroma daging perlahan menyebar ke udara malam Alfheim.

Dan tidak jauh dari sana—

semak bergerak pelan.

Grachius membalik daging tanpa melihat ke belakang.

“Keluarlah.”

"Aku tahu kau disana."

Semak langsung diam.

Beberapa detik kemudian—

seekor rubah coklat keluar perlahan.

Lalu berubah menjadi Daji.

Ekornya bergerak kesal.

“Kau tahu? Sejak kapan?"”

“Sejak Skullcrack.”

Daji langsung mengernyit.

“Lalu kenapa kau diam saja?!”

Grachius menatap api.

“Buang-buang waktu.”

“Itu alasan yang menyebalkan!”

“Hm.”

Daji mendecak keras lalu duduk di dekat api.

“Aku lapar.”

Grachius meliriknya singkat.

“Keluarkan daging milikmu. Yang aku sisakan di Skullcrack.”

Daji membuka mulut.

Lalu diam.

Beberapa detik.

“…aku lupa membawanya.”

Hening.

Lalu—

Grachius tertawa kecil.

Sangat kecil.

Namun cukup membuat Daji membeku.

“Kau baru saja tertawa?”

Grachius melempar potongan daging padanya.

“Siluman rubah ternyata bodoh.”

“Aku tidak bodoh!”

“Kau mengikuti orang tanpa membawa makanan.”

“Itu… itu adalah strategi yang buruk.”

“Itu bodoh.” tekan Grachius.

Daji menunjuknya kesal.

“Kau mulai menyebalkan.”

Grachius hanya mulai makan.

Dan anehnya—

suasana terasa jauh lebih ringan dibanding Skullcrack.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Suara langkah muncul dari dua arah berbeda.

Daun bergerak.

Aura siaga langsung memenuhi udara.

Daji mendecak pelan.

“…elf.”

Dari sisi utara hutan, beberapa sosok muncul dengan pakaian putih kehijauan dan telinga panjang.

Light Elf.

Sementara dari sisi selatan—

elf berpakaian hitam ungu keluar dari bayangan pohon.

Dark Elf.

Tatapan kedua kelompok langsung saling bertabrakan.

Dan suasana berubah tegang seketika.

“Berani sekali kalian.”

Seorang wanita Light Elf berambut perak menyipitkan mata.

“Masuk ke wilayah kami.”

Seorang wanita Dark Elf berambut hitam panjang langsung mendecak.

"Wilayah kalian? Ini wilayah kami!"

"Sudah sangat jelas ini wilayah kami."

“Kalian selalu mengatakan itu setiap kali tersesat.”

“Setidaknya kami tahu cara mandi.”

“Oh? Dan tetap bau arogan?”

Daji berbisik pelan ke Grachius—

“Mereka begini hampir setiap kali bertemu.”

Grachius tetap makan.

Light Elf melangkah maju.

“Kalian Dark Elf memasuki area utara Alfheim lagi.”

Dark Elf langsung membalas—

“Karena kalian Light Elf terus memperluas wilayah seenaknya.”

“Ini wilayah penjagaan kami!”

“Penjagaan? Kalian bahkan takut gelap.”

“Setidaknya kami tidak tinggal di lubang bawah tanah seperti tikus.”

“Kau mau mati?”

Aura mulai naik.

Beberapa tangan bergerak mendekati senjata.

Daji menghela napas.

“Yah… sebentar lagi dimulai.”

Grachius menggigit daging dengan tenang.

“Kalian selalu begini?”

“Ya.”

“Melelahkan.”

“AKU DENGAR ITU.”

Daji langsung menunjuk Light Elf.

“Lihat? Sensitif sekali.”

“Kau siluman rubah jangan ikut bicara!”

“Setidaknya aku lebih cantik.”

“Kau bahkan punya telinga hewan!”

“Kalian iri.”

Ketegangan meningkat semakin tinggi.

Beberapa elf mulai benar-benar marah.

Dan tepat saat situasi hampir meledak—

Hooorp.

Grachius bersendawa.

Semua langsung diam.

Tatapan puluhan elf beralih padanya dengan ekspresi kesal luar biasa.

Grachius menatap mereka datar.

“Aku hanya mau makan dengan tenang.”

"Kalian sangat mengganggu."

Hening.

“…apa?”

“Kalian sudah makan?”

Tidak ada yang menjawab.

Grachius mengangkat daging panggang.

“Mau?”

Wajah beberapa elf langsung berubah.

“Kau menghina kami?”

“Kami tidak makan sembarangan!”

“Kami tidak menerima makanan manusia!”

Namun—

aroma daging terus memenuhi udara.

Dan beberapa perut mulai berbunyi pelan.

Daji memperhatikan Grachius.

Lalu perlahan menyadari sesuatu.

Dia sengaja.

Grachius tidak mencoba menghentikan pertengkaran mereka dengan kata-kata.

Ia menurunkan emosi mereka lewat sesuatu yang lebih sederhana.

Makanan.

Salah satu Dark Elf diam-diam menelan ludah.

Light Elf di sebelahnya langsung melirik tajam.

“Haha. Kau tergoda.”

“Aku tidak tergoda.”

Perutnya berbunyi lagi.

Daji menutup mulut menahan tawa.

Grachius mulai memotong daging lain.

“Kalau mau bertengkar, tunggu setelah makan.”

“Aku tidak akan makan bersama mereka.”

“Aku juga tidak mau duduk dekat Light Elf.”

“Bagus.”

Grachius menunjuk sisi kiri dan kanan api.

“Duduklah berjauhan.”

Hening.

Lalu—

pelan-pelan—

mereka benar-benar duduk.

Masih saling melotot.

Masih penuh gengsi.

Namun duduk.

Daji hampir tidak percaya melihatnya.

Beberapa menit kemudian—

suara makan mulai terdengar.

Dan suasana aneh mulai terbentuk.

“Kalian terlalu banyak garam.”

“Itu karena kalian Dark Elf tidak punya lidah.”

“Setidaknya kami tidak makan daun mentah.”

“Itu salad.”

“Itu rumput.”

“KAU MAU MATI?”

Grachius makan tenang di tengah semua itu.

Daji memperhatikannya cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil sendiri.

“Kau aneh sekali.”

“Mm.”

Wanita Light Elf akhirnya menatap Grachius.

“Aku Sylvia.”

Ia menunjuk dirinya sendiri singkat.

“Pemimpin patroli Light Elf.”

Wanita Dark Elf mendecak.

“Karrie.”

Nada suaranya malas.

“Pemimpin patroli Dark Elf.”

Grachius mengangguk kecil.

“Grachius.”

Daji langsung menyeringai.

“Dan aku Daji.”

Ia mengangkat dagu bangga.

“Rubah Penggoda.”

Beberapa elf langsung mengernyit.

“Kau siluman rubah?”

“Ya.”

“Kalian biasanya menyebalkan.”

Daji menunjuk dirinya sendiri bangga.

“Benar.”

Karrie memperhatikan Grachius beberapa saat.

“Kau manusia?”

Daji langsung tertawa kecil.

“Yah… itu pertanyaan sulit.”

Grachius tetap makan.

Sylvia sedikit menyipitkan mata.

“Elf biasanya membenci pendatang.”

Daji menambahkan—

“Terutama manusia.”

“Dan terutama Dark Elf.”

“Diam kau.”

“Tidak mau.”

Api unggun terus menyala di tengah hutan Alfheim.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Heimdall—

Grachius duduk bersama banyak orang tanpa pertumpahan darah.

...—...

Sementara itu—

di jalur keluar Skullcrack.

Empat sosok berjubah putih bergerak di antara mayat bandit.

Ksatria Templar.

Armor putih perak mereka dipenuhi simbol matahari dan salib emas kecil.

Tatapan mereka dingin.

Tenang.

Berbahaya.

Salah satu berlutut memeriksa luka di leher mayat.

“Bersih.”

“Cepat.”

“Tidak ada perlawanan berarti.”

Pria lain memperhatikan jejak kaki di tanah.

“Pelaku yang sama.”

“Penghancur patung Sagitta?”

“Dan yang menjatuhkan penjaga gerbang Heimdall.”

Hening sejenak.

Pemimpin mereka berdiri perlahan.

“Sekarang pembantai bandit.”

Tatapannya mengarah ke timur.

“Hutan Alfheim.”

Salah satu ksatria bertanya—

“Perintah?”

“Temukan dia.”

Nada suaranya dingin.

“Jika perlu…”

Tangannya menyentuh gagang pedang.

“…bunuh.”

Mereka mulai bergerak memasuki Alfheim tanpa suara.

Dan hutan perlahan terasa lebih dingin.

...—...

Kembali ke api unggun.

Makanan hampir habis.

Namun suasana kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.

Daji menyandarkan dagu di lututnya sambil memperhatikan Grachius.

Lalu akhirnya bertanya—

“Siapa kau sebenarnya?”

Hening.

Api berderak kecil.

Daji melanjutkan—

“Kau terlalu kuat.”

“Kau tidak seperti manusia.”

“Kau bahkan membuat monster takut.”

Beberapa elf mulai ikut memperhatikan.

Karrie menyipitkan mata.

“Dan kau berjalan sendirian menuju timur.”

Sylvia ikut bicara pelan.

“Pasti bukan perjalanan biasa.”

Grachius diam cukup lama.

Tatapannya tertuju pada api.

Lalu—

“Aku akan membunuh para dewa.”

Hening.

Total.

Bahkan angin terasa berhenti sesaat.

Tidak ada yang tertawa.

Tidak ada yang menganggap itu candaan.

Karena cara Grachius mengatakannya—

terlalu tenang.

Terlalu pasti.

Daji perlahan menatapnya.

“…kau benar-benar tidak normal.”

Grachius melanjutkan dengan nada datar—

“Para dewa duduk di atas langit.”

“Mereka memperlakukan dunia sesuka hati.”

Tatapannya sedikit terangkat.

“Jadi aku akan membunuh mereka.”

Api unggun memantulkan cahaya di mata kuning kemerahannya.

Dan untuk pertama kalinya—

para elf mulai menyadari sesuatu.

Mereka sedang duduk bersama seseorang…

yang benar-benar berniat mengguncang langit.

...A Novel By Franzzz...

1
Manusia Ikan 🫪
nih, aku kasih gift iklan biar semangat😎👍
Manusia Ikan 🫪
heh
Manusia Ikan 🫪
ini baru Nama yang keren v:
Manusia Ikan 🫪
:v kalau aku sih gk masalah
Manusia Ikan 🫪
Nama yang unik🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!