Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Jakarta di hari Senin selalu punya cara untuk mengingatkan penduduknya bahwa hidup adalah tentang kompetisi dan keletihan. Bagi Alisa, jam dinding di ruang poliklinik yang menunjukkan pukul dua siang terasa bergerak sangat lambat. Meskipun ia baru saja menyelesaikan pemeriksaan pasien kelimabelasnya hari ini, pikirannya sama sekali tidak berada di dalam ruangan serba putih itu.
Pesan singkat dari Vino yang masuk tadi pagi masih terngiang-ngiang: "Sabtu ini, jam 4 sore. Aku jemput untuk beli cincin. Jangan telat."
Singkat, padat, dan sangat otoriter. Alisa menghela napas panjang sembari menyandarkan punggungnya di kursi kerja. Tidak ada kata "tolong", tidak ada sapaan hangat. Pria itu benar-benar menganggap pertunangan ini sebagai sebuah proyek operasional kepolisian.
"Al, kamu melamun lagi?" Fani masuk tanpa mengetuk, membawa dua cup kopi hangat di tangannya. "Pasien terakhir tadi bilang dr. Alisa sangat pendiam hari ini. Ada apa?"
Alisa menerima kopi itu dengan senyum paksa. "Vino mengajak beli cincin Sabtu ini Fan."
Fani membelalakkan mata, duduk di kursi di depan meja Alisa. "Cepat sekali? Pertemuan keluarga baru lewat tiga hari yang lalu, kan? Tapi ya, baguslah. Setidaknya dia bergerak cepat. Polisi memang biasanya begitu, action oriented."
"Tapi dia sama sekali tidak bertanya apakah aku bisa atau tidak, Fan. Dia langsung menentukan waktunya," keluh Alisa.
"Yah, mungkin itu caranya untuk memastikan semuanya berjalan sesuai rencana orang tua kalian," Fani menyesap kopinya. "Lalu, bagaimana dengan Raka? Sudah kamu beritahu?"
Wajah Alisa seketika berubah mendung. "Dia memintaku bertemu sore ini di kafe biasa. Aku harus mengatakannya, Fan. Aku tidak bisa membiarkan dia terus berharap sementara jariku akan segera dilingkari cincin pria lain."
"Kamu butuh aku temani? Aku bisa duduk di meja sebelah untuk berjaga-jaga kalau suasananya jadi terlalu emosional," tawar Fani tulus.
Alisa menggeleng. "Terima kasih, tapi ini sesuatu yang harus aku selesaikan sendiri. Aku berhutang kejujuran padanya, meskipun itu akan menyakitkan."
Di markas Polda Metro Jaya, suasana sama sekali tidak lebih santai. Vino baru saja keluar dari ruang rapat evaluasi dengan wajah yang lebih tegang dari biasanya. Kasus penyelundupan di pelabuhan ternyata memiliki jaringan yang lebih luas dari yang ia duga sebelumnya.
"Vino, tunggu sebentar," panggil seorang pria paruh baya dengan pangkat yang lebih tinggi darinya, Komisaris Besar Aditya.
Vino berhenti dan memberi hormat. "Siap, Komandan."
Aditya menepuk bahu Vino. "Ayahmu meneleponku tadi pagi. Dia terdengar sangat bahagia. Selamat ya atas perjodohanmu dengan putri almarhum Surya. Surya adalah rekan yang sangat berintegritas, aku yakin putrinya juga luar biasa."
Vino memaksakan sebuah anggukan. "Terima kasih, Komandan."
"Tapi ingat, Vino," wajah Aditya menjadi serius. "Jangan sampai urusan pribadi mengganggu fokusmu di lapangan. Kasus ini sedang panas. Musuh kita tidak akan peduli apakah kamu sedang menyiapkan pernikahan atau tidak."
"Saya mengerti, Komandan. Profesionalisme saya tidak akan terganggu," jawab Vino mantap.
Setelah Aditya pergi, Vino menghela napas kasar. Ia berjalan menuju meja kerjanya, di mana terdapat sebuah bingkai foto kecil yang menghadap ke bawah. Ia ragu sejenak, lalu mengangkat bingkai itu. Di dalamnya, ada foto seorang wanita muda yang tersenyum cerah mengenakan seragam polisi wanita.
Masa lalu itu kembali berdenyut. Luka yang ia katakan pada Alisa sudah mulai sembuh, sebenarnya masih menganga lebar setiap kali ia sendirian. Kematian wanita di foto itu adalah alasan mengapa Vino menutup hatinya rapat-rapat. Baginya, mencintai seseorang adalah cara tercepat untuk memberikan kelemahan kepada musuh.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari nomor yang belum ia simpan namanya, namun ia tahu siapa pemiliknya.
Alisa: "Sabtu jam 4 aku bisa. Jemput di rumah saja. Bunda ingin kamu mampir sebentar."
Vino menatap layar itu dengan datar. Ia tidak membalas. Baginya, konfirmasi sudah cukup. Ia meletakkan kembali bingkai foto itu dengan posisi tertelungkup.
"Hanya satu tahun, Vino. Jangan biarkan dirimu terlibat lebih jauh," bisiknya pada diri sendiri.
Sore itu, Jakarta diguyur hujan rintik-rintik, menambah kesan melankolis pada pertemuan di sebuah kafe di kawasan Senopati. Alisa duduk di sudut ruangan, memperhatikan uap yang keluar dari cangkir tehnya. Raka duduk di hadapannya, tampak cemas dan terus-menerus meremas jemarinya sendiri.
"Al, kamu terlihat sangat pucat," Raka memulai pembicaraan. "Pesanmu tadi malam... maksudnya apa? Siapa keluarga yang datang ke rumahmu?"
Alisa menatap mata Raka, mencari keberanian yang selama ini ia harapkan ada di sana. "Keluarga Narendra, Raka. Rekan almarhum Ayah. Mereka datang untuk... menagih janji perjodohan."
Raka terdiam. Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak kaku. "Lalu? Kamu menolaknya, kan? Kamu bilang pada mereka bahwa kita punya rencana sendiri?"
Alisa menggeleng pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Bunda sangat menginginkannya, Raka. Beliau menangis. Beliau bilang ini adalah satu-satunya cara agar beliau bisa tenang melihatku ada yang menjaga. Dan pria itu... Davino... dia sudah setuju."
"Kenapa kamu selemah itu, Al?" suara Raka mulai naik satu oktav. "Dua tahun kita bersama, apa itu tidak ada artinya dibandingkan janji lama orang tua yang sudah meninggal?"
"Dua tahun, Raka!" Alisa akhirnya meledak, suaranya gemetar karena emosi yang tertahan. "Dan dalam dua tahun itu, sudah berapa kali kamu datang ke rumah untuk bicara pada Bunda? Sudah berapa kali kamu memintaku untuk bersabar sementara kamu sendiri takut menghadapi kemarahan Bundaku? Davino, pria yang baru aku temui secara resmi satu kali, sudah berani duduk di ruang tamu dan menyatakan komitmennya di depan kedua orang tuanya. Sedangkan kamu?"
Raka terbungkam. Ia menunduk, tidak berani menatap sorot mata Alisa yang menuntut.
"Aku tidak mencintainya, Raka. Mungkin tidak akan pernah," lanjut Alisa dengan nada yang lebih rendah dan pedih. "Tapi aku butuh kepastian. Aku tidak bisa terus hidup dalam persembunyian seperti ini. Bunda sudah menentukan tanggal pertunangan kami minggu depan."
"Minggu depan?" Raka mendongak, matanya memerah. "Al, tolong... beri aku waktu. Aku akan bicara pada Ibuku lagi."
"Sudah terlambat, Raka," Alisa berdiri, mengambil tasnya dengan tangan gemetar. "Waktu kita sudah habis. Aku datang ke sini bukan untuk meminta izinmu, tapi untuk mengakhiri semuanya dengan baik. Terima kasih untuk dua tahun ini."
Alisa melangkah keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Di bawah rintik hujan, ia membiarkan air matanya jatuh bebas. Rasa sesak di dadanya seolah terbagi dua; satu untuk cintanya yang kandas, dan satu lagi untuk masa depan asing yang menunggunya bersama pria bernama Devano.
Hari Sabtu tiba lebih cepat dari yang dibayangkan. Pukul empat sore tepat, suara deru motor besar berhenti di depan pagar rumah Alisa. Vino turun, melepaskan helmnya, dan merapikan jaketnya yang sedikit berdebu. Ia tidak memakai seragam hari ini, hanya kaos polo berwarna biru navy yang menonjolkan otot lengannya dan celana kargo.
Bunda Ratna menyambutnya dengan antusiasme yang luar biasa di pintu depan. "Davino! Masuk dulu, Nak. Alisa sedang bersiap-siap sebentar."
"Terima kasih, Tante," jawab Vino sopan.
"Panggil Bunda saja, Nak. Kan sebentar lagi jadi anak Bunda juga," Bunda Ratna tersenyum lebar. "Duduklah. Bunda buatkan minum dulu."
"Tidak usah bunda, mungkin sebentar lagi Alisa turun, nanti merepotkan lagi" Ucap Vino
"Ya udah kalau begitu, bunda ke dapur dulu yah" jawab bunda Ratna berjalan ke dapur.
Vino duduk di ruang tamu yang familiar itu. Matanya menyapu ruangan, melihat foto-foto masa kecil Alisa yang terpajang di dinding. Ada satu foto Alisa saat wisuda kedokteran, tersenyum cerah di antara Ayah dan Bundanya. Ia tampak sangat berbeda dari gadis yang menangis di teras beberapa hari lalu.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Alisa turun mengenakan dress sederhana berwarna krem dengan rambut yang dibiarkan terurai. Wajahnya tampak lelah, namun ia berusaha menutupi lingkaran hitam di bawah matanya dengan sedikit riasan.
"Sudah siap?" tanya Vino, langsung berdiri tanpa basa-basi pujian.
Alisa mengangguk singkat. "Sudah. Mari berangkat."
"Bunda, kami pergi dulu ya," pamit Alisa, mencium tangan bunda yang baru datang dari dapur.
"Hati-hati ya. Davino, titip Alisa," pesan Bunda Ratna.
Sebelum berangkat vino menyalimi tangan calon ibu mertuanya dulu sebelum keluar dari rumah itu.
Saat sampai di depan motor, Alisa ragu sejenak melihat kendaraan besar itu. "Kita... naik ini?"
Vino menyodorkan sebuah helm cadangan pada Alisa. "Jakarta sedang macet total karena ada perbaikan jalan di arah mal. Naik motor lebih efisien. Kenapa? Takut rambutmu rusak?"
Alisa mendengus, menerima helm itu dan memakainya. "Bukan itu. Aku hanya tidak terbiasa."
"Pegang bahuku kalau kamu merasa tidak seimbang. Jangan pegang pinggang kalau tidak terpaksa," instruksi Vino dingin saat ia menyalakan mesin.
Perjalanan menuju pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat itu dipenuhi dengan kesunyian yang hanya diisi oleh suara bising jalanan. Alisa memegang bahu Vino dengan ragu, namun saat motor itu melesat membelah kemacetan dengan lincah, ia terpaksa mengeratkan pegangannya. Ia bisa merasakan kerasnya otot bahu Vino di bawah telapak tangannya. Pria ini benar-benar seperti benteng; kuat namun tak tersentuh.
Sesampainya di toko perhiasan ternama, suasana menjadi semakin canggung. Seorang pelayan toko menyambut mereka dengan senyum profesional yang manis.
"Selamat sore. Ada yang bisa kami bantu untuk pasangan yang berbahagia ini?" tanya pelayan itu.
Vino berdehem. "Kami ingin melihat cincin tunangan. Yang sederhana saja, tidak perlu terlalu mencolok."
"Silakan, lewat sini," pelayan itu menuntun mereka ke sebuah etalase kaca yang berisi koleksi berlian dan emas putih.
Vino menatap deretan cincin itu dengan pandangan yang sama seperti saat ia melihat barang bukti kasus. "Pilih yang kamu suka," katanya pada Alisa.
Alisa menatap deretan cincin itu tanpa gairah. Baginya, cincin ini bukan simbol cinta, melainkan tanda kepemilikan. Ia menunjuk sebuah cincin emas putih polos dengan satu mata berlian kecil di tengahnya. "Yang itu saja."
Pelayan itu mengambil cincinnya dan memberikannya pada Alisa untuk dicoba. Alisa mencoba memasukkannya ke jari manis tangan kirinya, namun ia tampak kesulitan karena tangannya yang sedikit gemetar.
Tanpa diduga, Vino meraih tangan Alisa. Jari-jari pria itu yang kasar dan hangat memegang jemari Alisa yang dingin. Dengan gerakan yang perlahan namun pasti, ia membantu Alisa memasukkan cincin itu ke jarinya.
Untuk sesaat, mata mereka bertemu di atas etalase kaca. Ada sesuatu yang bergejolak di sana—bukan cinta, melainkan sebuah pengakuan bahwa mulai saat ini, hidup mereka benar-benar terikat.
"Pas sekali," gumam Vino. Ia beralih ke pelayan toko. "Kami ambil yang ini. Untuk saya, yang polos saja tanpa mata."
Proses pembayaran berlangsung cepat. Vino menolak saat Alisa menawarkan untuk membagi biaya. "Ini tanggung jawabku sebagai pria. Jangan dibahas lagi," katanya telak.
Setelah keluar dari toko, mereka tidak langsung pulang. Vino mengajak Alisa ke sebuah area food court yang agak sepi di lantai atas mal tersebut.
"Kita perlu bicara soal teknis," kata Vino setelah mereka duduk dengan dua gelas minuman dingin di hadapan mereka.
"Teknis apa lagi?" tanya Alisa lelah.
"Pertunangan kita akan diadakan hari Minggu depan. Ibuku sudah memesan katering dan undangan terbatas untuk keluarga inti. Setelah itu, Ayahku ingin kita segera menentukan tanggal pernikahan. Beliau mengusulkan tiga bulan dari sekarang."
"Tiga bulan?" Alisa hampir tersedak minumannya. "Apa tidak terlalu cepat? Mas, kita bahkan belum saling mengenal!"
Vino menatap Alisa dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mengenal atau tidak, hasilnya akan sama. Kita tetap akan menikah. Semakin cepat, semakin cepat juga waktu satu tahun yang aku tawarkan padamu dimulai."
Alisa terdiam. Benar juga. Semakin cepat mereka mulai, semakin cepat kontrak tak tertulis itu berakhir.
"Dan satu hal lagi," lanjut Vino. "Aku tidak ingin ada gangguan dari masa lalumu. Aku tahu kamu baru saja bertemu dengan pria itu sore kemarin."
Alisa tersentak, wajahnya memucat. "Bagaimana Mas bisa tahu? Mas memata-matai saya yah?"
Vino tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak terlihat ramah. "Aku polisi, Alisa. Mengetahui keberadaan orang yang menjadi tanggung jawabku adalah hal mendasar bagiku. Aku tidak memata-matai untuk urusan pribadi, tapi aku harus memastikan kamu tidak melakukan hal bodoh yang bisa mempermalukan keluarga kita."
"Aku sudah mengakhirinya!" suara Alisa bergetar karena marah dan malu. "Mas tidak perlu mengingatkanku seolah-olah aku ini kriminal yang sedang Mas awasi."
"Bagus kalau begitu," jawab Vino datar, seolah tidak peduli dengan kemarahan Alisa. "Aku juga punya batasan. Aku tidak akan mencampuri urusan medismu di rumah sakit, dan aku harap kamu tidak banyak bertanya jika aku pulang larut malam atau tidak memberi kabar karena tugas."
"Aku mengerti," sahut Alisa pendek.
Malam itu, saat Vino mengantar Alisa pulang, suasana terasa lebih berat dari sebelumnya. Pertemuan hari ini tidak membuat mereka lebih dekat, justru memperjelas jarak dan batasan di antara mereka.
Saat Alisa turun dari motor dan mengembalikan helm, Vino menatapnya sejenak. "Alisa."
Alisa menoleh. "Ya?"
"Aku tahu ini berat bagimu. Tapi setidaknya, cobalah untuk tidak terlihat seperti sedang berduka di depan orang tuaku besok. Ibuku sangat menyukaimu, jangan hancurkan harapannya."
Vino menyalakan mesin motornya dan melesat pergi tanpa menunggu jawaban. Alisa berdiri di depan pagar, menatap lampu belakang motor Vino yang perlahan menghilang di kegelapan malam Jakarta.
Ia menyentuh cincin di jarinya yang kini ia simpan kembali di dalam kotak kecil di tasnya. Satu tahun. Waktu itu terasa seperti selamanya sekarang. Namun di balik kebencian dan rasa tertekannya, ada satu hal yang mulai Alisa sadari; Devano Narendra bukan sekadar pria dingin yang kaku. Pria itu adalah badai yang tenang, dan ia baru saja masuk tepat ke tengah-tengahnya.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, di sebuah sudut gelap kota Jakarta, seseorang sedang mengawasi rumah Alisa dengan tatapan penuh kebencian, memegang sebuah foto lama yang terbakar di bagian pinggirnya. Rahasia yang dibawa Vino dari masa lalunya bukan sekadar kenangan pahit, melainkan ancaman nyata yang akan segera menyeret Alisa ke dalam bahaya yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Takdir baru saja memulai permainannya yang sesungguhnya.