NovelToon NovelToon
Dinginmu, Hangatku

Dinginmu, Hangatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Tidak Pernah Ada

Raka tidak langsung menjawab.

Ada jeda sepersekian detik di antara napas Arsenia dan keheningan di ujung telepon—jeda yang terasa seperti retakan tipis di kaca sebelum pecah sepenuhnya.

“Apa namanya?” tanya Raka akhirnya.

Di seberang sana, Arsenia tidak langsung menjawab. Bukan karena ragu, tapi karena ia tahu—begitu nama itu diucapkan, tidak akan ada jalan kembali ke titik di mana semuanya masih terasa masuk akal.

“Eldric,” ucapnya pelan. “Eldric K.”

Sunyi.

Bukan sunyi biasa. Sunyi yang terasa seperti ruangan yang tiba-tiba kehilangan oksigen.

Raka tidak mengenali nama itu.

Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.

Di lobby hotel, tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah Raka menurunkan ponselnya.

Dian yang pertama memecah keheningan.

“Siapa?”

Raka menggeleng pelan. “Belum pernah dengar.”

Arka menyandarkan tubuhnya ke sofa, matanya menyipit. “Kalau nama itu tidak pernah muncul dalam jaringan Hendrawan… dan tidak ada di data Valen Group… berarti hanya ada dua kemungkinan.”

“Dia terlalu kecil untuk diperhitungkan,” kata Dian.

“Atau,” lanjut Arka, “terlalu besar untuk dicatat.”

Raka menatap amplop cokelat di meja.

Separuh cetak biru ada di tangan mereka.

Separuh lainnya masih bersama Margareth.

Dan sekarang—nama baru muncul dari seseorang yang baru saja bangkit dari koma panjang, seseorang yang selama ini dianggap sebagai pusat dari semua ini.

Namun ternyata, bahkan Bramantyo Valen tidak berada di pusat.

Ia hanya berada cukup dekat untuk melihat bayangan sesuatu yang lebih besar.

“Arsenia masih di rumah sakit?” tanya Raka.

“Iya.”

“Kita ke sana.”

Linden Medical Center terasa terlalu putih.

Terlalu bersih.

Terlalu tenang untuk tempat yang menyimpan seseorang yang baru saja menggeser seluruh arah permainan hanya dengan satu kata.

Raka berjalan cepat di koridor, diikuti Dian dan Arka di belakangnya.

Ia tidak berlari.

Tapi langkahnya punya ritme seseorang yang tidak punya waktu untuk berhenti.

Ketika mereka sampai di ruang rawat, Arsenia sudah berdiri di dekat jendela.

Matanya berbeda.

Bukan panik. Bukan takut.

Lebih tajam.

Lebih dingin.

Seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan—tapi tahu bahwa itu nyata.

“Ayahku tidur lagi,” ucapnya sebelum Raka sempat bertanya.

“Apa kamu yakin dengan namanya?” tanya Raka.

Arsenia mengangguk. “Dia mengucapkannya dua kali.”

“Eldric K,” ulang Dian pelan.

Arka menyilangkan tangan. “Tidak ada di database kriminal internasional yang aku tahu.”

“Aku juga tidak menemukan apa-apa,” kata Raka. “Bahkan dengan pencarian non-formal.”

“Artinya?” tanya Arsenia.

“Artinya orang ini tidak bermain di permukaan,” jawab Raka. “Dia tidak meninggalkan jejak digital. Tidak ada perusahaan atas namanya. Tidak ada transaksi langsung. Tidak ada struktur yang bisa ditelusuri.”

“Ghost?” gumam Dian.

Raka menggeleng. “Bukan ghost.”

Ia menatap Arsenia.

“Orang yang cukup kuat untuk tidak perlu terlihat.”

Arsenia berjalan mendekati ranjang ayahnya.

Ia menatap wajah Bramantyo Valen—lelaki yang selama ini ia pikir tahu segalanya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari sesuatu yang mengganggu:

Ayahnya juga takut.

Bukan pada Hendrawan.

Bukan pada Larasati.

Tapi pada nama yang baru saja ia ucapkan.

“Ayahku tidak pernah takut pada siapapun,” ucap Arsenia pelan. “Bahkan saat semuanya runtuh.”

Raka mendekat.

“Dan sekarang?”

Arsenia tidak menjawab.

Ia hanya menatap tangan ayahnya yang masih lemah.

Namun genggamannya tadi—

Itu bukan refleks.

Itu peringatan.

Dian membuka laptopnya.

“Kalau nama ini tidak ada di sistem formal,” katanya, “kita cari dari pola.”

“Pola apa?” tanya Arka.

“Pola kekosongan.”

Mereka menoleh.

Dian menatap layar dengan cepat, jari-jarinya bergerak lincah.

“Semua sistem besar selalu punya celah,” lanjutnya. “Dan celah itu biasanya bukan karena kesalahan… tapi karena seseorang sengaja tidak ingin terlihat.”

Raka memperhatikan.

Dian mulai membuka data merger, transaksi besar, proyek infrastruktur, bahkan laporan keuangan dari beberapa perusahaan global yang terhubung secara tidak langsung.

“Lihat ini,” katanya.

Ia memutar layar.

“Setiap kali ada pergerakan besar—tanah, investasi, perubahan kebijakan—selalu ada satu pola yang sama.”

“Perusahaan bayangan?” tanya Arka.

“Bukan.”

Dian menunjuk ke angka.

“Dana yang hilang.”

Raka menyipitkan mata.

“Bukan hilang secara ilegal,” lanjut Dian. “Secara teknis semuanya bersih. Tapi ada bagian kecil dari setiap transaksi yang… tidak pernah bisa ditelusuri sampai akhir.”

“Seperti dipotong?” tanya Arsenia.

“Tidak. Lebih seperti… dialihkan ke tempat yang tidak tercatat.”

Raka mulai mengerti.

“Dan jumlahnya konsisten,” katanya pelan.

Dian mengangguk.

“Tidak besar cukup untuk menarik perhatian. Tapi kalau dikumpulkan selama bertahun-tahun…”

“Cukup untuk membangun sesuatu yang sangat besar,” lanjut Arka.

Raka menatap layar.

Lalu satu kalimat keluar dari mulutnya, pelan, hampir seperti bisikan:

“Eldric K tidak mengambil uang.”

Ia menatap mereka satu per satu.

“Dia membangun sistem di mana uang datang kepadanya… tanpa pernah terlihat.”

Ruangan kembali sunyi.

Namun kali ini, sunyi yang berbeda.

Sunyi yang penuh dengan kesadaran.

Mereka tidak sedang menghadapi seseorang.

Mereka sedang menghadapi arsitek dari sesuatu yang bahkan tidak mereka sadari selama ini.

“Kalau dia ada di atas Larasati…” kata Dian.

“Berarti Larasati juga hanya bagian dari sistem,” sambung Arka.

“Dan Hendrawan…” Arsenia berhenti.

Raka menyelesaikan kalimatnya.

“Hanya operator.”

Arsenia menutup matanya sejenak.

Semua yang ia pikir sudah runtuh—

ternyata hanya lapisan pertama.

“Ayahku tahu,” ucapnya pelan. “Itu sebabnya dia mencoba menghentikan semuanya.”

“Dan gagal,” kata Arka.

“Bukan gagal,” potong Raka.

Mereka menoleh.

Raka menatap Bramantyo.

“Dia berhasil sampai titik ini.”

“Dia meninggalkan kita cukup petunjuk untuk sampai ke Margareth.”

“Dan sekarang…”

Ia menatap Arsenia.

“Ia memberi kita nama.”

Dian menghembuskan napas panjang.

“Jadi langkah selanjutnya?”

Raka tidak langsung menjawab.

Ia berjalan ke jendela.

Zurich terlihat damai dari sini.

Terlalu damai.

Seolah-olah dunia tidak sedang bergerak di bawah permukaan.

“Kita tetap jalankan rencana awal,” ucapnya akhirnya.

“Amplop itu harus sampai ke Interpol.”

“Dan Margareth harus tetap hidup.”

“Larasati?” tanya Arka.

Raka menatap refleksinya di kaca.

“Kita tidak mengejarnya.”

Semua orang terdiam.

“Dia akan datang sendiri,” lanjut Raka.

“Karena jika dia tahu Margareth sudah bicara…”

“Dia tidak akan menunggu.”

“Dan Eldric?” tanya Dian.

Raka tersenyum tipis.

Bukan senyum nyaman.

Senyum seseorang yang baru saja menemukan lawan yang sepadan.

“Kita tidak mencari dia.”

“Lalu?”

Raka menatap mereka.

“Kita buat dia mencari kita.”

Di suatu tempat di Zurich—

di ruangan yang tidak memiliki jendela, dengan layar-layar yang menampilkan data yang terus bergerak—

sebuah nama baru saja muncul dalam sistem.

Raka Adiwangsa.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—

seseorang di balik layar itu berhenti.

Bukan karena terkejut.

Tapi karena tertarik.

Sebuah permainan yang selama ini berjalan terlalu rapi…

akhirnya memiliki gangguan.

Dan gangguan itu—

adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!