Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Pagi di Mansion Manafe tidak pernah terdengar gaduh, namun ketegangannya selalu terasa mahal. Di ruang makan yang menghadap ke taman labirin bergaya Inggris, aroma truffle omelette dan kopi Blue Mountain memenuhi udara. Ezzvaro duduk di kepala meja, wajahnya yang kini berusia kepala empat tetap terlihat tegas dan berwibawa, sementara Gabriel di sampingnya tetap memancarkan kecantikan abadi yang tenang.
Di hadapan mereka, Zendaya duduk dengan punggung tegak sempurna. Di sampingnya, Lionel, adik laki-lakinya yang berusia lima belas tahun, lebih sibuk dengan tabletnya, memantau pergerakan saham perusahaan teknologi yang diam-diam ia pelajari.
"Dad..." suara Zendaya memecah keheningan dengan nada menuntut yang halus.
Ezzvaro menurunkan koran digitalnya. "Ya, Sayang?"
"Kapan aku bisa membawa mobilku sendiri ke sekolah? Aku sudah delapan belas tahun. Memakai supir setiap hari membuatku terlihat seperti anak taman kanak-kanak yang perlu dijaga," ucap Zendaya, matanya menatap tajam ayahnya, mencari celah.
"Tidak, Zendaya," sahut Ezzvaro pendek. Suaranya tidak keras, namun itu adalah keputusan final. "London terlalu padat, dan Daddy tidak ingin kau mengemudi sendiri di tengah emosimu yang sering meledak-ledak."
"Daddy hanya khawatir, Sayang," tambah Gabriel lembut, mencoba meredam api di mata putrinya. "Lagipula, keamananmu adalah prioritas kami. Faksi-faksi lama Manafe masih ada yang berkeliaran di luar sana."
Zendaya mendengus pelan, meletakkan serbet kainnya dengan gerakan yang sedikit kasar di atas meja. "Keamanan atau kontrol? Aku bukan lagi bayi yang perlu disembunyikan di New Zealand, Mom."
Tanpa menunggu balasan, Zendaya bangkit berdiri. Ia menyambar tas Hermes miliknya dan melangkah pergi tanpa pamit secara formal. Ezzvaro dan Gabriel hanya bisa saling berpandangan, menghela napas panjang. Mereka tahu persis dari mana sifat keras kepala dan angkuh itu berasal—itu adalah cerminan masa muda mereka sendiri yang kini menyatu dalam diri seorang gadis remaja.
Mobil Rolls-Royce hitam yang membawa Zendaya terjebak di sebuah lampu merah di persimpangan menuju Knightsbridge. Dari balik kaca jendela yang gelap, mata tajam Zendaya menangkap sebuah pemandangan di trotoar. Seorang nenek tua dengan tongkat kayu yang gemetar tampak kesulitan menyeberang jalan sambil menuntun seekor anjing Golden Retriever tua yang langkahnya juga melambat.
Tanpa aba-abu, Zendaya membuka pintu mobil.
"Nona! Apa yang Anda lakukan?" seru supirnya panik.
Zendaya tidak menjawab. Ia melangkah keluar dengan sepatu hak tingginya, mengabaikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Dengan gerakan yang tak terduga, ia menghampiri nenek itu, mengambil alih tuntunan anjingnya, dan memegang lengan sang nenek dengan sangat lembut.
"Mari, Grandma. Pelan-pelan saja," bisik Zendaya.
Senyumnya mekar—bukan senyum sinis yang biasa ia berikan di sekolah, melainkan senyum tulus yang hangat. Ia membantu wanita tua itu sampai ke seberang jalan dengan sabar. Sang nenek menatapnya penuh syukur. "Terima kasih, Malaikat Cantik."
Zendaya hanya mengangguk sopan. Namun, momen itu terinterupsi oleh suara klakson yang memekakkan telinga. Lampu sudah berubah hijau, dan keberadaan Zendaya di tengah jalan menghambat arus kendaraan.
Sebuah mobil Aston Martin dengan atap terbuka berhenti tepat di samping jalur penyeberangan. Di dalamnya duduk empat pemuda dengan seragam sekolah yang berbeda dari sekolah elit Zendaya—seragam SMA tetangga yang terkenal dengan reputasi murid-muridnya yang sedikit "begajulan" namun berasal dari keluarga kaya raya juga.
"Woi! Lampu sudah hijau, kau buta ya?!" teriak seorang pemuda yang duduk di kursi penumpang depan. Dia memakai kalung rantai besi yang terlihat seperti rantai anjing dan memiliki tato iblis di lengan atasnya.
Zendaya, yang emosinya memang sudah di ujung tanduk karena perdebatan saat sarapan tadi, menoleh perlahan. Ia tidak langsung masuk ke mobilnya. Sebaliknya, ia melangkah menghampiri mobil sport itu dengan keberanian yang luar biasa.
"Kau merusak pagiku, Brengsek," desis Zendaya, berdiri tepat di samping pintu mobil mereka.
Pemuda berkalung rantai itu tertawa mengejek. "Kau pikir ini jalan milik nenek moyangmu, hah? Menyeberang sesukamu!"
"Iya... memang ini jalan milik nenek moyangku. Kau punya masalah dengan itu?" tantang Zendaya, suaranya dingin dan tajam. Matanya melirik sinis ke arah pemuda itu. "Kau pikir aku takut karena kau memakai rantai anjing di lehermu itu? Atau aku harus takut karena tato iblis murahan di lenganmu? Siapa namamu, Hama?"
Pemuda di bagian Kemudi itu terdiam sejenak, kaget dengan keberanian gadis ini. Namun, pria yang duduk di samping nya—yang tadinya hanya diam—akhirnya bersuara dengan nada dingin.
"Kau menyebabkan kemacetan panjang, Nona. Dan aku... aku Lucas Leiva. Jangan cari masalah dengan kami di jalanan ini."
Zendaya melirik Lucas dengan pandangan merendahkan. "Aku tidak bertanya padamu ya, Brengsek."
Namun, saat matanya menyapu isi mobil itu, jantung Zendaya berdegup kencang secara tiba-tiba. Di kursi belakang, duduk Alistair dan Rex Hernandez.
Zendaya terpaku. Untuk apa Rex dan Alistair ada di mobil anak-anak sekolah sebelah yang begajulan ini?
Rex menatap Zendaya dari balik kacamata hitamnya. Ia melihat pemandangan tadi—bagaimana Zendaya membantu nenek tua itu, lalu berubah menjadi singa betina yang haus darah dalam hitungan detik. Tatapan Rex tetap datar, sulit dibaca, namun ada kilatan aneh di matanya.
Alistair tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Zendaya... kau bertingkah seperti cacing kepanasan hanya karena masalah lampu merah?"
"Diam kau, Alistair!" sentak Zendaya.
Rex tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Zendaya dalam diam selama beberapa detik, sebelum kemudian memberi isyarat pada pria tato dan Kalung rantai. "Jalan."
Brooommm!
Mobil sport itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan Zendaya yang berdiri mematung di tengah jalan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Perasaan aneh menyelimuti dadanya. Tatapan Rex tadi... pria itu seolah melihat menembus topeng keangkuhannya, melihat momen lembutnya bersama sang nenek tua tadi.
"Sialan," gumam Zendaya pelan sambil kembali masuk ke dalam Rolls-Royce-nya.
Pagi itu, di tengah bisingnya jalanan London, sebuah garis perang baru telah ditarik. Zendaya menyadari bahwa dunia Rex Hernandez ternyata lebih luas dan lebih misterius daripada sekadar ruangan kaca di kantin sekolah.
Dan entah mengapa, ia merasa bahwa tatapan Rex tadi adalah awal dari sesuatu yang tidak akan bisa ia kendalikan lagi.