Marcus, seorang pemuda dengan hidup yang berantakan, tewas secara konyol hanya karena terpeleset oleh sampah di apartemennya sendiri.
Namun takdir justru mempermainkannya. Alih-alih pergi ke akhirat, ia malah terbangun di tubuh Leon Von Anhart, seorang karakter villain dari novel yang baru saja ia maki-maki habis-habisan.
Menjadi Leon adalah mimpi buruk.
Selain reputasinya sebagai sampah masyarakat yang dibenci semua orang, termasuk keluarganya sendiri, tubuh ini juga menyimpan kondisi yang mengenaskan: gagal jantung kronis yang membuatnya divonis hanya memiliki sisa hidup 365 hari.
Dengan waktu hidup yang tinggal satu tahun, reputasi yang sudah hancur, serta sebuah layar sistem aneh yang memaksanya berbuat baik demi bertahan hidup, Marcus terpaksa melawan takdirnya sendiri.
Masalahnya, dunia ini tidak membutuhkannya sebagai pahlawan.
Dunia ini hanya membutuhkan Leon, seorang villain yang kelak akan menjadi monster sekaligus ancaman bagi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Younglord, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
"Lari?" bisik Leon tepat di lubang telinga bandit itu. Suaranya berat, bergema dengan nada ganda yang tidak terdengar seperti suara manusia.
Si bandit gendut gemetar hebat hingga giginya beradu. "T-tolong... ampuni aku..—"
Leon tidak memberikan belas kasihan. Cahaya merah gelap dari telapak tangannya semakin terang, merambat masuk ke dalam pori-pori kulit si bandit.
"ARGHHHHHH!"
Jeritan memilukan pecah. Tubuh si bandit gendut bergetar hebat seolah tersengat listrik ribuan volt. Energi kehidupannya ditarik paksa keluar.
Kulitnya yang semula berminyak dan subur mulai mengeriput, dagingnya menyusut dengan cepat hingga menyisakan tulang yang dibalut kulit kering.
Hanya dalam hitungan detik, teriakan itu menghilang. Yang tersisa di tangan Leon hanyalah tumpukan pakaian dan abu hitam yang berhamburan ke tanah.
Namun tiba tiba
...[Peringatan!!]...
...[ 0 / 90 ]...
...[ stamina pengguna habis]...
Seketika itu juga, aura merah gelap yang menyelimuti tubuh Leon menguap dan menghilang. Warna matanya kembali normal, namun terlihat sangat kosong.
"Uhuk!"
Leon memuntahkan sisa darah dari tenggorokannya. Tubuhnya yang tadi berdiri tegak kini kehilangan seluruh kekuatannya. Rasa sakit yang berkali-kali lipat dari sebelumnya menghantam syarafnya secara bersamaan.
Pandangannya perlahan menggelap. Ia sempat melihat bayangan Eiryn yang terbaring tidak jauh darinya sebelum akhirnya dunianya benar-benar padam.
Leon jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri di tengah keheningan malam yang mencekam.
Kesadaran Leon perlahan kembali saat seberkas cahaya matahari menusuk kelopak matanya. Ia mengerang pelan, merasakan seluruh persendiannya seolah baru saja dihancurkan oleh truk.
"Ughh... kepalaku..." Leon memegangi dahinya yang berdenyut.
Ia mencoba duduk, namun rasa nyeri di dadanya membuat gerakannya terhenti. Ia menatap sekeliling. Ini bukan kamar pengapnya di gubuk kebun. Ruangan ini jauh lebih bersih dengan aroma kayu yang menenangkan.
"Di mana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya bingung.
Ingatannya berputar kembali ke malam itu. Gang gelap, bandit, dan...
"Eiryn!"
Wajahnya memucat. Leon mencoba memaksa tubuhnya bangun, tepat saat pintu kayu di depan sana terbuka dengan derit pelan.
Langkah kaki itu terhenti. Di ambang pintu, seorang gadis berdiri mematung dengan nampan di tangannya. Begitu melihat Leon sudah sadar, mata gadis itu berkaca-kaca.
"Tuan..." bisiknya parau.
"Eiryn, kau tidak apa-apa? apa kau terluka?" tanya Leon panik, mengabaikan rasa sakitnya sendiri.
Prang!
Tanpa menjawab Eiryn berlari kencang. Membiarkan Nampan itu jatuh begitu saja.
Greb!
Ia menubruk Leon dengan pelukan yang sangat erat hingga tubuh Leon terdorong kembali ke sandaran tempat tidur.
"Tuan! Syukurlah... syukurlah Anda bangun! Kupikir... hikss... kupikir Anda..." Eiryn terisak hebat di dada Leon, bahunya berguncang karena tangis yang sudah ia tahan sejak lama.
Leon tertegun sejenak. Ia merasakan hangat tubuh Eiryn dan air mata yang membasahi bajunya.
Perlahan, Leon mengangkat tangannya yang masih terasa berat dan membalas pelukan itu, menepuk punggung Eiryn lembut untuk menenangkannya.
"Sudahlah, aku tidak apa-apa," bisik Leon pelan.
"Oh, kau sudah bangun rupanya?" sebuah suara berat menginterupsi suasana haru itu.
Seorang pria dengan perawakan tegap dan janggut tipis masuk ke ruangan. Ia mengenakan pelindung dada kulit dengan beberapa goresan senjata. Wajahnya terlihat tegas namun memiliki tatapan yang ramah.
"Siapa kau?" tanya Leon waspada.
Eiryn perlahan melepas pelukannya, mengusap air matanya dengan punggung tangan dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Tuan, dia Tuan Albert. Dia yang sudah menyelamatkan kita malam itu," jelas Eiryn pelan.
Albert terkekeh pelan sambil menyilangkan tangan di depan dada. "Sebenarnya aku hanya memungut kalian saat sedang melakukan misi."
"Misi?" Leon mengernyit bingung.
"Ya, aku seorang petualang," sahut Albert sembari memperlihatkan sebuah plat besi yang menggantung di lehernya, tanda pengenal resmi petualang.
"Aku mengambil misi untuk menangkap komplotan bandit di sekitar sini. Tapi saat aku sampai di lokasi, aku justru menemukan kalian berdua tergeletak pingsan. Tanpa pikir panjang, aku membawa kalian ke rumahku"
Albert kemudian menatap Leon dengan tatapan menyelidik. "Nona Eiryn bilang kalian diserang bandit. Tapi anehnya, saat aku menemukan kalian, tidak ada satu pun bandit di sana. Yang tersisa hanya tumpukan pakaian mereka dan abu hitam. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Mendengar itu, Eiryn menunduk dalam. Ia melirik Leon dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia ingat betul sesaat sebelum dirinya pingsan, ia melihat aura mengerikan keluar dari tubuh tuannya. Ia yakin bandit-bandit itu lenyap karena Leon.
Namun, Leon sendiri tampak benar-benar bingung. "Aku... aku tidak ingat. Terakhir kali aku merasa dadaku ditusuk, lalu semuanya menjadi gelap."
Leon secara refleks meraba dadanya. Ia terkejut. Tidak ada lubang, tidak ada bekas luka, bahkan kulitnya terasa halus seolah pedang bandit itu tidak pernah menyentuhnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi", batin Leon penuh tanda tanya. "kenapa aku tak ingat apapun".
Melihat Leon yang terus mengernyit kesakitan sambil memegangi kepalanya, Albert menghela napas panjang. Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar Leon berhenti memaksakan diri.
"Sudahlah. Kalau tidak ingat, jangan dipaksa. Kau baru saja sadar, tidak perlu menyiksa dirimu sendiri," ucap Albert santai. "Yang penting, kalian berdua selamat."
Albert melangkah menuju pintu, lalu menoleh kembali. "Kalau kau sudah merasa baikan, mari turun. Kita makan dulu untuk memulihkan tenagamu."
Leon menggeleng pelan sambil mencoba bangkit. "Tidak, Tuan Albert. Terima kasih banyak, tapi sepertinya kami harus segera pulang. Kami sudah terlalu banyak merepotkan Anda."
Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Albert, Leon dan Eiryn pun berjalan untuk pulang.
Suasana rumah terasa sepi. Leon duduk di kursi kayu tua dekat meja makan, sementara Eiryn sibuk menyiapkan air hangat di dapur. Namun, pikiran Leon masih tertinggal di gang gelap semalam.
Ia memijat pelipisnya. Semakin ia mencoba mengingat, semakin kepalanya terasa mau pecah. Ia perlahan menoleh ke arah Eiryn yang baru saja meletakkan segelas air di depannya.
"Eiryn," panggil Leon lirih. "Waktu itu... apa kau mengetahui sesuatu? Sebenarnya apa yang terjadi denganku semalam?"
Eiryn terhenti. Jemarinya meremas pinggiran celemeknya. Ia tampak ragu, namun akhirnya mengangguk pelan. "Itu... Sebenarnya setelah Tuan tertusuk, ada aura aneh yang keluar dari tubuh Tuan."
"Aura aneh?" Leon mengernyit.
"Iya," Eiryn mengangguk cepat. "Aura itu berwarna merah gelap. Sangat pekat dan menakutkan."
Merah gelap? Aura merah gelap? Leon membatin. Ingatannya sebagai pembaca novel mulai berputar, namun ada yang terasa tidak sinkron.
"Lalu setelah itu apa yang terjadi?" tanya Leon lagi.
"Aku tidak tahu... setelah itu aku pingsan karena ledakan aura dari tubuh Tuan," jawab Eiryn pelan.
Leon tersentak. Rasa bersalah langsung menyelimuti hatinya. "Apa kau baik-baik saja? Kau tidak terluka karena ledakan itu?"
Eiryn menggeleng cepat, wajahnya memerah karena panik. "Tidak, Tuan! Saya baik-baik saja, hanya merasa sedikit pegal. Tidak perlu minta maaf, saya selamat juga berkat Tuan!"
Leon terdiam. Ia kembali memikirkan 'aura merah gelap' itu. Rasa penasaran yang membuncah membuatnya memanggil hologram biru miliknya.
Munculah! batinnya tegas.
Sret! Layar transparan muncul di depan matanya.
...[ STATUS KARAKTER ]...
...Nama : Leon von Anhart...
...Umur : 19 Tahun...
...Class : Swordsman Lv.1...
...Rank : F...
...HP : 150 / ?...
...MP : 0 / ?...
...Stamina : 45/45 [+]...
...Vitalitas : 15 [+]...
...Kekuatan : 10 [+]...
...Ketahanan : 11 [+]...
...Kelincahan : 9 [+]...
...Keberuntungan : 4...
...[Atribut Khusus] : 「Demonic」 (Terkunci)...
...Skill Aktif : 「Demonic Devour」 (Terkunci)...
...KONDISI KHUSUS:...
...Gagal Jantung Kronis...
...Sisa Umur : 364 Hari...
...Poin : 87...
Mata Leon membelalak. Dadanya berdegup kencang melihat perubahan drastis pada statusnya.
"Demonic?" Leon memekik dalam hati.
"Tuan? Tuan kenapa?" Eiryn bertanya cemas saat melihat Leon yang tiba-tiba melamun dengan ekspresi kaget.
Leon tersadar, ia buru-buru mengatur napasnya. "Hm? Ah, tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya teringat sesuatu di rumah."
"Begitu ya..." Eiryn bergumam pelan. Tuan pasti sedang merindukan mansion, batin Eiryn merasa sedih. "Kalau begitu, saya izin membersihkan diri dulu, lalu membuatkan sarapan untuk Tuan."
"Hm, baiklah," jawab Leon singkat, matanya masih terpaku pada jendela status.
Setelah Eiryn pergi, Leon menyandarkan punggungnya. Pikirannya berputar hebat. Jika yang dikatakan Eiryn benar tentang aura merah itu, maka itu pasti karena atribut Demonic ini.
Namun, ada yang mengganjal. Di dalam cerita novel aslinya, Leon baru mengeluarkan aura merah gelap itu setelah ia memakan 'Buah Iblis' di masa depan. Tapi sekarang? Ia bahkan belum menyentuh buah itu, tapi atribut ini sudah muncul dan aktif dengan sendirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa begini?" gumamnya frustrasi.
Ia mengusap wajahnya kasar. Meskipun merasa aneh, ia tidak bisa menampik rasa lega saat melihat statistiknya naik.
Poinnya yang kini berjumlah 87 terasa seperti harta karun yang bisa memperpanjang hidupnya.
Leon menatap telapak tangannya sendiri. Sesuatu yang gelap telah bangkit di dalam dirinya, dan ia belum tahu apakah itu sebuah berkah atau justru kutukan yang akan menghancurkannya lebih cepat dari penyakit jantungnya.
Setelah beberapa waktu merenung, Leon menghela napas panjang. Ia merasa gerah dan tubuhnya masih terasa lengket karena sisa keringat dan debu semalam. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan melangkah menuju kamar mandi.
Pikirannya masih melayang pada angka-angka di layar status, hingga ia lupa pada ucapan Eiryn tadi.
Cklek.
Leon membuka pintu kayu kamar mandi itu dengan santai. Namun, gerakannya langsung membeku. Di hadapannya, Eiryn baru saja hendak keluar.
Tubuh gadis itu hanya terbalut selembar handuk putih tipis yang basah, menutupi dari dada hingga paha atasnya.
Kulit Eiryn yang putih bersih tampak merona setelah terkena air hangat, dengan sisa-sisa uap air yang masih menempel di bahu mungilnya.
Rambutnya yang basah tergerai berantakan, memberikan kesan yang sangat berbeda dari biasanya.
"Tu... Tuan?" ucap Eiryn terbata. Wajahnya langsung memerah padam sampai ke telinga.
Leon terpana. Jantungnya yang bermasalah tiba-tiba berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena penyakit, melainkan adrenalin yang memuncak.
Bukannya mundur atau meminta maaf, tubuh Leon seolah bergerak sendiri di bawah pengaruh insting aneh yang baru bangkit.
Tap!
Leon melangkah maju, mendorong Eiryn kembali ke dalam kamar mandi yang sempit dan beruap. Sebelum gadis itu sempat bereaksi, Leon sudah menyudutkannya ke dinding kayu.
"Kyaa!" Eiryn memekik pelan. Punggungnya menyentuh dinding yang dingin, sementara di depannya, tubuh Leon mengunci ruang geraknya.
Leon menaruh kedua tangannya di dinding, mengurung Eiryn di tengah. Jarak mereka begitu dekat hingga embusan napas Leon terasa di kening Eiryn.
Mata merah kecokelatan Leon menatap dalam ke arah mata Eiryn yang bergetar karena terkejut dan malu.
"Eiryn... maafkan aku," bisik Leon dengan napas yang mulai terengah.
Character Visual:
...Albert...