NovelToon NovelToon
MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

MAHAR LUKA: Menikahi Janda Sang Kakak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.

Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?

Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUJUD PENYESALAN DI AMBANG FAJAR.

Lampu-lampu jalanan mulai meredup saat mobil yang membawa Maheer memasuki halaman mansion. Maheer turun dengan langkah gontai, seolah seluruh tenaganya telah terkuras habis di vila tadi. Sebelum melangkah masuk, matanya secara tidak sengaja terangkat ke lantai dua. Di balkon kamar utama, sosok Assel berdiri diam. Wanita itu menatap ke arah langit yang bertaburan bintang, tampak begitu kecil dan rapuh di bawah luasnya cakrawala.

Maheer mengikuti arah pandang itu. Bintang-bintang itu bersinar terang, namun hatinya terasa gelap gulita. Ketika ia kembali menatap ke balkon, Assel sudah tidak ada di sana. Ruangan itu kini hanya menyisakan tirai putih yang tertiup angin malam. Ada rasa nyeri yang menghujam jantungnya; rasa bersalah yang kini sudah sampai ke sumsum tulang.

Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang sunyi, menaiki anak tangga satu per satu dengan beban pikiran yang sangat berat. Begitu ia mencapai koridor lantai atas, pintu kamar Assel terbuka. Assel muncul di sana, hendak menuju dapur untuk mengambil air minum. Mata mereka bertemu di tengah remang cahaya lampu dinding.

Tanpa aba-aba, Maheer menekuk kedua lututnya. Ia bersimpuh di atas lantai dingin, tepat di hadapan Assel.

"Maafkan aku, Assel. Maafkan aku," bisik Maheer dengan suara serak yang segera pecah oleh isakan.

Assel mematung, matanya membelalak karena terkejut. "Apa yang kau lakukan, Maheer? Bangunlah."

"Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah melihat rekaman itu, Assel. Aku tahu kau difitnah oleh Bayu dan yang lainnya," ujar Maheer sambil menunduk dalam, air matanya menetes membasahi karpet. "Aku adalah pria paling bodoh karena lebih percaya pada mereka daripada kamu. Aku pantas mendapatkan hukuman darimu. Tolong, beri aku maaf."

Assel terdiam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu melihat pria arogan yang biasanya memandangnya rendah, kini bersujud di kakinya. Hatinya tersentuh melihat kerapuhan Maheer, namun memori tentang kata-kata kasar dan hinaan yang ia terima selama tujuh tahun ini masih terngiang jelas. Rasa sakit itu belum menguap begitu saja.

"Bukan padaku kau harus mengucapkan maaf, Maheer," ucap Assel dengan nada ketus meski suaranya bergetar. "Mintalah maaf pada Kakakmu. Dia yang paling menderita karena keras kepalamu."

Assel hendak kembali ke kamarnya. Namun tangan di tahan oleh Maheer. "Aku tahu, Aku akan meminta maaf pada Kakakku, tapi sebelumnya Aku ingin kau memaafkan Aku terlebih dahulu Assel, Maafkanlah aku," mohon Maheer dengan tatapan mata yang terlihat tulus.

Assel menarik tangannya saat Maheer mencoba meraih ujung kainnya. Ia berbalik sejenak menatap Maheer, ia ingin mengeluarkan suaranya. Namun suaranya seperti tertahan di tenggorokannya, hingga akhirnya ia memilih masuk kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan rapat.

"Katakan padaku Assel, dengan cara apa agar kau memaafkan aku, Assel?" teriak Maheer lirih di depan pintu yang tertutup. "Apakah aku harus mengorbankan nyawaku agar kau bisa melihat ketulusanku? Aku akan terus berlutut di sini sampai kau memaafkan aku."

Hening. Tidak ada jawaban dari dalam. Hanya kesunyian yang mencekam di malam itu. Maheer tetap pada posisinya, bersimpuh dalam duka yang mendalam, sementara di balik pintu, Assel bersandar sambil menitikkan air matanya tanpa bersuara.

Waktu berjalan lambat hingga fajar menyingsing. Ketika azan subuh berkumandang dari kejauhan, Assel langsung bergegas ke kamar mandinya dan melaksanakan kewajibannya. Seperti biasanya setiap habis sholat subuh, ia pasti langsung kedapur dan baru saja ia membuka pintu kamarnya. Ia langsung tersentak saat melihat Maheer masih berada di sana, dalam posisi yang sama, dengan wajah pucat dan mata yang bengkak.

"Kenapa kau masih di sini?" tanya Assel pelan.

"Aku sudah bilang, aku tidak akan pergi sampai kau memaafkanku," jawab Maheer lemah.

Assel menghela napas panjang. "Siapakah aku ini sampai tidak punya maaf? Sedangkan Allah saja Maha Pemaaf bagi hamba-Nya. Bangunlah. Pergilah sholat taubat dan subuh. Mohon maaflah pada Sang Pemilik diriku. Dialah yang pantas tempat kau memohon maaf karena kau telah menzalimi hamba-Nya."

Mendengar itu, Maheer berusaha bangkit. Namun, karena kakinya sudah kebas akibat berjam-jam berlutut, ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng dan hampir terjatuh. Dengan sigap, Assel menahan lengan Maheer agar tidak tersungkur. Untuk sesaat, mata mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Ada kerinduan dan luka yang saling beradu.

Assel segera melepaskan pegangannya dengan canggung. "Cepat bersihkan dirimu." Ia lalu berbalik dan menuruni tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.

Maheer masuk ke kamar mandi dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia mandi dan mengenakan sarung dan baju Kokonya, lalu membentangkan sajadah yang sudah lama sekali tidak ia sentuh. Selama ini ia menjauh dari Tuhan karena merasa takdir selalu mempermainkan hidupnya. Di atas sujudnya kali ini, Maheer menangis sejadi-jadinya. Ia curhat pada Rabb-Nya, memohon ampun atas segala kezaliman dan kesombongan yang pernah ia lakukan.

Setelah menyelesaikan ritual sucinya, Maheer turun ke ruang makan dengan setelan jas rapi. Ia memiliki tekad baru. Ia akan menjadi penguasa bisnis yang tangguh untuk melindungi Assel dan Razka, sekaligus menghancurkan mereka yang pernah merusak hidup istrinya.

Di meja makan, Razka sudah duduk manis menanti sarapan. Bocah itu memperhatikan wajah Maheer dengan saksama.

"Om Jahat habis menangis ya? Kenapa matanya bengkak seperti digigit tawon?" tanya Razka polos.

Maheer tertegun, lalu mencoba tersenyum tipis. "Om hanya kurang tidur, Razka."

"Om Jahat seperti perempuan ya, cengeng," celetuk Razka sambil menyuapkan nasi goreng. "Papa pernah bilang, laki-laki itu tidak boleh menangis. Harus kuat agar bisa melindungi Mama dan keluarga. Om tidak kuat ya?"

Assel yang sedang menaruh piring di meja spontan menutupi mulutnya, menahan tawa mendengar ocehan putranya yang sedang menasehati pria dewasa itu. Melihat senyuman tipis yang terukir di wajah Assel, Maheer merasa seperti baru saja mendapatkan hadiah paling berharga di dunia.

"Iya, Razka benar. Om memang belum sekuat Papamu," jawab Maheer dengan nada lembut. "Tapi Om berjanji, mulai sekarang Om akan belajar jadi kuat untuk melindungi Razka dan Mama."

Razka mendengus, tampak ragu namun tidak lagi ketus. "Kita lihat saja nanti. Tapi jangan bikin Mama nangis lagi, kalau tidak, aku akan minta Kakek Diman mengusir Om."

Maheer tertawa kecil, rasa hangat mulai menjalar di dadanya. Ia rela dihina atau dimarahi oleh bocah kecil itu setiap hari, asalkan ia bisa melihat senyum tipis di bibir Assel lagi. Perjalanan untuk menebus kesalahan memang masih panjang, namun di meja makan pagi ini, Maheer tahu bahwa harapan itu mulai tumbuh di antara aroma nasi goreng dan celoteh riang seorang anak. Ia akan membuktikan bahwa ia layak berada di sana, bukan sebagai pengganti Muzammil, melainkan sebagai pelindung yang baru bagi mereka.

1
Nana Biella
rasa percaya hilang setelah melihatmu her
Nur Halida
bukannya masih nikah siri??
Lia siti marlia
hehehe itu kan jurang yang kau ciptakan sendiri maher jadi nikmatilah 🤭🤭🤭
partini
hemmm see muncul jalangkung wkwkkk
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
Radya Arynda
semangaaat up up up💪💪💪💪
Rarik Srihastuty
ceritanya bagus
Radya Arynda
ceritqnya bagus👍👍👍👍
Radya Arynda
semangaat up
Lia siti marlia
swmoga saja 💪selamat berjuang maherr💪😍
Silvia
cerita nya bagus
partini
💯bayang masa lalu lah apa lagi nanti yg 7 tahun di luar negri ga mungkin ga punya something apa lagi pergi pas hati kesal ,,siap" aja si jaelnagkung datang minta pertanggungjawaban
Irni Yusnita
ceritanya menarik 👍 sekaligus enak dibaca, lanjut Thor 👍
Daulat Pasaribu
seru juga novelnya thor...lanjut dong thor😍
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪💪
Lia siti marlia
sedikit sedikit mulai mencair mulai saling menerima 😍😍🤭
Nur Halida
berarti maheer amat sangat bodoh banget sekali😁
Nur Halida
kok bisa langsung menikah ya bukannya nunggu masa iddah dulu baru boleh menikah??walau selama masa iddah gak akan di sentuh ..
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah
Nana Biella
semangat untuk semuanya
Radya Arynda
semangaaat💪💪💪
Lia siti marlia
mudah mudahan kedepannya baik santi mertua assel berubah mau menerima assel dengan tangqn terbukq begitu jugq si bayi kolot pasti bentar lagi bakalan bucin tuh bayi kolot🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!