Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Glass Slipper Syndicate
Pak Tanto berangkat saat langit bahkan belum sempat berubah warna. Masih terlalu pagi. Jarum jamnya menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit.
Rumah masih gelap, hanya lampu teras yang menyala redup. Ia menutup pintu perlahan, seolah tak ingin membangunkan siapa pun. Udara dini hari dingin, menyusup lewat celah kerah kemejanya.
Di halaman, mobilnya sudah menunggu. Ia berhenti sejenak sebelum membuka pintu. Menoleh ke arah jendela lantai dua, kamar Ella, putri kandung semata wayangnya. Gelap. Tidak ada tanda kehidupan. Meski begitu Pak Tanto tahu, putrinya pasti sudah bangun dan saat ini tengah menunaikan kewajibannya. Ia memang baru akan menyalakan seluruh lampu kamarnya usai mandi pagi.
Sebuah napas panjang keluar dari dadanya. “Maaf,” gumamnya pelan. Entah pada siapa. Ia masuk ke mobil. Mesin menyala. Dalam hitungan detik, mobil itu sudah meluncur meninggalkan halaman rumah yang masih tertidur.
Jalanan lengang. Hanya suara ban yang membelah aspal basah sisa hujan semalam. Beberapa kilometer kemudian, ponselnya bergetar. Pak Tanto melirik sekilas. Nomor tidak dikenal. Ia mengabaikan. Fokus pada kemudinya.
Ponsel itu bergetar lagi dan lagi. Akhirnya, ia mengangkat. “Ya?”
Sunyi. Lalu sebuah suara masuk, terdengar rendah, datar, tanpa emosi. “Kamu berangkat lebih cepat dari yang dijadwalkan.”
Tangan Pak Tanto menegang di kemudi. “Siapa ini?”
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas samar.
Pak Tanto menatap jalan di depannya. Kosong. Terlalu kosong. “Kalau ini soal itu, ” ia berhenti, menelan kata-katanya sendiri. Entah darimana datangnya ide itu, tiba-tiba saja sambil mengemudi, Pak Tanto mengirimkan pesan ke nomor putrinya. Sebuah pesan rahasia yang tak boleh diketahui siapapun. Makanya setelah pesan itu terkirim, ia menghapus dari kontaknya.
Perasaan Pak Tanto belum tenang. Tapi ia tahu tak ada pilihan lain selain melanjutkan perjalanan. Pak Tanto yakin sebentar lagi matahari akan bersinar dan ia akan merasa aman.
Sayangnya, belum sempat matahari bersinar sempurna, sebuah cahaya tiba-tiba muncul dari arah berlawanan. Terlalu terang. Terlalu cepat ke arahnya.
Refleks, Pak Tanto memutar kemudi. Ban berdecit. Mobil tergelincir. Dan dalam satu detik yang terasa terlalu panjang, mobil itu menembus pembatas jalan. Jatuh. Menghilang ke dalam jurang.
***
Di ruang makan rumah Pak Tanto, tiga perempuan duduk mengelilingi meja makan yang terlalu besar untuk mereka. Meja yang sekarang dipenuhi aneka jenis menu sarapan.
Ella, gadis berusia delapan belas tahun itu duduk paling ujung. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya datar, matanya lebih banyak tertuju pada piring daripada orang di seberangnya.
Di sisi lain meja, Bu Vero duduk tegak. Rapi. Terlalu rapi untuk pagi hari. Tangannya menggenggam cangkir teh, tapi tak pernah benar-benar diminum.
Di sampingnya, Sesil putrinya, memainkan sendoknya pelan, menciptakan bunyi kecil yang berulang.
Tak ada yang berbicara. Tak ada yang benar-benar tahu harus mulai dari mana. Sebab orang yang harusnya menyatukan mereka sedang pergi dinas luar dihari pertama mereka sarapan bersama.
Pernikahan itu terjadi terlalu cepat. Semalam. Tanpa banyak penjelasan. Tanpa percakapan panjang. Ella bahkan belum pernah benar-benar berbicara dengan perempuan yang kini secara resmi menjadi ibunya. Ayahnya juga tidak menceritakan apapun. Tahu-tahu, dua hati lalu ayahnya mengabari bahwa tadi malam mereka akan ke rumah Bu Vero untuk melangsungkan akad nikah ayahnya.
Ella yang merupakan satu-satunya keluarga ayahnya tentu kaget. Apalagi hubungan ayah dan anak itu selama ini begitu dekat. Tapi kenapa ayahnya tidak pernah membicarakan masalah pernikahan ini? Bahkan kalau ayahnya dekat dengan perempuan lain saja Ella baru tahu saat ayahnya menyatakan akan menikah.
Memang sebenarnya sah-sah saja ayahnya menikah lagi. Ibunya Ella sudah meninggal sejak gadis itu berusia sepuluh tahun. Selama itu juga ayahnya menjadi single parent. Tak pernah tercetus dari mulut ayahnya untuk menikah lagi. Makanya Ella mengira Ayah akan sendiri hingga akhir. Tapi ternyata dugaannya meleset. Namun yang disayangkan Ella, kenapa tidak bicara? Atau setidaknya izinkan Ella mengenal calon keluarga barunya.
Ella yang selama ini hanya punya Ayah, tentu saja merasa bingung. Ia kaget serta gugup saat ayahnya akhirnya melepas masa kesendiriannya. Ella sebenarnya tak ada keinginan menahan ayahnya berumah tangga lagi, ia bahkan senang Ayah punya teman hidup baru sebab Ella sering merasa kalau hidup ayah kesepian. Makanya Ella sudah bertekad, ia akan belajar menerima Bu Vero dan Kak Sisil. Meski mungkin butuh waktu. Ella berharap waktunya cepat.
Ia mengangkat gelas, meneguk air, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati, seolah suara kecil pun bisa memecahkan sesuatu yang rapuh di ruangan itu.
“Sekolahmu mulai kapan?” tanya Bu Vero akhirnya. Nada suaranya halus, tapi terdengar seperti orang yang sedang mencoba mengingat peran.
Ella mengangkat pandangannya sebentar. “Minggu depan ospek dikampus dimulai."
“Oh.” Bu Vero sepertinya juga mengalami kesulitan berkomunikasi dengan Ella. Mereka sama-sama canggung.
Hening lagi. Sesil tersenyum tipis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Suasana kembali jatuh ke dalam kekosongan. Lalu Telepon rumah berdering nyaring. Karena bunyinya mendadak membuat mereka betiganya sedikit terkejut.
Seorang pembantu bergegas dari dapur, mengangkat telepon itu. “Selamat pagi…” suaranya pelan, lalu berubah ragu. Ia menoleh ke arah meja makan. “Bu… untuk Ibu.” gagang telepon diarahkan pada Bu Vero.
Bu Vero terlihat sedikit bingung, seolah belum terbiasa dipanggil demikian. Ia berdiri, melangkah pelan menuju telepon, dan mengambil gagangnya. “Ya, saya sendiri.”
Ella memperhatikan dari kejauhan. Tidak berniat menguping tapi tidak juga bisa benar-benar mengabaikan. Ia hanya belum terbiasa panggilan telepon diberikan pada orang baru yang merupakan ibu tirinya. Sebab biasanya padanyalah telepon diberikan.
Wajah Bu Vero berubah perlahan. Dari bingung menjadi tegang lalu kosong. Tangannya yang memegang gagang telepon sedikit gemetar. “Iya… saya mengerti…”
Suara di seberang mungkin masih berbicara, tapi Bu Vero sudah tidak menjawab. Beberapa detik kemudian, ia menutup telepon itu. Pelan. Terlalu pelan.
Ia berdiri diam beberapa saat, seolah lupa bagaimana cara kembali berjalan. Lalu akhirnya menoleh. Menatap Ella. Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu, ada sesuatu yang benar-benar terasa di ruangan itu. Ketakutan.
“Ayahmu…” suara Bu Vero hampir tidak terdengar. Ia berhenti. Menarik napas. “Mengalami kecelakaan.”
Waktu seolah berhenti. Sendok di tangan Sesil terjatuh, menciptakan bunyi kecil yang menggema.
Ella tidak bergerak. Tidak langsung bereaksi. Seolah kata-kata itu butuh waktu lebih lama untuk sampai.“Kecelakaan?” ulangnya pelan.
Bu Vero mengangguk. Sekali. “Mobilnya… jatuh ke jurang.”
Hening. Lebih sunyi dari sebelumnya. Ella menatap kosong ke arah meja. Ke piringnya. Ke gelasnya. Segalanya tampak sama. Tapi tidak ada yang benar-benar sama lagi.