Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Debu di Atas Mahkota
Salju tipis mulai turun, menutupi puing-puing benteng Utara yang baru saja rata dengan tanah. Aruna masih bersimpuh, jemarinya mencengkeram cincin perak milik Arvand yang ia temukan di sela bebatuan. Napasnya terlihat seperti uap putih di udara yang membeku. Kalimat pria di depannya, pria yang mengaku sebagai Kaisar yang sebenarnya terasa seperti hantaman godam yang lebih berat daripada runtuhnya benteng tadi.
"Putra Mahkota?" Aruna mendongak, matanya yang sembab menatap pria berzirah emas itu dengan sisa-Sisa kekuatannya. "Arvand... suamiku... adalah anakmu?"
Pria itu, Kaisar tua yang seharusnya sudah lama wafat dalam catatan sejarah, turun dari kudanya. Gerakannya masih gagah, namun ada gurat kelelahan yang sangat dalam di wajahnya. Ia mendekati Aruna, mengabaikan tatapan waspada dari para prajurit rahasia yang mengepung mereka.
"Arvand adalah satu-satunya garis keturunan yang kuselamatkan saat pengkhianatan sepuluh tahun lalu terjadi," suara Kaisar tua itu bergetar. "Kaisar yang sekarang duduk di takhta hanyalah seorang perebut yang haus darah. Arvand menyembunyikan identitasnya, menjadi jenderal perang, demi melindungimu dan anak itu."
Arel, yang masih berada di dekapan Aruna, menatap sang kaisar tua dengan takut-takut. "Kakek... siapa?"
Kaisar tua itu berlutut di depan Arel, tangannya yang kasar mengusap pipi bocah itu. "Aku adalah kakekmu, Nak. Dan ayahmu... dia adalah pahlawan yang lebih besar dari yang bisa kau bayangkan."
Aruna merasakan amarah mulai naik ke tenggorokannya. "Jika kamu adalah ayahnya, kenapa kamu membiarkannya menderita sendirian selama ini? Kenapa kamu membiarkannya dicap sebagai pengkhianat dan hampir mati berkali-kali?"
"Karena bayang-bayang musuh ada di mana-mana, Aruna," jawab sang Kaisar pelan. "Termasuk wanita yang bersamamu tadi, Seraphina. Dia bukan temanmu."
Aruna tersentak. Ia teringat bagaimana Seraphina menghilang begitu saja saat benteng runtuh. "Di mana dia?"
"Dia adalah agen ganda yang bekerja untuk siapa pun yang memegang kunci kekuasaan. Dan sekarang, dia sedang mengejar jejak kaki yang kau lihat di hutan itu," Kaisar tua itu berdiri kembali, wajahnya mengeras. "Itu bukan jejak Arvand. Itu adalah umpan yang dipasang untuk memancingmu masuk ke dalam hutan terlarang."
Aruna langsung berdiri, hampir terjatuh karena kakinya yang masih lemas. "Apa? Jadi Arvand... dia benar-benar hilang di bawah reruntuhan itu?"
"Atau dia dibawa pergi melalui gerbang dimensi sebelum tertutup sepenuhnya," Kaisar tua itu menatap tumpukan debu benteng. "Kita tidak punya waktu untuk berduka. Pasukan kaisar palsu, pasukan Kaelan sedang menuju ke sini. Kita harus pergi secepatnya ke tempat persembunyian di balik lembah."
Namun, Aruna tidak bergerak. Ia menatap hutan gelap di kejauhan. Obsesinya untuk melindungi keluarganya kini bercampur dengan trauma kehilangan yang mendalam. Ia merasa dipermainkan oleh nasib, oleh penulis naskah, dan sekarang oleh sejarah kerajaan yang kacau ini.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana sampai aku tahu di mana suamiku berada," desis Aruna.
"Ratri, jangan keras kepala!" bentak Kaisar tua.
"Namaku bukan Ratri!" teriak Aruna, suaranya menggema di lembah yang sunyi itu. "Aku adalah Aruna! Dan aku sudah muak dengan rahasia kalian semua!"
Tiba-tiba, dari arah hutan, terdengar suara siulan panjang yang melengking. Siulan yang sama dengan yang didengar Aruna saat berada di kereta jenazah. Tak lama kemudian, sosok Kaelan muncul dari balik kabut, namun kali ini ia tidak membawa pasukan besar. Ia hanya sendirian, dengan pakaian yang compang-camping dan pedang yang patah.
Kaelan berjalan terhuyung-huyung, matanya tertuju hanya pada Aruna. "Dia... dia ada di sana, Aruna..."
Aruna berlari mendekati Kaelan, meski para prajurit Kaisar tua sudah menghunuskan senjata. "Kaelan! Siapa yang ada di sana? Arvand?"
Kaelan ambruk di depan Aruna, napasnya tersengal parah. "Di dalam hutan... ada cermin... Arvand terjebak di dalam bayangan duniamu..."
Aruna membeku. Bayangan dunianya? Apakah itu berarti Arvand terlempar ke masa depan? Ke dunianya yang asli?
"Kaelan, bicaralah yang jelas!" Aruna mengguncang bahu Kaelan.
"Sang Penulis... dia tidak benar-benar hilang," gumam Kaelan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. "Dia... dia menyeret Arvand sebagai penggantinya di dimensi sana..."
Aruna menoleh pada Kaisar tua. "Apa maksudnya ini?"
"Hutan Terlarang adalah titik di mana realitas menjadi tipis," suara Kaisar tua terdengar berat. "Jika suamimu terseret ke sana, artinya dia sedang berada di tempat yang tidak seharusnya dia pijak. Dan hanya seseorang yang memiliki keterikatan jiwa yang sama yang bisa membawanya kembali."
Aruna tahu apa yang harus ia lakukan. Ia menatap Arel, lalu memberikan bocah itu kepada Mira yang berdiri di dekatnya. "Mira, jaga Arel. Jika aku tidak kembali dalam tiga hari, bawa dia sejauh mungkin dari kerajaan ini."
"Madam, jangan! Hutan itu berbahaya!" Mira memohon sambil menangis.
"Ibu! Jangan tinggalkan Arel!" Arel memeluk kaki Aruna erat-erat.
Aruna berlutut, mencium kening Arel dengan lembut. "Ibu tidak meninggalkanmu, Sayang. Ibu pergi untuk membawa Ayah pulang. Kita akan menjadi keluarga yang utuh, tanpa rahasia lagi. Ibu janji."
Aruna melepaskan pelukan Arel dengan paksa dan berlari menuju kegelapan hutan terlarang. Ia tidak membawa senjata, hanya cincin perak Arvand yang ia genggam erat di telapak tangannya.
Begitu ia memasuki batas hutan, pepohonan seakan bergerak menutup jalan di belakangnya. Suasana menjadi sangat hening, tidak ada suara burung atau angin. Hanya ada suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.
Aruna terus berjalan, mengikuti cahaya biru redup yang muncul dari sela-sela akar pohon besar. Semakin jauh ia masuk, pemandangan di sekitarnya mulai berubah. Batang pohon kayu berubah menjadi tiang-tiang listrik beton. Tanah berlumut berubah menjadi aspal jalanan yang retak.
"Apa ini..." gumam Aruna.
Ia melihat sebuah bangunan yang sangat familiar. Itu adalah kantor penerbitan tempat ia bekerja dulu. Namun, bangunan itu terlihat tua dan terbengkalai, seolah-olah waktu telah berjalan ratusan tahun di sana.
Di depan pintu kantor itu, duduk seorang pria dengan pakaian jenderal kuno yang penuh darah. Pria itu menatap tangannya yang sedang memegang sebuah telepon genggam yang mati dengan bingung.
"Arvand?" panggil Aruna lirih.
Pria itu mendongak. Matanya yang tajam tampak kosong dan penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya. "Ratri? Tempat apa ini? Kenapa semua orang di sini memakai pakaian aneh dan berbicara dengan benda kotak ini?"
Aruna berlari dan memeluk Arvand. Tubuh Arvand terasa nyata, hangat, dan bergetar. "Ini duniaku, Arvand... Kamu terlempar ke duniaku."
Arvand membalas pelukan Aruna dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan menghilang. "Bawa aku pulang, Ratri. Aku tidak mengerti tempat ini. Aku ingin pulang ke rumah kita... ke Arel..."
Namun, saat Aruna hendak menarik Arvand kembali ke arah hutan, sesosok bayangan besar muncul dari balik gedung tinggi. Bayangan itu berbentuk seperti raksasa yang terbuat dari rangkaian huruf dan kata-kata hitam yang bergerak-gerak.
"Plot belum selesai!" suara raksasa itu menggelegar, suara yang sama dengan sang 'Penulis'. "Karakter utama tidak boleh meninggalkan setting cerita tanpa izin!"
Raksasa kata-kata itu menyerang mereka dengan cambuk yang terbuat dari kalimat-kalimat kutukan. Arvand mencoba menghunus pedangnya, tapi pedang itu berubah menjadi pena bulu yang patah di tangannya.
"Di sini, kekuatan fisikmu tidak berguna, Jenderal!" raksasa itu tertawa.
Aruna berdiri di depan Arvand. Ia tahu ini adalah dunianya, dimensinya. Ia bukan lagi Lady Ratri yang lemah secara spiritual. Ia adalah seorang penulis.
"Aku yang memegang pena sekarang!" teriak Aruna.
Ia menutup matanya, memfokuskan seluruh kemarahan, trauma, dan rasa cintanya. Ia membayangkan cincin perak di tangannya menjadi sebuah penghapus besar. Ia mulai 'menghapus' bayangan raksasa itu dengan kekuatan pikirannya.
"Aku menolak bab ini! Aku menulis ulang akhir ceritanya!"
Cahaya putih menyilaukan meledak dari tubuh Aruna, menghancurkan bayangan raksasa kata-kata itu hingga menjadi serpihan debu tinta. Seluruh pemandangan kota modern itu mulai retak dan runtuh.
Aruna menarik Arvand kembali menembus lubang dimensi yang mulai mengecil. Mereka berlari melintasi ruang hampa yang penuh dengan fragmen ingatan masa lalu dan masa depan.
Saat mereka hampir mencapai ujung, Aruna melihat Seraphina berdiri di persimpangan jalan dimensi. Seraphina tidak lagi memakai pakaian hitam, melainkan pakaian modern yang sangat modis.
"Selamat, Aruna. Kau berhasil memenangkan hak atas hidupmu sendiri," ujar Seraphina sambil tersenyum tipis. "Tapi ingat, setiap perubahan naskah memiliki harga yang harus dibayar."
"Apa harganya?" tanya Aruna panik saat lubang itu semakin menjepit mereka.
Seraphina tidak menjawab, ia hanya menunjuk ke arah tangan Aruna. Aruna melihat cincin perak Arvand perlahan-lahan menyatu dengan kulitnya, menjadi sebuah tanda lahir berbentuk lingkaran di pergelangan tangannya.
"Keberadaanmu di sini akan terhapus dari ingatan semua orang di duniamu yang lama. Kau akan benar-benar menjadi Ratri selamanya. Apakah kau siap?"
Aruna menatap Arvand yang memegang tangannya dengan penuh kepercayaan. Ia memikirkan Arel yang sedang menunggunya di luar hutan.
"Aku siap," jawab Aruna mantap.
Mereka melompat keluar dari hutan terlarang tepat saat fajar menyingsing sepenuhnya. Arvand dan Aruna jatuh bergulingan di atas rumput di depan mata Kaisar tua, Arel, dan para prajurit.
"Ayah! Ibu!" Arel berlari menubruk mereka berdua.
Arvand memeluk anaknya dan istrinya, menangis dalam diam. Kaisar tua itu mendekat, wajahnya penuh rasa syukur. "Kalian berhasil. Sekarang, saatnya kita mengambil kembali apa yang menjadi milik kita. Ibu kota sudah dalam jangkauan."
Namun, saat Aruna mencoba berdiri, ia merasakan sesuatu yang aneh di perutnya. Rasa mual yang sangat familiar bagi seorang ibu. Ia memegang perutnya dan menatap Arvand dengan wajah pucat.
"Arvand... ada sesuatu yang ingin kukatakan."
Tiba-tiba, dari arah gerbang persembunyian, seorang prajurit berlari dengan panik. "Lapor! Pangeran Kaelan... dia menghilang dari tempat perawatannya! Dan dia membawa pergi Kunci Tembaga milik Seraphina!"
Aruna menoleh ke arah hutan. Ia melihat sosok Kaelan berdiri di puncak bukit terjauh, memegang kunci tembaga itu. Namun, Kaelan tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri sosok wanita yang wajahnya sangat mirip dengan Aruna di dunia modern. Sosok Aruna yang asli yang seharusnya sudah terhapus.
Bagaimana mungkin sosok Aruna dari dunia modern bisa muncul di zaman kuno bersama Kaelan? Apa yang akan dilakukan Kaelan dengan kunci tembaga dan 'Aruna asli' tersebut? Dan apakah kehamilan Aruna akan menjadi berkah atau justru kelemahan baru dalam perang merebut ibu kota yang akan segera pecah?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.