NovelToon NovelToon
PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

PEREMPUAN YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA Ketika Hijrah Tak Menghapus Apapun

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Rumah Tangga / Penyesalan Suami
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arjunasatria

Carisa pernah menjalin hubungan dengan Reynanda sejak masa kuliah. Awalnya terasa hangat dan penuh cinta, hingga akhirnya ditinggalkan tanpa penjelasan, bahkan saat ia mengandung anak Reynanda.

Sejak itu, hidup Carisa runtuh pelan-pelan. Ia menanggung luka yang dalam dan sempat berada di titik terendah.

Waktu berjalan, tetapi luka itu tidak benar-benar hilang. Hanya mengendap dan membuat Carisa semakin tertutup. Hingga suatu hari, ia dijodohkan dan bertemu dengan seorang pria yang tenang dan tidak banyak bertanya. Dari pernikahan itu, Carisa perlahan kembali menjalani hidup, meski trauma masa lalunya tetap ada dalam diam.

Dan ketika Carisa mulai benar-benar terbiasa hidup tanpa nama itu di kepalanya, takdir justru mempermainkannya lagi. Setelah lima tahun berlalu, mereka dipertemukan kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Villa itu mulai kosong satu per satu. Koper-koper ditarik ke parkiran. Pelukan perpisahan berpencar di teras depan. Suara klakson, suara mesin mobil yang dinyalakan, suara nenek yang memanggil nama cucu-cucunya untuk terakhir kali sebelum mereka benar-benar pergi.

Carisa sudah menunggu di dekat mobil. Kopernya sudah di bagasi sejak tadi, Yuda yang memasukkannya. Sekarang Yuda masih di dalam, berpamitan dengan ayahnya. Carisa memilih menunggu di luar, menghirup udara Bandung yang masih dingin, membiarkan angin menyentuh wajahnya yang belum sepenuhnya pulih dari dua hari yang terlalu berat.

"Carisa."

Suara itu datang dari arah samping pelan, hati-hati.

Carisa menoleh.

Reynanda berdiri tidak jauh darinya. Tanpa Humaira, tanpa anaknya, dengan tangan di saku jaketnya.

"Humaira di mana?" tanya Carisa pelan.

"Sedang berpamitan dengan ibunya di dalam." Reynanda melangkah satu langkah lebih dekat.

"Tangan kamu baik-baik saja?" tanyanya.

"Ya, baik-baik saja, suamiku merawat luka ku dengan baik." Carisa menjawab datar. Matanya pada deretan mobil di depannya.

"Maaf karena tadi pagi." Suara Reynanda rendah. "Aku bereaksi terlalu berlebihan..."

"Sudahlah." Carisa memotong. "Tidak ada yang perlu dimaafkan."

"Tapi Yuda...."

"Aku yang akan mengurus Yuda." Carisa menoleh, menatap Reynanda singkat. "Yang perlu kamu urus adalah istrimu. Kamu hampir tidak bisa menyembunyikan apa pun tadi pagi. Dan Humaira bukan perempuan yang tidak peka."

Reynanda terdiam.

"Hati-hati di jalan." Carisa mengakhiri percakapan itu, lalu berbalik. Namun langkahnya berhenti.

Yuda berdiri tepat beberapa langkah dari mereka. Kunci mobil di tangannya. Wajahnya datar seperti biasanya, tidak ada yang berubah dari ekspresinya. Tapi matanya berpindah pelan dari Carisa, ke Reynanda, lalu kembali ke Carisa.

Berapa lama ia sudah di sana, Carisa tidak tahu.

Reynanda menatap ke arah Yuda. Singkat, terkontrol. "Selamat jalan, Mas Yuda."

"Selamat jalan." Yuda membalas dengan nada yang sama lalu melangkah ke sisi pengemudi tanpa menambahkan apa pun. Membuka pintu, lalu masuk.

Carisa mengikuti. Masuk, menutup pintu, memasang sabuk pengaman. Tangannya bergerak otomatis. Meskipun pikirannya tidak.

Mesin menyala. Mobil bergerak keluar dari parkiran villa.

Carisa tidak menoleh ke belakang. Tapi di kaca spion sisinya, ia bisa melihat bayangan Reynanda yang masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak, menatap mobil yang perlahan menjauh.

Dua puluh menit pertama berlalu dalam sunyi.

Yuda menyetir dalam diam. Bandung yang tadi berkabut sekarang lebih terang, perbukitan hijau di kanan kiri jalan berkilat ditimpa matahari pagi.

Carisa menatap keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana, sampai akhirnya Yuda memanggil namanya.

"Carisa."

"Hm?"

"Kamu kenal dia sebelumnya?"

Tidak ada nama yang disebut. Tapi Carisa tahu persis siapa yang dimaksud.

Tangannya menggenggam ujung jaketnya pelan. "Tidak."

Yuda tidak langsung merespons. Menikung pelan di tikungan jalan yang menurun, tangannya bergerak dengan presisi yang sama seperti biasanya.

"Tadi pagi dia bereaksi berlebihan untuk seseorang yang tidak kamu kenal." Suaranya datar, namun terdengar dingin. "Dan kalian terlihat cukup nyaman berbicara di dekat mobil tadi."

Carisa menatap pohon-pohon yang lewat. "Mungkin dia memang tipe orang yang mudah bereaksi."

"Mungkin." Ulang Yuda mengangguk pelan, tapi nadanya tidak menyimpulkan apa pun. Justru menggantung, seperti seseorang yang menerima jawaban tapi belum memutuskan apakah percaya.

Hening kembali. Carisa merasakan detak jantungnya sendiri lebih keras dari yang seharusnya untuk percakapan yang terasa sepele dari luar.

"Kamu tidak nyaman di sana?" tanya Yuda kemudian. Topik yang bergeser, tapi caranya bergeser terasa seperti bukan kebetulan.

"Tidak apa-apa." Carisa menggeleng. "Hanya lelah."

"Lelah karena acaranya. Atau karena hal lain?"

Kalimat itu keluar pelan. Sangat pelan. Dan Yuda mengucapkannya tanpa menoleh dari jalan dengan cara yang terasa lebih berbahaya daripada kalau ia mengucapkannya dengan tatapan langsung.

Carisa tidak menjawab. Yuda juga tidak mendesak.

Ia hanya menyetir tenang, terkontrol, kedua tangannya di kemudi dengan posisi yang tidak pernah berubah. Di luar jendela, jalan tol mulai terlihat di kejauhan. Bandung perlahan-lahan tertinggal di belakang.

"Yuda," Carisa akhirnya bersuara. Pelan.

"Hm."

"Kamu marah?"

Yuda diam sebentar. Lalu tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya, senyum yang lebih dingin dari tidak tersenyum sama sekali.

"Aku tidak marah." Jawabnya singkat. "Aku tidak pernah marah untuk hal-hal yang belum jelas."

Carisa menatapnya.

Belum jelas.

Dua kata yang terasa seperti peringatan yang dibalut dengan kesopanan.

Carisa menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Menutup matanya.

Di sebelahnya, Yuda menyetir dalam diam. Tenang seperti biasanya. Seperti lelaki yang tidak terburu-buru karena ia tahu, pada akhirnya, semua yang tersembunyi akan menemukan jalannya sendiri untuk keluar. Dan ia hanya perlu cukup sabar untuk menunggu.

1
tifara zahra
lagi donk
Nanik Arifin
beberapa tindakan bodoh Reynanda meretakkan 2 rumah tangga & 4-5 hati. dan anak" yg paling menjadi korban
Musicart Channel
lemah.. jujur jelah dgn suami kau. dlm perkhawinan harus ada kejujuran..
Nanik Arifin
buka matamu lebar" Humaira... keluarkan suara sindiran & intimidasimu. paparkan hujjah" & penilaianmu untuk pelaku.
siapa pemeran utamanya, siapa pemeran pembantunya, ungkap ustadzah Humairah
Nanik Arifin
kan.... ego keluarga kalian semua mg luar biasa. hidup aj sendiri klo blm bisa buang ego.
geregetan deh. ingin numpuk pala Yuda pakai bakiak
Nanik Arifin
lah kan kamu, Yuda, yg dr awal kamu minta masing". sama " bingung membuka hubungan, tapi menyalahkan satu pihak. berbaiki niat, kalian akan memulai hubungan yg baru, untuk masa depan yg bahagia. jangan slg diam"an & berharap pihak lain tahu yg kamu mau. pasangan kalian bukan cenayang yg tahu tanpa pemberitahuan dlu. umur aj dewasa, tapi tindakan kalian tanda tanya
putmelyana
sumpah gw sepanjang baca cerita kesel banget Carisa knpa dia diem aja gak jujur gitu ke suaminya pdhl kalo dia jujur dan terbuka ke suaminya bakalan hidupnya baik² aja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!