NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Idola Kampus

Pagi itu, atmosfer di lobi Fakultas Ekonomi terasa seperti sedang menyambut kedatangan seorang bintang film papan atas. Namun, bintang utamanya bukan salah satu mahasiswa berprestasi atau dosen tamu dari luar negeri, melainkan pria yang baru saja menurunkan Aluna dari Rolls-Royce hitamnya. Sejak roda mobil itu berhenti, bisik-bisik kagum sudah merambat cepat dari mulut ke mulut, memenuhi koridor hingga ke ruang-ruang kelas.

Aluna melangkah menyusuri koridor menuju ruang kuliahnya dengan perasaan yang melambung tinggi. Jika biasanya ia menunduk untuk menghindari tatapan menyelidik orang-orang karena pengawalan Anwar yang kaku, pagi ini ia berjalan dengan dagu terangkat dan senyum yang tak lekang dari bibirnya. Ia bisa merasakan setiap pasang mata tertuju padanya, namun kali ini bukan dengan tatapan sinis, melainkan dengan binar iri yang memuja.

"Luna! Ya ampun, tunggu!" Sarah berlari kecil mengejarnya, wajahnya tampak sangat antusias dan napasnya tersengal-sengal. "Demi apa, Luna? Pria tadi pagi itu... benarkah dia walimu? Kenapa kau tidak pernah bilang kalau daddymu memiliki aura sehebat itu? Dia bukan cuma tampan, dia... dia sangat gagah!"

Aluna terkekeh, ia menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gaya yang sengaja dibuat anggun. "Aku sudah bilang berkali-kali kalau dia luar biasa, kan? Kalian saja yang selalu mengira daddymu itu pria tua buncit."

"Yah, siapa yang menyangka kalau pria sekelas Bramasta itu nyata!" seru Sarah heboh. "Lihatlah grup chat angkatan kita, Luna. Semua orang membicarakan daddymu. Bahkan mahasiswi senior yang biasanya sombong sekarang bertanya-tanya siapa namamu yang sebenarnya agar bisa mendekatimu."

Euforia itu berlanjut hingga ke dalam kelas. Saat Aluna duduk di bangkunya, ia tidak lagi merasa terisolasi. Justru sebaliknya, kursinya menjadi pusat gravitasi. Beberapa mahasiswi yang biasanya tidak pernah menyapanya—bahkan beberapa yang pernah memandangnya rendah—tiba-tiba berkerumun di mejanya. Mereka membawakan kopi dari kafe ternama, camilan manis, dan yang paling mengejutkan: tumpukan amplop berwarna-warni yang harum.

"Luna, ini... titip ini ya buat daddymu? Katakan padanya, aku sangat terkesan dengan caranya turun dari mobil tadi pagi. Sangat berwibawa," ujar seorang mahasiswi tingkat dua dengan wajah yang memerah padam.

"Ini dariku juga, Luna! Isinya hanya akun Instagram-ku dan kartu nama ayahku, siapa tahu daddymu ingin berkolaborasi bisnis," timpal yang lain sambil meletakkan kartu kecil beraroma parfum menyengat di atas meja Aluna.

Aluna menatap tumpukan itu dengan binar mata yang jenaka dan penuh kemenangan. Alih-alih merasa terganggu atau risih, ia justru merasa berada di puncak dunia. Baginya, ketertarikan mahasiswi-mahasiswi cantik ini adalah validasi bahwa pilihannya selama ini benar. Bram adalah pria nomor satu di kota ini, dan ia adalah satu-satunya gadis yang memiliki akses eksklusif ke dalam hidup pria itu. Ia merasa seperti seorang putri raja yang sedang menerima upeti dari rakyatnya.

Istirahat siang itu, Aluna memilih untuk tidak pergi ke kafetaria yang bising. Ia duduk di sudut perpustakaan yang tenang bersama Sarah. Namun, bukannya membuka buku Manajemen Strategi atau modul akuntansi, ia justru membongkar tasnya yang kini penuh sesak dengan surat-surat "cinta" dan hadiah kecil untuk Bram.

"Mari kita lihat apa saja yang mereka tulis untuk Daddy," ujar Aluna dengan nada riang, seolah-olah ini adalah permainan yang sangat menyenangkan dan ia adalah pemenang utamanya.

Ia membuka sebuah amplop berwarna biru pastel dengan hati-hati. "Lihat, Sarah! Yang ini menulis: 'Kepada Tuan yang Mengantar Aluna, Anda adalah definisi pria sejati. Jika Anda butuh teman untuk berdiskusi tentang investasi atau sekadar minum kopi, saya selalu ada di kafe seberang kampus setiap jam 4 sore.'"

Sarah tertawa terpingkal-pingkal hingga ditegur oleh penjaga perpustakaan. "Astaga, dia berani sekali! Dia pikir daddymu punya waktu untuk kafe pinggir jalan seperti itu? Dia tidak tahu kalau daddymu mungkin punya kedai kopinya sendiri di rumah!"

Aluna ikut tertawa renyah, ia merasa sangat berkuasa saat itu. Ia membuka surat berikutnya, sebuah kertas berparfum menyengat yang berisi puisi pendek tentang mata elang Bram yang tajam. Aluna membacanya dengan suara pelan namun penuh nada ejekan, menertawakan setiap baris kalimat yang menurutnya sangat menggelikan dan murahan.

"Mereka semua sangat haus perhatian, ya?" gumam Aluna sambil mengunyah cokelat pemberian salah satu penggemar dadakan Bram. "Mereka tidak tahu kalau Daddy bahkan tidak pernah melirik wanita mana pun di luar rumah. Dia hanya sibuk denganku."

"Tapi Luna, apa kau tidak merasa aneh?" tanya Sarah sedikit ragu. "Maksudku, tiba-tiba daddymu jadi idola kampus. Apa kau tidak takut salah satu dari mereka benar-benar nekat mendekatinya saat menjemputmu nanti?"

"Takut? Untuk apa?" Aluna mengangkat bahu dengan sangat percaya diri. "Daddy sangat mencintaiku. Dia sangat protektif, kau lihat sendiri kan bagaimana dia memelukku tadi pagi? Dia tidak akan tertarik pada gadis-gadis yang dandanannya berlebihan seperti ini. Justru lucu melihat mereka bersusah payah mencari perhatiannya lewat aku."

Aluna menghabiskan waktu hampir dua jam hanya untuk membongkar dan membaca surat-surat itu satu per satu. Ia merasa seperti asisten pribadi seorang megabintang internasional. Ia merasa hebat karena menjadi satu-satunya jembatan antara dunia luar dan pria sekelas Bramasta. Di matanya saat ini, ketenaran Bram adalah mahkotanya sendiri, dan ia menikmati setiap detiknya.

Sore harinya, saat jam pulang hampir tiba, Aluna dengan sengaja merapikan riasannya di depan cermin toilet. Ia memoles bibirnya dengan warna merah muda yang segar dan memastikan gaunnya tetap rapi. Ia ingin terlihat sempurna sebagai "pendamping" saat Idola Kampus itu datang menjemputnya. Ia bahkan sempat mengirim pesan singkat pada Bram dengan nada yang sangat bangga.

Luna: "Daddy, kau benar-benar harus lihat tas sekolahku. Isinya penuh dengan surat cinta dan hadiah darimu. Sepertinya aku harus mulai menarik biaya administrasi bagi siapa pun yang ingin sekadar melihatmu dari jauh!"

Bram membalas hanya dalam hitungan detik, dan kalimatnya sanggup membuat Aluna tersenyum lebar hingga matanya menyipit:

Bram: "Aku tidak butuh selembar pun kertas dari mereka, Aluna. Aku hanya butuh kau berdiri di depan lobi tepat saat mobilku berhenti. Jangan sampai aku harus turun untuk mencarimu."

Saat Aluna keluar dari gedung fakultas pukul lima sore, ia melihat pemandangan yang membuatnya semakin merasa bangga. Kerumunan mahasiswi sudah mulai berkumpul lagi di sekitar tangga lobi, pura-pura sedang menunggu ojek online atau berbincang serius dengan teman, padahal mata mereka terus melirik ke arah gerbang masuk tempat Rolls-Royce hitam biasanya muncul.

Aluna berdiri di tengah-tengah mereka, memeluk bukunya dengan senyum kemenangan yang tipis. Ia menikmati setiap lirikan iri dan bisik-bisik yang tertuju padanya. Saat Rolls-Royce hitam itu terlihat berbelok di tikungan, Aluna bisa merasakan gelombang antisipasi dari mahasiswi-mahasiswi di sekelilingnya.

"Itu dia! Mobilnya datang!" bisik seseorang dengan nada tertahan.

Aluna berjalan menuruni tangga tepat saat mobil itu berhenti dengan presisi di depannya. Bram turun dengan gerakan lambat yang sangat dramatis, seolah-olah ia memang diciptakan untuk menjadi pusat perhatian. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangannya yang sangat maskulin.

Bram tidak menoleh sedikit pun ke arah kerumunan wanita yang menatapnya dengan lapar. Matanya hanya terkunci pada Aluna. Ia membukakan pintu untuk Aluna, lalu sebelum Aluna masuk, ia mengusap pipi gadis itu dengan ibu jarinya yang hangat, sengaja melakukannya cukup lama agar semua pasang mata menyaksikannya.

"Bagaimana kuliahmu hari ini, Aluna? Kau tampak sangat bersemangat," tanya Bram, suaranya yang berat memecah keheningan lobi yang mendadak sunyi.

"Sangat menyenangkan, Daddy! Kau benar-benar sudah merusak konsentrasi seluruh mahasiswi di sini," jawab Aluna ceria. Ia sempat menoleh ke arah teman-temannya sambil melambaikan tangan, memberikan senyum lebar yang seolah memproklamasikan kemenangan mutlaknya.

Di dalam mobil yang kedap suara, Aluna langsung menunjukkan tumpukan surat itu pada Bram dengan mata berbinar. "Lihat ini, Daddy! Ini semua untukmu! Ada yang mengajakmu minum kopi, ada yang menulis puisi cinta, bahkan ada yang menitipkan nomor ponsel pribadi mereka!"

Bram hanya melirik sekilas ke arah tumpukan kertas itu dengan ekspresi datar yang dingin, seolah-olah itu hanyalah tumpukan brosur sampah yang tidak layak dibaca. "Buang saja semuanya, Aluna. Aku tidak punya waktu untuk membaca sampah seperti itu."

"Jangan dulu, Daddy! Ini lucu sekali! Biarkan aku menyimpannya, aku ingin membacakan yang paling konyol untukmu saat kita makan malam nanti," ujar Aluna sambil tertawa renyah, benar-benar menikmati posisi barunya sebagai "penjaga gerbang" bagi pria idola tersebut.

Saat itu, Aluna merasa dunia benar-benar ada di genggamannya. Ia merasa sangat aman, dicintai, dan tak tergantikan. Ia belum menyadari bahwa euforia yang meluap-luap ini hanyalah ketenangan sebelum badai besar melanda.

1
Lfa🩵🪽
yey akhirnya up lagi 😍😍
ollyooliver🍌🥒🍆
aluna terlalu lemah, dia mudah menujukkan rasa cemburu.
Lfa🩵🪽: semangat update nya Thor 🫶❤️‍🔥
total 2 replies
Hilag
semangatt kak 👍Bram Luna lope
Senja_Puan: siap kak💪
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
mengungkapkan cinta dengan gairah? itu bukan cinta..nafsu iya🙃
Yasa: terlalu terobsesi juga Bram nya. Ngeri sih, kalau ada yang kaya gini di dunia asli.

tapi perbedaan usia 15 tahun, masih oke-oke aja.
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tiga hari sdh berlalu dan bram bekerja diruang kerjanya bahkan menginzinkan aluna menemaninya..kok baru ketahuan bau parfum clara..mereka flu parah kh🙃 kalau anting" wajar gk keliatan. lalu emng masuk akal clara datang kerumah bram tanpa bram ketahui?🙂
Senja_Puan: 2. Untuk yang Clara, sudah dijelaskan ya Kak. Clara ini cukup 'cerdas' dan 'ngeyel' ya, jadi dia tetap datang walau dilarang. Dan Anwar tetap memperbolehkannya masuk karena tahu dia putri rekannya Bram.
total 4 replies
Anom
team second lead a.k Rio😍
Senja_Puan: wah keren kak, sudah siap memilih akmj
total 1 replies
Anom
waduh disadap
Anom
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!