"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Jakarta, 7 Januari 2022.
Hanya butuh waktu dua hari bagi keluarga Afisa dan Bintang untuk menyiapkan segalanya. Tidak ada undangan fisik yang disebar, tidak ada dekorasi mewah yang berlebihan. Ruang tamu rumah Jakarta Selatan itu kini disulap menjadi tempat yang paling sakral. Hanya ada karpet beludru, meja kayu kecil untuk akad, dan aroma harum bunga melati yang bercampur dengan bunga matahari.
Afisa duduk di depan cermin kamar masa kecilnya. Ia mengenakan kebaya putih sederhana namun elegan, dengan kerudung tipis yang menutupi sanggulnya. Di sampingnya, Bunda tidak henti-hentinya mengusap air mata.
"Siap, Nak? Setelah ini, tanggung jawab Ayah berpindah ke Bintang," bisik Bunda.
Afisa mengangguk, napasnya terasa pendek. "Siap, Bun. Afisa nggak nyangka, minggu lalu masih takut dilamar, hari ini sudah mau jadi istri."
Begitu Afisa melangkah ke ruang tamu, ia melihat Bintang sudah duduk di depan Ayah. Pria itu tampak sangat berbeda dengan setelan jas gelap dan peci hitam. Wajahnya yang biasa tenang kini tampak tegang, tangannya yang biasa memegang pisau bedah terlihat sedikit bergetar di atas meja akad.
Arkan duduk di barisan saksi bersama Papa Bintang. Ia menatap Afisa dengan senyum bangga yang tulus—tidak ada lagi candaan jahil, hanya ada rasa hormat untuk sahabatnya yang berani mengambil langkah besar ini.
"Saudara Bintang Pratama Fernandes bin..." suara Ayah Afisa terdengar berat dan berwibawa, memecah kesunyian ruangan.
Tangan Bintang menjabat tangan Ayah dengan mantap.
"Saya terima nikah dan kawinnya Afisa Anjani binti... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"SAH!"
Kata itu bergema, diikuti dengan doa yang dipimpin oleh penghulu. Afisa memejamkan mata, merasakan getaran hangat di dadanya. Di sela-sela doa, ia teringat surat mutasi Semarang yang kini terasa tidak lagi menakutkan. Statusnya sudah berubah. Ia bukan lagi wanita yang akan "dibuang" oleh jarak, melainkan seorang istri yang sedang menjalankan tugas.
Bintang menghampiri Afisa, menyematkan cincin yang kini bermakna jauh lebih dalam daripada sekadar tunangan. Saat Afisa mencium punggung tangan Bintang, pria itu mengecup keningnya lama sekali.
"Terima kasih sudah mau jadi rumahku sebelum kamu pergi, Fis," bisik Bintang tepat di telinga Afisa.
"Terima kasih sudah mau jadi jangkar buat aku, Bin," balas Afisa pelan.
Arkan langsung berdiri setelah sesi doa selesai. "Nah, sekarang status kalian sudah legal di mata Tuhan! Besok kalau Kak Bintang nyusul ke Semarang, nggak perlu lagi ada intel dari kantor yang curiga kalau ada dokter ganteng masuk apartemen Associate Afisa!"
Tawa haru pecah di ruangan itu. Di antara rasa syukur keluarga, Afisa melirik koper yang sudah terparkir di dekat pintu. Lusa ia akan berangkat ke Semarang, tapi kali ini ia tidak membawa ketakutan. Ia membawa restu, ia membawa janji, dan ia membawa status baru sebagai Nyonya Bintang Fernandes.
Ekuilibrium itu akhirnya tercapai—bukan dengan mengorbankan karier, tapi dengan memperkuat ikatan sebelum jarak benar-benar memisahkan.
Pintu kamar tertutup perlahan, meredam sisa-sisa keriuhan ucapan selamat dari keluarga besar di luar sana. Kamar masa kecil Afisa yang biasanya terasa luas, mendadak terasa begitu sempit dan intim dengan kehadiran Bintang di dalamnya.
Afisa duduk di depan cermin riasnya, menatap pantulan dirinya yang masih mengenakan kebaya putih lengkap dengan kerudung dan beberapa hiasan melati yang mulai layu. Di belakangnya, Bintang berdiri, perlahan melepas peci hitamnya dan meletakkannya di atas nakas.
"Sini, biar aku bantu," ucap Bintang lembut. Suaranya tidak lagi tegang seperti saat mengucapkan ijab kabul tadi; kini suaranya kembali menjadi Bintang yang tenang dan meneduhkan.
Afisa memiringkan kepalanya, membiarkan jemari Bintang yang biasanya memegang alat bedah itu kini dengan sangat hati-hati mencabut jarum pentul dan peniti yang menempel di kerudungnya.
"Tanganmu gemetar, Bin," bisik Afisa, menatap mata Bintang melalui pantulan cermin.
Bintang terkekeh pelan, meski napasnya terdengar sedikit berat. "Operasi jantung selama sepuluh jam pun tidak pernah membuatku sedebat ini, Fis. Menikahimu adalah prosedur paling menegangkan sekaligus paling membahagiakan dalam hidupku."
Satu per satu perhiasan dilepaskan. Saat kerudung putih itu akhirnya terlepas, Bintang menyisir rambut Afisa dengan jari-jarinya, lalu perlahan membantu melepas giwang yang menggantung di telinga istrinya.
Sentuhan jemari Bintang di lehernya membuat Afisa merinding. Ia memejamkan mata, meresapi setiap detik kebersamaan yang kini terasa sangat mahal harganya. Mengingat lusa, ia harus sudah berada di Semarang, jauh dari sentuhan ini.
"Fis," panggil Bintang. Ia meletakkan tangannya di bahu Afisa, menatap wajah istrinya dari balik cermin. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi tempatmu berpulang. Aku tahu dua tahun ke depan tidak akan mudah, tapi janji tadi... itu permanen. Lebih permanen dari surat mutasi mana pun."
Afisa memutar tubuhnya, mendongak menatap Bintang yang kini sudah menjadi suaminya yang sah secara agama. Ia meraih tangan Bintang, mencium telapak tangannya lama sekali.
"Aku takut, Bin. Aku takut jarak Semarang-Jakarta akan membuatmu lelah," aku Afisa jujur.
Bintang berlutut di depan kursi Afisa, menyamakan tingginya. Ia menggenggam kedua tangan Afisa, menatapnya dengan binar yang sama seperti empat tahun lalu. "Kelelahanku di IGD akan terbayar setiap kali aku mendengar suaramu di telepon. Dan setiap Jumat malam, aku akan memburu kereta terakhir hanya untuk menemuimu. Jarak itu hanya angka, Fis. Ekuilibrium kita sudah terkunci di sini, di ruangan ini."
Bintang menarik Afisa ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang tidak lagi sekadar menenangkan, tapi memiliki makna kepemilikan yang utuh. Di kamar yang menjadi saksi tangis dan tawa Afisa sejak kecil itu, mereka mengukir janji baru. Bahwa meski raga akan dipisah oleh rel kereta api lusa nanti, jiwa mereka sudah menetap di satu rumah yang sama: hati satu sama lain.