Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 - Sisi Baru Alyssa
Sore itu langit perlahan berubah menjadi jingga lembut, menyelimuti halaman belakang rumah keluarga Wijaya dengan cahaya yang hangat. Sinar matahari jatuh miring melalui pepohonan yang tertata rapi, membentuk bayangan panjang di atas rumput dan teras yang bersih. Dari luar, suasana terlihat damai, hampir seperti sore biasa di rumah mewah ini. Namun di dalam rumah, ketegangan yang halus mulai merambat, diam-diam menyentuh setiap sudut tanpa suara.
Alyssa berdiri di ruang kerja kecil yang jarang digunakan, tangannya memegang beberapa dokumen yang diminta ibu mertuanya. Ia membaca dengan teliti, memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun sebelum mengembalikannya. Setiap lembar dipelajari dengan seksama, setiap catatan diperiksa lagi, seolah kesalahan sekecil apa pun bisa berarti besar. Selama beberapa hari terakhir, kehadirannya di ruang utama semakin jarang terlihat. Bukan karena dihindari oleh siapa pun, melainkan karena ia sendiri memilih untuk menjaga jarak.
Ia tidak lagi berusaha menjadi bagian dari percakapan keluarga, tidak mencoba menarik perhatian siapa pun. Waktu yang ada ia gunakan sepenuhnya untuk dirinya sendiri, meski itu berarti hanya duduk di sudut, membaca buku, atau menuliskan catatan-catatan kecil. Ia menenangkan pikirannya, menyusun kembali ritme hariannya agar tidak terganggu oleh hal-hal yang sebelumnya membuatnya gelisah. Di saat yang sama, ia tetap waspada, memperhatikan semua yang terjadi di sekitar rumah, meski dari jarak jauh.
Langkah kaki terdengar di lorong, ringan tetapi pasti. Alyssa tidak langsung menoleh, tetap fokus pada dokumen yang dipegangnya. Namun saat pintu terbuka tanpa diketuk, pandangannya terangkat perlahan. Cassandra berdiri di ambang pintu, senyum tipis menghiasi wajahnya. Senyum itu sulit dibaca, menyiratkan ketenangan, tetapi ada sesuatu di baliknya yang membuat udara terasa sedikit lebih berat.
“Aku mencarimu,” suara Cassandra terdengar ringan, seolah hanya mengumumkan kehadirannya.
Alyssa menutup dokumen di tangannya dengan gerakan lambat dan teratur, menatap wanita di depannya. “Ada apa?” tanyanya, nada suaranya tenang, tanpa tanda ketegangan.
Cassandra melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangnya. Suasana ruang kerja yang kecil seketika terasa lebih sempit, seolah ada energi yang menekan dari kedua sisi. “Kita belum benar-benar bicara sejak kemarin,” ucapnya, nada halus tetapi menyimpan ketajaman tersirat.
Alyssa berdiri dengan tenang, mengamati setiap gerakan Cassandra. “Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Cassandra mendekat, pandangannya sesaat turun ke dokumen di tangan Alyssa, lalu kembali ke wajahnya. “Kamu berubah,” katanya, nada suara yang seolah ringan tetapi memiliki bobot tertentu. Alyssa tetap diam, hanya menunggu, tanpa memberikan reaksi spontan. Cassandra tersenyum tipis, seperti menikmati momen itu. “Biasanya kamu akan terlihat lebih… tertekan,” lanjutnya, suaranya santai, tetapi seolah ada pertanyaan yang terselip di baliknya.
Alyssa memiringkan sedikit kepalanya, menatapnya lurus. “Mungkin karena saya sudah terbiasa,” jawabnya, nada tetap datar, tidak menantang tetapi juga tidak tunduk.
Cassandra mengangkat alis, tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu. Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Terbiasa dipermalukan?” tanyanya, nadanya lembut namun menantang. Alyssa menatap lama, tetap tenang, tidak memberi celah.
“Terbiasa melihat siapa yang sebenarnya ingin menjatuhkan saya,” jawab Alyssa, suaranya rendah tetapi jelas, kata-katanya sederhana tetapi menimbulkan kesan tegas. Suasana di ruang itu terasa berubah, berat, tetapi bukan karena tekanan. Cassandra terdiam sejenak, mencoba membaca ekspresi Alyssa, namun tidak menemukan celah.
Biasanya, di titik ini, Alyssa akan terlihat goyah, panik, atau setidaknya menunjukkan ketidaknyamanan. Tapi kali ini, tidak ada itu. Cassandra tersenyum kecil, menertawakan keberanian Alyssa, tetapi tawa itu tidak menggoyahkan wanita di hadapannya.
“Kalau memang ada yang ingin kamu katakan, katakan saja langsung,” ujar Alyssa, suaranya datar, tegas tanpa terlihat marah. Cassandra menatap lebih dalam, mencoba menggali reaksi dari mata Alyssa. “Baik. Aku akan langsung saja,” katanya akhirnya, menyilangkan tangan di depan dada. “Kamu tahu posisi kamu di rumah ini.”
Alyssa mengangguk perlahan. “Iya.”
“Dan kamu juga tahu, kamu tidak akan pernah benar-benar diterima,” lanjut Cassandra, nadanya ringan tetapi tajam. Alyssa tetap diam, menunggu lanjutan.
“Jadi kenapa masih bertahan?” Cassandra bertanya, nada yang seolah ringan, tetapi setiap kata terukur dan menekan. Alyssa menarik napas pelan, menahan diri sebelum menjawab. “Karena saya belum selesai.”
Cassandra mengernyit, jelas bingung. “Belum selesai dengan apa?”
Alyssa tersenyum tipis, bukan senyum hangat, tetapi lebih pada ketenangan yang menenangkan dirinya sendiri. “Dengan diri saya sendiri.”
Jawaban itu membuat Cassandra terdiam lebih lama, mencoba membaca lagi ekspresi wanita di depannya. Tidak ada kegugupan, tidak ada tanda-tanda kelemahan. Bahkan saat Cassandra ingin menekannya lebih jauh, Alyssa tetap teguh, menghadapi tanpa menghindar.
“Kamu pikir bisa berubah hanya dengan bersikap seperti ini?” Cassandra menantang, suaranya rendah tetapi tajam. Alyssa melangkah ke meja, meletakkan dokumen dengan rapi sebelum menoleh. “Saya tidak berusaha mengubah orang lain,” katanya. “Cukup diri saya.”
Cassandra tertawa kecil, terdengar sedikit dipaksakan, lalu mendekat lagi. Jarak mereka kini cukup dekat untuk merasakan ketegangan di udara. “Lalu bagaimana kalau aku bilang, semua yang terjadi selama ini… bukan kebetulan?”
Alyssa menatapnya dengan tenang. “Termasuk tuduhan, kesalahan, dan semua hal yang membuatmu terlihat buruk,” Cassandra berhenti sejenak, menunggu reaksi, tetapi Alyssa tetap diam, tidak tergoyahkan.
“Kamu tidak terkejut?” Cassandra bertanya, suara sedikit lebih rendah.
Alyssa menggeleng pelan. “Saya sudah menduga.” Jawaban itu sederhana, namun cukup membuat Cassandra kehilangan satu langkah.
“Apa maksudmu?”
Alyssa menatap lurus. “Cara kamu berbicara, cara kamu mengatur situasi, semuanya terlalu rapi.” Suaranya tetap tenang, menyampaikan fakta, bukan menuduh. Cassandra menatapnya, tidak berkedip sejenak, merasa kehilangan pijakan.
“Kalau begitu, kenapa kamu tidak mengatakan apa pun?” tanyanya, terdengar seperti menuntut jawaban.
“Karena tidak ada yang akan percaya,” Alyssa menjawab ringan, kalimat itu sederhana, tapi penuh makna. Cassandra tersenyum lagi, kali ini lebih tipis, menandakan pengakuan terhadap kenyataan yang disampaikan Alyssa.
“Tapi sekarang saya tidak terlalu peduli,” Alyssa menambahkan, matanya tetap tertuju pada Cassandra, suara tetap datar.
“Apa maksudmu?” Cassandra bertanya, jelas masih ingin memahami arah sikap Alyssa.
“Mau kamu lakukan apa pun, itu tidak akan mengubah siapa saya,” Alyssa menjawab dengan ketenangan, menjaga jarak emosional tetap stabil.
Suasana di ruang kerja terasa semakin berat, bukan karena tekanan, tetapi karena keseimbangan mulai berubah. Cassandra tidak lagi sepenuhnya menguasai situasi, dan ia menyadarinya. “Kamu terlalu percaya diri,” katanya dengan nada lembut, mencoba menekan perasaan yang muncul di dalam dirinya.
Alyssa menggeleng pelan. “Tidak. Saya hanya tidak ingin terus berada di posisi yang sama,” jawabnya sambil melangkah mendekat, bukan menyerang, hanya menempatkan diri sejajar. “Kalau kamu ingin menjatuhkan saya, silakan. Tapi jangan berharap saya akan bereaksi seperti sebelumnya,” tambahnya, nada rendah, penuh kontrol.
Cassandra menatapnya, tidak menyukai tatapan itu. Ada sesuatu yang berbeda, ketenangan dan kontrol yang seharusnya tidak dimiliki Alyssa dalam situasi ini.
Di luar ruang kerja, seseorang berdiri, diam di balik pintu yang sedikit terbuka. Daren awalnya hanya lewat, namun suara percakapan membuatnya berhenti. Ia mendengarkan setiap kata, setiap nada, menyerap suasana dengan seksama. Semakin lama ia mendengar, semakin jelas perubahan yang terjadi, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Cassandra tersenyum tipis sebelum berbalik. “Kita lihat saja,” katanya pelan, lalu berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia menoleh ke Alyssa lagi. “Jangan terlalu percaya diri. Rumah ini bukan tempatmu.”
Alyssa tetap diam, menatap tanpa emosi berlebihan. Cassandra membuka pintu dan terkejut melihat Daren berdiri di sana. “Daren?” katanya, mencoba tetap tenang.
Daren tidak langsung menjawab, tatapannya melewati Cassandra, menuju ke arah Alyssa. Cassandra menyadarinya, tetapi ia tidak bereaksi lebih jauh, hanya tersenyum singkat. “Aku tidak tahu kamu di sini,” katanya ringan.
“Baru saja lewat,” jawab Daren singkat, tanpa penjelasan lebih lanjut. Cassandra tidak bertahan lama, ia pergi meninggalkan lorong.
Daren tetap berdiri, diam beberapa detik sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Alyssa menatapnya, ekspresinya tetap tenang, nada suara datar saat bertanya. “Apakah ada yang ingin dibicarakan?”
Daren menatapnya lebih lama dari biasanya. Banyak hal yang ingin ia ucapkan, tetapi kata-kata sulit disusun. Akhirnya ia hanya menjawab singkat, “Tidak.”
Alyssa mengangguk kecil, mengambil dokumen di meja dan bersiap keluar. Saat melewati Daren, pria itu sedikit bergeser, memberi jalan tanpa disadari. Gerakan kecil itu cukup terasa, menandakan perubahan dinamika yang terjadi di antara mereka. Alyssa tidak berhenti, melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkan Daren sendirian di dalam.
Daren berdiri di tempatnya, pikirannya tidak lagi sama. Semua kata, nada, dan sikap Alyssa terus terulang di kepalanya. Cara ia berbicara, cara ia menanggapi tekanan, dan ketenangannya yang tak tergoyahkan membuat sesuatu mulai berubah di dalam diri Daren. Ia berjalan perlahan ke meja, menyentuh dokumen yang tadi dipegang Alyssa, lalu menatap pintu, arah wanita itu pergi. Tanpa ia sadari sepenuhnya, cara ia melihat Alyssa mulai berubah.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔