Yussallia Tsaverra Callisto selalu memimpikan kehidupan pernikahan yang indah di masa depan. Yussallia masih berharap bahwa kehidupan pernikahannya bersama Rionegro akan berjalan semulus yang ia harapkan, meskipun pernikahan mereka didasari oleh sebuah kesalahan satu malam yang mereka lakukan pada di masa lalu.
Rionegro Raymond Kalendra tidak pernah menyangka bahwa menolong seorang gadis yang terjebak dalam badai hujan akan berujung pada pernikahan yang tidak pernah ia inginkan. Rionegro tahu ia tak bisa menghindar dari kewajibannya untuk menikahi Yussallia, gadis yang pernah ia bantu, meskipun mereka memiliki seorang anak bersama akibat kesalahan satu malam yang mereka buat di masa lalu.
Dan dengan segala harapan dan keraguan yang menggantung di atas pernikahan mereka, apakah Yussallia mampu mewujudkan mimpinya tentang pernikahan yang bahagia? Atau akankah pernikahan itu berakhir dengan kegagalan, seperti yang ditakuti Rionegro?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Pagi datang seperti biasanya.
Terlalu biasa, justru.
Langit di luar jendela kamar Yusallia tampak cerah. Cahaya matahari masuk dalam garis-garis tipis melalui celah tirai, jatuh di lantai kayu dan sudut meja kerja yang semalam tetap berantakan karena ia tidak sempat merapikannya. Udara di dalam kamar tidak terlalu dingin. Tidak terlalu hangat. Semuanya terasa normal.
Dan justru itu yang terasa aneh.
Yusallia membuka mata dengan perasaan berat yang masih sama seperti semalam.
Ia tidak langsung bangun. Hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan diam, membiarkan beberapa detik pertama pagi itu berlalu tanpa makna. Biasanya, begitu bangun, kepalanya sudah langsung dipenuhi daftar hal yang harus ia lakukan hari itu. Jadwal pasien. Dokumen yang harus diperiksa. Obat yang perlu ditinjau ulang. Diskusi dengan rekan kerja. Hal-hal yang bergerak rapi, teratur, dan masuk akal.
Hari ini, semua itu tetap ada.
Namun berada di lapisan kedua.
Yang berada di lapisan pertama justru hal yang tidak ingin ia pikirkan terlalu lama.
Empat test pack.
Dua garis.
Positif.
Yusallia memejamkan mata lagi.
Hanya sebentar.
Lalu mengembuskan napas pelan dan memaksa dirinya duduk di tepi tempat tidur.
Ia tidak bisa terus diam.
Hari tetap berjalan. Dan dirinya, suka atau tidak, harus ikut berjalan bersama hari itu.
Tangannya meraih ponsel di meja samping tempat tidur. Layar menyala menampilkan jam yang belum terlalu siang, beberapa notifikasi pesan dari grup rumah sakit, dan pengingat jadwal pasien yang sudah tersusun sejak beberapa hari lalu.
Semuanya tampak biasa.
Ia menatap layar itu beberapa detik lebih lama sebelum mematikannya lagi.
Lalu berdiri.
Langkahnya menuju kamar mandi terasa sedikit lambat, tapi kali ini ia tidak berhenti terlalu lama di depan cermin. Ia hanya mencuci wajah, menyikat gigi, lalu berdiri dengan kedua tangan bertumpu di wastafel beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Pikirannya langsung terarah ke lemari kecil di bawah wastafel.
Ke plastik kecil yang ia sembunyikan di bagian paling belakang.
Ia tidak membukanya lagi.
Tidak ingin melihatnya lagi pagi ini.
Bukan karena tidak percaya.
Justru karena terlalu percaya.
Ia menarik napas pelan, lalu memaksa dirinya keluar dari kamar mandi.
Di depan lemari pakaian, ia berdiri cukup lama.
Lebih lama dari yang seharusnya.
Biasanya memilih baju kerja adalah hal sederhana. Kemeja, blouse, atau dress formal yang nyaman, rapi, dan tidak merepotkan. Namun pagi itu, bahkan keputusan kecil terasa menyita tenaga lebih banyak.
Akhirnya ia memilih pakaian yang paling sederhana di antara beberapa pilihannya. Tidak terlalu formal, tapi tetap cukup rapi untuk rumah sakit. Warna netral. Tidak mencolok. Aman.
Ia tidak ingin memikirkan apa pun lebih dari yang diperlukan.
Saat selesai berpakaian, ia kembali menatap dirinya di cermin.
Wajahnya terlihat tenang.
Mungkin terlalu tenang.
Dan itu membuatnya semakin tidak suka melihat dirinya sendiri.
Karena ia tahu ketenangan itu tidak nyata.
Ia hanya sedang berusaha bertahan.
—
Sarapan di rumah tetap berjalan seperti biasa.
Asisten rumah tangga menyiapkan meja makan dengan rapi. Aroma roti panggang dan teh hangat memenuhi ruang makan. Yasvera sudah duduk lebih dulu dengan ponsel di tangan, sementara Damian belum terlihat turun.
Yusallia duduk di kursinya perlahan.
Piring di depannya diisi dengan porsi yang cukup. Tidak terlalu banyak.
Ia mencoba makan.
Setidaknya itu yang ia niatkan.
Namun begitu suapan pertama masuk, perutnya langsung terasa tidak nyaman. Bukan mual yang kuat seperti kemarin pagi. Hanya penolakan halus dari tubuhnya sendiri. Seolah tubuhnya punya caranya sendiri untuk mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak lagi sama.
Yusallia menurunkan sendok pelan.
“Kakak gak makan?” tanya Yasvera sambil menoleh sekilas.
“Makan,” jawab Yusallia singkat.
Namun beberapa menit kemudian, isi piringnya hampir tidak berkurang.
Yasvera menatapnya lagi, kali ini sedikit lebih lama.
“Kakak masih gak enak badan?”
Yusallia tersenyum tipis. Senyum yang terlalu tipis untuk benar-benar meyakinkan.
“Cuma kurang nafsu makan.”
Yasvera tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk kecil, seolah memilih untuk tidak memperpanjang percakapan.
Dan Yusallia bersyukur untuk itu.
Ia belum siap menghadapi perhatian yang terlalu dekat.
Belum siap terlihat rapuh.
Setelah beberapa menit, ia berdiri lebih dulu dari meja makan.
“Aku berangkat dulu.”
Yasvera mengangguk. “Hati-hati.”
“Iya.”
Kalimat sederhana.
Suasana sederhana.
Pagi yang di permukaan tetap tampak biasa.
Namun begitu Yusallia keluar rumah dan menutup pintu mobilnya, dadanya terasa kembali sesak oleh kenyataan yang semalaman tidak benar-benar memberinya ruang untuk bernapas.
Ia menggenggam setir lebih erat.
Lalu menyalakan mesin mobil.
Rumah sakit menunggunya.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak yakin dirinya siap untuk masuk ke tempat yang selama ini selalu menjadi ruang paling stabil dalam hidupnya.
—
Koridor rumah sakit terasa lebih dingin pagi itu.
Atau mungkin hanya dirinya yang terlalu sensitif.
Sepatu Yusallia beradu pelan dengan lantai mengilap saat ia berjalan menuju ruang praktiknya. Beberapa perawat menyapanya seperti biasa, beberapa dokter lain mengangguk singkat, dan seseorang dari bagian administrasi sempat menyodorkan berkas yang harus ia tanda tangani.
Semua berlangsung normal.
“Dokter Yusallia, pagi.”
“Pagi.”
Suaranya tetap terdengar tenang.
Terlatih.
Stabil.
Persis seperti yang semua orang harapkan darinya.
Begitu masuk ke ruangan, ia langsung menaruh tas di kursi, membuka laptop, lalu menatap jadwal pasien hari itu.
Penuh.
Tidak sepenuh hari-hari terburuknya, tapi cukup untuk membuatnya tidak punya banyak waktu longgar.
Yusallia menatap daftar nama di layar.
Satu per satu.
Lalu meraih berkas pasien pertama.
Tangannya bergerak otomatis. Membuka catatan lama. Membaca diagnosis sebelumnya. Menandai poin penting yang perlu diperhatikan. Semua hal yang sudah sangat ia kuasai.
Namun ketika pasien pertama benar-benar duduk di depannya, Yusallia baru sadar bahwa fokusnya tidak seutuh biasanya.
Pasien itu adalah seorang pria berusia awal tiga puluhan, datang untuk sesi lanjutan setelah beberapa minggu terakhir menangani kecemasan berat dan insomnia. Biasanya Yusallia akan langsung menangkap perubahan kecil dari ekspresi, intonasi, dan pilihan kata pasiennya.
Hari itu, ia masih bisa melakukannya.
Tapi lebih lambat.
Sedikit tertinggal.
Butuh tenaga lebih besar.
Ia mengajukan pertanyaan pertama dengan tenang. Mendengarkan jawaban pasien. Mencatat poin penting. Mengangguk pada bagian tertentu.
Semuanya tetap berjalan.
Namun dua atau tiga kali, pikirannya sempat terputus sepersekian detik.
Bukan hilang.
Hanya seperti ada selimut tipis yang menghalangi kejernihannya.
Pasien itu berhenti bicara di tengah kalimat.
“Dok?”
Yusallia langsung tersadar.
“Maaf,” katanya cepat, lalu mengangkat pandangan. “Silakan lanjut.”
Pasien itu mengangguk, meskipun terlihat sedikit ragu.
Yusallia menegakkan punggungnya.
Fokus.
Ia memaksa dirinya lebih hadir.
Lebih penuh.
Sesi pertama berakhir tanpa kesalahan berarti.
Tapi begitu pasien keluar dan pintu tertutup, Yusallia menutup mata sejenak.
Ia tahu tadi ia sedikit terlambat menangkap emosi lawan bicaranya.
Sedikit saja.
Namun untuk seseorang seperti dirinya, sedikit saja sudah cukup untuk terasa besar.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mengambil berkas pasien berikutnya.
—
Pasien kedua adalah remaja perempuan yang datang bersama ibunya.
Kasus depresi ringan dengan gangguan pola makan.
Yusallia sudah menangani pasien itu beberapa kali. Ia hafal riwayatnya. Hafal pola interaksinya. Hafal kapan anak itu mulai menutup diri dan kapan ibunya mulai bicara terlalu banyak.
Namun hari itu, ada satu momen kecil yang membuat darah di tubuhnya terasa lebih dingin.
Saat sang ibu berhenti bicara dan menatapnya dengan cemas, Yusallia secara refleks mulai menuliskan nama obat yang sempat ia pertimbangkan beberapa minggu lalu.
Padahal pada evaluasi terakhir, obat itu sudah tidak lagi menjadi pilihan utama.
Tangannya berhenti tepat sebelum tinta benar-benar membentuk nama lengkapnya.
Ia menatap kertas itu.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Salah.
Itu salah.
Ia menarik napas cepat, lalu menutup catatan itu sebentar dengan tangan.
“Sebentar, Bu,” katanya pelan.
Sang ibu mengangguk.
Yusallia membuka kembali berkas pasien sebelumnya. Memastikan dosis. Memastikan evaluasi terakhir. Memastikan dirinya tidak salah mengingat.
Dan benar.
Ia hampir saja menuliskan terapi yang tidak lagi sesuai.
Kesalahan itu belum terjadi.
Belum sampai keluar dari tangannya.
Namun fakta bahwa itu sempat hampir terjadi membuat perutnya terasa kosong.
Ia memperbaiki catatan dengan cepat.
Lalu melanjutkan sesi seolah tidak ada yang berbeda.
Tapi sejak saat itu, sesuatu di dalam dirinya mulai retak.
Sedikit.
Namun jelas.
—
Saat jam istirahat tiba, Yusallia tidak langsung makan siang.
Ia menutup pintu ruang praktiknya, lalu duduk sendirian di kursi kerjanya.
Ruangan itu mendadak terasa terlalu sepi.
Terlalu terang.
Terlalu sempit.
Tangannya terdiam di atas meja.
Matanya menatap catatan pasien yang tadi hampir salah ia tangani.
Ia membayangkan seandainya ia benar-benar menuliskan resep itu.
Seandainya ia tidak sadar tepat waktu.
Seandainya pasien itu benar-benar pulang dengan arahan yang salah.
Napasnya terasa sedikit tidak stabil.
Ia selalu bangga pada dirinya sendiri karena mampu memisahkan masalah pribadi dari pekerjaan. Itu salah satu alasan mengapa ia bisa bertahan di profesinya. Karena ia tahu pasien yang duduk di depannya tidak datang untuk memikul beban hidupnya. Mereka datang dengan luka masing-masing. Dan ia harus hadir sepenuhnya.
Tapi hari ini…
Ia tidak sepenuhnya hadir.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Yusallia takut pada dirinya sendiri.
Takut pada kemungkinan bahwa ia bisa melukai seseorang bukan karena tidak tahu, tapi karena sedang tidak utuh.
Ia menyandarkan punggung ke kursi.
Lalu menutup wajah dengan kedua tangan.
Tidak ada tangisan.
Hanya rasa takut yang datang pelan dan menetap.
Ia tidak takut pada rumah sakit.
Tidak takut pada pekerjaannya.
Ia takut pada dirinya sendiri yang pagi ini hampir gagal menjadi orang yang selama ini paling ia percaya.
Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan di pintu.
“Dok? Makan siangnya ditaruh di luar ya?”
Suara asistennya terdengar pelan.
Yusallia menurunkan tangannya dengan cepat.
“Iya. Terima kasih.”
“Dokter gapapa?”
Pertanyaan itu membuat Yusallia terdiam sepersekian detik.
“Gapapa. Cuma sedikit pusing.”
“Oh… mau saya buatkan teh hangat?”
Yusallia menggeleng, meskipun orang di luar tidak bisa melihatnya, lalu baru sadar dan menjawab, “Enggak usah. Nanti saya keluar.”
“Baik, dok.”
Langkah kaki itu menjauh.
Yusallia kembali diam.
Lalu menatap tangannya sendiri.
Tangan yang tadi hampir menuliskan hal yang salah.
Tangan yang selama ini ia andalkan.
Tangan yang seharusnya selalu stabil.
Ia menelan pelan.
Dan dalam diam itu, satu kesadaran mulai terbentuk dengan jelas.
Ia tidak bisa memaksa semuanya tetap normal.
Tidak bisa terus berpura-pura bahwa hidupnya belum berubah.
Karena nyatanya, perubahan itu sudah mulai merembet ke tempat yang paling tidak boleh disentuh.
Pekerjaannya.
Yusallia mengembuskan napas panjang.
Lalu meraih ponselnya.
Layar menyala.
Ia tidak membuka pesan apa pun.
Tidak mencari nama siapa pun.
Hanya menatap pantulan samar wajahnya sendiri di layar hitam yang belum benar-benar aktif.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut.
Bukan karena hasil test pack.
Bukan karena perubahan tubuhnya.
Tapi karena hari ini, ia hampir kehilangan kendali pada satu hal yang selama ini menjadi jangkar hidupnya.
Dan itu membuat semuanya terasa jauh lebih nyata daripada kemarin.
Jauh lebih berat.
Jauh lebih sulit untuk ditunda.
Ia mematikan layar ponselnya lagi.
Lalu duduk diam, membiarkan siang yang berjalan biasa di luar ruangan itu terasa jauh lebih goyah di dalam dirinya.