NovelToon NovelToon
Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Milik Bos Mafia: Benci Tapi Harus Jadi Istrinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumling

Rayya, seorang perawat yang terperangkap dalam permainan cinta dan kekuasaan Marsel, seorang ketua Mafia yang sangat di takuti.
Marsel tidak mau melepaskan nya, Rayya sudah memiliki pacar dan akan segera menikah, akan tetapi Marsel menyatakan kepemilikan terhadap Rayya.

Marsel membuat Rayya tidak bisa menikah selain dengan nya. Ciuman di pertemuan pertama mereka membuat Marsel tidak bisa tenang memikirkan Rayya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rayya Berdarah

"Kenapa, bukankah kamu sangat ingin di peluk oleh lelaki?"

Wajah menakutkan Marsel membuat Rayya hanya bisa mencoba untuk melarikan diri dari setan itu.

Ia mencoba berlari dengan sisa tenaga yang ada. Rasa takut membuat dirinya lemas. Wanita itu ingin menghindar namun kembali tidak sengaja malah menginjak beling yang berhamburan di lantai.

Hhmmpp....

Dirinya ingin berseru bahwa Ia terluka, tapi Marsel yang sudah dikabut amarah malah mencium wanita itu dengan paksa dan mengunci pergerakan Rayya di atas meja.

Dengan linangan air mata Rayya hanya bisa menangis mendapatkan perlakuan menyakitkan dari Marsel. Di tengah amarahnya yang membuncah dan bergejolak, Marsel menciumi Rayya dengan sangat kasar dan rakus.

Cukup lama Marsel memberikan Rayya hukuman dan berhenti saat bau anyir menyeruak dalam indra nya. Ia tidak merasa menggigit Rayya sampai berdarah.

Darah, Marsel melihat darah di mana-mana dan mundur perlahan. Ia terdiam mematung, sedetik, dua detik.... Tangan yang Ia gunakan menekan Rayya tadi bergetar hebat seketika.

Rayya terkulai dan terjatuh di atas lantai bernoda darah. Wanita itu tidak kuat menahan emosi Marsel membuat nya tidak sadarkan diri.

"R_rayya...."

Marsel tercegat oleh liurnya sendiri melihat kondisi Rayya saat ini. Pria itu frustasi merutuki kebodohan nya, Marsel menjambak rambutnya sendiri menyalurkan luapan emosi untuk diri sendiri.

"Ra_rayya!"

Marsel menangis kembali mendekati Rayya, Ia membawa Rayya ke atas pangkuan, tidak peduli beberapa beling ikut melukai paha dan betisnya. Baginya hal itu tidak terasa lagi sakitnya, sekarang yang sakit ada dalam dada, sesak dan menghimpit melihat Rayyanya terluka karena perbuatannya.

"Rayya, hey. Sayang, buka matamu."

Dengan wajah tak berdaya Marsel mencoba menepuk pelan pipi Rayya.

Aksinya itu berhasil membuka mata Rayya perlahan, membangunkan Rayya yang masih terlihat lemas di pangkuan Marsel.

Rayya melihat kondisi wajah pria yang memangkunya, wanita itu membuang muka dari orang itu dengan air mata yang kembali keluar, Ia mengingat sikap Marsel padanya tadi.

"Rayya, jangan menutup matamu. Kita ke rumah sakit sekarang."

Marsel tidak peduli dengan Rayya yang enggan melihat nya, Rayyanya harus di obati segera.

"Alex!"

Marsel berteriak memanggil Asisten nya. Alex yang memang berada di dekat sana terkejut melihat kondisi Rayya yang di gendong oleh Marsel. Beberapa tetes darah berjatuhan dari kaki dan tangan Rayya membuat Alex mempercepat langkahnya untuk menyiapkan mobil yang akan membawa Rayya ke rumah sakit.

"Sayang, kita akan segera sampai ke rumah sakit. Tahan sedikit lagi."

Rasa bersalah terlihat jelas di wajah Marsel, Ia benar-benar tidak kuasa melihat Rayya terluka.

'Bos, anda memang terlalu kejam dan akhirnya malah menyesalinya' batin Alex menatap Marsel melalui pantulan cermin. Ia seperti melihat bukan Rayya yang terluka, melainkan Marsel. Belum pernah Ia melihat Marsel seterpuruk ini

"Cepat!"

Marsel mendesak supir untuk mempercepat laju mobil.

"Baik, Bos."

Si supir dengan patuh menyahut, sejujurnya kecepatan mobil itu sudah di atas rata-rata.

"Lebih cepat!" teriak Marsel.

"Kalau sampai Rayyaku kenapa-napa awas saja kalian."

Supir merinding mendengar ancaman Marsel. Ia sudah berusaha yang terbaik dan menggunakan kecepatan penuh.

"Iya, Bos. Sekarang kita harus ke rumah sakit dulu," ucap Alex mencoba menenangkan sang Bos

"Marsel, kau akan membunuhku jika terus berteriak di telingaku."

Rayya yang dari tadi diam akhirnya bersuara, Ia mau di obati atau di buat mati bersama di mobil itu? Bahkan kecepatan nya sekarang sudah melebihi angin topan. Rasanya Rayya ingin muntah di buat nya.

"Bos, sepertinya Nona Rayya mabuk jika terlalu cepat," kata Alex melihat kondisi Rayya.

"Kamu, kurangi kecepatan," lanjut Alex berbicara pada supir.

"Rayya, maaf membuat mu takut."

Marsel semakin di hinggapi rasa bersalah karena rupanya apa yang dia lakukan membuat Rayya tidak nyaman.

Wanita itu tidak merespon sedikitpun perkataan Marsel, Ia hanya terdiam dalam dekapan pria gila itu.

__________________

Akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan Rayya langsung di tangani dengan segera dan cepat, tidak lupa ancaman dari Marsel yang membuat para dokter keringat dingin jika sampai Rayya kenapa-napa.

Bukankah Marsel yang membuat Rayya terluka? Kenapa seakan malah memberikan tanggung jawab itu pada Dokter yang justru ingin melakukan pengobatan pada Rayya. Orang seperti Marsel memang sangat aneh.

Cinta seorang Mafia itu memang sangat menakutkan, sekali saja melakukan kesalahan maka nyawa taruhannya.

"Tenanglah, Bos. Nona Rayya pasti akan baik-baik saja."

Marsel tidak menanggapi ucapan Alex, pria itu hanya duduk dan meraup rambutnya frustasi menunggu Rayya di tangani oleh Dokter.

Ceklek!

"Bagaimana, Dok?" tanya Alex setelah Dokter keluar. Sedangkan Marsel langsung masuk untuk melihat kondisi Rayya tanpa mau menunggu Dokter menyampaikan kondisi pasien. Baginya jika Dokter sudah selesai artinya Rayya sudah selamat dari bahaya, kalau sampai terjadi sesuatu maka dokter itu tidak akan melihat lagi hari esok.

"Nona Rayya tidak kenapa-napa. Lukanya sudah di tangani dengan baik," kata Dokter dan Alex yang mendengar pernyataan itu menyuruh Dokter untuk langsung pergi dan Alex menyusul Marsel.

Terlihat Bos Mafia yang katanya menakutkan itu menciumi tangan Rayya yang di balut kain kasa. Tidak hentinya mulut tipisnya meminta maaf, tapi Rayya tidak bergeming sama sekali.

Brak!

"Rayya?!"

Tiba-tiba Rio muncul dengan wajah cemas dan khawatir. Ia hendak menjenguk Rayya dan ternyata orang-orang di kastil Marsel mengatakan Rayya di larikan ke rumah sakit. Pria itu melihat sekilas keadaan putrinya yang telah pucat dan tanpa babibu langsung menarik kerah baju Marsel lalu memberikan pria itu sebuah pukulan.

"Anda mencari mati!"

Alex mengeluarkan pistol miliknya saat melihat Marsel mendapatkan pukulan dari Rio lalu mengarahkan menda mematikan itu pada Rio.

"Alex."

Marsel mengangkat tangan menyuruh Alex untuk menurunkan senjata, namun Alex tidak terima jika Marsel di hajar oleh Rio.

"Tapi Bos."

Alex mencoba menolak perintah Marsel yang ingin membiarkan Rio memukuli nya.

"Kau tidak mau mendengar perintah ku lagi, hah?!" bentak Marsel.

"Maaf, Bos."

Alex menurunkan senjata namun tetap waspada takut-takut Rio berbuat lebih pada Marsel.

1
Ruth Berliana
bagus ceritanya tp msh sepi yg baca nya
Jumli: makasih ❤️
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!