NovelToon NovelToon
A Feeling Rising In Chaos

A Feeling Rising In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Misteri / Hari Kiamat / Fantasi / Romansa / Action
Popularitas:49
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.

Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Enam — Kanihu Sang Alpha

Selamat membaca ceritaku yang baru, semoga kalian suka..

Jay tidak langsung menjawab. Lorong tadi, sosok yang hanya berdiri… tidak menyerang… hanya mengamati.

Berbeda. Terlalu berbeda untuk sekadar Kanihu biasa.

“Dia juga pemimpin dari Kanihu lainnya, bukan?” lanjut Niki, kini suaranya hampir seperti bisikan yang takut didengar dinding.

Arsya merasakan bulu kuduknya meremang.

Alpha.

Istilah itu tidak pernah diumumkan pemerintah. Tidak pernah muncul di berita. Tapi pola yang mereka lihat—pergerakan teratur, penjagaan area tertentu, pemanggilan sesama Kanihu dengan pekikan—semuanya terasa seperti sistem.

Bukan gerombolan liar.

Jay akhirnya berbicara pelan. “Kalau mereka bereaksi terhadap pekikan tadi… kalau mereka berkumpul seperti mendapat perintah… maka kemungkinan besar memang ada pemimpinnya.”

Ia menunjuk jejak sepatu yang hanya masuk ke ruangan itu tanpa bekas keluar. “Dan kalau Alpha cukup cerdas… dia mungkin masih bisa berpikir. Mengamati. Mengatur.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit.

Lebih dingin.

Arsya menelan ludahnya. “Kalau begitu… dia bukan cuma monster.” Jay menggeleng tipis. “Bukan. Dia strategi.”

Niki menggenggam tongkat golfnya lebih erat. “Artinya kita bukan cuma sembunyi dari makhluk lapar… tapi dari sesuatu yang tahu cara berburu.”

Hening.

Jay menoleh cepat ke arah suara itu. Nalurinya menegang seketika—seperti ada sesuatu yang bergerak… atau memperhatikan.

“Kita harus keluar sekarang,” desisnya tegas. “Ambil itu—dan beberapa berkas lain yang ada tulisan tentang Kanihu. Cepat.”

Tanpa banyak tanya, ketiganya langsung bergerak.

Arsya menyambar map tebal berlabel “Distribusi Vaksin – Tahap Uji Coba”, tangannya sedikit gemetar namun tetap sigap memasukkannya ke dalam tas hitamnya. Debu beterbangan saat ia menarik beberapa dokumen lain yang bertuliskan “Subjek Alpha” dan “Respons Agresivitas Pasca-Injeksi".

Niki meraih tumpukan kertas dari meja lain, membaliknya sekilas untuk memastikan isinya relevan. Diagram tubuh manusia dengan bagian otak yang diberi tanda merah mencolok. Grafik peningkatan detak jantung. Catatan tangan yang tampak tergesa-gesa.

Jay membuka laci utama meja atasan.

Kosong.

Namun di bagian dalamnya terdapat satu flashdisk kecil yang tertempel dengan selotip. Tanpa ragu, ia mengambilnya.

“Sudah! Kita pergi!” bisiknya. Tapi tepat saat mereka berbalik— Suara itu terdengar lagi.

Tanpa menunggu satu detik pun lebih lama, ketiganya berlari keluar dari ruangan itu. Pintu kaca didorong perlahan namun cepat, lalu mereka menghilang kembali ke lorong gelap yang menelan bayangan tubuh mereka.

Langkah mereka tertahan, nafas ditekan sekuat mungkin agar tak terdengar.

Dan benar saja— baru sedetik setelah mereka menjauh, pintu ruangan itu terbuka perlahan dari luar. Bukan karena angin.

Melainkan karena sesuatu… yang masuk.

Dua sosok melangkah santai memasuki ruangan yang kini kosong itu.

Alpha.

Dan satu lagi—yang bergerak lebih ringan, lebih halus.

Senyap.

Keduanya berjalan seperti manusia biasa. Tegap. Teratur. Tidak tergesa. Namun arah kepala mereka bergerak patah-patah, berputar sedikit terlalu jauh ke kiri… lalu ke kanan… seakan sendi leher mereka tak lagi mengenal batas normal.

Alpha berhenti tepat di tengah ruangan.

Bola matanya berubah warna—dari keruh menjadi kemerahan pekat.

Ia menghirup udara.

Pelan.

Senyap melangkah ke meja yang tadi dibongkar. Jarinya yang panjang menyentuh debu yang terusik. Ia mengangkatnya, memperhatikan bekas jejak baru di lantai.

Lalu kepalanya menoleh 180 derajat ke arah lorong. Senyap tidak bersuara, sosok itu hanya menunggu aba-aba dari Alpha.

Alpha memiringkan kepalanya, lalu mengeluarkan suara rendah—bukan pekikan, bukan pula raungan. Lebih seperti getaran dalam yang merambat di dinding lorong.

Sebuah sinyal.

Di kejauhan, terdengar balasan samar. Langkah-langkah lain mulai bergerak.

Sementara itu, jauh di dalam lorong gelap— Jay menghentikan langkah mereka, tangannya terangkat memberi isyarat diam total.

Karena kini bukan hanya mereka yang memburu jawaban. Tetapi sesuatu… sedang memburu mereka.

“Kita harus segera keluar… tapi jangan sampai lengah,” ujar Jay dengan nafas memburu, suaranya ditekan serendah mungkin. “Sepertinya Alpha sudah tahu keberadaan kita.”

Kalimat itu membuat dada Arsya dan Niki terasa tercekat. Seolah ada tali tak kasatmata yang menarik leher mereka, mengencang sedikit demi sedikit.

Namun mereka tidak berhenti.

Mereka terus berjalan cepat tanpa suara, menapak hati-hati di lorong sempit yang hanya diterangi cahaya senter redup. Bayangan mereka memanjang di dinding lembab.

Di ujung lorong— terlihat sebuah pintu.

Besar. Logam. Dengan tanda EXIT yang nyaris pudar.

Harapan.

Namun tepat saat langkah mereka hendak dipercepat—terdengar suara pelan dan patah-patah.

Bukan dari belakang. Melainkan… dari arah pintu itu.

Langkah yang tidak terburu. Tidak tergesa. Seperti seseorang yang tahu mangsanya tak punya banyak pilihan.

Jay langsung mengangkat tangan, menghentikan keduanya. Niki menegang, tongkat golfnya terangkat.

Arsya menahan napas sampai dadanya terasa perih. Suara itu semakin dekat.

krek… tek… krek…

Sendi yang dipaksa bergerak.

“Sembunyi dulu, samarkan keberadaan kita.” bisik Jay cepat, nyaris tak terdengar.

Tanpa membantah, mereka bertiga bergerak menyamping, memasuki celah lorong kecil di sisi dinding. Ruang sempit itu setengah tertutup papan kayu panjang yang disandarkan asal, seolah bekas renovasi yang tak pernah selesai.

Mereka menempel rapat ke dinding dingin.

Jay di depan, tubuhnya sedikit condong untuk mengintip. Arsya di tengah, menahan nafasnya sendiri. Niki di belakang, tongkat golf terangkat namun tak bergerak.

Lorong utama hanya berjarak beberapa langkah dari tempat persembunyian mereka.

Suara itu semakin jelas.

Krek… tek… krekk..

Langkah patah-patah, tidak tergesa dan tidak ragu. Bayangan memanjang melewati celah papan kayu. Sesuatu berjalan melintasi lorong utama, tepat di depan tempat mereka bersembunyi.

Arsya memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang terasa terlalu keras. Ia bahkan takut denyut nadinya bisa terdengar.

Sosok itu berhenti, tepat di depan celah mereka. Tidak bergerak hanya berdiri, lalu— kepalanya perlahan menoleh… terlalu jauh, hingga terdengar bunyi sendi yang retak halus.

Menghadap ke arah papan kayu, menghadap ke arah mereka. Jay menahan nafas sampai paru-parunya terasa terbakar, ia juga menelan ludah dengan sangat pelan.

Beberapa detik terasa seperti menit. Lalu, terdengar suara hirupan nafas panjang, mengendus dan mencari layaknya anjing. Namun aroma mereka tersamarkan karena lorong kecil itu dipenuhi debu dan kayu lapuk. Membuat sosok itu akhirnya kembali bergerak lagi.

Langkahnya menjauh dan terdengar sangat pelan. Tapi di kejauhan— terdengar balasan langkah lain, lebih dari satu. Tentunya Alpha tidak hadir sendiri.

Beberapa detik setelah langkah patah itu benar-benar menghilang. Lorong kembali sunyi namun sangat menekan.

Jay menghitung dalam hati. Lima… sepuluh… lima belas detik. Tidak ada hirupan nafas, tidak ada bunyi sendi retak dan tidak ada bayangan yang melintas.

Ia langsung memberi isyarat kecil.

Sekarang.

Ketiganya bergerak cepat keluar dari lorong sempit itu, langkah mereka ringan namun tergesa, menahan suara sebisa mungkin. Pintu EXIT kini hanya beberapa langkah di depan. Jay meraih gagangnya perlahan dan membuka sedikit—cukup untuk memastikan tidak ada sosok di sisi lain. Cahaya redup dari luar masuk melalui celah pintu.

Aman.

“Niki dulu. Arsya, cepat,” bisiknya. Niki menyelinap keluar lebih dulu, langsung menyapu pandangan ke kanan dan kiri, serta bawah dan atas. Arsya menyusul, tas hitamnya nyaris menyentuh sisi pintu.

Begitu keduanya berada di luar, Jay keluar terakhir. Sebelum benar-benar menutup pintu, ia melirik sekali lagi ke lorong gelap di belakangnya. Hampa.

Namun entah mengapa, hawa di dalam sana terasa seperti sedang… menunggu.

Terima kasih sudah membaca, nanti kita lanjut besok lagi jam 10.00 yaa

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!